Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Alya kembali ke rumah Wiratama hampir tengah malam.
Raka ingin ikut masuk, tetapi Alya memintanya tetap di mobil beberapa menit. Ia ingin melihat siapa yang menunggu, siapa yang berpura-pura tidur, dan siapa yang terlalu cepat tahu ia pulang.
Begitu pintu utama terbuka, Dinda berdiri dari sofa.
Rambutnya terurai, wajahnya pucat, tetapi ia tidak menangis. Di meja depannya ada segelas air yang belum disentuh.
"Kak."
Alya menutup pintu. "Kamu menunggu?"
"Aku tidak bisa tidur."
"Karena?"
Dinda menggenggam ujung kardigannya. "Mama marah besar. Papa juga. Mereka tahu Kakak pergi ke Rumah Pelita dan panti jompo."
Alya tidak terkejut.
"Siapa yang memberi tahu?"
Dinda menatap lantai. "Aku tidak tahu."
"Kalau kamu tidak tahu, kenapa kamu turun menunggu?"
Dinda mengangkat wajah. Ada ketakutan asli di sana. "Karena aku dengar Mama menelepon seseorang. Dia bilang, kalau Kak Alya terus menggali masa lalu Tante Nadira, semua orang akan ikut tenggelam."
"Semua orang siapa?"
"Aku tidak tahu. Mama masuk kamar setelah melihatku."
Alya berjalan ke ruang tengah dan duduk. "Dinda, kalau kamu ingin aku percaya, berhenti menjawab tidak tahu untuk semua hal."
Dinda duduk di seberang. "Aku benar-benar tidak tahu nama orang itu. Tapi Mama menyebut satu kata."
"Apa?"
"Fajar."
Udara terasa berhenti.
Alya menatap Dinda. "Kamu yakin?"
"Iya. Mama bilang, 'Pak Fajar tidak akan membiarkan anak itu membuka semuanya.'"
Nama yang sama dengan cerita Sulastri.
Tuan Fajar.
Jadi Maya tidak sekadar menutupi masa lalu. Ia masih terhubung dengan salah satu sisa jaringan.
Raka masuk dari pintu depan, tidak tahan menunggu lebih lama. "Apa yang terjadi?"
Alya berkata, "Dinda mendengar Maya menyebut Fajar."
Wajah Raka mengeras. "Nama itu dari dokumen?"
Dinda tampak bingung. "Dokumen apa?"
Alya tidak menjawab. Ia berdiri. "Aku perlu kamar Mama."
Dinda langsung ikut berdiri. "Kamar Mama dikunci."
Rafi muncul dari belakang Raka. "Kunci bisa dibuka."
Raka menatapnya. "Aku pura-pura tidak mendengar bagian itu."
Mereka naik ke lantai dua. Kamar Maya dan Baskara tertutup. Dari dalam tidak ada suara. Baskara kemungkinan di ruang kerja. Maya mungkin tidur setelah merasa aman.
Rafi membuka pintu dalam waktu kurang dari satu menit.
Dinda berdiri di koridor, wajahnya tegang. "Kalau Mama tahu..."
"Dia akan tahu," kata Alya. "Pertanyaannya, sebelum atau sesudah aku menemukan sesuatu."
Kamar Maya wangi parfum mahal. Lemari tersusun rapi, meja rias penuh produk perawatan, dan di samping ranjang ada laci kecil terkunci. Rafi membuka laci itu.
Isinya bukan perhiasan.
Ada beberapa foto lama, surat, dan flashdisk.
Alya mengambil foto pertama.
Nadira Maheswari berdiri di depan Rumah Pelita, hamil besar. Di sampingnya ada Eyang Laras dan seorang pria yang wajahnya sama dengan foto di arsip. Namun kali ini wajahnya jelas: pria berusia sekitar lima puluh, tersenyum seperti orang yang terbiasa ditaati.
Di belakang foto tertulis:
Fajar S.
Raka melihat foto itu. "Aku tidak pernah melihat orang ini."
Dinda berbisik, "Aku pernah."
Semua menoleh padanya.
"Di acara Mama. Waktu aku kecil. Orang itu pernah datang. Mama menyuruhku memanggil dia Pakde."
Alya menggenggam foto lebih kuat.
Flashdisk mereka bawa ke kamar Alya. Rafi membukanya di laptop terpisah tanpa koneksi internet. Di dalamnya ada beberapa file lama: laporan transfer, foto pertemuan, daftar nama, dan satu rekaman suara.
Alya memutar rekaman.
Suara Maya lebih muda terdengar lebih dulu.
"Kalau Baskara tahu Nadira meninggalkan saham untuk anak itu, semua rencana berubah."
Lalu suara pria tua.
"Biarkan anak itu dibuang jauh. Anak yang tumbuh tanpa tempat lebih mudah diarahkan ketika waktunya tiba."
Raka memucat.
Dinda menutup mulut.
Suara Maya bertanya, "Bagaimana kalau Laras membesarkannya terlalu baik?"
Pria itu tertawa. "Tidak ada yang terlalu baik untuk dihancurkan."
Rekaman berhenti.
Tidak ada yang bicara selama beberapa detik.
Alya memutar ulang sekali lagi, bukan karena ia ingin mendengar, tetapi karena ia harus memastikan.
Maya bukan sekadar ibu tiri yang takut posisinya tergeser.
Ia sejak awal tahu Alya sengaja dibuang.
Bahkan mungkin membantu memastikan itu terjadi.
Dinda tiba-tiba mundur. "Mama tahu sejak awal?"
Tidak ada yang menjawab.
Raka mengambil kursi dan duduk, wajahnya gelap. "Papa tahu?"
Alya menatap pintu.
"Kita tanya."
Mereka turun ke ruang kerja. Baskara masih di sana, duduk sendirian dengan lampu meja menyala. Ia terkejut melihat mereka masuk bersama.
"Ada apa lagi?"
Alya meletakkan foto Fajar di meja.
Wajah Baskara berubah.
Raka melihat perubahan itu dan suaranya serak. "Papa kenal dia."
Baskara menutup mata.
"Siapa Fajar?" tanya Alya.
Baskara diam.
Alya meletakkan ponsel dan memutar potongan rekaman Maya. Suara pria tua memenuhi ruang kerja.
Biarkan anak itu dibuang jauh.
Baskara seperti kehilangan darah dari wajahnya.
"Papa tahu?" tanya Raka.
Baskara membuka mulut, tetapi tidak ada suara.
Dinda menangis tanpa suara di belakang mereka.
Alya menatap ayahnya. "Selama ini Papa membuangku karena percaya aku membawa sial, atau karena seseorang menyuruh Papa membuangku?"
Baskara akhirnya berkata, "Aku tidak tahu rekaman itu ada."
"Tapi Papa tahu orangnya."
"Fajar Santoso."
Nama itu jatuh seperti batu.
Raka tersentak. "Santoso?"
"Kakak Pak Hendra. Dia jarang muncul di publik. Dulu dia dekat dengan Nadira sebelum Nadira menikah denganku. Setelah Nadira meninggal, dia... dia memberi saran agar kamu dibesarkan jauh dari Jakarta."
Alya menatapnya tanpa berkedip.
"Dan Papa menurut."
Baskara membalas dengan suara rendah, "Aku sedang hancur. Istriku mati. Semua orang bilang kamu terlalu lemah, terlalu berisiko, dan Laras bisa menjagamu lebih baik."
"Semua orang?"
Baskara tidak menjawab.
"Maya dan Fajar," kata Alya.
Keheningan itu adalah pengakuan.
Alya tertawa pelan. Tidak ada kegembiraan di dalamnya.
"Jadi hidupku dipindahkan seperti koper karena Papa sedih dan mereka memberi saran."
Baskara menatapnya dengan mata merah. "Aku salah."
"Ya."
Tidak ada kata maaf yang bisa memperbaiki delapan belas tahun.
Alya mengambil kembali foto itu.
"Mulai malam ini, jangan bicara padaku sebagai ayah yang punya hak. Kalau Papa ingin bicara, bicara sebagai orang yang berutang."
Ia keluar dari ruang kerja.
Di koridor, Dinda memanggil pelan, "Kak Alya."
Alya berhenti.
Dinda menangis. "Aku tidak tahu Mama..."
"Sekarang kamu tahu."
Dinda menunduk.
Alya berjalan pergi.
Di tangannya, foto Fajar Santoso terasa seperti pintu baru menuju ruangan yang lebih gelap.
Di luar rumah, Rafi menunggu di dekat mobil. Ia tidak bertanya terlalu cepat. Mungkin ia melihat wajah Alya dan tahu bahwa pertanyaan yang salah bisa membuatnya pecah.
"Fajar bukan hanya nama lama," kata Alya akhirnya.
"Aku tahu."
"Kamu tahu sejak kapan?"
Rafi diam sebentar. "Sejak Eyang Laras meminta bantuanku mencari arsip Nadira."
Alya menoleh.
"Eyang?"
"Dia tidak tahu semua. Tapi dia tahu nama Fajar seharusnya tidak pernah hilang dari cerita ibumu."
Alya ingin marah karena satu rahasia lagi muncul dari orang yang ia cintai. Tapi Eyang tidak ada di sana untuk dimarahi, dan Rafi berdiri terlalu dekat dengan rasa bersalahnya sendiri.
"Besok," kata Alya, "aku mau bicara dengan Eyang."
Rafi mengangguk. "Aku antar."
"Bukan sebagai penjaga."
"Sebagai orang yang punya mobil."
Kali ini Alya benar-benar menatapnya.
Rafi menambahkan, "Dan sebagai orang yang tidak ingin kamu menghadapi nama Fajar sendirian."
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔