Bagaimana bisa seorang laki-laki dewasa menyukai gadis remaja? Apakah itu bisa di sebut sebagai cinta?
Hanzel seorang pria yang umurnya sudah matang jatuh cinta kepada gadis remaja yang bernama Glancea, gadis yatim piatu yang hidup sendiri.
Hanzel yang notabenya seorang yang berkecimpung di dunia bawah bertemu dengan Cea, gadis remaja yang hidupnya penuh misteri.
Apa kah mereka bisa bersama? Dan apa tanggapan Cea terhadap cinta dari pria yang jauh lebih dewasa darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatafisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta Bantuan
"Gue di sini dari tadi, jadi menurut lo gue ngada-ngada gitu? " tanya Alan, ia merasa mereka semua sangat lucu.
"Abila bilang Cea sengaja numpahin kuah bakso yang panas ke arahnya di tambah itu kuah pedas! Kulitnya terbakar. " ungkap Zaki dengan jujur.
"Parah banget lo. " ucap Aldi dengan tidak menyangka.
"Yakin? Bukannya dia yang sengaja mau ngebuat aku kesiram kuah itu tapi sayangnya malah dia yang kena? " ucap Cea dengan sinis.
"Maksud lo apa ngomong gitu? " tanya Darlen.
"Apa yang di bilang sama Cea bener. "
Kalimat dari Alan seolah-olah menyulut emosi dari Zaki.
"Cih! Ada hubungan apa lo sama Cea? Kesannya kaya ngebela banget. " tuduh Zaki.
"Gue ngebela kebenaran. " ucap Alan dengan santai.
Suasana yang sudah tidak kondusif membuat Darlen membubarkan para siswa yang menonton, ia juga menyuruh untuk para temannya pergi dari sana.
Darlen tidak mau kembali ada masalah di masa jabatannya ini, semenjak mendapat surat peringatan pertama dari guru.
"Kenapa sih Arr? " tanya Zaki masih dengan hati yang kesal.
"Kita bisa cek cct buat kebenarannya, percuma kayak gitu yang ada kelihatan kayak ga berpendidikan. " ucap Darlen.
Namun, Zaki sedikit tersinggung dengan perkataan Darlen. Ia tidak suka dengan ucapan yang seolah-olah dia salah dalam hal ini.
"Maksud lo ngomong gitu apa? Gue ga berpendidikan? " tanya Zaki.
"Bukan gitu Ki, udah lah ga usah di bahas ayo kita pergi lihat cctv aja. " ajak Darlen.
Akhirnya mereka sepakat untuk pergi ke ruangan pengawas cctv di sekolah. Sesampainya di situ mereka segera. melihat rekamannya.
Terlihat jelas gerak-gerik Abila dan gerakan Abila yang sengaja mengulurkan kakinya, walaupun gerakannya tidak lambat namun bisa di lihat dengan mata telanjang.
"Pinter juga dia. " ucap Andra memuji otak licik milik Cea.
"Tau kan maksud gue. " ucap Darlen melihat ke arah Zaki yang hanya terdiam.
"Ternyata emang Abila yang cari masalah duluan. " ucap Aldi, ia kesal sekali.
Tadi Aldi sudah berbicara seperti itu kepada Cea, betapa malu dirinya ketika sudah mengetahui kenyataannya.
"Tunangan lo kayaknya harus di kasih tau Ki. "
"Di kantin tadi ada Alan, sekarang dia udah masuk sekolah. " ucap Darlen.
"Gue sempet lihat dia natap gue kayak mau ngebunuh. " ucap Widi.
Sedari tadi Widi hanya diam karena ia merasa tatapan membunuh dari Alan di layangkan untuknya. Ditambah Widi mencurigai Alan sebagai penerornya.
"Berarti ga lama lagi Siska bakalan ikut masuk? " tanya Andra menebak.
"Mungkin. " jawab Darlen.
"Lo udah punya bukti yang nunjukin kalo Bulan ga salah Wid? " tanya Aldi.
Widi menggelengkan kepalanya, sejak waktu pertama kali masalah terjadi Widi sudah mencari tau bukti-bukti. Namun, satu bukti pun tidak bisa ia dapatkan padahal Widi sudah menyewa seseorang yang cukup kuat untuk mencarinya.
"Terus gimana, emangnya lo ga takut kalo Ternyata Bulan pelakunya? " tanya Andra, ia cukup penasaran dengan jawaban Widi.
"Gue percaya Bulan ga mungkin lakuin itu. "
"Semoga aja apa yang lo bilang bener. " ucap Andra.
Firasatnya mengatakan jika Bulan adalah pelakunya, tidak mungkin Alan asal menuduh Andra mengenal bagaimana Alan.
"Gue mau cek keadaan Shine. " ucap Darlen dan pergi menuju ke uks.
Sedangkan Cea masih di kantin bersama Alan, Cea juga sudah membeli makanan yang baru untuk di makannya.
"Makasih ya tadi. " ucap Cea menatap Alan.
"Gue ga ngapa-ngapain, lo hebat. " ucap Alan memujinya.
"Sekarang aku udah berani lawan mereka terang-terangan, selama ini aku cuman bisa lawan tapi ga secara langsung di depan banyak orang gini. "
Tanpa di minta Cea menjelaskan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu di jelaskan, namun entah kenapa dengan Alan, Cea merasa nyaman dan menurutnya tidak ada masalah jika ia berbicara dengan pemuda di hadapannya ini.
"Gue juga tau, gue kira lo sengaja ga bales karna takut. " ucap Alan.
"Aku ga pernah takut, waktu itu aku masih jadi murid beasiswa dan ga mau berulah yang ngebuat beasiswa aku hilang tapi sekarang kan beasiswa aku udah di cabut jadi aku bebas ngelakuin apa aja. " jelas Cea.
Sebenarnya ada rasa sedih Cea berbicara seerti itu, ia sangat menyayangkan beasiswanya tercabut tapi sekali lagi Cea di minta untuk sadar diri. Dia tidak punya kuasa, sebab jika dia punya kuasa orang lain akan menghormatinya.
Zaman sekarang uang adalah segalanya, jika kamu memiliki uang maka kamulah yang berkuasa.
"Gue ngerti sekarang. " ucap Alan sambil menganggukkan kepalanya.
Dalam pemikiran Alan saat melihat Cea adalah seseorang yang hanya diam saja ketika di tindas namun, sekarang Alan sudah mengerti alasannya.
"Gue ga tau kenapa alasan lo lakuin hal ini, tapi membela diri sendiri ketika di tindas ga akan ngebuat lo jadi orang jahat. " ucap Alan kepada Cea.
"Mungkin kalo mereka bisa, aku bakalan di laporin dan di keluarkan dari sekolah ini. " ucap Cea tersenyum getir.
"Ga akan. " jawab Alan dengan yakin.
"Gimana kamu bisa yakin? " tanya Cea sambil memakan makanannya.
Ada rasa takut di hati Cea yang paling dalam namun, ada juga rasa kepuasan karena berhasil membalas perbuatan mereka.
Mereka adalah donatur besar untuk sekolah ini, pasti lebih di hargai dan di hormati. Andai saja mereka berbicara pasti akan lebih di dengar, bisa saja Cea di keluarkan dari sekolah sebelum ia lulus.
"Gue mau minta bantuan lo. " ucap Alan menatap Cea.
"Bantuan? " tanya Cea dengan bingung.
"Gue mau bongkar kejahatan mereka semua di hari kelulusan kita nanti. "
Setelah pembicaraan di kantin tadi Cea saat ini sedang bersiap-siap untuk pulang, hari ini Cea akan mampir ke minimarket untuk membeli beberapa cemilan.
"Lo ada hubungan apa sama Alan. "
Cea sangat kaget dengan keberadaan Zaki yang tiba-tiba berada di hadapannya.
"Bisa ga sih ga usah ngagetin! " ucap Cea dengan kesal.
Jantungnya masih berdebar dan tangannya panas dingin, Cea memang suka sekali terkejut dengan hal-hal yang sangat tiba-tiba.
"Gue tanya lo Cea. " ucap Zaki dengan penuh penekanan.
"Bukan urusan kamu. " ucap Cea sambil membuang mukanya.
"Tinggal jawab apa susahnya? " tanya Zaki.
Zaki memajukan tubuhnya ke arah Cea hingga membuat Cea mundur dan tubuh Cea mengenai dinding.
"Z-zaki apaan sih, awas. " gugup Cea berusaha mendorong tubuh besar itu.
"Gue ga suka lo deket-deket sama dia. "
"Itu kan urusan aku! Kamu ga berhak ngatur. " teriak Cea.
Zaki memejamkan matanya mendengar teriakan itu, namun kemudian kembali membuka matanya. Ia menatap Cea dengan tajam, kepalanya ia miringkan dan mendekat ke arah muka Cea.
kasian cea, pergi jauh cea,biar tau hazel gmna
cuma mau enaknya aja, ngapain kalo takut kehilangannya ailura nikahin cea coba,
kak buat cea tau dan pergi dari keluarga hazel kak
kasian cea
kasian cea kalo tau lagi hamil