Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Menguntit Sang CEO
Karena wajah pria itu dan wajah Bobo benar-benar seperti salinan hidup yang mustahil disangkal lagi.
Meilan tidak tidur.
Pagi datang dengan suara Sari menyiapkan sarapan, Lala mencari kaus kaki, Hugo mengeluh karena buburnya kurang manis, dan Bobo duduk tenang seperti anak yang tidak tahu bahwa wajahnya baru saja mengguncang dunia ibunya.
Meilan menatap Bobo terlalu lama.
Bobo mengangkat wajah. "Mama sakit?"
"Tidak."
"Mama lihat Bobo terus."
Lala langsung menyentuh pipi kakaknya. "Bobo lucu."
Bobo mengerutkan kening. "Bobo tidak lucu."
Hugo mengangguk cepat. "Aku juga tidak lucu. Aku gagah."
Yan menatap mereka berdua, lalu kembali makan tanpa komentar.
Meilan hampir tertawa, tetapi pikirannya sudah berada di tempat lain.
Reynard Sutanto.
Jika pria itu benar-benar berhubungan dengan masa lalu anak-anaknya, ia harus tahu. Dan jika ia sedang mencari seseorang di BSD City, kemungkinan besar pencarian itu bersinggungan dengan Sani.
Setelah mengantar anak-anak dan memastikan Sari tidak sendirian di rumah, Meilan pergi mengikuti alamat yang semalam ia dapat dari Chelsea melalui kalimat setengah terpaksa: "Aku tidak bilang kamu boleh menguntit, tapi kalau kamu kebetulan lewat hotel bisnis dekat AEON, jangan salahkan aku."
Reynard tidak sulit ditemukan.
Orang seperti dia tidak benar-benar bisa bersembunyi. Bahkan ketika memakai kemeja gelap sederhana dan hanya ditemani dua pria, udara di sekitarnya tetap berubah. Bima berjalan di sisi kiri. Seorang pria lain, Bayu, bergerak lebih ringan di belakang.
Mereka mengunjungi klinik kecil, pos keamanan, rumah kontrakan, dan dua ruko kosong. Reynard hampir tidak banyak bicara. Ia hanya menunjukkan foto seorang remaja pada beberapa orang, mendengar jawaban, lalu pergi. Bima mencatat. Bayu memperhatikan jalan.
Meilan mengikuti dari jarak aman.
Di klinik kedua, ia melihat Bima menyerahkan amplop kepada perawat agar bisa memeriksa daftar pasien tanpa membuat keributan. Di pos keamanan, Bayu menanyakan rekaman CCTV malam hujan beberapa hari lalu. Di depan sebuah warung kopi, Reynard berhenti lama ketika pemilik warung menyebut ada motor gelap lewat menuju arah Griya Asri.
Meilan langsung tahu penyelidikan mereka mendekat ke rumahnya.
Pria itu tidak mencari orang sembarangan. Cara Reynard bergerak terlalu rapi: tidak ada ancaman terbuka, tidak ada suara tinggi, tetapi semua orang akhirnya menjawab. Uang, tekanan, dan wibawa dipakai seperti pisau bedah. Tepat, dingin, nyaris tanpa darah.
Kalau Sani benar orang yang dicari, Meilan harus memutuskan sebelum Reynard mengetuk pintunya sendiri.
Atau setidaknya ia mengira aman.
Di sebuah gang servis belakang ruko, ia kehilangan Bayu selama tiga detik.
Tiga detik cukup untuk membuat pisau kecil menyentuh sisi lehernya dari belakang.
"Mengikuti orang yang salah bisa mahal, Bu," kata Bayu pelan.
Meilan tidak panik. Ia mengangkat tangan setengah, lalu menginjak kaki Bayu dengan tumit. Saat tekanan pisau goyah, ia memutar tubuh, menahan pergelangan pria itu, dan hampir membuatnya jatuh.
Hampir.
Karena tangan lain menangkap pergelangannya.
Reynard berdiri di depannya.
Pegangannya kuat, dingin, dan sangat presisi. Tidak menyakiti lebih dari perlu, tetapi cukup untuk menghentikan gerakannya. Meilan mendongak dan menemukan wajah yang semalam hanya ada di layar kini terlalu dekat.
Sial.
Lebih tampan dari foto.
"Nona Meilan," kata Reynard. "Anda punya kebiasaan menarik."
Meilan tersenyum. "Saya tersesat."
Bima yang berdiri di belakang hampir tersedak.
Reynard menatapnya tanpa ekspresi. "Tersesat selama tiga jam?"
"BSD City luas."
"Dan Anda selalu tersesat dua puluh meter di belakang saya?"
"Kebetulan saya suka jarak dua puluh meter."
Bayu menatap Bima. Bima menatap langit, seperti minta pertolongan.
Reynard melepaskan pergelangan Meilan. "Apa yang Anda inginkan?"
"Tergantung Pak Reynard mencari apa."
Mata pria itu sedikit berubah. Bukan terkejut karena namanya diketahui, melainkan karena Meilan memilih mengatakannya tanpa basa-basi.
"Saya mencari keluarga."
"Keluarga yang hilang?"
"Seorang sepupu. Remaja lima belas atau enam belas tahun. Luka-luka. Kemungkinan bersembunyi di sekitar BSD."
Jantung Meilan berdetak lebih berat.
"Ciri khusus?"
Reynard diam sesaat. "Ada tahi lalat kecil di belakang telinga kiri."
Semua potongan jatuh ke tempatnya.
Sani.
Remaja yang membawa liontin hijau, dikejar pembunuh, pura-pura lupa ingatan, dan terlalu sering menatap Bobo.
Meilan menyembunyikan reaksi di balik senyum ringan. "Kalau saya bisa membantu menemukannya?"
Reynard menatapnya. "Apa yang Anda minta?"
"Sederhana. Anda bantu saya membesarkan anak-anak, saya bantu Anda mencari orang."
Bima batuk keras.
Bayu benar-benar menoleh.
Reynard tidak berkedip. "Apa maksud Anda?"
"Maksud saya, anak-anak saya butuh figur ayah. Anda tampaknya kaya, kuat, dan wajah Anda lumayan. Saya juga butuh alasan untuk tidak terus memikirkan wajah Anda sejak semalam." Meilan melangkah setengah lebih dekat. "Bagaimana kalau Anda membalas bantuan saya dengan menikahi saya?"
Untuk pertama kalinya, wajah es Reynard retak sepersekian detik.
Bima menutup mulutnya.
Bayu menatap Meilan seperti melihat legenda hidup.
Reynard menarik napas sangat pelan. "Nona Meilan, mohon jaga sikap."
"Saya sedang sangat menjaga sikap. Kalau tidak, saya sudah lebih terus terang."
"Saya tidak sedang bercanda."
"Saya juga tidak."
Di antara mereka, udara terasa seperti kabel listrik tipis. Reynard jelas tidak terbiasa digoda. Meilan justru menemukan bagian itu sangat menyenangkan. Namun di balik keberaniannya, pikirannya tetap bekerja.
Ia tidak akan langsung menyerahkan Sani.
Belum.
Anak itu dikejar pembunuh. Ia perlu tahu apakah Reynard benar-benar pelindung atau hanya bagian lain dari bahaya yang sama.
Reynard akhirnya berkata, "Jika Anda punya informasi, hubungi Chelsea. Jangan mengikuti saya lagi."
"Kalau saya rindu?"
"Jangan."
"Dingin sekali."
"Lebih aman begitu."
Reynard pergi bersama Bima dan Bayu. Bima masih beberapa kali menoleh seolah ingin memastikan perempuan yang baru menggoda bosnya itu benar-benar manusia.
Meilan berdiri di gang servis, menahan senyum sampai mobil mereka hilang.
Sore itu, ia pulang lebih cepat.
Sani duduk di ruang depan, membaca buku dengan posisi miring agar lukanya tidak tertarik. Sari sedang menjemur handuk di belakang. Rumah tampak tenang.
Meilan berjalan melewati Sani, lalu berhenti.
"Sani."
Remaja itu mengangkat wajah.
"Rambutmu menutup telinga kiri. Panas tidak?"
Sani kaku sangat halus. "Tidak."
Meilan mendekat, bergerak seolah hendak memeriksa perban di lehernya. Sebelum Sani sempat menghindar, ia menyibak sedikit rambut di belakang telinga kiri.
Tahi lalat kecil itu ada di sana.
Gelap. Tepat seperti yang dikatakan Reynard.
Sani menahan napas.
Meilan menatapnya.
Jadi benar.
Sani adalah Adrian Sutanto, pewaris Sutanto Group yang sedang dicari seluruh Jakarta.
Dan kini, kartu itu ada di tangan Meilan sepenuhnya, tanpa ada yang tahu.