NovelToon NovelToon
Istri Seksi Gus Ibra

Istri Seksi Gus Ibra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elma Grace

​"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"


Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.

​Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.

Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.

​​Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

​Tiga hari setelah insiden telepon dari Mama Linda, hubungan Bita dan Gus Ibra perlahan-lahan mencair dengan cara yang sangat tidak terduga. Bita tidak lagi memasang wajah ketus setiap kali berpapasan dengan suaminya. Meskipun sifat ketus dan gengsi tingginya belum hilang sepenuhnya, setidaknya kini Bita mau duduk tenang mendengarkan Ibra berbicara, bahkan mulai terbiasa dengan perhatian-perhatian kecil yang selalu pria itu berikan setiap hari.

​Namun, ketenangan di rumah itu mendadak diuji pada suatu Kamis sore.

​Bita baru saja pulang dari kampus dan sedang bersantai di ruang tengah sambil menonton Netflix, ketika pintu depan terbuka. Gus Ibra melangkah masuk dengan langkah tegapnya yang khas, membawa tas kerja di tangan kanan, sementara tangan kirinya memegang ponsel yang masih menempel di telinga.

​"Iya, Umi. Ini Ibra baru sampai rumah. Ibra jemput ke sekarang? Oh, sudah di jalan? Baik, Umi. Waalaikumsalam."

​Bita seketika menegakkan posisi duduknya di sofa. Sepasang matanya membelalak menatap Ibra yang baru saja mematikan ponselnya. "Gus... tadi lo bilang apa? Umi? Umi lo mau ke sini?!"

​Ibra mengangguk tenang, meletakkan tas kerjanya di atas meja konsol dekat pintu. "Iya. Umi ada acara pengajian akbar dan silaturahmi jamiyyah besok pagi. Dan Umi memutuskan untuk menginap di rumah kita selama dua malam."

​"H-hah?! Menginap?!" Bita langsung berdiri dari sofa, mendadak diserang rasa panik yang luar biasa. "Kenapa gak bilang dari kemarin-kemarin sih, Gus? Gue belum persiapan apa-apa! Rumah belum dibersihin total, terus... terus gue harus masak apa buat mertua?!"

​Melihat kepanikan istrinya yang tampak menggemaskan dengan rambut yang dicepol asal-asalan, Ibra berjalan mendekat. Langkahnya berhenti tepat dua langkah di depan Bita. "Tenang, Tsabita. Soal kebersihan rumah, Bi Ani sudah membereskannya tadi siang. Soal makanan, Umi bukan tipikal orang yang menuntut. Apa pun yang ada di meja, beliau pasti suka. Yang perlu kita khawatirkan sekarang bukan itu."

​Bita mengernyit bingung. "Terus apa?"

​Ibra menatap Bita lekat-lekat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah tangga lantai dua. "Umi tidak tahu kalau selama ini kita tidur di kamar yang berbeda."

​Deg.

​Jantung Bita rasanya seperti berhenti berdetak sekilas. Benar. Selama ini mereka hidup seperti rekan satu rumah yang menyewa kamar berbeda; Bita di kamar utama yang luas, sedangkan Ibra di kamar sebelah yang sekat balkonnya hanya dibatasi kaca.

​"Umi itu sangat jeli dan peka, Bita," lanjut Ibra, suaranya terdengar serius namun tetap lempeng. "Kalau beliau melihat baju-baju saya ada di kamar sebelah, beliau pasti langsung tahu ada yang tidak beres dengan pernikahan kita. Saya tidak mau membuat Umi kepikiran atau cemas di usianya yang sekarang."

​Bita menggigit bibir bawahnya, meremas ujung kaus yang dipakainya. "Jadi... maksud lo?"

​"Mau tidak mau, selama Umi di sini, saya harus memindahkan semua pakaian dan perlengkapan tidur saya ke kamar kamu," ujar Ibra tenang, seolah-olah mengumumkan prakiraan cuaca. "Dan kita... harus tidur sekamar."

​"Hah?! Sekamar?! Di... di satu kasur?!" suara Bita meninggi, wajahnya dalam sekejap langsung merona merah sampai ke telinga.

​"Memangnya di mana lagi? Kasur di kamar utama itu ukuran king size, cukup untuk tiga orang kalau mau. Dan sofa di kamar kamu terlalu pendek untuk ukuran tubuh saya," balas Ibra logis tanpa beban. "Kecuali, kamu mau saya tidur di lantai?"

​Bita gelagapan. "Ya... ya gak gitu juga. Masa seorang Gus tidur di lantai, ntar kalau Umi tiba-tiba masuk kamar terus lihat, gue bisa langsung dicoret dari daftar menantu!" Bita mengacak rambutnya frustrasi. "Y-ya udah deh! Cepetan lo pindahin barang-barang lo sebelum Umi dateng! Buruan!"

​Ibra tidak bisa menahan senyuman tipisnya melihat Bita yang panik setengah mati. Dengan gerakan cepat, mereka berdua berbagi tugas. Ibra memindahkan semua pakaian dan parfumnya ke dalam lemari besar di kamar utama Bita. Sementara Bita bertugas menyembunyikan segala jejak bahwa kamar sebelah pernah ditempati oleh Ibra, mengubahnya kembali menjadi kamar tamu yang rapi dan steril.

​Baru saja Ibra meletakkan bantal tambahannya di atas kasur Bita, suara klakson mobil di depan pagar terdengar.

​"Umi sudah datang," ucap Ibra.

​Bita langsung menarik hijab instannya, memakainya dengan terburu-buru sampai agak miring, lalu mengikuti langkah Ibra menuruni tangga untuk menyambut sang ibu mertua.

​Begitu pintu depan dibuka, seorang wanita paruh baya berwajah sangat teduh dan anggun dengan balutan gamis serta jilbab lebar berwarna marun melangkah masuk. Wajahnya langsung berbinar cerah begitu melihat anak dan menantunya.

​"Assalamualaikum, Ibra, Bita..." sapa Umi hangat.

​"Waalaikumsalam, Umi," jawab Ibra dan Bita hampir bersamaan.

​Ibra maju lebih dulu, mencium punggung tangan ibunya dengan penuh takzim. Bita mengikuti dari belakang, menyalimi tangan mertuanya dengan sopan. Namun, belum sempat Bita menegakkan tubuhnya, Umi sudah lebih dulu menarik Bita ke dalam pelukan hangat yang sangat erat. Aroma wangi minyak zaitun dan bedak bayi khas ibu-ibu langsung menguar, membuat Bita terpaku. Bita jarang sekali mendapatkan pelukan sehangat ini dari Mama Linda yang biasanya menghindari kontak fisik terlalu dekat agar pakaian mahalnya tidak kusut.

​"MasyaAllah, menantu Umi cantik sekali. Gimana kabarnya, Nak? Sehat?" tanya Umi setelah melepaskan pelukannya, kedua tangannya menangkup pipi Bita dengan lembut. Mata Umi kemudian melirik ke arah hijab Bita yang sedikit miring akibat terburu-buru tadi. Dengan telaten, jemari Umi merapikan lipatan dan membenarkan jilbab Bita. "Jilbabnya sampai miring begini, pasti repot ya nungguin Ibra pulang kerja?"

​Wajah Bita memerah, ia melirik Ibra yang hanya diam memperhatikan dengan tatapan geli. "E-nggak kok, Umi. Sehat, alhamdulillah. Umi gimana perjalanannya? Capek ya?"

​"Sedikit capek, tapi begitu lihat rumah kalian yang adem dan rapi begini, capeknya Umi langsung hilang," jawab Umi tersenyum manis. "Ibra, bawa barang-barang Umi ke kamar tamu ya."

​"Iya, Umi. Kamarnya sudah siap di lantai dua," jawab Ibra patuh, langsung mengangkat koper milik Umi ke atas.

​Malam itu berlalu dengan suasana yang luar biasa hangat bagi Bita. Mereka makan malam bersama dengan menu pesanan ojek online yang sengaja dipilihkan Ibra—karena Bita jujur mengaku pada Umi kalau ia belum bisa memasak makanan berat. Bukannya marah, Umi justru tertawa dan berjanji akan mengajari Bita bikin sayur lodeh kesukaan Ibra besok sore.

​Namun, kehangatan itu mendadak berubah menjadi ketegangan tingkat tinggi bagi Bita ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Umi sudah masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Berarti, saatnya bagi Bita untuk kembali ke kamarnya sendiri.

​Kamar yang malam ini... tidak lagi menjadi wilayah privatnya sendiri.

​Dengan tangan gemetar, Bita membuka pintu kamar utamanya. Begitu masuk, ia mendapati Gus Ibra sudah berada di dalam. Pria itu baru saja selesai mengambil air wudhu dari kamar mandi dalam. Ibra hanya mengenakan kaos oblong putih polos dan sarung tenun hitam, memperlihatkan rambut hitamnya yang sedikit basah karena sisa wudhu.

​Bita menelan ludahnya susah payah, berdiri mematung di dekat pintu yang sudah ia kunci rapat.

​Ibra melirik istrinya, lalu berjalan dengan santai menuju sisi kanan kasur king size. Ia menarik selimut, lalu mendudukkan dirinya di atas kasur sambil membuka sebuah kitab kecil. "Kenapa masih berdiri di sana, Tsabita? Tidak mau tidur? Besok kamu ada kuliah pagi, kan?"

​"G-Gus... lo... lo beneran mau tidur di situ?" tanya Bita beralasan, suaranya terdengar cicit seperti anak tikus.

​Ibra menepuk sisi kiri kasur yang masih kosong dan rapi. "Lalu saya harus tidur di mana lagi? Sini, naik. Saya tidak akan macam-macam kalau itu yang kamu takutkan. Saya tahu batasan, Bita."

​Bita menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan hatinya. “Ayo, Bita! Masa gini aja takut! Lagian dia suami sah lo!” batinnya menyemangati diri sendiri.

​Dengan langkah kaku, Bita berjalan mendekati kasur. Ia naik ke atas tempat tidur dari sisi kiri, lalu buru-buru membungkus seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal sampai sebatas dada. Bita memosisikan badannya membelakangi Ibra, menghadap langsung ke arah jendela balkon, tidur di ujung kasur paling pinggir sampai hampir merosot jatuh.

​Suasana kamar mendadak hening total selama beberapa menit. Hanya terdengar suara detik jam dinding dan desau halus AC. Bita bisa merasakan kasur di belakangnya sedikit bergerak ketika Ibra meletakkan kitabnya di meja nakas, lalu ikut merebahkan tubuhnya.

​Jantung Bita berdegup dengan ritme yang luar biasa kencang. Bau parfum maskulin khas kayu cendana milik Ibra mendadak menguar kuat, memenuhi indra penciumannya karena jarak mereka yang kini hanya terpaut beberapa puluh sentimeter di atas satu ranjang yang sama.

​"Tsabita."

​Bita seketika memejamkan matanya rapat-rapat saat mendengar suara bariton rendah Ibra memanggil namanya dari arah belakang. "A-apaan?"

​"Kalau kamu tidurnya terlalu pinggir begitu, nanti malam kamu bisa jatuh ke lantai," ucap Ibra, nadanya terdengar sangat lempeng namun ada sedikit nada geli di dalamnya. "Geser agak ke tengah sini. Saya tidak akan melewati batas tengah kasur."

​"Gak mau! Gue nyaman begini!" ketus Bita, mencoba menyembunyikan fakta bahwa suaranya bergetar karena gugup.

​Mendengar keras kepalanya sang istri, terdengar helaan napas pendek dari Ibra. Tanpa diduga, Bita merasakan sebuah tarikan pelan namun bertenaga pada ujung selimutnya. Tubuh Bita yang terbungkus selimut otomatis ikut bergeser sekitar dua puluh senti ke arah tengah kasur akibat tarikan tersebut.

​"Gus! Apa-apaan sih lo?!" Bita langsung berbalik badan dengan gusar, berniat mengomeli suaminya.

​Namun, kata-kata Bita seketika tertelan kembali di tenggorokan.

​Begitu ia berbalik, wajah Gus Ibra ternyata berada sangat dekat dengannya. Pria itu sedang tidur miring, menopang kepalanya dengan tangan kanan, sementara mata tajamnya yang teduh menatap langsung ke dalam manik mata bulat milik Bita. Dalam jarak sedekat ini, Bita bisa melihat dengan jelas bulu mata Ibra yang lebat dan pahatan rahangnya yang tegas di bawah temaram lampu tidur yang remang-remang.

​Napas hangat Ibra bahkan terasa menerpa permukaan wajah Bita.

​"Nah, kalau posisinya di sini, kamu tidak akan jatuh," bisik Ibra teramat rendah, suaranya malam ini terdengar berkali-kali lipat lebih seksi dan menenangkan di telinga Bita. "Sekarang tidur, Tsabita. Pejamkan mata kamu."

​Bita mendadak kehilangan seluruh kemampuan bicaranya. Mulutnya terkunci rapat, sementara pasokan oksigen di sekitarnya rasanya menipis. Pandangan mata Ibra seolah mengunci seluruh kesadarannya, meruntuhkan sisa-sisa ego tsundere yang ia miliki.

​Dengan wajah yang sudah matang seperti kepiting rebus, Bita buru-buru menarik selimutnya ke atas sampai menutupi setengah wajahnya, menyisakan sepasang matanya saja yang melotot. "Y-ya udah! Lo juga merem! Jangan ngeliatin gue terus!"

​Ibra terkekeh rendah—suara tawa tertahan yang terdengar sangat renyah di keheningan malam. Pria itu akhirnya mengubah posisinya menjadi telentang, meletakkan kedua tangannya di atas dada, lalu memejamkan matanya perlahan. "Selamat tidur, Istriku."

​Bita tertegun di balik selimutnya. Panggilan 'Istriku' yang diucapkan Ibra dengan nada selembut itu sukses membuat seluruh pasukannya di dalam dada berhamburan kacau berantakan. Sambil memandangi langit-langit kamar dengan jantung yang masih berdisko gila-gilaan, Bita menyadari satu hal... menginapnya Umi di rumah mereka mungkin akan menjadi awal dari runtuhnya sekat pembatas di antara dirinya dan Gus Ibra untuk selama-lamanya.

1
Anita Rahayu
kapan ni buat dedek bayi yg gemoy
Elma Grace: eh tenang aja. ada kok nanti. tunggu yaa, bikin sedikit konflik biar makin deket dulu merekanyaa
total 1 replies
merry
kyky reno ngk bergerak sndrian dehh,, x Safira itu terlibat krn iri sm bita x y
Clarisa Putri: aku juga mikir gini
total 1 replies
Sri Jumiati
apa safira suka sm gus ibra ya
Elma Grace
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!