Hanya karna melihat dari penampilan saja mereka sepakat untuk menikah karna perjodohan dari orang tua mereka.
Tanpa ada pendahuluan, awalan, pendekatan ataupun suatu ikatan cinta sebelumnya, tapi mereka dengan mantapnya menyetujui perjodohan itu.
Tata adalah seorang gadis yang sangat hyperaktif di segala kondisi dan cuaca serta kehidupannya yang sangat beruntung.
Sedangkan Bara, banyak hal yang dia rahasiakan tentang dirinya.
Mereka hanya melihat apa yang Bara perlihatkan sedangkan jauh disana, sebuah rahasia yang terjaga dengan baik sedang berada di ujung tanduk.
Akankah Bara mulai luluh kepada Tata? atau mungkin Bara yang mulai menceritakan tentang kebenaran dirinya kepada Tata? Apakah Tata bisa menerima semua ini setelah apa yang sudah terjadi?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MegaHerdian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35.
Bara sudah kembali bekerja seminggu terakhir ini, setelah hampir satu bulan penuh dia hanya berada di rumah menemani Tata yang masih berduka.
Anak tunggal yang kehilangan kedua orangtua secara bersamaan itu sakitnya luar biasa, Tata masih terbilang hebat karna waktu satu bulan ini dia sudah sedikit lebih baik.
Di tambah ia harus meladeni kelakuan konyol teman-teman Tata yang membuatnya sakit kepala tidak tertolong itu.
Terutama orang yang bernama Amber, dia benar-benar sangat menjengkelkan hidupnya seakan penuh dengan omong kosong dan candaan garing.
Sangat menyebalkan!.
Pernah saat itu mereka baru saja tiba di Muji, memang benar Bara yang menyuruh mereka untuk datang kesini dan tinggal sementara waktu menemani Tata.
Tapi semua itu di luar dugaan.
Pertama kali, orang bernama Amber itu datang beserta kedua teman lainnya, saat itu Amber yang pertama kali masuk saat Bara membuka kan pintu untuk mereka masuk ke kediamannya.
"Bawakan barangku" ucapnya saat itu yang membuat Bara langsung naik pitam saat itu juga.
Tapi Bara menahan amarahnya saat melihat Tata yang berdiri tak jauh darinya terkekeh pelan mendengar ucapan sembrono Amber itu.
"Bajingan ini, lihatlah siapa orang yang kau suruh itu" ucap Pinkan yang juga terkekeh di belakangnya begitu pula dengan Sasa.
"Oh... Astaga!" Kejut Amber saat dia menatap kearah samping yang langsung di suguhkan wajah masam Bara.
"Kau membuatku terkejut saja, apa yang kau lakukan disitu? "
"Mengambil buah mangga! " ketus Bara yang membuat Amber menelan ludahnya kasar.
"Itu salahmu sendiri, kenapa kau berada di situ! "
"Jangan banyak bicara, cepat masuk sebelum aku menguburmu" Amber langsung berlari pelan kearah Tata memeluknya sembari menyembunyikan tubuhnya dari radar penglihatan Bara.
"Dia sangat berisik" bisik Amber kepada Tata.
"Aku tau" kekeh Tata.
"Hey! Aku bisa mendengar ucapan sialanmu itu"
"Aku tidak mengatakan apapun, benarkan" Amber mencoba mencari perlindungan di belakang tubuh Tata.
Pernah juga dia mengatakan hal seperti ini saat Bara baru saja pulang lari pagi dan Amber sepertinya baru bangun dan sedang menunggu coffenya.
"Oho.. Kau terlihat seperti lelaki saja"
"Berengsek kau pikir aku selama ini apa!"
"Sowryyyy..mm aku memiliki gangguan ingatakan di pagi hari" ucapnya lagi tanpa berdosa.
"Ya, aku memakluminya karna kau memang tidak waras!"
"Bajingan ini" Cibir Amber saat melihat Bara yang sudah melenggang pergi.
Itulah sedikit kesan pertama saat pertama mereka masuk ke Muji, mengesalkan memang tapi itu hanya bagian terkecil dan terbilang bukan lah apa-apa, masih banyak hal lainnya yang membuat Bara tersulut emosi hanya karna tingkahnya.
Mengingatnya saja sudah membuat kepalanya pusing!.
Bara saat ini sedang duduk di ruang kerjanya di Delao grup, perusahaan milik ayahnya Cristian.
Bara menjadi direktur di Delao saat usianya sudah tujuh belas tahun saat itu, itu adalah kali pertama Bara belajar bisnis dan langsung menjadi direktur.
Dia juga menjadi direktur termuda yang bisa menaikan saham sebanyak 25% setelah dia menjabat sebagai direktur, tentu saja itu sebuah langkah yang bagus bagi seorang pemula.
Cristian dan Amada tentu saja bangga dengan pencapaian putra tunggal mereka itu, mereka benar-benar bangga kepada Bara.
Bara pintar dalam berbisnis dan berdialog, dia memiliki jiwa yang berani dan tak kenal takut itulah yang membuatnya bisa sampai di titik teratas saat itu.
Menurutnya, keyakinan bahwa dirinya akan sukses lah yang membuatnya bisa seperti ini.
Di situ pula kali pertama Bara bertemu dengan Gege, dia dua tahun lebih tua dari Bara dan lagi saat itu dia pertama kalinya bekerja di Delao dan menjadi sekretaris Bara sampai saat ini.
Mungkin karna umur mereka yang terpaut dekat dan tidak ada kata canggung di antara keduanya membuat mereka langsung akrab hari itu juga.
Bara masih mengingat senyuman manisnya saat mereka bertemu.
Jika di ingat lagi entah kenapa selalu sukses membuat Bara tersenyum, senyuman Gege saat itu sangat manis dan terlihat sangat tulus walaupun terdapat memar kebiruan di sudut bibirnya saat pertama kali mereka bertemu.
"Dasar anak itu" Kekeh Bara saat mengingat momen itu lagi.
"Kau sepertinya sangat bahagia ya" ucap Gege yang baru saja datang dan melihat Bara yang tengah tersenyum sembari memutarkan kursi kerjanya.
"Tebak, apa yang membuatku tersenyum "
Gege berpikir sebentar mencoba memikirkan apa yang membuatnya bisa tersenyum seperti itu.
"Ayolah cepat" Bara berjalan mendekat kearah Gege yang seperti sedang berpikir keras.
"Mm.. Itu pasti karena aku" Bara menghentikan gerakan tangannya saat dia sedang membenarkan letak dasi milik Gege dan menatap kearah Gege yang lebih tinggi darinya itu.
"Bagaimana kau tau"
"Itu mudah, karna aku yang selalu membuatmu tersenyum" Gege memegang pinggang ramping milik Bara menariknya untuk sedikit mendekat kearahnya.
Mereka saling menatap, dengan senyuman pelan yang berada di bibir keduanya.
CEKLEK.
"Permisi pak ak... " seseorang masuk membuat mereka langsung menjauhkan tubuh mereka masing-masing.
"Ya ada apa" Bara membenarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya itu.
"Aku ingin memberikan berkas dari Catalo, mereka baru saja datang dan memberikan ini"
"Baiklah, apa mereka masih berada disini"
"Tidak mereka langsung pergi setelah memberikan itu"
"Baiklah, kau bisa kembali bekerja"
Wanita bernama Mingyu itu pergi setelah membungkukan badannya, Gege mendekat kearah Bara yang masih menatap sebuah map coklat di genggamannya.
"Biar aku yang membukanya" ucap Gege yang langsung Bara berikan kepadanya.
"Kenapa lagi mereka! Apa aku kurang jelas menolak tawaran mereka" mengingatnya saja itu sudah membuat Bara kesal.
"Ini.. "Gege menjeda ucapannya saat melihat apa yang ada di dalam map itu.
Bara mendekat kearah Gege dan melihat apa yang baru saja Gege lihat.
"Inikan.. " Bara menatap kearah Gege begitupun sebaliknya.
Mereka sama-sama terkejut melihat isi dari map yang Catalo berikan padanya.
Tidak mungkin! Kenapa semua ini terlihat sangat kebetulan, jika di ingat lagi ini memang terasa sangat aneh.
Tadi Bara juga baru saja mendapat kabar bahwa Tata sedang bersama dengan Iden.
Bara tidak terlalu mengenal Iden, tapi ia tau siapa Iden sebenarnya apalagi mengetahui hal ini, ia merasa itu pilihan yang sangat tepat untuk Tata berada bersamanya.
"Bisakah kau menghubungi mereka untukku"
"Ya, tentu saja" Gege paham apa yang di maksud ucapan Bara itu, dia langsung buru-buru menelfon Cristian dan memotretkan beberapa dokumen dan lampiran foto.
"Bukankah dia orang di masa lalu Tata?" Bara menatap Iden yang baru saja selesai menelfon.
"Ini tidak akan berjalan dengan baik, kau pasti tau itu" Bara menggigit bibirnya cemas, entahlah dia merasa sesuatu akan terjadi nantinya.
"Kau tidak perlu khawatir, aku bersamamu"
Gege menepuk pundak Bara pelan menenangkannya, Gege tau betapa cemas dan khawatir dirinya saat ini.
"Jangan sampai Tata tau tentang hal ini, maksudku..tidak untuk hari ini"
"Baiklah".
jangan lupa mampir di karya aku juga ya kk
🥰
My Little Prince dan VCPD
terimakasih 🙏