"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Butik La Belle di kawasan Sudirman ini memiliki aroma perpaduan lavender dan teh chamomile yang menenangkan. Namun, bagi Almeera, tempat ini tak ubahnya seperti ruang eksekusi mati. Gaun-gaun pengantin berekor panjang yang dipajang di manekin seolah menatapnya dengan raut mengejek.
"Almeera, berdirinya yang tegak, Sayang. Jangan bungkuk begitu, nanti ukuran pinggangnya meleset," tegur Mama sambil membalik halaman majalah mode pernikahan di sofa beludru. Di sebelahnya, Tante Jihan—mama Akram—ikut mengangguk setuju sambil meminum teh cantiknya.
Almeera hanya bisa mendesah kasar. Ia berdiri di atas podium kecil dengan merentangkan kedua tangan, sementara dua orang asisten desainer sibuk melingkarkan pita ukur di tubuhnya. Seragam sekolahnya sudah berganti dengan tank top dan celana pendek bersalin.
"Ma, Al ini mau main drum di pensi atau mau pawai sih? Kenapa bajunya harus yang ribet-ribet?" gerutu Almeera saat matanya menangkap desain kebaya modern dengan payet penuh yang ditunjuk oleh Tante Jihan.
"Ini untuk akad nikah kamu, Almeera. Masa pakai kaos band?" sahut Tante Jihan lembut, namun dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah.
Lonceng di atas pintu kaca butik bergemerincing. Almeera menoleh, dan mood-nya yang sudah berada di dasar jurang kini resmi menembus kerak bumi.
Akram Pradana melangkah masuk. Seragam putih abu-abunya masih melekat, hanya saja jaket OSIS-nya sudah digantungkan di salah satu bahu, dan dua kancing kerah teratasnya terbuka santai. Rambutnya sedikit berantakan karena helm motor, namun entah kenapa justru membuatnya terlihat seperti model remaja yang sedang kelelahan setelah syuting iklan.
"Sore, Ma, Tante," sapa Akram sopan. Ia mencium punggung tangan ibunya dan mama Almeera bergantian.
"Kamu telat sepuluh menit, Akram," tegur Tante Jihan.
"Tadi ada briefing mendadak dari Kepala Sekolah soal proposal," kilah Akram lancar. Matanya kemudian beralih ke arah podium.
Seringai menyebalkan yang sedari tadi ditunggu-tunggu Almeera akhirnya muncul. Cowok itu melipat kedua tangannya di dada, menatap Almeera dari ujung rambut yang dicepol asal-asalan hingga ujung jari kakinya yang bertelanjang.
"Wah, calon pengantin kita," goda Akram, nada suaranya mengalun pelan namun cukup tajam untuk merobek harga diri Almeera. "Gue kira gue salah masuk butik. Kirain masuk tempat latihan sirkus."
Wajah Almeera memerah padam. "Diam lo, tiang listrik! Mata lo mau gue colok pakai pita meteran ini?!"
"Almeera, bahasanya," peringat Mama tegas.
Akram hanya terkekeh pelan, lalu menghempaskan dirinya di sofa single tak jauh dari podium. Ia mengeluarkan ponselnya, sama sekali tidak terlihat terbebani dengan situasi konyol ini. "Tenang aja, Tante. Al emang gitu kalau lagi gugup. Biasa, pesona saya kadang bikin dia lupa cara ngomong yang bener."
Almeera nyaris melompat dari podium untuk mencekik leher cowok itu, kalau saja asisten desainer tidak keburu menahan bahunya untuk mengukur lebar dada. Sabar, Al. Sabar. Lo belum mau masuk penjara anak di usia tujuh belas tahun, batinnya merapal mantra.
Tiga puluh menit berlalu seperti neraka. Setelah sesi pengukuran yang menyiksa, tibalah saatnya fitting baju awal.
"Mbak Almeera, silakan dicoba kebayanya di ruang ganti ya," ujar salah satu asisten sambil menyodorkan sebuah kebaya putih tulang berbahan brokat Prancis yang tampak sangat mahal.
Almeera menerimanya dengan setengah hati, melangkah gontai ke dalam ruang ganti. Butuh waktu sepuluh menit baginya untuk menjejalkan diri ke dalam balutan kebaya itu, dibantu oleh sang asisten. Saat ritsleting ditarik ke atas, Almeera menatap pantulan dirinya di cermin panjang.
Napasnya tercekat.
Gadis tomboi yang biasanya memakai jins belel dan sepatu kets kotor itu tiba-tiba menghilang. Digantikan oleh siluet seorang perempuan anggun dengan lekuk tubuh yang tercetak sempurna oleh potongan kebaya yang pas. Warna putih tulang itu membuat kulit sawo matangnya terlihat bercahaya.
"Sempurna, Mbak. Ayo, kita tunjukkan ke Ibu," puji asisten itu, menyibak tirai ruang ganti.
Di luar, Akram sedang bersandar santai di sofa, jari-jarinya sibuk mengetik pesan di grup OSIS.
"Akram, lihat deh, calon istri kamu cantik banget," panggil Mama mertuanya.
Akram membuang napas samar, mengangkat kepalanya dengan malas. Paling juga kelihatannya kayak preman pakai baju pesta, batinnya.
Namun, detik saat matanya menangkap sosok yang baru saja melangkah keluar dari balik tirai beludru merah, jari Akram yang bersiap membalas pesan Bastian mendadak berhenti di udara.
Waktu seakan melambat. Suara bising kendaraan dari jalan raya Sudirman di luar butik mendadak senyap. Pandangan Akram terkunci pada Almeera. Rambut cewek itu masih dicepol acak-acakan, sama sekali tidak ada riasan di wajahnya. Namun kebaya putih itu... entah kenapa terlihat sangat pas di tubuhnya.
Untuk dua detik penuh, Akram lupa caranya bernapas. Ada dentuman aneh di dalam dadanya, seolah seseorang baru saja menabuh bass drum tepat di telinganya.
Almeera yang merasa dipandangi dengan intens, mulai salah tingkah. Ia menelan ludah, meremas ujung kebayanya yang menjuntai. "Apa lo lihat-lihat?!" bentaknya defensif, berusaha menutupi rasa gugupnya.
Sentakan suara Almeera mengembalikan kewarasan Akram. Ia buru-buru berkedip, memutus kontak mata mereka, lalu berdeham pelan untuk menetralkan tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Seringai khasnya kembali dipasang layaknya tameng pelindung.
"Lumayan," ucap Akram santai, kembali menatap layar ponselnya meski sama sekali tidak membaca huruf di sana. "Ternyata lo bisa juga kelihatan kayak perempuan. Gue sempet takut di hari H nanti orang-orang ngira gue lagi ijab kabul sama preman terminal."
Sebuah bantal sofa mendarat telak di wajah Akram.
"Mati aja lo!" sungut Almeera dengan napas memburu.
Mama dan Tante Jihan hanya tertawa melihat kelakuan mereka. "Namanya juga anak muda, Tante. Dulu kita juga sering berantem gitu kan sama bapak-bapaknya?" kekeh Tante Jihan. Kalau saja mereka tahu bahwa pertengkaran ini bukan sekadar malu-malu kucing.
"Sini, Akram, berdiri di sebelah Almeera. Tante mau lihat postur kalian kalau disandingkan, biar desainer tahu harus nambahin hak sepatu Almeera berapa sentimeter," perintah Mama.
Akram mendesah malas, menyingkirkan bantal dari wajahnya, dan berjalan menghampiri podium. Ia berdiri tepat di sebelah Almeera. Jarak mereka begitu dekat hingga bahu Almeera nyaris bersentuhan dengan lengan atas Akram.
Wangi mint itu kembali menyerang penciuman Almeera, kali ini bercampur dengan sedikit aroma keringat khas cowok yang baru saja mengendarai motor. Di depan mereka, cermin besar memantulkan bayangan keduanya.
Almeera mencuri pandang melalui cermin. Akram menjulang tinggi di sebelahnya. Meski cowok itu hanya memakai seragam sekolah, postur tubuhnya yang tegap entah bagaimana terlihat serasi menyandingi Almeera dalam balutan kebaya putih. Fakta bahwa mereka benar-benar terlihat seperti sepasang calon pengantin membuat perut Almeera melilit tidak karuan.
Akram tiba-tiba menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Almeera.
"Jangan tegang gitu, Al," bisik Akram pelan. Suara baritonnya mengalun lembut, sangat kontras dengan kata-katanya yang selalu tajam. "Muka lo merah banget. Lo naksir gue beneran sekarang?"
Bulu kuduk Almeera meremang. Ia menoleh sedikit, hidungnya nyaris menyapu rahang Akram. "Dalam mimpi lo," desis Almeera tajam. "Gue mending nikah sama stand mik-nya Nino daripada sama lo."
Akram tersenyum miring. Ia mundur selangkah, memberi jarak yang tiba-tiba membuat udara di sekitar Almeera terasa kembali normal.
Satu jam kemudian, sesi penyiksaan itu berakhir. Almeera dan Akram berjalan keluar dari butik menuju area parkir. Orang tua mereka masih mengobrol di dalam, menyerahkan urusan pulang kepada kedua remaja itu dengan dalih "biar lebih akrab".
Matahari sore Jakarta bersinar keemasan, memantul di aspal tempat motor sport hitam milik Akram terparkir.
Almeera mengikat tali sepatunya dengan kasar. "Gue balik naik ojek online aja. Males gue boncengan sama lo, bisa sawan di jalan."
"Siapa juga yang mau nawarin lo tebengan?" balas Akram sambil memakai helm full face-nya, tidak dikunci, hanya bertengger santai di kepalanya. Cowok itu menahan pergelangan tangan Almeera saat gadis itu hendak berbalik menjauh.
Sentuhan itu membuat Almeera tersentak. Ia menatap Akram tajam. "Lepasin."
Akram melepaskan tangannya, namun wajahnya berubah serius. Senyum menyebalkannya hilang, digantikan oleh aura dominan seorang Ketua OSIS yang biasa memimpin rapat besar.
"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram, matanya menatap lurus ke mata cokelat Almeera.
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
"Aturan main pernikahan ini." Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, mengangkat jari keduanya. "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus," cibir Almeera.
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, menatap lekat-lekat tepat di manik mata Almeera. "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
Almeera merasakan debaran aneh, namun egonya yang setinggi langit dengan cepat mengambil alih. Ia mendengus remeh. "Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Belum sempat mereka saling membuang muka, sebuah suara dari arah lobi kedai kopi di sebelah butik membuat darah keduanya mendesir dingin.
"Akram? Almeera?"
Mereka berdua menoleh secara bersamaan. Jantung Almeera seakan berhenti berdetak saat melihat siapa yang sedang berdiri tak jauh dari mereka, memegang segelas es kopi susu dengan mata membelalak heran.
Sophia. Sang ratu gosip SMA Bina Bangsa.
Mata Sophia menyipit curiga, menatap bergantian ke arah Almeera, Akram, dan plang nama Butik La Belle di belakang mereka.
"Kalian berdua... ngapain barengan di depan butik baju pengantin?" tanya Sophia, nadanya terdengar berbahaya.
Almeera mematung. Skenario kiamat sudah berputar di kepalanya. Hari pertama setelah perjodohan diumumkan, dan rahasia mereka sudah terancam bocor di depan pemegang toa terbesar di sekolah.