Semua orang pikir hidup Sheana begitu Indah padahal jauh di luar itu. Banyak kesakitan yang ia lalui selama ini. Dan ia menutupi kesakitan nya dengan sikapnya yang seenak sendiri serta arogan. Bukan itu saja banyak keburukan telah ia lakukan selama ini.
Hingga dia bertemu seorang polisi yang menyelamatkan nyawanya dulu, membuatnya perlahan tertarik dengan Polisi yang ia pikir munafik itu.
Zidan Gautam Aditya, Polisi tampan yang harus berurusan dengan perempuan pembuat onar. Dia yang tak perduli, perlahan mulai perduli dan kasihan terhadap perempuan yang terlihat kuat di luar ternyata rapuh didalam. Rasanya ia ingin terus berada disisinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fafacho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 35
Zidan yang baru saja kembali dari ruangan komandannya tak sengaja berpapasan dengan Toni yang akan berjalan keluar kantor. Mereka hanya saling lihat saja dan Toni hanya menundukkan kepala tanda hormat pada sang senior, lalu dia melewato Zidan begitu saja.
Zidan menoleh melihat Toni yang berjalan melewati dirinya saat ini,
“Toni.” Panggil Zidan pada pria itu.
Toni langsung berbalik melihat Zidan yang barusan memangginya,
“Iya Bripka Zidan ada apa?” balas Toni dan balik bertanya.
“Saya ingin bicara denganmu, kau ada waktu kosong untuk berbicara denganku?” tukas Zidan smabil menatap Toni yang juga menatapnya.
“Ada, kita mau berbicara dimana? Disini atau di tempat lain”
“Dirunganku,”
“Oke” jawab Toni dan langsung berjalan mengikuti Zidan yang berjalan didepannya.
Zidan dan Toni masuk kedalam ruangan pribadi Zidan saat ini, mereka berdiri saling menatap satu sama lain.
“Aku rasa kau tidak suka berbasa-basi, maka aku akan bertanya langsung padamu. Sejaka kapan kau mengenal dan dekat dengan Sheana?” tanpa babibu Zidan langsung bertanya soal apa yang membuatnya bertanya-tanya sedari beberapa hari lalu.
“Kenapa Bripka Zida ingin tahu sekali hubunganku dengan nona Sheana?” Toni masih saja berbicara formal dengan Zidan padahal biasanya dia akan berbicara seperti Ilham yang akrab.
“Apa salahnya kalau saya ingin tahu.”
“Menurutku salah, bukannya Bripka Zidan bilang tidak ada hubungan apa-apa dengan nona Sheana jadi saya rasa anda tidak perlu tahu hubunganku dengannya. dan jika hubungan kita lebih pun, anda tidak perlu tahu soal itu”
Skakk..
Ucapan Toni menohok hati Zidan saat ini, benar seharusnya dia tak perlu tahu tapi rasanya ia penasaran sekali ada hubungan apa Sheana dan Toni karena mereka berdua terlihat begitu akrab.
“Kalau tidak ada yang ingin di katakan lagi, saya permisi” pamit Toni akan keluar drai ruangan Zidan.
Zidan hanya bisa diam dengan ucapan Toni, dia memperhatikan pria itu yang berjalan keluar dari ruangannya. Perkataan Toni memang ada benarnya, tapi kenapa ia seakan penasaran dengan mereka berdua.
...........................................
Zidan saat ini berdiri didepan sebuah rumah besar dengan halaman yang cukup luas serta taman yang begitu hijau. Dia berdiri menatap rumah besar dengan cat putih itu. Sudah lama dia tidak berkunjung kerumah masa kecilnya itu.
“Kau akhirnya datang juga kesini?” suara dari belakang Zidan mengangetkan pria tersebut. Wajah Zidan berubah datar saat melihat orang yang sudah berdiri dibelakangnya saat ini.
“Ada apa kau memintaku bertemu disini?” tanya Zidan pada Kevin yang menatap dirinya tanpa ekspresi.
“Aku hanya ingin mengingatkan dirimu saja dengan masa lalu” jawab Kevin enteng dengan tangannya yang berada di dalam saku celana.
“tidak lucu, katakan apa yang ingin kau bicarakan denganku. Aku sibuk,” tukas Zidan menatap Kevin.
“Aku hanya ingin memberitahumu kalau orang tua kita akan kembali ke Indonesia, jadi temukan mereka dengan perempuan hasil curianmu. Mereka sudah memafkanmu, dan aku juga sudah ikhlas kau mengambil sampah dariku”
“Jaga ucapanmu, Gladys bukan sampah”
“Dia bekasku, jadi pantaskan aku sebut sampah.”
“Kau ...” Zidan akan memukul Kevin tapi niatnya itu ia urungkan.
“Kenapa? Pukul saja. seorang Polis tak bermoral sepertimu mengambil perempuan milik saudaranya sendiri” sinis Kevin.
“Aku tidak pernah mengambilnya, dan aku tidak tahu kalau selama ini kau dan dia ada hubungan mengerti.”
“Dan setelah kau tahu pun, kau tetap melanjutkan pertunanganmu dengannya kan. bahkan hingga sekarang kau masih bersamanya.” Cibir Kevin menatap merendahkan Zidan.
Zidan terdiam dengan ucapan Kevin, karena yang dikatakan adiknya itu benar. dia malah tetap melanjutkan hubungannya dengan Gladys saat ia tahu Kevin mencintai tunangannya bukan mencintai lagi tapi mereka pernah menjalin hubungan.
“Kenpa diam? Kau mengakui dirimu tak bermoral. Pantas nona Sheana menyebutmu munafik, kau memang semunafik ini”
Zidan melebarkan matanya saat Kevin menyebut Sheana kenapa juga saudaranya itu membawa-bawa nama sheana.
“Aku dan Gladys saling mencintai, dan apa salahnya aku melanjutkan hubunganku dengannya. Kau dan dia juga sudah putuskan?” meskipun merasa dirinya salah tapi Zidan masih melakukan pembelaannya. Karena dia mencintai Gladys dan Gladys mencintainya,
“Jelas salah, kau lebih tua dariku tapi pikiranmu menjijikan. Kau rela bertengkar dengan saudaramu sendri bahkan keluargamu sendiri hanya persoalan wanita. Sungguh menyedihkan dirimu,”
Lagi-lagi Zidan hanya bisa diam, karena semua ucapan Kevin benar. dulu dia memanglah bukan orang yang benar, sering berbuat salah bahkan mengambil mantan pacar adiknya sendiri hingga dia di musuhi oleh kedua orang tuanya yang kecewa dengannya.
“jangan bilang juga, kau menjadi polisi seperti ini karena bermaksud menebus keburukanmu dimasalalu” sindir Kevin.
“Terserah apa katamu, aku pergi” Zidan tiba-tiba saja ingin pergi, dia sudah malas berbicara dengan Kevin.
“Silhakan, oh iya satu lagi. Jangan pernah mengganggu atau menemui Nona Sheana lagi, karena dia incaranku sekarang.” Ucap Kevin pada Zidan.
Zidan yang sudah berjalan melewati Kevin langsung berbalik melihat kearah pria itu,
“Apa kau bilang?”
“Jangan merebut apa yang menjadi milikku lagi, jelas” tukas Kevin lantang.
“Aku rasa hilangkan niatanmu untuk mendekati nona Sheana”
“Kenapa kau melarangku, jangan bilang kau menyukainya hah. Gladys mau kau kemanakan?”
“Nona Sheana bukan perempuan yang baik, kau akan mengecewakan Papa dan Mama nantinya. Jangan membuat mereka kecewa seperti diriku yang sudah membuat kecewa mereka”
Kevin hanya tersenyum miring mendengar ucapan dari Zidan, kakak yang hanya terpaut satu tahun darinya. Kevin langsung melenggang pergi berjalan kearah pintu masuk rumahnya.
“Kau dengar aku, aku harap kau tidak mendekatinya” seru Zidan saat Kevin berjalan pergi meninggalkannya.
Zidan berada di dalam mobilnya, yang berada tepat didepan rumah orang tuanya tersebut. Dia melihat kearah gerbang rumah itu.
Ia memukul-mukulkan tangannya ke stir mobil, sambil menahan emosi. Entah kenapa dirinya bisa emosi,
“Kau kenapa Zidan, kau kenapa seakan tak rela adikmu akan bersama Sheana. Ingat Gladys Zidan, ingan tunanganmu” geram Zidan, sangking tak sukanya ia mendnegar Kevin akan menjadikan Sheana incarannya membuatnya sedikit marah bahkan sampai ia mengatakan kalau Sheana bukanlah orang yang baik. Padahal tak ada niat ia mengatakan hal tersebut, dia hanya ingin Kevin tak mendekati Sheana.
Zidan langsung menenggelamkan kepalanya di stir mobil, kepalanya begitu pusing. Apalagi saat dia mengingat ucapan Toni. Kenapa ia seakan marah pada pria-pria yang ingin mendekati Sheana.
Ia tahu perasaan apa yang ada dalam dirinya saat ini, itu perasaan cemburunya. Tapi kenapa dia harus cemburu saat Sheana akan didekati beberapa pria, jelas-jelas hatinya sudah terisi Gladys. Tapi benarkah di hatinya masih ada nama Gladys saat ini, bahkan ia saja sudah beberapa hari tak bertukar kabar dengan perempuan itu.
°°°
T.B.C
sbntar author sebut, zidan itu fahri.
sebut sean utu darren. buat bungung z😣😣