NovelToon NovelToon
Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Komedi
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaicha

Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Kilometer Terakhir

Gema dentuman peluru dari atas perlahan meredam, tergantikan oleh keheningan bawah tanah yang mencekam. Terowongan beton itu sangat pekat. Hanya sorot senter kecil dari tangan Bara yang membelah kegelapan, menyapu dinding-dinding berlumut yang meneteskan air. Bau tanah basah dan karat menusuk hidung, membuat dada Rara sesak setiap kali ia menarik napas panjang.

Di belakang mereka, sayup-sayup masih terdengar getaran ledakan dari vila yang luluh lantak. Rara sempat menoleh ke belakang, menatap kegelapan lorong yang baru saja mereka lewati. Pikirannya melayang pada Dino yang tertinggal di atas dengan amunisi seadanya.

"Jaga langkah Anda, Nona," bisik Bara tegas dari depan, membuyarkan lamunan Rara. Suara asisten kaku itu memantul pelan di dinding semen yang lembap. "Satu kilometer di bawah tanah bukan jarak yang singkat. Perhatikan pijakan Anda."

Rara diam tak menyahut. Tenggorokannya telanjur kering kerontang karena kelelahan dan rasa panik yang menguras energi. Di sampingnya, Arka berjalan terseok-seok, menumpu hampir seluruh bobot tubuh besarnya pada bahu Rara. Tangan kiri pria itu mencengkeram pundak Rara kuat-kuat bak capit besi, sementara tangan kanannya tak henti menekan perban di perut yang kembali basah oleh darah segar. Aroma anyir kini bercampur dengan bau apak terowongan.

"Arka, lo masih sadar kan?" suara Rara bergetar di dalam gelap, mencoba menahan bobot tubuh pria itu yang perlahan makin condong ke arahnya. "Darah lo tembus ke kaus gue lagi. Kalau jalan begini terus, lo bisa kehabisan darah sebelum kita sampai di ujung."

Arka mendesis tertahan. Ia memejamkan mata sejenak, menahan rasa ngilu luar biasa yang merobek saraf perutnya setiap kali ujung sepatunya menyeret tanah. "Saya belum akan mati, Rara. Setidaknya, tidak sebelum para pengkhianat sialan itu tahu siapa yang sebenarnya sedang mereka ajak main-main."

Rara berdecih pelan, napasnya ngos-ngosan. "Gila ya, bisa-bisanya lo masih sombong dalam keadaan setengah mati begini. Kalau lo pingsan di sini, sumpah gue nggak sudi gendong lo. Tulang gue bisa remuk."

Meski wajahnya sepucat kertas dan napasnya memburu, Arka menoleh sedikit, menatap wajah Rara dari samping. Embusan napasnya yang panas menerpa telinga gadis itu. "Cari jalan keluar sendiri kalau saya pingsan. Tapi tanpa saya, kau akan tersesat dan mati membusuk di dunia hitam ini dalam hitungan hari."

"Ih, sombong parah," protes Rara kesal, namun refleks mempererat rangkulannya di pinggang Arka agar topangannya lebih kokoh. "Harusnya lo sujud syukur ada gue yang mau repot-repot jadi tongkat jalan buat buronan arogan kayak lo di tempat terkutuk ini."

"Saya dengar obrolan kalian, tapi mohon simpan tenaga," potong Bara tanpa menoleh ke belakang. Senter di tangannya bergerak cepat menyapu setiap sudut dan langit-langit terowongan. "Udara di sini tipis. Makin banyak bicara, makin cepat kalian kehabisan oksigen."

Mereka kembali membungkam. Belasan menit berlalu dalam ketegangan yang menyiksa. Langkah kaki yang menggema diiringi tetesan air dari atap beton menjadi satu-satunya melodi di neraka bawah tanah tersebut. Kaki Rara mulai terasa kebas. Otot bahunya perih bukan main karena harus menahan pria berotot yang nyaris tak berdaya itu.

"Arka," panggil Rara memecah hening, suaranya kini lebih pelan dan sarat akan kecemasan. Ia melirik pria di sampingnya di tengah remang cahaya senter. "Kenapa mereka sebegitu bernafsu mau bunuh lo? Bawa pasukan sekampung, main granat... ini terasa personal banget."

"Dunia ini tidak beroperasi dengan hukum negara, Rara," jawab Arka dingin. Suaranya serak dan semakin berat. "Ada kursi kekuasaan yang harus dijaga. Pengkhianatan dibayar dengan darah, bukan dengan meterai. Gerombolan bajingan di atas sana cuma anjing-anjing kelaparan yang ingin merebut takhta saat saya lengah."

"Tapi lo emang lagi lemah sekarang," tukas Rara jujur tanpa filter, kebiasaan ceplas-ceplosnya tetap keluar meski nyawanya terancam.

Arka mendengus tajam, berujung pada ringisan tertahan saat jahitannya kembali bergesekan. "Makanya, tugasmu sekarang adalah memastikan para bajingan itu tidak pernah melihat kelemahan tersebut."

"Berapa lama lagi sih, Bar?" keluh Rara, kali ini nada bicaranya mulai frustrasi. "Kaki gue beneran mau copot rasanya."

"Lima ratus meter lagi, Nona. Bertahanlah," balas Bara dari depan.

Arka melirik Rara sekilas. "Menyesal tidak kabur saat kau punya kesempatan?"

"Menurut lo?" ketus Rara emosi, mendelik tajam ke arah bos mafia itu. "Gue harusnya lagi duduk manis nungguin dosbing di kampus, ngerjain revisi, nongkrong di kantin. Bukan malah lari-larian di gorong-gorong bau tanah sambil megangin bos mafia yang nyawanya sisa setengah bar."

Arka menyeringai sinis, tatapannya tetap menyorotkan arogansi yang kental. "Nasib burukmu karena berada di kafe yang salah, di waktu yang salah."

"Banget," sungut Rara. Ia membuang muka, meski jauh di lubuk hatinya, ada insting kuat yang memaksanya menolak membiarkan pria ini mati begitu saja. "Pokoknya kalau kita selamat dari sini, lo utang nyawa sama gue. Lo harus traktir gue es kopi paling mahal se-Jakarta."

"Jangankan kopinya," desis Arka angkuh, suaranya mulai melemah meski gengsinya tidak luntur sedikit pun. "Kafe tempatmu nongkrong itu bisa saya beli utuh, asal kau berhenti mengeluh dan berisik di telinga saya."

"Awas aja kalau omdo," ancam Rara asal-asalan.

"Bos, kita sampai," sahut Bara memotong pembicaraan.

Senter Bara menyorot sebuah pintu besi besar yang berkarat di ujung terowongan. Rara menghela napas lega yang luar biasa panjang. Beban di bahunya terasa sedikit terangkat hanya dengan melihat jalan keluar.

"Akhirnya, ya Tuhan..." gumam Rara nyaris menangis lega.

Bara melangkah mendekati pintu itu. Ia meraba bagian samping engsel, menemukan kotak panel digital yang tertutup debu tebal. Jemarinya bergerak cepat memasukkan sandi rahasia. Bunyi klik mekanis yang berat terdengar, disusul suara derit besi saat Bara mendorong pintu itu sekuat tenaga.

Angin malam yang dingin dan aroma pepohonan basah langsung menyapu wajah mereka. Titik evakuasi itu berujung di sebuah lereng bukit yang tertutup semak belukar lebat. Di sana, tersembunyi di balik kamuflase terpal bermotif daun kering, sebuah SUV hitam lain telah disiapkan.

"Aman. Area steril," lapor Bara, melompat keluar lebih dulu untuk memantau sekeliling dengan senapannya. "Nona, bawa Bos kemari."

Rara memapah Arka keluar dari lorong pengap itu. Udara segar membuat paru-paru Rara serasa hidup kembali.

Namun, begitu sepatu mahalnya menginjak tanah berumput yang tak rata, pertahanan fisik Arka runtuh seketika. Adrenalin yang sejak tadi memaksanya tetap sadar akhirnya habis. Lutut pria itu kehilangan tenaga sepenuhnya, membuat tubuh besarnya merosot jatuh ke tanah rumput basah.

Rara terkesiap hebat. Ia ikut berlutut, berusaha menahan tubuh pria itu sekuat tenaga agar tidak terjerembap ke tanah.

"Arka! Eh, Bos! Arka!" Rara menepuk pipi pria itu dengan tangan gemetar. Wajah Arka kini benar-benar pucat, keringat dingin membanjiri pelipis dan lehernya.

Mata Arka setengah terbuka, sayu dan kehilangan fokus. Ia memandang langit malam yang mendung, sebelum pandangannya beralih pada wajah panik gadis di atasnya.

"Jahitannya... lepas," gumam Arka sangat pelan, nyaris seperti embusan angin.

"Jangan tutup mata lo. Heh, Arka!" Rara makin histeris, menekan kuat-kuat perut pria itu. Darah hangat langsung membasahi telapak tangannya. "Katanya lo mau beliin gue kafe. Bos mafia pantang mati sebelum bayar utang. Bangun!"

Arka tidak merespons. Kelopak matanya tertutup rapat seiring dengan napasnya yang semakin putus-putus dan pelan. Tangannya yang sejak tadi mencengkeram bahu Rara kini jatuh lunglai di atas tanah basah. Kesadarannya lenyap di tengah gelapnya hutan.

"Bara!" jerit Rara ngeri. "Bara, dia pingsan. Tolongin!"

Bara berlari sekencang mungkin menghampiri mereka, wajahnya yang kaku kini pias sepenuhnya. Ia melempar senapannya ke bagasi mobil. "Bantu saya angkat Bos ke kursi belakang, Nona. Kita harus cari dokter bedah sekarang juga, atau dia benar-benar mati malam ini."

1
beybi T.Halim
ya Allah gak ada tenang nya 1 hr pun ,neng rara apa gak tauma berat itu waduh..,mana mau sidang lagi kudu konsentrasi🙈laa ini malah tembak2an ,kejar2an haih saket dadaku
nischa: Hahaha maafkan Rara ya kak, Ujian hidupnya emang paket komplit, urusan skripsi bonus kejar-kejaran mafia 😭 Makasih banyak ya udah ikutan gregetan sama ceritanya
total 1 replies
beybi T.Halim
🤣🤣🤣🤣kocak ini
beybi T.Halim
kita mampir.,suka karakter ceweknya di awal sedikit penakut tapii bar bar👍kita lanjutkan
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
lanjut Thor pengen baca bab selanjutnya
Yuyum Yunengsih
mulai seru nih, interaksi antar tokohnya dapet banget
Yuyum Yunengsih
wah, awal cerita yang langsung bikin penasaran sama karakternya😍
Yuyum Yunengsih
keren banget ceritanya, nggak nyesel ikutan baca dari awal. pertahankan terus kualitas tulisannya author
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
semangat💪cerita nya seru😍
Winna Yun
wah wahh seru ni ka, lanjut ka
nischa: siap,ka😍
total 1 replies
Erni Saputri
lama kali upnya Thor🥺
Erni Saputri: ok semangat💪💪💪
total 2 replies
Suzie
💪 mangatt
nischa: siap,makasih🤩
total 1 replies
Cilia
Ceritanya enteng banget! Enak buat dibaca pas lagi ngisi waktu kosong. Vibesnya berasa lagi baca AU yang target audience nya emang nyari bacaan pas lagi penat😆
nischa: Makasih banyak ya! Senang banget kalau ceritanya bisa jadi teman pas lagi santai atau penat. Enjoy terus ya bacanya! ✨
total 1 replies
partini
lucu banget ini mahasiswi
nischa: terimakasih kak sudah mampir😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!