Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 017
Perpustakaan pagi itu tidak ramai.
Hujan semalam membuat udara kampus sedikit lebih bersih, meski Jakarta tidak pernah benar-benar segar. Hafeng datang lima belas menit setelah perpustakaan dibuka, membawa tas berisi tablet, buku referensi, dan satu amplop putih yang ia pura-pura lupa ada di sana.
Chiko tidak ikut.
Itu seharusnya membuat semuanya lebih tenang.
Ternyata tidak.
Hafeng berjalan ke rak arsitektur kota, mencari buku tentang ruang transisi mikro. Ia menemukan katalog digitalnya semalam. Hanya ada satu salinan fisik, dan statusnya tersedia.
Saat tangannya meraih punggung buku berwarna hijau tua, tangan lain menyentuh buku yang sama.
Jari mereka bertemu.
Hafeng menoleh.
Lim Meiran berdiri di sebelahnya dengan rambut diikat rendah dan payung hitam miliknya terselip di sisi tas.
"Pagi," kata Meiran.
Hafeng menarik tangannya lebih dulu. "Kamu mengikuti aku?"
"Aku datang lebih dulu."
"Tidak mungkin."
Meiran menunjuk meja baca dekat jendela. Di sana sudah ada tablet, buku catatan, dan es teh tawar miliknya.
Hafeng diam.
"Aku bisa tanya hal yang sama," lanjut Meiran. "Kamu mengikuti aku?"
"Aku mencari buku."
"Aku juga."
Mereka sama-sama menatap buku hijau tua itu.
Judulnya: `Ruang Antara dalam Kota Tropis`.
Satu buku. Dua orang. Satu lorong sempit yang mendadak terlalu sunyi.
Meiran tersenyum tipis. "Kita bisa pakai bergantian."
"Aku butuh untuk proyek."
"Aku juga."
"Aku yang menemukan dulu."
"Jari kita menyentuh bersamaan. Secara ilmiah, itu seri."
Hafeng menatapnya. "Kamu selalu punya argumen untuk hal tidak penting."
"Karena kamu selalu membuat hal kecil jadi perang."
Ia menarik buku itu dari rak, tetapi tidak membawanya pergi. Ia menaruhnya di antara mereka.
"Meja dekat jendela. Dua jam. Kalau kamu bisa diam, kita bagi."
"Aku tidak menerima instruksi lagi."
"Ini bukan instruksi. Ini tawaran efisien."
Hafeng seharusnya menolak.
Ia malah mengambil buku itu dan berjalan ke meja dekat jendela.
Meiran mengikutinya tanpa komentar.
Mereka duduk berhadapan. Di luar, sisa air hujan menetes dari daun pohon. Di dalam, suara halaman dibalik menjadi satu-satunya suara di antara mereka.
Pada menit kesepuluh, Hafeng menggarisbawahi satu paragraf dengan pensil.
"Jangan coret buku perpustakaan," kata Meiran tanpa mengangkat wajah.
"Aku tidak mencoret. Ini pensil tipis."
"Tetap saja."
"Kamu pengawas perpustakaan?"
"Aku pengguna yang lebih beradab."
Hafeng menatapnya datar, tetapi ia menghapus garis itu dengan penghapus kecil.
Meiran melihatnya.
Sistem tidak berbunyi, tetapi ia hampir bisa membayangkan Sisi bertepuk tangan.
Pada menit kedua puluh, Meiran menyodorkan sticky note.
"Tandai dengan ini."
Hafeng mengambilnya.
Sticky note itu berwarna kuning pucat, sudah dipotong kecil rapi. Ia menatap tumpukan kecil itu, lalu berkata, "Kamu menyiapkan ini untukku?"
"Untuk siapa pun yang tidak beradab."
"Perempuan jahat."
"Pembaca tertib."
Hafeng hampir tersenyum.
Hampir.
Ia menunduk terlalu cepat, membuka halaman berikutnya. Dari dalam buku referensi yang ia bawa sendiri, amplop putih tiba-tiba meluncur keluar dan jatuh di lantai.
Meiran melihatnya.
Hafeng juga.
Mereka membeku.
Amplop itu berhenti tepat di dekat sepatu Meiran.
"Itu..."
"Bukan apa-apa."
Meiran mengambil amplop itu sebelum Hafeng sempat menunduk. Ia tidak membuka, hanya membaca namanya sendiri yang tidak tertulis di sana, tetapi jelas hadir di seluruh kertas itu.
"Kamu menjadikannya pembatas buku?"
"Tidak sengaja."
"Tentu."
"Kembalikan."
Meiran menyerahkannya. Jari Hafeng menyentuh ujung jarinya ketika mengambil amplop. Kali ini tidak ada yang menarik tangan cepat-cepat. Sentuhan itu pendek, tetapi cukup untuk membuat keduanya sadar akan meja, buku, hujan, dan jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh.
**【Sistem Predator】Nilai Cinta target berubah.**
Nilai Cinta: -32.
Meiran menunduk, pura-pura membaca catatan.
Hafeng memasukkan amplop itu kembali ke dalam buku, lebih hati-hati daripada sebelumnya.
Setelah dua jam, mereka menyelesaikan setengah buku dengan catatan masing-masing. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada instruksi. Tidak ada Wanyu. Hanya beberapa kalimat pendek, beberapa koreksi, dan kebiasaan baru yang terbentuk tanpa izin.
Pada halaman tentang koridor teduh, Hafeng mendorong buku sedikit ke arah Meiran.
"Bagian ini cocok untuk maketmu."
Meiran membaca paragraf yang ditunjuknya. "Karena aliran udara?"
"Karena orang Jakarta tidak mencari ruang indah lebih dulu. Mereka mencari tempat yang tidak membuat mereka berkeringat dalam tiga menit."
"Komentar yang sangat romantis terhadap kota."
"Komentar realistis."
Meiran menulis catatan di tabletnya. "Baik. Koridor teduh, ventilasi silang, material tidak menyimpan panas."
Hafeng melihat catatan itu. "Tambahkan drainase kecil. Kalau hujan deras, ruang jeda bisa berubah jadi kolam."
"Kamu mulai terdengar seperti konsultan tetap."
"Aku mencegah desain buruk."
"Dengan sukarela?"
Hafeng terdiam.
Meiran tidak menekan lebih jauh. Ia hanya menambahkan kata `drainase` di catatan, lalu menggeser buku ke arahnya sebagai ganti. Diam seperti itu jauh lebih efektif daripada mengejek.
Ketika mereka hendak meminjam buku itu, petugas perpustakaan di meja sirkulasi menggeleng.
"Maaf, ini koleksi referensi. Tidak bisa dibawa keluar. Hanya boleh dipakai di ruang baca."
Hafeng menatap stiker merah di punggung buku, baru menyadari tanda `R`.
Meiran menerima kartu baca kembali. "Berapa lama bisa ditahan di meja reservasi?"
"Tiga hari, kalau ada dua pengguna yang sama mengajukan."
Petugas itu melirik mereka berdua.
Hafeng dan Meiran saling menatap.
Situasinya terlalu jelas.
"Tiga hari cukup," kata Meiran.
Hafeng seharusnya berkata tidak.
Ia malah menyerahkan kartu mahasiswanya.
"Reservasi atas dua nama."
Petugas mengetik sesuatu di komputer, lalu menempelkan slip kecil pada halaman depan buku.
`Reserved: Lim Meiran / Lo Hafeng`
Tulisan itu sederhana, tetapi bagi Meiran, efeknya seperti stempel kecil pada sesuatu yang belum berani disebut hubungan. Bukan hubungan cinta. Bukan juga hubungan musuh. Lebih berbahaya dari keduanya: kebiasaan yang diakui sistem kampus.
Hafeng membaca slip itu terlalu lama.
"Kenapa harus pakai garis miring?"
Petugas bingung. "Format sistem, Kak."
Meiran menunduk agar senyumnya tidak terlihat.
Saat Meiran membereskan barang, Hafeng berkata, "Buku ini belum selesai."
"Aku tahu."
"Besok aku butuh lagi."
"Aku juga."
Hafeng menatap jendela. "Jam yang sama?"
Meiran memasukkan tablet ke tas perlahan.
"Kamu sedang mengajakku membuat jadwal?"
"Aku sedang menghindari rebutan buku."
"Tentu."
Hafeng mengencangkan tali tas. "Kalau kamu terlambat, aku pakai duluan."
"Kalau kamu terlambat, aku akan menyebutnya rindu yang tertunda."
"Jangan mengarang."
"Kalau begitu datang tepat waktu."
Hafeng tidak menjawab.
Namun sebelum pergi, ia mengambil payung hitam dari sisi tas Meiran, memeriksa apakah masih basah, lalu mengembalikannya tanpa berkata apa-apa.
Meiran menatap gerakan itu.
Besok jam yang sama.
Bukan instruksi.
Janji.
**【Sistem Predator】Jalur interaksi sukarela terbentuk. Nilai Cinta: -32.**
Meiran menutup tasnya, tetapi dadanya terasa sedikit lebih ringan sekarang.