Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 31
"Sayang sepertinya nanti malam aku akan pulang terlambat. Ada beberapa masalah kantor yang harus segera kami tangani. Jangan tunggu aku pulang tidurlah lebih dulu, ya."
"Gitu, ya. Ya udahlah mau gimana lagi. Semoga urusan darling lancar dan masalahnya segera selesai."
"Aamiin." Aldri dan Egi serempak menjawab.
"Aku ganti baju dulu. Gi, kamu tunggu. Kita berangkat sama-sama."
"Okey."
Egi dan Antika makan cemilan dan berbincang. Aldri bergegas menuju kamar setelah selesai Aldri dan Egi pamit ke kantor. Selama perjalanan Aldri hanya terdiam.
"Al, apa kamu sedang memikirkan masalah Antika?"
"Hemm." Aldri hanya membalas singkat.
"Sorry untuk masalah ini aku tidak bisa memberi saran atau apapun. Aku hanya berdoa dan berharap kalian bisa bahagia selamanya."
"Terima kasih, Gi. Jujur saja aku tidak tahu bagaimana menyampaikan pada Tika tentang kondisi rahimnya. Aku tidak bisa membayangkan kesedihan yang akan dia alami. Kami baru saja memulai semua."
"Aku tahu bagaimana rasanya, Al." Pikiran Egi menerawang. Ia memandang ke arah luar jendela mobil.
Aldri terdiam. Ia terlupa tentang kenyataan yang sama yang terjadi kepada Egi.
"Maafkan aku, Gi."
Aldri meminta maaf dengan tulus. Dari suaranya dapat dipastikan ia menyesali telah mengorek luka lama Egi tanpa ia sadari.
"Dasar bodoh. Memang nya kamu salah apa? Sampai harus minta maaf segala, Al? Semua sudah masa lalu untuk apa diungkit kembali."
Egi mencoba tertawa meski demikian Aldri tahu pasti sahabat karibnya yang tomboy itu tidak sedang baik-baik saja.
"Al, sungguh beruntung Tika memilikimu. Kamu bisa menerima dia apa adanya. Tidak seorang wanita di dunia ini yang cacat. Meskipun aku tomboy dan banyak yang mengatakan tidak pantas disebut sebagai wanita apalagi untuk dicintai. Tapi, aku juga punya naluri seorang ibu. Aku juga ingin memiliki seorang anak dari rahimku sendiri suatu hari nanti."
Aldri hanya dia menyimak. Ia tahu saat ini sahabatnya sedang rapuh. Di saat seperti ini agri memahami bahwa Egi adalah karakter yang hanya ingin didengar.
"Al, sepahit apapun kenyataan yang ada kamu jangan pernah membohongi seorang wanita. Katakan saja sejujurnya apa yang ada dalam benakmu. Aku paham kondisi fisika saat ini belum bisa untuk itu. Setidaknya suatu saat nanti kamu tetap harus jujur. Yakin kan padanya Kamu akan selalu ada di sampingnya bagaimanapun kondisinya. Karena wanita itu sosok yang rapuh."
"Satu hal juga, Al. Jangan mencoba untuk menghindarinya karena itu justru akan membuatnya salah paham dan menganggap kamu tidak Sudi bahkan jijik sama dia. Jadi, pikirkan dengan tenang keputusanmu."
Egi tersenyum ke arah Aldri. Senyum itu merupakan pertanda bahwa Egi sudah mulai tenang sekarang. Aldri pun membalas senyuman itu.
"Hah, dasar! Padahal aku sudah mengatakan tidak bisa memberi saran. Tapi, kenapa kalau sudah menyangkut kamu mulutku ini susah sekali direm. Rem nya langsung blong wae."
"Ya, ternyata sebesar itu sayangmu padaku, Gi . Sungguh luar biasa."
"Dasar wong edan!"
"Heh! Itu kata-kataku jangan main plagiat saja."
"Masa bodoh."
Egi sengaja memberi tekanan pada kalimatnya. Keduanya pun tertawa lebar. Sejenak Mereka pun terlupa masalah kantor yang membuat penat pikiran.
*****
Anggara sudah kembali ke Jakarta. Sejak dirinya tidak menemukan keberadaan Antika, Anggara sudah membuat keputusan untuk kembali dan menetap di Jakarta. Ia menyampaikan semua niatnya kepada sang Papa. Pemuda itupun mengatakan semua tentang Antika bahwa gadis itu telah pindah ke Jakarta.
Itulah salah satu alasan yang membuat Andika, Papa Anggara memutuskan kembali ke Jakarta dan memulai mengurus bisnisnya di Jakarta. Ia ingin sekali memperkenalkan putra semata wayangnya itu kepada seluruh karyawan perusahaannya.
Hari ini untuk pertama kalinya Andika menyampaikan kepada seluruh karyawannya akan kembali menangani sendiri masalah perusahaan di Jakarta. Niat itu disambut gembira oleh seluruh karyawan hingga berita tentang kembalinya sang direktur segera tersebar.
Baru saja Andika menginjakkan kakinya di perusahaan. Dirinya sudah mendapatkan laporan tentang kebocoran data perusahaan. Pria itupun segera menangani dan terjun langsung mengatasi masalah tersebut. Mengapa seorang direktur yang harus turun langsung jawabannya hanya satu semua tentang masa lalu.
Andika masih dibuat penasaran oleh sosok pria yang dulu pernah membuatnya kalah dalam persaingan. Baru kali itu dirinya dikalahkan oleh seseorang. Bukan dendam yang ia rasakan hanya rasa ingin tahu yang tinggi tentang siapa dan bagaimana sebenarnya sosok masa lalu itu. Pria itu semakin sukses dan maju dengan perusahaan yang dirintisnya. Hal itu membuat Andika semakin mengagumi sosok itu hingga detik ini.
Aldri dan Egi telah sampai di kantor. Mereka berdua segera memanggil semua staf dan karyawan yang berkaitan dengan masalah yang mereka hadapi saat ini.
Ternyata di luar dugaan Egi masalah yang mereka hadapi saat ini cukup rumit. Bahkan mereka harus lembur sampai malam.
"Hah!" Eki meregangkan tubuhnya yang lelah karena seharian tubuh dan otaknya dipaksa bekerja keras.
"Kamu sudah lelah? Tidak apa-apa kalau kamu pulang dulu, Gi."
"Tidak. Kita bareng aja. Kamu benar harus menginap di kantor, Al?"
"Seperti nya begitu. Masalah kali ini cukup berat. Kalau tidak segera ditangani bisa menjalar kemana-mana."
"Bukan karena kamu berusaha menghindari Tika kan?"
"Pertanyaan macam apa itu? Aku bukan pengecut, Gi. Kamu pasti lebih tahu soal itu."
"Ya, Kamu benar juga. Semoga saja masalah ini segera selesai dengan baik dan lancar. Hasilnya juga sesuai harapan."
"Aamiin."
Anggara diam-diam menyewa seseorang untuk membantu menemukan keberadaan Antika. Ia tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Keinginan nya untuk segera berjumpa dengan sang kekasih sangatlah kuat. Hatinya sudah sangat rindu dengan Antika. Namun, selama hampir sepekan hasilnya nihil.
Aldri selalu pulang larut sejak ada masalah kantor sepekan lalu. Setiap sampai di rumah Antika sudah tertidur pulas besok paginya pun demikian mereka hanya bersama sebentar ketika di meja makan selanjutnya Aldri akan bergegas menuju kantornya.
Sejujurnya Aldri sangat rindu dan kasihan terhadap Antika. Setiap malam gadis itu selalu menunggunya kadang hingga tertidur di sofa. Karena tidak tega membangunkannya, Aldri selalu menggendongnya ke kamar dan menidurkannya perlahan.
Waktu terlalu tanpa mereka sadari. Ada rasa sedih di hati Antika. Setiap malam gadis itu selalu menunggu dan membayangkan mereka dapat bersama dan mengulang kembali ke romantisannya yang sempat tertunda. Namun, apalah dayanya ia hanya mampu bermimpi hingga datangnya pagi hari. artikan selalu tertidur di saat Aldri pulang.
Rasanya bosan banget. Mas Aldri sibuk beberapa hari ini. Aku juga udah telepon Ibu, tapi hanya bisa ngilangin bosan sesaat. Hah, andai aja aku ada teman pasti bisa diajakin ngobrol dan mungkin jalan-jalan gitu. Mau ngeluh kasihan Mas Aldri pasti dia banyak pikiran saat ini. Moga aja semuanya lancar. Darling aku kangen.