"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Pembantaian
Tengah malam tiba. Langit Kota Lembah Hitam tertutup awan mendung tebal, menyembunyikan cahaya bulan dan bintang.
Di dalam kamar penginapan, napas teratur Zhou Hao dan Baii Ling terdengar tenang. Sebelum tidur, Changqing sengaja menaruh sehelai daun herbal Tidur Lelap di atas pembakar dupa kamar, memastikan kedua rekannya terlelap begitu nyenyak hingga getaran petir sekalipun tidak akan membangunkan mereka.
Changqing berdiri di dekat jendela, mengenakan pakaian gelap sederhana dengan selembar kain hitam menutupi wajahnya dari hidung ke bawah.
Ia kemudian membuka jendela kayu tanpa menimbulkan bunyi gesekan sedikit pun, lalu melompat keluar layaknya seekor kelelawar malam. Tubuh mudanya melayang melintasi atap-atap rumah warga dengan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, mendarat dari satu genteng ke genteng lain tanpa membuat satu pun genteng bergeser.
Sepuluh menit kemudian, Changqing tiba di ujung barat kota.
Bau busuk dari sisa-sisa kulit hewan yang membusuk langsung menyengat hidung. Di depannya berdiri bangunan tua bekas pengolahan kulit hewan yang terbuat dari bata merah kusam dan berpagar besi berkarat. Suasana sekitar tampak gelap dan ditinggalkan.
Namun di mata batin Changqing, hawa pembunuhan dan napas manusia yang pekat berdenyut kencang dari bawah tanah bangunan itu.
Changqing menyusup masuk melalui jendela atap pabrik yang rusak. Ia melompat turun ke ruang pengeringan kulit yang gelap gulita. Di sudut ruangan, tersembunyi di balik tumpukan drum kayu kosong, terdapat sebuah pintu besi yang sedikit terbuka, memancarkan cahaya obor kemerahan dari bawah.
Changqing melangkah turun melalui tangga batu menuju gudang bawah tanah.
Pemandangan di dasar gudang membuat suhu udara di sekitar Changqing turun drastis.
Gudang bawah tanah itu telah diubah menjadi penjara dan ruang penyiksaan yang mengerikan. Di sepanjang dinding batu, terdapat empat ruangan berpagar besi berkarat berisi sekitar sepuluh anak kecil berwajah pucat dan gemetar ketakutan yang diculik dari berbagai desa sekitar. Di tengah ruangan, sebuah meja batu berlumuran darah kering dipenuhi oleh botol-botol racun dan pisau bedah.
Dua belas penjaga berpakaian hitam berdiri berjaga di sekitar ruangan berpagar besi. Sementara itu, di depan altar batu, berdiri tiga pria paruh baya yang memancarkan aura tingkat Pendekar Tinggi Tahap 1 hingga Tahap 3. Mereka adalah tiga ketua cabang Bayangan Gerhana di Kota Lembah Hitam.
"Sialan! Sudah jam segini Kakak Kelima dan Si Mata Satu belum juga memberi kabar!" geram salah satu ketua cabang bertubuh jangkung yang memegang cambuk besi. "Kalau sampai pagi bocah bermeridian murni itu tidak ditemukan, Tuan Muda di Gunung Teratai akan menguliti kita hidup-hidup!"
"Tenanglah, Kakak Kedua," jawab ketua cabang lain yang berkepala botak. "Kota ini sudah kita blokir. Tidak ada penginapan yang terlewat. Kalaupun anak itu bersama pendekar sekte luar, besok pagi kita tinggal mengirim pasukan pembunuh malam untuk mengambil mayat mereka."
Mendengar rencana keji itu dari tangga gelap, tangan Changqing perlahan meraba gagang pedang besi hitamnya.
‘Di kehidupanku masa depan, aku membiarkan tempat-tempat seperti ini terus tumbuh karena terlalu fokus pada konflik antar sekte besar,’ batin Changqing dingin. ‘Kejahatan sejati justru berakar dari lorong-lorong busuk seperti ini.’
Sring.
Suara cabutan pedang yang pelan bergema tipis di ruangan bawah tanah itu.
"Siapa di sana?!" teriak ketua cabang berkepala botak, menoleh ke arah tangga yang gelap.
Sebagai jawaban, sesosok bayangan hitam melesat keluar dari kegelapan dengan kecepatan yang melampaui pandangan mata manusia biasa.
Crass! Crass! Crass!
Tiga penjaga biasa di dekat tangga langsung tumbang sebelum mereka sempat mengangkat tombak mereka. Tenggorokan mereka robek dengan potongan setipis rambut, darah menyembur tanpa sempat mengeluarkan teriakan.
"Serang! ada penyusup!" jerit penjaga lainnya panik. Sembilan penjaga yang tersisa menyerbu maju serentak dengan golok terhunus.
Namun bagi Wei Changqing, sembilan penjaga tingkat Pendekar Rendah itu tidak lebih dari sekumpulan boneka jerami. Ia tidak berhenti melangkah. Pedang hitamnya berputar dalam ayunan mendatar dan vertikal yang sangat sederhana, namun mengeluarkan esensi mutlak dari Niat Pedang Nirwana.
Wesh... slat! slat! slat!
Setiap kali langkah Changqing bergeser satu meter, dua tubuh penjaga ambruk ke lantai batu dengan meridian vitalnya terputus. Dalam lima menit, dua belas penjaga biasa telah menjadi mayat yang berserakan di sekitar altar.
Tiga ketua cabang terperangah ketakutan. Mereka belum pernah melihat teknik membunuh yang begitu bersih dan tanpa ampun.
"Bocah keparat!" teriak ketua cabang yang bertubuh jangkung. Ia mengayunkan cambuk besinya yang dialiri tenaga dalam tingkat Pendekar Tinggi Tahap 3, menghasilkan ledakan suara yang mengarah tepat ke kepala Changqing.
Changqing tidak menunduk. Ia memiringkan pedang hitamnya ke sudut, membiarkan ujung cambuk besi itu membelit bilah pedangnya.
"Kena kau!" seru ketua jangkung girang, berniat menarik pedang Changqing dengan tenaga dalamnya.
Namun saat ia menarik cambuknya, ekspresinya berubah menjadi horor. Pedang hitam di tangan Changqing terasa seberat gunung besi yang tak bisa digoyahkan sedikit pun!
"Giliran ku," bisik Changqing dari balik kain cadarnya.
Melalui bilah pedang yang terlilit cambuk besi itu, Changqing mengalirkan getaran niat pedang murninya yang berkekuatan tinggi. Getaran itu merambat cepat melewati rantai cambuk, dan langsung menghantam telapak tangan dan jalur meridian lengan sang ketua bertubuh jangkung itu.
Buum!
"Aaaargh!" Ketua jangkung menjerit histeris saat seluruh tulang lengan kanannya remuk dari dalam akibat ledakan tenaga dari inti pedang. Ia terpental lima meter dan membentur dinding batu hingga pingsan tak bernyawa.
Dua ketua cabang yang tersisa—si botak dan seorang pria bertato ular seketika pucat pasi. Mereka kehilangan seluruh keberanian mereka dan langsung berbalik untuk melarikan diri ke arah lorong rahasia di belakang altar.
"Mau ke mana?"
Suara dingin Changqing sudah terdengar tepat di depan muka mereka. Ilmu meringankan tubuhnya membuat Changqing seolah berteleportasi memotong jalur pelarian mereka.
Pedang hitam kusam di tangan Changqing menebas dalam satu lingkaran cahaya hijau zamrud yang sangat tipis di kegelapan.
Slat.
Langkah kedua ketua cabang itu terhenti mendadak. Mata mereka melotot menatap ke arah depan. Dua detik kemudian, garis darah muncul di leher mereka berdua serentak, dan tubuh mereka ambruk ke lantai batu bawah tanah.
Selesai. Seluruh penjaga dan ketua cabang Bayangan Gerhana di Kota Lembah Hitam telah terhapus dari dunia dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Changqing menyekat pedang hitamnya yang bersih ke jubah salah satu mayat, lalu menyarungkannya kembali. Ia berjalan menuju ruangan ruangan berpagar besi tempat sepuluh anak kecil yang menangis ketakutan di dalam sudut.
Dengan satu ayunan pedang yang presisi, Changqing memotong rantai gembok keempat ruangan berpagar besi tersebut hingga terbuka lebar.
"Kalian sudah aman sekarang," kata Changqing dengan suara yang lembut. Ia menaruh kantung berisi puluhan keping perak milik para ketua penjahat tadi di atas lantai dekat pintu penjara. "Ambil uang ini untuk bekal kalian pulang ke keluarga atau desa kalian. Keluar lewat tangga atas dan lari menuju pos pengawal kota sekarang juga."
Anak-anak itu sujud berterima kasih sambil menangis haru, lalu bergegas berlari keluar dari neraka bawah tanah tersebut menuju kebebasan.
Setelah seluruh anak itu aman pergi, Changqing menumpuk mayat-mayat anggota Bayangan Gerhana di dekat altar batu, menyiramnya dengan minyak yang ada di ruangan itu, lalu melemparkan sebuah obor api ke atasnya.
Wuuush!
Kobaran api merah langsung naik, membakar sarang penyiksaan itu menjadi abu, sekaligus menghapus seluruh jejak pertarungan dan pedang Wei Changqing.
Saat api mulai melahap seluruh gedung ruangan pengolahan kulit hewan di ujung barat kota, sesosok bayangan hitam telah melayang kembali ke arah penginapan di timur, mendarat dengan mulus di jendela kamarnya.
Markas cabang musuh telah musnah. Hari ini, Changqing, Zhou Hao, dan Baii Ling siap pulang ke Sekte Lembah Bambu Biru dengan selamat.
lanjutkan Thor.....👍👍🙏