Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!
Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!
Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPK 28
Raja Barawijaya mengangguk. Dia juga sangat yakin jika bisa menguasai kerajaan Kanjuruhan. Apalagi sepasang Pendekar Jari Iblis juga memiliki nama yang cukup menakutkan di kalangan para pendekar wilayah kerajaan Gandara.
"Senopati, kenapa para prajurit yang kau perintahkan untuk membunuh Dharmaseta belum juga kembali?" tanya Raja Barawijaya. Penguasa berumur 35 tahun itu menggeser sedikit duduknya mencari posisi yang lebih nyaman, "Aku punya firasat mereka gagal melaksanakan tugasnya," lanjutnya.
"Besar kemungkinan mereka tidak gagal, Paduka. Mungkin mereka lelah dan berhenti di suatu tempat untuk beristirahat." Jalaksora mencari alibi yang pas untuk berdalih. Sebab dia sendiri juga mendapat firasat yang sama.
"Tapi bukankah hanya ini satu-satunya jalan tercepat agar bisa sampai di kotaraja Kanjuruhan?" Raja Barawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan seraya berpikir.
"Benar, Paduka. Tapi hamba rasa Dharmaseta tidak akan mungkin melewati jalan ini sebab dia bersama anak dan istrinya. Jika lewat jalan lain maka akan memutar, tapi nanti tetap ketemunya di balik gunung ini, tepatnya di bukit tandus dan waktunya lebih lama."
Jika usaha untuk membunuh Dharmaseta sampai gagal, dan mantan Senopati Agung itu bisa sampai di istana kerajaan Kanjuruhan, maka peluang untuk menang melawan kerajaan Kanjuruhan akan menipis. Sebab Dharmaseta pasti memberitahu Raja Gajayana tentang rencana penyerangan yang akan dilakukan pasukan kerajaan Gandara. Pastinya mereka akan bersiap untuk menyambut serangan, pikir Jalaksora.
Perang kali ini juga menjadi pertaruhan bagi Jalaksora sebagai Senopati Agung yang baru. Jika dia bisa membawa kerajaan Gandara meraih kemenangan dan menguasai kerajaan Kanjuruhan, maka prestasinya bisa dianggap sama dengan Dharmaseta, atau bahkan lebih.
Keesokan paginya, rombongan besar pasukan kerajaan Gandara kembali melanjutkan perjalanan menuju kotaraja kerajaan Kanjuruhan. Semangat masih kuat terpatri di dalam benak tiga puluh ribu prajurit meski mereka harus melalui perjalanan selama dua bulan.
Sementara itu di dalam aula istana kerajaan Kanjuruhan, pembicaraan terus dikebut untuk mencari rencana terbaik menyambut serangan yang tak lama lagi akan mereka alami.
"Mohon maaf, Paduka ... Hamba memang tidak pandai membuat rencana yang brilian. Tapi semalam hamba menemukan sebuah rencana agar peperangan tidak terjadi di kotaraja, dan kita bisa menghindarkan korban dari rakyat sipil," ucap Arya tiba-tiba di tengah pembicaraan yang sedang terjadi.
Para pejabat yang berada di dalam aula mengalihkan pandangannya terarah kepada Arya. Mereka tampak meragukan rencana yang akan dikemukakan oleh pemuda tersebut.
Menurut mereka, Arya boleh memiliki kemampuan ilmu kanuragan yang menakutkan, tapi jika tentang rencana perang, mereka masih meragukannya.
Berbeda sikap ditunjukkan Raja Gajayana. Penguasa kerajaan Kanjuruhan itu merasa perlu mendengarkan rencana yang sudah dipikirkan Arya. Masalah Rencana Arya itu nanti dipakai atau tidak, bisa dipikir belakangan.
"Coba katakan apa rencanamu."
Arya menganggukkan kepalanya. "Apa paduka masih ingat tentang bukit tandus yang hamba pakai untuk berlatih kemarin?"
Raja Gajayana mengernyitkan dahinya. "Sebentar ... Jangan kau bilang jika rencanamu nanti akan ditempatkan di bukit tandus itu, Arya."
"Memang di sanalah rencana yang sudah hamba pikirkan, Paduka," balas Arya.
"Apa kau ingin membunuh pasukan kita jika perang terjadi di sana, Arya? Di bukit tandus itu tidak ada sumber air sama sekali dan suhunya sangat panas," sahut Mandala.
"Apa pasukan kerajaan Gandara tidak akan berada di situ juga, Tuan Senopati?" tanya Arya sambil tersenyum sedikit lebar.
Raja Gajayana semakin tertarik dengan rencana Arya. Dia ingin lebih jauh lagi kira-kira apa yang ada di dalam pikiran pemuda tersebut.
"Jika perang terjadi di bukit tandus itu, memang benar pasukan kerajaan Gandara pastinya juga di situ," balas Mandala.
"Aku akan menjelaskannya. Pertama, Situasi kita dan mereka akan sama. Suhu yang ekstrim dan juga sulit mencari sumber air. Tapi jika kita lebih dulu sampai di sana sebelum pasukan lawan tiba, maka kita punya keuntungan memilih posisi yang lebih strategis dan menguntungkan." Arya dengan begitu tenang menjelaskan rencananya.
Dharmaseta yang dari semula diam mendengarkan, akhirnya bisa memahami rencana Arya. Bahkan dia dibuat kagum dengan pemikiran Arya yang begitu matang.
"Aku sudah paham dengan rencana Arya, Paduka. Mohon maaf jika hamba ikut bersuara ... Tapi menurut hamba, rencana yang dikemukakan Arya sangat bisa diterima dengan akal sehat. Untuk masalah air dan bahan makanan, bisa kita bawa dari sini atau kita cari sebelum sampai di bukit tersebut. Bukankah begitu rencanamu, Arya?"
"Benar sekali, Paman, dan keuntungan kita adalah, kita lebih siap dari pada mereka. Dari segi benteng alam yang terdapat di bukit tandus itu, dan kita juga bisa mencari posisi yang lebih baik untuk melakukan serangan."
"Selain itu kita akan berusaha memancing mereka untuk masuk lembah, lalu memberondong mereka dengan serangan?" tanya Dharmaseta sambil tersenyum lebar.
"Tepat sekali, Paman. Aku berlatih di sana selama satu bulan lebih, jadi aku sangat hapal mana lokasi yang bisa menguntungkan buat kita," sahut Arya.
Raja Gajayana tersenyum lebar. Perpaduan pikiran dua orang yang berbeda umur dan pengalaman itu ternyata bisa menghasilkan rencana yang matang.
"Kita pakai rencana Arya. Segera persiapkan pasukan dan berangkatkan ke sana. Paling tidak 10 hari perjalanan prajurit kita akan tiba di sana."
Semua pejabat istana seketika berdiri setelah Raja Gajayana mengeluarkan titahnya. "Kami siap menjalankan titah Paduka!" ucap mereka serempak.
"Dalam perang nanti, Arya dan Dharmaseta yang akan memimpin. Semuanya wajib mematuhi apa yang mereka berdua katakan!" Lanjut Raja Gajayana. Tampaknya penguasa kerajaan Kanjuruhan itu bisa menilai, jika rencana yang dikemukakan Arya jauh lebih menguntungkan dari pada rencana yang dikemukakan pejabat lainnya.
Di sisi lain, Dharmaseta juga yakin untuk mengikuti apa kata istrinya tentang nasionalisme dan pengabdiannya yang sudah dilukai oleh Raja Barawijaya.
Hari itu juga 20 ribu pasukan yang sudah bersiap di Kotaraja, diberangkatkan menuju bukit tandus. Sementara 5 ribu prajurit susulan dari kadipaten terdekat akan menyusul di lain hari.
Sebelum pasukan diberangkatkan, Raja Gajayana memberikan orasi untuk membakar semangat pasukannya. Dalam orasinya, Raja Gajayana berpesan jika mereka berperang bukan untuk dirinya sebagai raja, tapi demi kedaulatan dan juga demi rakyat kerajaan Kanjuruhan.
Rombongan besar kerajaan Kanjuruhan dipimpin langsung oleh Dharmaseta dan Mandala serta Santoso. Sedangkan Arya akan menyusul beberapa hari ke depan.
Setelah pasukan kerajaan Kanjuruhan berangkat menuju Medan perang, di dalam aula hanya ada Arya dan Raja Gajayana serta putri Citra. Keheningan untuk sementara sedang terjadi.
Dalam kesempatan itu, Raja Gajayana mengutarakan unek-unek terpendamnya tentang hubungan Arya dan Putri Citra. Dia mempunyai harapan besar agar keduanya menikah sebelum dirinya meninggal dunia.
"Arya, kau tahu sendiri jika aku sudah sangat tua dan pikiranku juga mulai sedikit lambat untuk menjalankan roda kepemimpinan. Mumpung keadaan aula saat ini sedang sepi dan hanya ada kita bertiga, jika boleh aku ingin bertanya sesuatu kepadamu," ucap Raja Gajayana.
Arya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Silakan, Paduka."
"Begini, Arya ... Sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadap putriku Citra? Apakah kau juga memiliki perasaan yang sama dengan apa yang dirasakan oleh putriku kepadamu?"
Arya terkejut. Napasnya sampai terhenti, begitu gendang telinganya menangkap pertanyaan yang diajukan Raja Gajayana. Matanya berlari-lari seiring pikirannya yang berputar cepat mencari jawaban.