NovelToon NovelToon
MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

Status: sedang berlangsung
Genre:Kerajaan / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB : 16 Duri dibalik Dinding Emas

Meniti Tebing Katresna

Hujan rintik-rintik yang mengguyur ibu kota Oakhaven membuat permukaan tebing batu di jalur Katresna menjadi berkali-kali lipat lebih licin. Air terjun kecil yang mengalir di sisi kanan mereka menyemburkan uap air yang mengaburkan pandangan, namun suara gemuruhnya menjadi berkah tersendiri—menyamarkan deru napas memburu dan gesekan tali temali dari detasemen kecil yang dipimpin oleh Cassian dan Aurelia.

Cassian bergerak di depan dengan kecepatan dan presisi seorang predator alami. Jemari kokohnya mencengkeram setiap celah batu yang basah, sementara matanya yang tajam terus mengawasi posisi Aurelia yang memanjat tepat di bawahnya. Pemuda Utara itu diam-diam kagum; meski Aurelia dibesarkan dalam kemewahan menara Selatan, putri mawar ini tidak mengeluh sedikit pun ketika jemarinya tergores batu tajam atau ketika otot-otot lengannya mulai menegang menahan beban tubuh.

Setelah hampir satu jam pendakian yang menyiksa fisik, Cassian berhasil mencapai bibir tebing paling atas. Ia menarik tubuhnya ke atas dengan satu hentakan kuat, lalu tiarap di balik semak-semak azalea liar yang menjadi pembatas Taman Rahasia Ratu. Setelah memastikan area bersih, ia mengulurkan tangan kokohnya ke bawah, mencengkeram pergelangan tangan Aurelia, dan menarik istrinya naik ke permukaan tanah yang rata.

Aurelia terengah-engah, berlutut sejenak di atas rumput basah untuk mengatur napasnya. Di sekelilingnya, sepuluh prajurit Nightstalkers melompat naik satu per satu dengan gerakan yang hampir tanpa suara, langsung menyebar membentuk perimeter perlindungan.

"Kita berada di dalam," bisik Aurelia, menatap sekeliling taman yang kini tampak terbengkalai. Air mata hampir menetes dari sudut matanya saat melihat tanaman mawar putih kesayangan mendiang ibunya telah mengering dan dipenuhi semak berduri yang tak terurus—sebuah simbol visual yang tepat untuk kondisi kerajaan Oakhaven di bawah cengkeraman pamannya.

Cassian menepuk bahu Aurelia lembut, menyalurkan kehangatan instan di tengah dinginnya malam yang basah. "Fokus, Ratu-ku. Di mana koridor terdekat menuju menara kediaman Raja?"

Aurelia menghapus sisa air di wajahnya, matanya kembali menajam penuh tekad. Ia menunjuk ke arah sebuah pintu lengkung batu yang tertutup tanaman rambat merambat di ujung taman. "Di balik pintu itu ada koridor pelayan bawah tanah. Jalur itu mengarah langsung ke dapur utama, dan dari sana ada tangga spiral tersembunyi yang menembus langsung ke belakang lemari buku di kamar tidur Ayah."

Pembantaian Senyap di Koridor Bawah

Pintu lengkung batu itu tidak dikunci—tampaknya Duke Valerius dan para pengawalnya sama sekali tidak mengira akan ada gila yang berani memanjat tebing vertikal pembatas istana. Detasemen kecil itu merangsek masuk ke dalam koridor yang remang-remang, hanya diterangi oleh obor dinding yang mulai meredup.

Baru saja melangkah beberapa puluh meter, langkah mereka terhenti oleh suara tawa kasar dari arah depan. Dua prajurit Garda Gagak Hitam sedang duduk di atas peti kayu, menenggak minuman keras dari botol kulit untuk mengusir kantuk sembari berjaga.

"Kudengar pasukan monster Utara itu sudah membakar desa-desa di perbatasan luar," kata salah satu penjaga dengan suara serak. "Kuharap Duke segera menyelesaikan urusan dengan Raja tua itu agar kita bisa segera mendapatkan bonus emas kita dan pergi dari tempat terkutuk ini."

"Tenang saja, tabib hitam bilang malam ini adalah malam terakhir bagi si tua bangka—"

Ucapan prajurit itu tidak pernah selesai.

Sssiiut! Sssiiut!

Dua siluet hitam melesat dari kegelapan koridor sebelum kedua penjaga itu sempat menyadari bahaya. Cassian muncul di depan prajurit pertama, tangan kirinya membekap mulut pria itu dengan erat sementara tangan kanannya menggorok tenggorokan musuh dengan belati peraknya dalam satu gerakan melingkar yang bersih. Di sampingnya, seorang prajurit Nightstalker melakukan hal yang sama pada penjaga kedua, mematahkan lehernya dengan bunyi krak yang diredam.

Kedua mayat itu ditarik ke dalam bayangan koridor dengan cepat. Tidak ada setetes pun darah yang dibiarkan menetes ke lantai marmer untuk menghindari jejak.

"Malam terakhir, mereka bilang?" desis Aurelia, wajahnya memucat mendengar percakapan tadi. "Pamanku... dia benar-benar akan membunuh Ayah malam ini juga!"

"Kita harus bergerak lebih cepat," ujar Cassian, menyeka darah di belatinya pada jubah mayat penjaga. "Ayo!"

Mereka bergerak bagaikan sekumpulan hantu melewati jalur pelayan, melewati dapur istana yang kosong, hingga akhirnya tiba di depan pintu tangga spiral rahasia. Langkah kaki mereka sangat ringan, nyaris tidak mengeluarkan suara saat menaiki undakan tangga batu yang sempit dan berdebu.

*•*

*•*

Detak Jantung yang Tersisa

Aurelia mendorong panel kayu rahasia di ujung tangga perlahan. Panel itu bergeser, membuka celah di balik lemari buku besar di dalam kamar tidur Raja Oakhaven. Suasana di dalam kamar begitu sunyi, hanya diinterupsi oleh suara batuk yang sangat lemah dan putus-putus dari arah tempat tidur besar berkelambu emas di tengah ruangan.

Aurelia melangkah keluar dari balik lemari buku terlebih dahulu, disusul oleh Cassian yang tetap menggenggam hulu pedangnya dengan waspada.

Bau obat-obatan herbal yang busuk dan aroma racun yang menyengat langsung menusuk hidung mereka. Di atas tempat tidur megah itu, berbaring seorang pria tua dengan tubuh yang teramat kurus hingga tulang-tulangnya menonjol di balik jubah tidurnya. Wajahnya pucat keabu-abuan, dan sepasang matanya terpejam rapat dengan napas yang terdengar seperti gesekan amplas. Itu adalah Raja Oakhaven, ayah Aurelia.

"Ayah..." bisik Aurelia, melompat berlutut di tepi tempat tidur. Ia menggenggam tangan ayahnya yang terasa dingin dan kering bagai ranting mati. "Ayah, ini aku. Aurelia kembali."

Kelopak mata sang Raja bergerak perlahan, terbuka dengan sangat berat. Manik mata yang dulunya memancarkan kewibawaan itu kini tampak kabur dan dipenuhi selaput keputihan akibat efek racun. Namun, saat melihat wajah Aurelia, ada kilatan kesadaran yang sangat tipis muncul.

"Au... re... lia...?" suara sang Raja terdengar seperti bisikan angin malam, sangat parau dan lemah. "Apakah... ini... halusinasi... sebelum... ajal...?"

"Bukan, Ayah! Ini benar-benar aku!" Aurelia dengan cepat meraba saku zirah bagian dalamnya, mengeluarkan botol kristal berisi cairan biru langit—Air Kehidupan Eterna. "Aku membawa penawar dari Utara. Ayah harus meminumnya sekarang."

Cassian melangkah mendekat, membantu menopang punggung sang Raja tua agar posisinya sedikit tegak, sementara Aurelia dengan hati-hati membuka sumbat botol dan menuangkan cairan berkilau itu ke dalam mulut ayahnya.

Reaksi dari cairan suci itu terjadi hampir seketika. Begitu cairan biru itu mengalir ke tenggorokan sang Raja, uap tipis berwarna kehitaman mulai menguar dari pori-pori kulitnya—efek dari racun Air Mata Kematian yang sedang dipaksa keluar dari sistem tubuhnya. Sang Raja mengerang rendah, tubuhnya bergetar hebat sesaat sebelum akhirnya napasnya mulai terdengar lebih teratur dan warna kemerahan yang sehat perlahan kembali ke pipinya yang cekung.

"Perlu waktu beberapa jam hingga kekuatannya pulih sepenuhnya," kata Cassian, memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan sang Raja. "Tapi dia akan selamat. Nyawanya sudah berhasil kita amankan."

Aurelia menangis haru, mencium kening ayahnya berulang kali. Beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya sejak melarikan diri ke Utara rasanya luruh seketika.

Namun, momen kelegaan itu hancur berantakan ketika pintu utama kamar tidur Raja tiba-tiba didobrak terbuka dengan dentum keras dari luar.

*•*

*•*

Kehadiran Sang Tiran

"Apa yang terjadi di dalam sini?! Mengapa ada bau sihir Utara?!" sebuah suara yang sangat dikenal dan dibenci menggelegar di ambang pintu.

Duke Valerius melangkah masuk ke dalam kamar. Bahu kirinya tampak dibalut perban tebal di balik jubah hitamnya yang mewah, wajahnya terlihat tirus dan pucat akibat luka infeksi yang belum sembuh total, namun mata setan-nya memancarkan kegilaan yang mengerikan. Di belakangnya, berdiri belasan pengawal garda elite Oakhaven dengan pedang terhunus.

Mata Valerius melebar karena terkejut saat melihat sosok Aurelia dan Cassian yang berdiri di samping tempat tidur Raja. Pandangannya kemudian jatuh pada botol kristal kosong di tangan Aurelia dan kondisi kakaknya yang kini bernapas dengan normal.

"Kalian..." desis Valerius, suaranya bergetar oleh amarah yang meledak-ledak. "Bagaimana bisa tikus-tikus Utara ini menyusup ke dalam istanaku?! Dan kau... jalang kecil, kau telah merusak segalanya!"

Cassian melangkah maju ke depan Aurelia, menghalangi pandangan Valerius dari istrinya. Ia mencabut greatswordkelabunya dengan satu sentakan halus, menciptakan dengungan besi yang memenuhi kamar luas tersebut.

"Permainanmu sudah berakhir, Valerius," ucap Cassian, suaranya dingin membeku bagai es abadi Frosthelm. "Pasukan utamaku sudah berada di gerbang depan, dan rajamu yang sah telah sembuh. Kau tidak memiliki tempat lagi untuk bersembunyi."

Valerius tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa histeris dari seorang pria yang tahu dia telah terdesak ke ujung jurang namun menolak untuk menyerah.

"Berakhir?! Jangan naif, Pangeran Muda!" raung Valerius, mengangkat tangan kanannya yang memegang sebuah belati berlumuran cairan hitam pekat—sihir kutukan darah. "Jika aku tidak bisa memiliki Oakhaven, maka tidak akan ada yang bisa memilikinya! Pengawal! Bunuh mereka semua! Hancurkan tempat tidur itu!"

Belasan pengawal elite musuh merangsek maju secara serentak ke dalam kamar.

"Prajurit! Lindungi Raja dan Putri!" teriak Cassian kepada sepuluh Nightstalkers yang langsung melompat keluar dari balik bayangan lemari buku.

Pertempuran berdarah di dalam ruang tidur kerajaan pun pecah dengan brutal di bawah temaram cahaya obor, menandai awal dari konfrontasi terakhir di jantung Istana Matahari.

*•*

*•*

*•*

-*•*

*•*

1
Anisa Nur Afifah
haii kak baguss bngett sukaaa ceritanyaaa,

ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!