NovelToon NovelToon
Melodi Air Mata Samudera

Melodi Air Mata Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.

Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.

Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?

"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Sama-sama Mabuk

"Cukup diam dan duduk manis saja di sini, Cantik. Nanti, seseorang yang sangat penting akan datang menghampirimu dan memberimu banyak uang," jawab Madam Jane sembari menyunggingkan senyum misterius yang penuh arti. "Sekarang, beristirahatlah dulu dan bersiaplah menyambutnya."

"Baiklah, Madam," sahut Elara patuh.

Madam Jane pun melangkah keluar dari kamar VIP tersebut. Begitu pintu kayu jati yang kokoh itu tertutup rapat, yang tersisa hanyalah keheningan yang menyelimuti seluruh ruangan.

Elara menjatuhkan tubuh lemasnya ke atas ranjang empuk. Ia berbaring telentang sambil menggerak-gerakkan tangannya, menyibak kelopak mawar yang bertebaran di sekelilingnya.

"Tempat ini harum sekali. Ah, aku jadi penasaran pekerjaan apa yang dimaksud oleh Madam Jane. Tampaknya, mencari uang di dunia daratan sama sekali tidak sesulit yang kubayangkan," gumamnya pelan sembari menghirup dalam-dalam aroma ruangan yang sarat akan wangi bunga.

"Ugh, haus sekali," keluh Elara tiba-tiba. Ia bangkit dan mendudukkan tubuhnya. "Aku butuh air."

Sebagai makhluk yang terbiasa hidup dan bernapas di dalam air, Elara memang membutuhkan hidrasi dalam jumlah yang luar biasa banyak semenjak menginjakkan kaki di daratan.

Bahkan, Madam Jane sendiri sempat dibuat geleng-geleng kepala karena melihat Elara sanggup menghabiskan satu galon air penuh hanya dalam waktu setengah hari saja.

Sepasang mata biru samudera milik Elara mengitari ruangan, hingga pandangannya tertuju pada dua botol kaca berdesain mewah yang diletakkan di atas meja sudut. Di mata sang Siren yang polos, benda itu terlihat aneh sekaligus menarik. Ia sama sekali tidak tahu bahwa botol tersebut berisi wine mahal dengan kadar alkohol yang sangat tinggi.

Tanpa berpikir panjang, Elara langsung melangkah mendekat, menyambar kedua botol kaca itu, dan menenggaknya satu per satu hingga tandas tak bersisa demi memuaskan rasa dahaganya.

Glek... glek... glek...

Namun, hanya berselang beberapa menit setelah tetesan terakhir melewati kerongkongannya, efek alkohol mulai bekerja menembus sistem sarafnya. Kepala Elara mendadak terasa berputar dan pusing bukan main. Gelombang panas menjalar ke seluruh tubuh, membuat kulit pucat dan kedua pipinya merona merah padam yang sangat sensual.

Siren tangguh itu kini telah mabuk berat. Kesadarannya mulai melayang-layang entah ke mana.

"Ah... minuman ini... sangat manis dan enak," racaunya tidak jelas dengan tatapan mata yang sayu dan sayup-sayup.

"Aku... aku mau minum lagi..."

****

Sementara itu, di sudut lain bangunan kasino, tepatnya di dalam ruang rapat VIP yang tenang dan kedap suara, dua orang pria berambut biru terang dengan manik mata merah khas klan serigala bangsawan tengah duduk di atas sofa kulit yang panjang.

Mereka adalah Ethan Blue, sang Alpha dari Pack Blue Light, serta keponakannya, Edgard Blue. Di hadapan mereka, duduk seorang pria tampan berambut pirang keemasan dengan manik mata sewarna hijau zamrud yang jernih. Dialah Cedric Valerius, seorang pengusaha restoran sukses di pinggiran Kota Luminara yang juga merupakan keturunan campuran antara Elf Hutan dan Manusia.

"Saya akan mengirimkan lebih banyak lagi pasokan sayuran segar ke restoran Anda, Tuan Cedric," ucap Ethan dengan nada profesional yang mantap. "Mertua saya di Kota Arcania kebetulan sedang mengalami panen besar-besaran musim ini. Seperti biasanya, hasil bumi dari wilayah mereka selalu memiliki kualitas terbaik dan dijamin sangat segar."

Cedric mengangguk paham, jemarinya mengetuk meja kaca dengan ritme yang teratur. "Kira-kira kapan pasokan sayuran baru itu bisa sampai? Stok bahan baku di restoran saya sudah hampir habis. Jika tidak keberatan, bisakah Anda mempercepat proses pengirimannya?"

"Tentu saja, Tuan Cedric. Malam ini juga saya akan kembali menghubungi mertua saya agar beliau bersedia mempercepat jadwal pengirimannya ke tempat Anda," sahut Ethan meyakinkan rekan bisnisnya itu.

Di sisi lain sofa, Edgard yang malam ini hanya bertugas menemani sang paman tampak menghela napas panjang dengan raut wajah jengah. Ia sengaja memilih duduk sedikit menjauh demi mencari ketenangan sendiri.

Di saat orang-orang berkuasa datang ke kasino megah ini untuk membahas taruhan besar atau bisnis ilegal beromzet jutaan koin emas, pamannya justru dengan sangat santai membahas tentang kualitas sayuran segar di depan mantan rivalnya.

Rasa bosan yang melanda membuat Edgard berkali-kali melirik ke arah gelasnya. Saking jenuhnya, entah sudah berapa gelas wine berkadar alkohol tinggi yang telah ia tenggak secara diam-diam.

Tentu saja semua itu ia lakukan tanpa sepengetahuan Ethan. Di dunia immortal, Edgard yang masih berusia 18 tahun dianggap belum cukup umur untuk menyentuh minuman keras, dan Alpha Ethan pasti akan mengamuk hebat jika sampai mengetahuinya.

Beruntung, sebagai seorang Werewolf berdarah murni, Edgard memiliki metabolisme tubuh yang sangat kuat sehingga ia tidak mudah mabuk.

Namun, ketahanannya goyah saat bayangan wajah Elisa—gadis masa lalunya—kembali terlintas di dalam benak. Rasa sesak di dada membuat Edgard tak sadar dan terus meneguk minuman beralkohol itu lagi dan lagi.

Suasana hatinya malam ini benar-benar memburuk. Kehadiran Cedric di depannya seolah menjadi garam yang ditaburkan di atas luka lamanya.

Cedric, sang pengusaha Elf berwajah rupawan itu, dulunya adalah rival terberat Edgard dalam memperebutkan hati Elisa. Namun pada akhirnya, takdir menertawakan mereka berdua. Baik Edgard maupun Cedric, cinta mereka sama-sama berakhir tragis dan bertepuk sebelah tangan karena Elisa lebih memilih ketiga sepupu kembar vampir Edgard.

"Argh, sangat memuakkan!" desis Edgard seraya mengempaskan gelas kacanya ke atas meja dengan dentingan yang cukup kasar.

Ia langsung bangkit berdiri dari sofa kulit tersebut. Kesabarannya malam ini benar-benar telah habis, ditambah lagi efek alkohol yang mulai mengikis sedikit kesadarannya.

Enggan memicu kecurigaan sang paman, Edgard memutuskan untuk keluar ruangan dengan alasan ingin ke toilet untuk mencuci wajahnya agar kembali segar.

Namun, tepat saat langkah kakinya menyusuri koridor karpet beludru merah yang sunyi, langkah Edgard mendadak terhenti kaku. Ia berdiri tepat di depan sebuah pintu kayu megah kamar VIP—tempat Elara berada.

Atensi sang Werewolf seketika teralih sepenuhnya oleh sebuah aroma yang akhir-akhir ini telah berhasil membuatnya hampir gila.

Perpaduan magis antara kesegaran ombak lautan dan kepekatan bunga sedap malam.

Siapa lagi pemilik wangi adiktif itu kalau bukan gadis Siren yang ia temui semalam.

Seketika, bayangan wajah cantik Elara terlintas begitu nyata di pelupuk matanya, membuat suhu tubuh Edgard terasa semakin memanas.

"Sial! Kenapa aku malah memikirkan makhluk laut itu? Dan kenapa... bau ini terasa semakin pekat?" Edgard menatap tajam ke arah daun pintu di depannya.

"Ah, tidak mungkin gadis itu ada di tempat terkutuk seperti ini," gumam Edgard, terkekeh parau sembari menggelengkan kepalanya cepat, berusaha keras menyingkirkan pikiran liar tentang Elara.

Namun, semakin keras ia menolak, insting serigalanya justru semakin memberontak. Bayangan lekuk tubuh sang Siren yang berada di bawah kungkungannya semalam terus berputar hebat di dalam kepalanya, memicu gairah tersembunyi yang membakar darah.

Didorong oleh rasa penasaran yang teramat sangat, Edgard memberanikan diri untuk mengulurkan tangan. Ia meraih dan memutar knop pintu megah tersebut yang—sialnya bagi Elara—ternyata sama sekali tidak terkunci.

Cklek.

Edgard melangkah masuk perlahan, lalu menutup kembali pintu di belakangnya dengan rapat. Ia mengedarkan pandangan tajamnya ke seluruh penjuru ruangan. Area ranjang bertabur kelopak mawar itu tampak kosong, namun aroma tubuh Elara di kamar ini terasa ribuan kali lipat lebih tajam dan memabukkan.

Pada titik ini, insting Werewolf di dalam diri Edgard telah mengambil alih kesadaran manusianya secara mutlak. Mengikuti penciumannya yang kian menuntut, Edgard berjalan teratur menembus keheningan kamar hingga langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar mandi yang tertutup.

Tanpa sabar, ia mencengkeram gagang pintu dan langsung mendorongnya terbuka dengan satu sentakan cepat.

Deg!

Jantung Edgard berdegup kencang bagai hantaman gada. Di dalam sana, di bawah temaram lampu estetik kamar mandi, Elara—sang gadis Siren—tengah berendam di dalam bathtub yang penuh dengan air.

Tubuh Elara tetap bertahan dalam wujud manusianya yang sempurna. Kaki jenjangnya yang mulus tidak bermutasi kembali menjadi sirip, karena segel daratan menetapkan bahwa ekor Siren miliknya hanya akan keluar jika ia menyentuh air laut asli atau danau air asin alami—bukan air keran dunia manusia.

Kulit putih pucatnya yang terkena basah tampak berkilau, berpadu dengan rona merah di wajahnya akibat mabuk wine berat, menyajikan pemandangan yang teramat sensual di depan sepasang mata merah milik Edgard.

Elara menolehkan kepalanya perlahan. Sepasang mata birunya yang sayu menatap linglung ke arah Edgard yang tengah membeku di ambang pintu kamar mandi.

Efek alkohol yang terlampau kuat membuat ingatan gadis itu mengabur, hingga ia sama sekali tidak mengenali siapa sosok pemuda yang kini berdiri di hadapannya.

"Tuan... apa kau pria yang akan memberiku banyak uang?" rancaunya dengan suara lembut yang mendayu-dayu, terdengar bagai melodi Siren yang mematikan di indra pendengaran Edgard. "Jika iya... maka aku siap bekerja sekarang. Apa yang harus aku lakukan untukmu?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!