NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16: Kursi CEO

"Perang bisnis dimulai."

Tiga minggu kemudian, kalimat itu berubah menjadi kenyataan di ruang rapat utama Sutanto Corporation.

Pagi itu, Bu Fenny datang dengan kebaya modern berwarna biru tua dan kalung mutiara yang terlalu besar. Sherly berjalan di sampingnya, wajahnya masih menyimpan sisa kesombongan meski beberapa minggu terakhir hidup mereka tidak tenang. Lincoln Tanuwijaya membawa map tebal, senyumnya kembali rapi setelah berkali-kali gagal mempermalukan Keira di panggung.

"Hari ini kita stabilkan posisi," kata Lincoln sebelum masuk ruang rapat. "Penjualan saham kecil ke Emmanisa Corp memberi kita likuiditas. Mereka investor pasif. Tidak akan ikut campur."

Bu Fenny mengangguk, tetapi matanya lelah. Skandal Anya, kekalahan tender, video Sherly, dan jatuhnya saham membuat keluarga Sutanto seperti rumah yang dindingnya mulai retak.

"Rayhan belum datang?" tanya Sherly.

"Dia masih di luar kota mengurus proyek," jawab Bu Fenny. "Kita tidak perlu menunggu. Mama masih punya hak suara keluarga."

Mereka membuka pintu ruang rapat.

Lalu berhenti.

Di kursi utama, kursi yang selama ini hanya diduduki Rayhan Sutanto, Keira duduk dengan tenang.

Ia mengenakan setelan hitam, rambutnya disanggul rendah, dan di depannya tersusun dokumen kepemilikan saham. Di belakangnya berdiri Kevin, beberapa pengacara Liem, serta perwakilan notaris. Tidak ada senyum besar. Tidak ada drama berlebihan. Justru karena itu, ruangan terasa seperti ruang sidang.

Bu Fenny memucat. "Apa yang kau lakukan di kursi itu?"

Keira mengangkat mata. "Duduk."

"Itu kursi CEO Sutanto Corporation!"

"Aku tahu."

Sherly menunjuknya. "Keluar! Kau tidak punya hak masuk ke sini."

Keira membuka map pertama. "Emmanisa Corp. Pembeli saham yang kalian sebut investor pasif."

Lincoln mendadak diam.

Keira menggeser dokumen ke tengah meja. "Pemilik manfaat akhirnya adalah aku."

Ruang rapat seolah kehilangan udara.

Bu Fenny menyambar dokumen itu, membacanya dengan tangan gemetar. Nama perusahaan, akta, jalur transaksi, semua rapi. Tidak ada celah.

"Tidak mungkin," bisiknya.

"Kalian menjual dalam empat tahap," kata Keira. "Harga murah, karena panik. Ditambah saham yang kubeli dari pemegang minoritas lain melalui Andalan Properti dan Emmanisa, total kepemilikanku sekarang empat puluh lima persen."

Lincoln menelan ludah. "Rayhan masih memegang empat puluh persen."

"Benar." Keira menatapnya. "Karena itu dia pemegang saham terbesar kedua."

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan.

Pemegang saham terbesar kedua.

Rayhan Sutanto, pria yang selama ini dianggap tidak tergeser dari perusahaan keluarganya sendiri, turun peringkat dalam satu pagi.

Bu Fenny membanting dokumen ke meja. "Kau menipu kami!"

"Aku membeli saham yang kalian jual dengan sadar. Kalau itu penipuan, mungkin Ibu harus menggugat rasa panik sendiri."

Kevin menahan tawa di belakangnya.

Sherly berteriak, "Mama, lakukan sesuatu!"

"Aku sedang melakukan sesuatu," jawab Keira.

Ia memberi isyarat kepada pengacara.

Dokumen kedua dibagikan ke seluruh peserta rapat. Isinya keputusan pemegang saham mayoritas untuk restrukturisasi manajemen, audit penuh, pembekuan akses keuangan tertentu, dan perubahan status Bu Fenny serta Sherly dalam lingkungan operasional perusahaan.

Sherly membaca setengah halaman, lalu wajahnya berubah merah. "Apa maksudnya penugasan layanan internal?"

Keira menatapnya. "Bahasa halusnya, kalian bekerja."

"Bekerja apa?"

"Pekerjaan yang dulu kalian anggap pantas untukku." Keira melipat tangan di meja. "Membersihkan pantry eksekutif, menyiapkan kopi rapat, memastikan ruang tamu perusahaan rapi, dan membantu staf rumah tangga di Rumah Besar Sutanto selama masa audit."

Bu Fenny hampir tidak percaya. "Kau ingin menjadikan aku pembantu?"

"Bukan ingin. Sudah."

Sherly menjerit, "Aku tidak mau!"

Keira mengambil satu lembar foto dari map. Foto preman, rekaman ancaman, dan bukti penyalahgunaan dana operasional untuk membayar orang luar.

"Kalian boleh menolak. Tapi aku akan menyerahkan bukti ini ke polisi dan otoritas pasar modal. Pilih yang paling nyaman."

Bu Fenny duduk perlahan. Kakinya seperti kehilangan tulang.

Keira memberi isyarat kepada staf HR yang sejak tadi berdiri di dekat pintu.

Dua plastik bening diletakkan di depan Bu Fenny dan Sherly. Isinya celemek abu-abu, sarung tangan karet, kartu akses staf layanan, dan jadwal kerja mingguan.

Sherly menatap benda-benda itu seperti melihat ular.

"Kau bercanda."

"Aku tidak punya waktu bercanda dengan orang yang dulu menyuruhku mengepel lantai sambil demam," jawab Keira. "Mulai hari ini, kalian datang pukul enam pagi. Pantry eksekutif harus siap sebelum rapat pertama. Kopi tanpa gula untuk ruang direksi, teh hangat untuk tamu, dan lantai depan lift harus kering. Kalau ada tamu terpeleset, gaji kalian dipotong."

Bu Fenny gemetar karena marah. "Aku ibu Rayhan."

"Di struktur kerja yang baru, Ibu adalah staf layanan sementara."

Beberapa karyawan lama yang dipanggil sebagai saksi rapat menunduk, tetapi tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka. Mereka semua pernah melihat Keira membawa nampan kopi di rumah Sutanto. Sekarang Bu Fenny memegang celemek dengan wajah yang sama sekali tidak siap.

Keira menatap Sherly. "Khusus kau, toilet staf lantai ini menjadi tanggung jawabmu minggu pertama."

Sherly nyaris muntah karena marah. "Aku lebih baik mati."

"Jangan dramatis. Dulu kau bilang pekerjaan seperti itu cocok untuk orang sepertiku."

Lincoln mencoba bicara. "Bu Keira, langkah seperti ini akan merusak reputasi perusahaan."

Keira berdiri.

Semua orang langsung diam.

"Reputasi perusahaan sudah rusak saat dana operasional dipakai untuk menutupi hidup mewah keluarga yang tidak bisa membaca laporan keuangan." Ia menatap Lincoln. "Anda diberhentikan dari semua akses konsultan mulai hari ini. Tim legal akan memeriksa kontrak Anda."

Wajah Lincoln mengeras. "Ini belum selesai."

"Aku tahu. Itu sebabnya aku masih duduk di sini."

Pintu ruang rapat terbuka.

Rayhan masuk.

Ia tampak baru tiba dari bandara. Jasnya gelap, rambutnya sedikit berantakan, tangan kanannya masih menyimpan bekas luka tipis dari malam pencarian Keira. Begitu melihat Keira duduk di kursinya, langkahnya berhenti.

Bu Fenny langsung berdiri. "Rayhan! Lihat apa yang dia lakukan. Dia mencuri perusahaan kita."

Rayhan tidak langsung menjawab.

Matanya turun ke dokumen, lalu kembali ke Keira.

"Empat puluh lima persen?" tanyanya.

"Iya."

"Bagaimana?"

"Keluargamu menjualnya kepadaku."

Sherly menangis. "Koh, usir dia."

Rayhan melihat adiknya, lalu ibunya, lalu Lincoln. Setelah semua yang terjadi, ia terlalu lelah untuk pura-pura tidak melihat pola yang sama. Setiap kali mereka kalah, mereka menyebut Keira pencuri. Setiap kali mereka salah, mereka meminta Rayhan menghukum Keira.

Namun kali ini, dokumen di meja lebih jujur daripada tangisan mereka.

"Secara hukum?" tanya Rayhan kepada notaris.

Notaris mengangguk. "Sah."

Bu Fenny terhuyung. "Rayhan..."

Rayhan menutup mata sebentar. Ketika membukanya, ia menatap Keira. "Apa yang kau inginkan?"

Keira mengeluarkan dokumen terakhir.

Sampulnya sederhana.

Perjanjian Pelayan.

Ruang rapat kembali membeku.

Keira meletakkan dokumen itu di depan Rayhan. "Satu tahun. Kau tinggal di Villa Teluk dan bekerja untukku. Memasak, membersihkan, mengurus semua kebutuhan rumah, dan tidak boleh meninggalkan tugas tanpa izinku."

Sherly tersentak. Bu Fenny seperti lupa bernapas.

Rayhan membaca halaman pertama. Wajahnya tidak berubah sampai ia sampai pada klausul khusus.

"023," katanya pelan.

"Setiap pelanggaran berat, kau menyuntikkan satu dosis 023. Efeknya melemahkan tubuh selama dua bulan. Tidak permanen jika tidak berlebihan."

Kevin menatap Keira, tetapi tidak menyela. Ia tahu ini bukan sekadar hukuman. Ini cermin. Tiga tahun Keira menjadi pelayan tanpa kontrak, tanpa hak, tanpa perlindungan.

Rayhan mengangkat wajah. "Kalau aku menolak?"

"Aku akan tetap memegang Sutanto Corp. Bu Fenny dan Sherly tetap menjalani penugasan internal. Bedanya, kau tidak akan punya kesempatan melihat sendiri apa yang dulu mereka lakukan padaku."

Rayhan menatapnya lama.

Di mata Keira tidak ada permintaan. Tidak ada air mata. Hanya keputusan.

Mungkin inilah bentuk paling adil dari penyesalan, pikir Rayhan. Bukan meminta maaf, tetapi masuk ke tempat yang dulu ia biarkan Keira berdiri sendirian.

Ia mengambil pena.

Bu Fenny menjerit, "Rayhan, jangan!"

Rayhan menandatangani.

Goresan pena itu terdengar jelas.

Keira mendorong kotak kecil ke arahnya. Di dalamnya ada satu ampul bening dengan label 023 dan alat suntik steril.

"Tanda kesediaan pertama," katanya.

Rayhan membuka kotak.

Untuk pertama kalinya, wajah Sherly benar-benar takut. "Koh..."

Rayhan menggulung lengan kemejanya. Tanpa berkata apa pun, ia memasukkan cairan itu ke alat suntik, lalu menekan jarum ke lengannya sendiri.

Bu Fenny menutup mulut.

Cairan itu masuk perlahan.

Rayhan tidak mengerang, tetapi warna wajahnya turun setingkat. Napasnya tertahan sejenak. Efek awal 023 bekerja cepat, membuat ototnya terasa berat, seolah seluruh tubuhnya dipaksa mengingat lelah yang belum datang.

Keira memperhatikannya tanpa berkedip.

"Mulai malam ini," katanya, "kau pindah ke Villa Teluk."

Rayhan menurunkan lengan bajunya. "Baik."

"Dan panggil aku Bu Keira selama masa kontrak."

Ruang rapat sunyi.

Rayhan menatapnya. Ada sakit di matanya, tetapi juga penerimaan yang tidak ia sembunyikan.

"Baik, Bu Keira."

Keira mengambil alih kursi CEO sepenuhnya hari itu.

Bu Fenny dan Sherly keluar dari ruang rapat bukan sebagai nyonya dan putri keluarga Sutanto, melainkan sebagai dua orang yang akan mempelajari cara memegang kain pel. Lincoln pergi dengan kontrak dibekukan. Rayhan meninggalkan kantor dengan perjanjian pelayan di tangan dan tubuh yang mulai melemah.

Malamnya, di depan gerbang Villa Teluk, mobil Rayhan berhenti.

Rumah itu dulu ia berikan diam-diam agar Keira punya tempat aman.

Sekarang rumah itu menjadi tempat ia mulai membayar semuanya.

1
Diah Susanti
ini salah satu keahlian orang Indonesia, bisa mengetahui kehadiran seseorang yang dikenal dari suara kendaraannya. bahkan dari langkah kaki juga batuk/dehemannya😄😄😄
Tri Septi
pembalasan ya.....maaf aku kurang sreg😔🙏
Tri Septi
ayo nyalakan apinya 🔥🔥🔥🔥🔥 semangat 💪💪💪
Tri Septi
satu per satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan 😇
Tri Septi
semoga keira selamat😯
Tri Septi
sudah terlambat ray🔥🔥🔥
Tri Septi
wah, keira 👍 lanjutkan Thor, makasih 🙏🙏
Tri Septi
taktik Rayhan setelah tahu keira siapa .... telat bro! 🔥
Tri Septi
ini baru permulaan 😆😆😆
Tri Septi
ternyata jago beladiri😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....orang kaya mah bebas ya, lanjut thor👍
Tri Septi
en in en......gimana kelanjutannya, tunggu episode berikut....😁🤣🤣🤣
Tri Septi
ayo mulai babak baru 👍😍
Tri Septi
lanjut Thor 👍 suka' 😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....teh hijau sudah muncul🤔
Tri Septi
selamat datang kembali menuju kehidupan baru keira 😍😍😍
Tri Septi
aku mampir thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!