Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.
Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.
Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.
Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.
Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
003
...Enam Bulan Kemudian...
Kegelapan yang mengurungnya selama ini tidak memiliki batas.
Tidak ada waktu, tidak ada suara, hanya ada rasa hampa yang dingin dan sensasi seolah tubuhnya terus tenggelam ke dalam dasar samudra yang tak berdasar.
Namun perlahan, seberkas kesadaran menariknya kembali ke permukaan.
Rasa sakit yang teramat sangat mulai merayap, menusuk setiap jengkal kulitnya, membakar saraf-saraf di kepalanya dengan intensitas yang membuatnya ingin berteriak, tetapi tenggorokannya terasa tersumbat dan kering bagai gurun.
Ketika kesadarannya benar-benar terkumpul, hal pertama yang disadari oleh Michaela Hokked adalah suara bising yang ritmis. Pip... pip... pip... Suara detak monitor jantung yang monoton berbunyi di dekat telinganya.
Bau antiseptik yang tajam langsung menusuk indra penciumannya yang baru terbangun.
Udara di sekitarnya terasa dingin dan steril.
Michaela mencoba menggerakkan jemari tangannya, tetapi seluruh tubuhnya terasa kaku dan seberat timah.
Air matanya menetes perlahan melalui sudut matanya yang terasa sangat perih, membasahi kain penutup yang membungkus seluruh kepalanya.
Enam bulan.
Dia tidak pernah tahu bahwa dia telah tertidur dalam koma selama setengah tahun, melekat pada mesin-mesin penopang hidup di dalam ruang perawatan intensif sebuah rumah sakit elite di Los Angeles.
Dia tidak tahu bahwa selama enam bulan tubuhnya tak berdaya itu terbaring, tim dokter bedah terbaik telah membawanya masuk dan keluar ruang operasi sebanyak enam kali.
Enam kali operasi besar yang melibatkan rekonstruksi tulang, penjahitan jaringan kulit yang robek, dan prosedur bedah plastik rumit untuk menyatukan kembali apa yang telah dihancurkan oleh besi dan kaca taksi malam itu.
Tiba-tiba, sebuah teriakan histeris bernada bariton menggema tepat di telinganya, memecah keheningan ruangan.
"Dokter! Dokter, cepat ke sini! Kekasihku... dia sudah sadar! Matanya bergerak!"
Michaela tersentak di dalam hatinya.
Suara itu begitu dekat, penuh dengan getaran kepanikan sekaligus kebahagiaan yang meluap-luap. Namun, suara itu sama sekali asing di telinganya.
Siapa pria itu? Mengapa dia berteriak di dekatnya?
Michaela berusaha mengerjapkan matanya, mencoba melihat siapa pemilik suara tersebut.
Namun, kelopak matanya terasa sangat berat dan ada sesuatu yang tebal menghalangi pandangannya.
Sebuah kain kasa dan perban berlapis-lapis melilit erat seluruh wajah dan matanya. Kegelapan total tetap menyelimutinya.
Apakah aku buta? batin Michaela berbisik panik.
Ketakutan baru yang dingin mulai merayap di dadanya.
Oh, Tuhan... apakah kecelakaan itu membuatku kehilangan penglihatanku secara permanen?
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru memasuki ruangan, diikuti oleh suara gesekan jubah medis.
Sang dokter telah datang. Michaela merasakan jemari yang dilapisi sarung tangan karet mulai menyentuh denyut nadinya, lalu memeriksa selang-selang yang menempel di tubuhnya.
"Luar biasa. Ini benar-benar sebuah keajaiban, Tuan," terdengar suara dokter itu berbicara dengan nada kagum yang mendalam.
"Respons sarafnya sangat baik. Denyut jantungnya stabil."
Dokter itu kemudian melangkah lebih dekat ke arah kepala Michaela. "Nona, jika Anda bisa mendengarku, tolong gerakkan jemari tangan kanan Anda."
Michaela mengerahkan seluruh energinya yang tersisa, memaksa jemari kanannya untuk bergerak sedikit.
"Bagus sekali," puji dokter itu. Dia kemudian berbalik, tampaknya berbicara kepada pria asing yang sejak tadi berdiri di sisi ranjang.
"Hari ini, sesuai jadwal, kita memang berniat untuk membuka perban terakhirnya. Dan melihat dia sadar tepat di hari ini adalah tanda yang sangat baik. Namun, saya harus mengingatkan Anda sekali lagi, Tuan... Mungkin wajahnya tidak akan pernah bisa sama persis seperti dulu. Kehancuran jaringan akibat benturan itu terlalu parah. Tapi untuk waktu enam bulan, tim kami sudah melakukan prosedur maksimal yang bisa dicapai oleh ilmu medis saat ini."
Mendengar penuturan dokter, jantung Michaela berdegup kencang hingga monitor di sampingnya berbunyi sedikit lebih cepat.
Gugup.
Rasa cemas yang luar biasa mencengkeram jiwanya. Dia sadar sepenuhnya sekarang; dia tidak mengalami amnesia.
Ingatannya sangat jernih.
Dia ingat namanya Michaela Hokked, dia ingat pelariannya dari San Francisco, dia ingat tuduhan pembunuhan Julian yang menghantuinya, dan dia ingat dengan sangat jelas bagaimana detik-detik mengerikan saat wajahnya menghantam dasbor taksi hingga hancur berkeping-keping.
Dia tahu wajahnya telah rusak.
Dia sudah melewati maut dan diberikan kesempatan kedua untuk hidup, jadi dia mencoba berdamai dengan kenyataan.
Tidak apa-apa jika wajahku hancur, pikirnya mencoba menguatkan diri.
Asalkan aku masih hidup. Setidaknya dengan wajah yang rusak, tidak ada lagi orang yang akan mengenali Michaela Hokked si tersangka penculikan. Aku tidak perlu lagi malu atau takut dengan nama sialan itu.
Namun, pikiran realistis yang kejam segera menyusul di benaknya.
Tapi... jika wajahku cacat dan hancur, bagaimana caranya aku bekerja? Kota besar seperti Los Angeles ini sangat kejam.
Tidak akan ada satu pun perusahaan atau tempat usaha yang mau mempekerjakan seorang wanita berwajah monster dan cacat. Bagaimana aku bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahku di UCLA?
Air matanya kembali jatuh, merembes ke perban hangat yang membungkus pipinya.
"Baiklah, kita akan membuka perbannya sekarang. Tolong tetap rileks, Nona," instruksi dokter itu dengan lembut.
Michaela merasakan sepasang gunting medis memotong bagian belakang perbannya.
Perlahan tapi pasti, lapisan demi lapisan kain kasa yang mengurungnya selama enam bulan mulai dilepaskan. Udara dingin ruangan langsung menyentuh kulit wajahnya yang terasa kaku dan mati rasa di beberapa bagian.
Michaela memejamkan matanya erat-erat di balik lapisan terakhir.
Dia sedang membangun benteng pertahanan di dalam mentalnya.
Dia siap dengan segala kemungkinan terburuk. Wajah rusak penuh parut luka, hidung yang bengkok, atau bahkan mata yang buta sebelah. Dia akan menerimanya, asal dia bisa keluar dari kamar rumah sakit ini.
"Sekarang, Anda sudah boleh membuka mata perlahan-lahan," ucap dokter.
Michaela menghela napas panjang melalui mulutnya, lalu perlahan, dia membuka kelopak matanya.
Cahaya lampu ruangan yang terang benderang langsung menusuk retinanya, membuatnya mengernyitkan dahi karena silau.
Butuh waktu beberapa detik bagi matanya untuk menyesuaikan diri dengan cahaya.
Dia tidak buta. Dia bisa melihat dengan jelas langit-langit ruangan yang putih bersih.
Seorang perawat kemudian melangkah maju, memegang sebuah cermin besar tepat di hadapan wajah Michaela.
"Silakan periksa, Nona," ujar sang perawat dengan senyum ramah.
Michaela mengarahkan pandangannya ke arah cermin. Dan saat itu juga, seluruh dunianya seolah berhenti berputar.
Deg.
Mata Michaela membelalak lebar. Jantungnya terasa seakan dihantam oleh palu godam. Tubuhnya membeku kaku di atas ranjang.
Itu bukan wajahnya.
Di dalam pantulan cermin itu, tidak ada wajah Michaela Hokked yang memiliki garis rahang tegas atau tatapan mata sinis yang tajam.
Yang terpampang di sana adalah sebuah wajah yang sangat cantik, luar biasa lembut, dengan struktur tulang pipi yang anggun, hidung mancung yang sempurna, dan sepasang mata teduh yang memancarkan aura ketenangan.
Itu adalah wajah wanita berusia 25 tahun yang duduk bersamanya di dalam taksi malam itu. Wajah Cecilia Lynch.
Duarrrr.
Otak Michaela serasa meledak. Kepalanya berdenyut hebat hingga menimbulkan rasa sakit yang membuat pandangannya sempat kabur.
Ini... ini salah paham! Oh, Tuhan! Apa yang terjadi?! jeritnya dalam hati, berteriak histeris tanpa bisa mengeluarkan suara dari mulutnya.
Bagaimana mungkin wajah wanita lain melekat di kepalanya?
Kemudian, sepotong ingatan terakhir sebelum dia pingsan melintas di benaknya—tangannya yang bersimbah darah sedang mencengkeram erat kartu identitas milik Cecilia Lynch.
Rumah sakit ini, para dokter ini, mereka tidak tahu siapa dia yang sebenarnya! Karena semua dokumen identitas Michaela telah dia hancurkan di dalam toilet bus, satu-satunya petunjuk yang ditemukan oleh tim penyelamat di tangannya yang hancur adalah kartu pengenal milik Cecilia Lynch.
Mungkin Mereka mengira dia adalah Cecilia.
Dan selama enam kali operasi rekonstruksi wajah, tim dokter bedah plastik menggunakan foto di kartu identitas Cecilia yang tersisa sebagai acuan mutlak untuk membangun kembali wajahnya yang telah hancur!
Mereka telah mengubahnya menjadi Cecilia Lynch.
Sebelum Michaela sempat mencerna kejutan yang mengerikan itu, dokter bedah di sampingnya berbalik ke arah pria asing yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan.
"Selamat, Tuan Killian Vale-Knight. Operasinya berjalan dengan sangat sukses. Kami berhasil merekonstruksi wajah kekasih Anda mendekati sembilan puluh persen dari foto identitas aslinya sebelum kecelakaan. Ini adalah pencapaian terbesar tim kami tahun ini," ucap dokter itu dengan nada bangga yang luar biasa.
Pria bernama Killian itu melangkah maju.
Begitu sosoknya tertangkap oleh mata Michaela, wanita itu menahan napasnya.
Pria itu memiliki perawakan yang luar biasa tinggi dan tegap, dibalut oleh setelan jas hitam mahal yang dijahit dengan sangat sempurna.
Garis wajahnya tegas, dengan rahang kokoh dan sepasang mata elang berwarna gelap yang memancarkan intensitas yang mengintimidasi.
Dia adalah tipe pria yang memancarkan kekuasaan, kekayaan, dan bahaya hanya dengan berdiri diam.
Sejak perban dibuka, Killian tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Michaela.
Dia menatap langsung ke dalam manik mata
Michaela dengan tatapan yang begitu dalam, tajam, dan tidak berkedip barang sedetik pun.
Ada binar kelegaan yang amat besar di matanya, namun juga ada sesuatu yang misterius, sesuatu yang membuat bulu kuduk Michaela mendadak merinding.
Michaela merasakan seluruh tubuhnya mendingin. Otaknya yang cerdas mulai merangkai benang-benang takdir baru yang mengerikan ini.
Dokter tadi berulang kali mengatakan kata 'kekasih'.
Kecelakaan... San Francisco... Cecilia datang ke Los Angeles untuk menemui kekasihnya...
Michaela baru menyadari kenyataan yang sesungguhnya.
Killian Vale-Knight, adalah kekasih dari Cecilia Lynch yang asli—wanita yang kemungkinan besar akan Menuntut nya karena memakai wajahnya.
Aku Michaela wanita jalanan yang hancur dengan nama busuk di masa lalu, adalah kekasih palsunya.
...****...
Suasana tegang yang mencekik napas Michaela terpecah ketika pintu ruang rawat inap VIP itu mendadak terbuka lebar.
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mengiringi sepasang paruh baya yang melangkah masuk dengan raut wajah penuh kepanikan sekaligus kelegaan.
Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu yang elegan, memancarkan wibawa khas seorang taipan, sementara sang wanita tampil anggun dengan gaun sutra rapi, meski matanya tampak sembab seolah baru saja menangis.
Mereka adalah Kaelor Vale-Knight dan Suzzy Knight—kedua orang tua Killian.
Suzzy langsung menghampiri ranjang, mengabaikan segala formalitas.
Tangan wanita paruh baya itu yang dihiasi cincin berlian menyentuh punggung tangan Michaela dengan begitu lembut, sebuah sentuhan hangat yang seumur hidup belum pernah Michaela rasakan.
"Bagaimana keadaannya, Sayang?" tanya Suzzy dengan suara bergetar, menatap bergantian antara putranya dan Michaela.
Matanya memancarkan kasih sayang keibuan yang begitu tulus.
Killian beringsut sedikit, memberi ruang bagi ibunya, lalu menjawab dengan nada rendah yang menenangkan, "Dia baik, Mom. Operasinya berhasil sempurna. Tapi... dokter mengatakan kemungkinan dia akan melupakan beberapa kilasan memorinya akibat benturan keras di kepalanya."
Kaelor, sang ayah, maju selangkah dan menepuk bahu putranya dengan tegas namun penuh empati.
"Oh, tidak apa-apa. Itu wajar setelah trauma berat, nanti pasti akan pulih," ucap pria paruh baya itu dengan nada mantap.
Kaelor kemudian menatap Michaela dengan senyum kebapakan yang hangat. Kemudian beralih menatap putranya.
"Jangan khawatir, Son. Daddy akan mencarikan dokter saraf terbaik di seluruh negeri untuk merawat kekasihmu. Dia hanya perlu fokus untuk sembuh."
Mendengar kata-kata itu, dada Michaela terasa sesak.
Sesuatu yang hangat dan asing tiba-tiba meremas hatinya begitu kuat.
Setetes air mata lolos begitu saja dari sudut matanya, mengalir turun melewati pipi barunya yang kaku.
Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini seumur hidupnya.
Ibu kandungnya membuangnya, dan ayah kandungnya hanya menganggapnya sebagai mesin pencetak uang untuk membeli alkohol.
Tapi di ruangan ini, di tengah orang-orang asing yang super kaya ini, dia menerima kehangatan keluarga yang selama ini hanya bisa dia impikan dalam diam.
Hei, mana Michaela yang hebat? Mana gadis jalanan yang kuat itu? batinnya memaki dirinya sendiri yang tiba-tiba saja berubah menjadi begitu mellow dan rapuh.
Namun, seiring dengan kehangatan itu, rasa bersalah yang kelam menyelimuti kewarasannya.
Apa kabarnya Cecilia yang asli? Di mana dia sekarang? Oh Tuhan, aku benar-benar pengecut.
Michaela meremas selimutnya perlahan.
Apakah aku harus jujur? Apakah aku harus berteriak sekarang juga dan mengatakan bahwa aku bukan Cecilia? Bahwa wanita yang kalian tatap ini adalah mantan narapidana miskin dari San Francisco?
Namun, saat Michaela menatap kembali mata Suzzy yang berkaca-kaca karena bahagia melihatnya sadar, dan mendengar Kaelor menyebut dirinya dengan sebutan 'Hangat' yang begitu melindungi... pertahanan moral Michaela runtuh.
Dia terlalu serakah akan kasih sayang ini. Dia tidak ingin kembali ke jalanan gelap yang penuh makian.
Maafkan aku, Cecilia, rintih batinnya. Maafkan aku karena mencuri hidupmu.
Setelah Suzzy dan Kaelor beringsut mundur untuk berbicara dengan dokter di sudut ruangan, Killian melangkah mendekat.
Pria itu membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Michaela.
Wajah tampannya yang mengintimidasi kini memancarkan kelembutan yang hanya ditujukan untuk satu orang.
Jemari besar Killian dengan hati-hati merapikan helaian rambut yang menempel di dahi Michaela.
"Syukurlah kau selamat, Sayang," bisik Killian dengan suara serak, sarat akan emosi yang tertahan.
"Wanita hamil yang satu taksi bersamamu itu... dia tidak selamat. Saat rumah sakit meneleponku waktu itu dan mengatakan taksi yang kau tumpangi hancur, duniaku benar-benar hancur."
Michaela terdiam kaku. Matanya membelalak, napasnya tercekat di tenggorokan.
Wanita hamil? Michaela tahu betul dia tidak sedang hamil saat kecelakaan itu terjadi.
Berarti... wanita hamil yang dimaksud Killian adalah Cecilia yang asli! Wanita lembut bermata teduh itu... dia sedang mengandung saat maut menjemputnya?
Sebelum otak Michaela mampu memproses kenyataan kelam itu, Killian kembali berbisik, nadanya dipenuhi penyesalan yang mendalam.
"Apa pertemuan pertama kali kita harus seperti ini, Cecilia? Di ruang ICU yang penuh selang dan darah?" Killian meraih tangan Michaela dan mengecupnya lembut.
"Maafkan aku, Sayang. Ini semua salahku karena aku yang memaksa agar kita bertemu di Los Angeles secepatnya."
Deg!
Jantung Michaela seolah berhenti berdetak. Seluruh darah di tubuhnya terasa surut ke kaki. Matanya menatap Killian dengan tatapan horor yang tersamarkan oleh kelemahan fisiknya.
Pertemuan pertama kalinya?!
Michaela menjerit di dalam kepalanya. Apa ini? Apa mereka belum pernah bertemu secara langsung sebelumnya?!
Pantas saja Killian dan keluarganya tidak menaruh curiga sedikit pun padanya.
Mereka hanya mengetahui wajah Cecilia dari foto identitas, atau mungkin dari foto-foto di media sosial. Hubungan mereka pasti hanya sebatas hubungan jarak jauh yang belum pernah bertatap muka.
Otak Michaela berputar dengan kecepatan gila.
Jika ini adalah pertemuan pertama mereka, lalu siapa ayah dari bayi yang dikandung oleh Cecilia yang asli? Apakah Killian tidak tahu bahwa kekasih jarak jauhnya itu sedang hamil anak pria lain saat datang ke Los Angeles? Atau jangan-jangan... ada rahasia yang jauh lebih gelap yang dibawa mati oleh Cecilia Lynch?
Kamar rumah sakit yang hangat dan mewah ini tiba-tiba terasa seperti arena labirin yang mematikan.
Oh Tuhan... apa yang sebenarnya terjadi? Aku benar-benar tidak mengerti apa-apa, batin Michaela gemetar, menyadari bahwa dia baru saja mencuri identitas seorang wanita yang membawa teka-teki mematikan di belakangnya.
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨