NovelToon NovelToon
Amnesia: Ternyata Aku Pewaris Hartono

Amnesia: Ternyata Aku Pewaris Hartono

Status: tamat
Genre:Amnesia / Wanita perkasa / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Gadis Amnesia / Tamat
Popularitas:33.6k
Nilai: 5
Nama Author: Larasati

Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11: Tamparan Pertama

Sesi lelang amal dimulai dengan tepuk tangan yang rapi.

Para tamu duduk mengelilingi meja-meja bundar, lampu ballroom diredupkan sedikit, dan layar besar di panggung menampilkan daftar barang yang akan dilelang. Lukisan kontemporer dari seniman muda, jam antik, paket liburan resort, sampai satu kalung berlian yang hasil penjualannya akan disumbangkan untuk program pendidikan anak pesisir.

Keira duduk di meja Bryan, posisi yang cukup terlihat tetapi tidak terlalu menonjol.

Galang duduk dua meja di seberang. Sherly ada di sampingnya. Jarak itu cukup jauh untuk sopan santun, cukup dekat untuk saling membaca ekspresi.

Sherly belum berhenti memperhatikan Keira.

Perempuan itu tidak banyak bicara, tetapi semua orang di sekitarnya seperti otomatis menyesuaikan ritme. Panitia mendekat lebih hati-hati. Para sosialita bertanya dengan nada lebih halus. Bahkan Bryan, yang biasanya menjadi pusat perhatian sendiri, malam ini tampak sengaja berdiri setengah langkah di belakangnya.

Sherly membenci itu.

Ia membenci perempuan yang tidak perlu menjelaskan dari mana datangnya tetapi tetap dianggap penting.

"Kamu tertarik pada lelang?" tanya Sherly pada Galang, tetapi matanya masih mengarah ke Keira.

"Kita lihat saja."

"Aku dengar kalung terakhir sudah dipesan beberapa tamu. Katanya dari koleksi lama keluarga Belanda di Surabaya." Sherly tersenyum kecil. "Tidak semua orang paham nilai sejarah benda seperti itu."

Kalimat itu sengaja diucapkan cukup keras agar meja sebelah mendengar.

Beberapa orang tersenyum sopan.

Keira menyesap air mineralnya.

Bryan mencondongkan badan sedikit. "Dia mulai."

"Biarkan."

Barang pertama dilelang. Harga naik wajar. Keira tidak ikut. Barang kedua, lukisan laut dengan warna biru gelap, dibuka pada angka yang cukup tinggi. Seorang pengusaha properti menawar. Lalu seorang istri pejabat ikut mengangkat paddle.

Sherly tiba-tiba menoleh ke arah Keira.

"Saya penasaran," katanya dengan senyum manis. "Anda suka seni juga?"

Percakapan beberapa orang berhenti.

Keira mengangkat wajah. "Cukup."

"Oh." Sherly tertawa halus. "Saya kira Anda kolektor. Cara Anda melihat ruangan tadi seperti sudah terbiasa dengan acara seperti ini."

Kalimat itu terdengar pujian, tetapi ujungnya tajam. Seolah Sherly sedang bertanya apakah Keira benar-benar dari lingkungan ini atau hanya pandai meniru.

Bryan hendak bicara, tetapi Keira meletakkan jari di sisi gelas. Gerakan kecil itu cukup membuatnya diam.

"Kebiasaan melihat ruangan tidak selalu datang dari koleksi seni," jawab Keira tenang. "Kadang dari kebutuhan membaca orang."

Beberapa tamu tertawa kecil, lebih karena terkejut daripada lucu.

Senyum Sherly menegang. "Menarik. Kalau begitu, menurut Anda lukisan ini bagus?"

Keira menatap layar. "Komposisinya kuat. Tapi warna biru bagian bawah terlalu berat. Senimannya masih muda, jadi wajar. Yang menarik bukan lukisan ini, melainkan fakta bahwa yayasan memilihnya sebagai item awal. Mereka ingin membuka malam dengan karya lokal, bukan barang mewah impor. Itu pilihan yang baik."

Panitia di dekat panggung langsung tersenyum bangga.

Seorang pria tua di meja sebelah mengangguk. "Analisis yang tepat."

Sherly menggenggam paddle di tangannya.

Ia mengira perempuan itu akan gagap atau menjawab umum. Ternyata jawaban Keira justru membuatnya terlihat seperti orang yang hanya tahu harga, bukan nilai.

Galang menatap Keira lebih lama.

Anisa tidak pernah bicara seperti itu.

Namun suara perempuan itu, cara ia menahan jeda sebelum menjawab, membuat sesuatu di belakang pikirannya semakin gelisah.

Barang ketiga dilelang. Lalu keempat. Suasana menghangat. Beberapa orang mulai menawar lebih berani. Sherly memulihkan senyumnya dan menunggu item yang ia incar sejak awal: kalung berlian klasik yang sudah ia bicarakan diam-diam dengan salah satu panitia.

Ia ingin Galang melihatnya memakai kalung itu suatu hari. Simbol kecil bahwa ia sudah masuk ke dunia yang dulu ditempati Anisa secara hukum tetapi tidak pernah benar-benar kuasai.

Ketika kalung itu muncul di layar, ruangan langsung riuh.

Kalung berlian dengan liontin berbentuk tetes air, desain lama yang elegan. Pembawa acara menjelaskan asal-usulnya, perkiraan nilai, dan tujuan donasi.

"Harga pembukaan, dua ratus juta rupiah."

Sherly mengangkat paddle.

Beberapa orang menawar naik. Tiga ratus. Empat ratus lima puluh. Enam ratus.

Sherly tetap ikut, senyumnya makin yakin. Galang meliriknya.

"Kamu benar-benar menginginkannya?"

"Untuk amal," jawab Sherly lembut. "Sekalian membantu anak-anak."

Galang mengangguk. Ia tidak keberatan mengeluarkan uang. Apalagi malam ini Sherly tampak ingin membuktikan sesuatu.

Harga mencapai delapan ratus juta. Beberapa penawar mundur.

Sherly mengangkat paddle lagi. "Satu miliar."

Ruangan bertepuk tangan kecil. Angka itu cukup mencolok.

Sherly menurunkan paddle, puas. Ia sengaja melirik Keira, seolah ingin berkata bahwa tidak semua orang bisa bermain di level ini.

Keira menatap panggung.

Pembawa acara mengangkat palu kecil. "Satu miliar. Ada lagi?"

Keira mengangkat paddle.

"Sepuluh miliar."

Ruangan mendadak hening.

Bahkan Bryan menoleh cepat, lalu menahan senyum dengan susah payah.

Pembawa acara hampir salah bicara. "Maaf, Ibu... sepuluh miliar?"

Keira mengangguk. "Untuk program pendidikan anak pesisir. Tolong pastikan seluruh dana masuk ke rekening yayasan, bukan lewat pihak ketiga."

Kalimat terakhir membuat beberapa anggota panitia langsung tampak lebih serius. Seorang pengurus yayasan cepat mengangguk hormat.

Bisik-bisik meledak halus di seluruh ballroom.

"Sepuluh miliar?"

"Siapa dia sebenarnya?"

"Bryan Liem bahkan tidak terlihat kaget."

"Keluarga mana yang bisa mengeluarkan angka itu tanpa berkedip?"

Wajah Sherly memucat.

Satu miliar yang tadi terasa megah tiba-tiba berubah seperti uang pembuka. Tangannya masih memegang paddle, tetapi ia tidak berani mengangkatnya lagi. Kalau ia menawar lebih tinggi, Galang akan bertanya. Kalau ia diam, semua orang tahu ia kalah.

Pembawa acara menemukan suaranya lagi. "Sepuluh miliar satu kali. Sepuluh miliar dua kali. Sepuluh miliar tiga kali."

Palu diketuk.

"Terjual."

Tepuk tangan pecah.

Keira tidak tersenyum besar. Ia hanya mengangguk kecil, seolah angka itu tidak lebih berat daripada memilih menu makan malam.

Sherly merasa wajahnya panas.

Beberapa perempuan yang tadi memuji kelembutannya sekarang menatap Keira dengan kagum. Bahkan panitia mendekati Keira lebih dulu untuk berterima kasih. Sherly duduk di tempatnya, jari-jari mencengkeram serbet sampai kusut.

Galang masih menatap Keira.

"Galang," Sherly memanggil pelan.

Galang tersadar. "Ya?"

"Kamu terlalu sering melihatnya."

Galang tidak langsung menjawab. Matanya kembali pada Keira yang sedang berbicara dengan pengurus yayasan. Dari samping, garis wajah perempuan itu tampak semakin familiar.

Terlalu familiar.

"Aku hanya merasa..." Ia berhenti.

"Merasa apa?"

Galang menggeleng, tetapi suaranya terdengar jauh. "Tidak apa-apa."

Di sisi lain ruangan, Bryan menerima ucapan selamat dengan gaya santai, seolah uang sepuluh miliar itu keluar dari dompet kecil. Setelah panitia pergi, ia menunduk ke arah Keira.

"Kamu baru saja membuat separuh ballroom menghitung ulang harga diri mereka."

"Itu uang untuk pendidikan."

"Tentu. Dan sedikit untuk membuat seseorang sulit bernapas."

Keira akhirnya melirik Sherly.

Tatapan mereka bertemu.

Sherly mencoba tersenyum, tetapi bibirnya kaku.

Keira mengangkat gelas air mineralnya sedikit, sopan, hampir ramah.

Justru karena itu, Sherly merasa seperti baru ditampar di depan semua orang.

Tanpa suara.

Tanpa sentuhan.

Dan tanpa bisa membalas.

1
Tri Septi
💔patah hatiku 💔
Tri Septi
kalau tahu terus kenapa? 😏😏😏
Tri Septi
sudah ada titik terang Galang? siap2 aja ya😁
Tri Septi
💔💔💔💔💔ini baru permulaan 😏 watch out !
Tri Septi
ayo Galang, kamu sudah acuh sekian lama saatnya menuai 😂😂😂💔
Tri Septi
keira = hacker 🤔😇
Tri Septi
Mereka tahu keira Hartono anak bungsu keluarga Hartono, tapi kok tidak mengenali keira waktu jadi Anisa ya🤔 selama 3 tahun lagi, Thor nanti bisa ungkap awal hilangnya keira sampai ke jd istri Galang ya ... penisirin 😇 makasih Thor🙏
Tri Septi
kejutan yang manis 😍😍😍😘
Tri Septi
lanjut Thor👍🙏
Tri Septi
"chaos" aku kembali 😍😍😍
Tri Septi
lanjut Thor👍seru nih 😁🤣🤣
Tri Septi
walau penjaganya banyak, nyatanya masih bisa kecolongan....ada kekuatan besar lain yang mengintai. berbahaya atau tidak kita tunggu authornya, semangat thor💪😆😆🙏
Tri Septi
keira pulang 😍😍😍😁
Tri Septi
ada tabur tuai, tunggu saja 😠 lanjut Thor, makasih 😆🙏🙏
Tri Septi
ada yang menutupi identitasnya selama dia hilang, apakah keluarga Gondokusumo terlibat? anehnya sama2 di Surabaya tapi tidak bisa ditemukan🤔amnesia benar2 bisa merubah identitas seseorang 😭😭😭 semangat keira dan author💪💪💪
Tri Septi
hilangnya sudah empat tahun, jadi Anisa selama tiga tahun, ditemukan di laut 🤔 apa kemungkinan sebelumnya diculik? dari ingatan kemungkinan seorang dokter, hacker, nona besar, seorang kapten🤔🤔🤔😇😇😇
Tri Septi
kan tahu kalau dia amnesia dan tidak ingat apapun dan keluarganya, kok tega mengusirnya begitu saja....dholim itu 😡😠
Tri Septi
awal yg berat 😭😭😭
Evy
Bryan kenal dengan Galang dan Sherly...kok bisa sampai 4 tahun Keira tidak bisa ditemukan...
Tri Septi
alarmnya disetel jam berapa 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!