Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.
Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.
Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.
Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.
Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Siapa yang cukup dekat untuk tahu Ko Darren selalu berangkat pukul delapan tepat?
Pertanyaan itu masih menggantung di garasi ketika Keira meninggalkan Mansion menjelang siang.
Ko Darren sudah mengunci area Lexus dan memanggil tim keamanan internal. Brandon masih diam, lebih pucat daripada biasanya. Keira tahu seharusnya ia kembali ke kamar dan mencoba tidur. Tetapi setelah lima malam mendengar seluruh Mansion berbicara, kamar justru terasa seperti perangkap.
Rolls-Royce Phantom Edisi Terbatas menawarinya solusi dengan percaya diri berlebihan.
"Nona, kita jalan-jalan. Aku butuh udara kota. Ban mahal tidak diciptakan untuk diam di garasi sambil mendengar mobil lain trauma."
Keira akhirnya mengambil kunci.
Ia punya SIM. Ia juga punya kepala yang terlalu penuh dan butuh jarak dari semua suara rumah. Jadi ia mengemudikan Phantom keluar dari Menteng, mengikuti jalan kota tanpa tujuan jelas.
Mobil itu terlalu mencolok untuk berhenti di mana pun tanpa menarik perhatian. Beberapa motor memperlambat laju hanya untuk melihat. Seorang anak kecil menunjuk dengan mata membulat. Phantom terdengar sangat puas.
"Lihat? Publik menghargai bentuk tubuhku."
"Jangan sombong."
"Aku Rolls-Royce, Nona. Sombong adalah fitur bawaan."
Keira tertawa kecil.
Sekitar dua puluh menit kemudian, aroma kaldu dan bawang goreng menariknya ke sebuah warung mie pinggir jalan. Tempatnya sederhana, meja plastik, kursi logam, kipas angin tua yang berputar malas. Phantom mengeluh saat Keira parkir di pinggir jalan.
"Aku berdampingan dengan gerobak es teh. Pengalaman sosial baru."
"Anggap latihan rendah hati."
"Aku akan mencoba."
Warung itu hampir penuh. Pemilik warung, pria berkumis dengan handuk di bahu, menatap Keira dari kepala sampai kaki, lalu menatap mobilnya, lalu kembali ke wajah Keira.
"Sendiri, Nona?"
"Iya."
"Meja penuh. Kalau tidak keberatan, gabung sama mas itu."
Keira mengikuti arah telunjuknya.
Di meja pojok duduk seorang pria berjaket jeans lusuh. Topi hitam menutupi sebagian wajahnya. Sekilas ia tampak seperti mahasiswa yang terlalu santai, tetapi saat ia bergerak, kerah jaketnya terbuka sedikit dan memperlihatkan kemeja Versace yang sama sekali tidak cocok dengan penyamaran murah itu.
Pria itu mengangkat alis saat Keira duduk di seberangnya.
"Mobil kamu?"
"Pinjaman keluarga."
"Keluarga yang menarik."
"Kamu juga pakai jaket yang menarik."
Pria itu melirik jaketnya, lalu tersenyum. "Ini? Barang pasar."
Kemeja di bawah jaketnya berbisik di kepala Keira, "Pasar Milan mungkin."
Keira menahan senyum.
Pemilik warung datang membawa menu. Keira belum sempat membukanya ketika suara dari dapur masuk ke kepalanya, bulat dan penuh kebanggaan.
"Gue bangga banget sama kuah gue hari ini. Kaldu jamurnya perfect. Daging sapinya empuk. Sayang nggak ada yang pesen menu spesial, pada milih yang murah terus."
Keira menutup menu lagi.
"Saya pesan mi kuah kaldu jamur sapi spesial."
Pemilik warung terkejut. "Nona pernah ke sini?"
"Belum."
"Menu itu nggak tertulis. Biasanya cuma pelanggan lama yang tahu."
Pria berjaket jeans menatap Keira lebih tajam.
Keira berkata tenang, "Kedengarannya enak."
"Kedengarannya?" ulang pria itu.
"Aromanya," koreksi Keira.
Dapur berbisik bangga, "Akhirnya ada manusia peka."
Pria itu menyandarkan punggung. "Intuisimu bagus."
"Kadang."
Mie datang beberapa menit kemudian. Kuahnya benar-benar harum, jamur dan sapi berpadu dengan bawang putih goreng. Keira baru makan dua suap ketika kursi di meja sebelah bergeser keras.
Seorang nenek tua yang tadi makan pelan-pelan tiba-tiba memegang dada.
Matanya membelalak, napasnya pendek, lalu tubuhnya merosot dari kursi.
"Bu!" pemilik warung berteriak.
Pria berjaket jeans bergerak lebih cepat daripada semua orang. Dalam satu detik ia sudah berlutut di samping nenek itu, membaringkannya di lantai dan memeriksa nadi.
"Jangan kerumuni. Buka ruang!" Nada suaranya berubah total, dari santai menjadi tajam dan terlatih. "Pak, panggil ambulans. Kamu, ambil air. Obatnya! Cek tasnya, harus ada obat jantung!"
Keira langsung mengambil tas kecil nenek yang jatuh di bawah meja. Ia membukanya. Dompet, tisu, kunci, minyak angin. Tidak ada obat.
"Tidak ada," kata Keira.
Pria itu mengumpat pelan. "Biasanya pasien jantung bawa nitro atau obat darurat. Cek lagi."
Keira memeriksa ulang. Tetap tidak ada.
Nenek itu mengerang lemah.
Di tengah kepanikan warung, suara serak terdengar dari jaket tebal yang dikenakan nenek.
"Obatnya keselip di kantong dalam gue! Tadi pagi cucunya mindahin dari tas ke gue, katanya biar gampang. Tapi si nenek lupa. Aduh, cepetan, dada dia sakit banget."
Keira langsung menunduk ke arah jaket.
"Kantong dalam," katanya.
Pria itu menoleh. "Apa?"
Keira tidak menunggu izin. Ia membuka sisi dalam jaket nenek, meraba lapisan dekat dada, lalu menemukan kantong kecil yang nyaris tidak terlihat. Di dalamnya ada strip obat dan botol kecil.
"Ini."
Mata pria itu berubah.
Ia mengambil obat, membaca label secepat kilat, lalu memberikan dosis yang tepat pada nenek dengan bantuan air. Tangannya stabil. Suaranya rendah saat memberi instruksi agar nenek tetap sadar.
"Bu, dengar saya. Napas pelan. Ambulans sedang jalan. Jangan tidur dulu."
Warung yang tadi ramai kini sunyi tegang. Hanya kipas angin tua yang berputar sambil berbisik panik, "Aku nggak dilatih untuk situasi medis."
Keira mengambil posisi di sisi lain, membantu menopang bahu nenek.
Beberapa menit terasa sangat panjang.
Akhirnya napas nenek mulai lebih teratur. Warna wajahnya tidak sepucat tadi. Dari jauh, sirene ambulans mendekat.
Ketika petugas medis datang dan membawa nenek itu pergi, pemilik warung berkali-kali mengucapkan terima kasih. Pria berjaket jeans berdiri, masih menatap Keira seolah ada potongan teka-teki yang tiba-tiba muncul di meja.
"Bagaimana kamu tahu obatnya di kantong jaket?"
Keira mengambil tisu dan membersihkan tangannya.
"Intuisi."
"Intuisi kamu spesifik sekali."
"Kebetulan saya beruntung."
Pria itu tertawa pendek. "Orang beruntung biasanya tidak langsung mencari kantong dalam yang tersembunyi."
Keira mengangkat bahu. "Neneknya selamat. Itu yang penting."
Untuk beberapa detik, pria itu tidak bicara.
Tatapannya melembut dengan cara yang membuat Keira merasa aneh. Bukan romantis. Bukan curiga murni. Lebih seperti seseorang yang melihat bayangan rumah di tempat yang tidak ia duga.
"Namamu?"
"Keira."
"Keira..." Ia mengulang pelan. "Nama bagus."
"Kamu?"
Pria itu tersenyum. "Nanti kalau ketemu lagi."
Jaket jeansnya langsung berbisik, "Bos sok misterius. Padahal nama di dompetnya jelas."
Keira nyaris menoleh ke jaket.
Pria itu membayar makanan mereka berdua sebelum Keira sempat menolak. Lalu ia berjalan keluar, ponsel sudah menempel di telinga, suaranya berubah profesional saat melaporkan kondisi nenek kepada seseorang.
Keira menatap punggungnya.
Di bawah jaket lusuh itu, kemeja mahalnya kembali terlihat sekilas.
Pria aneh.
Namun saat ia masuk ke mobil, Keira tidak tahu bahwa pria itu berhenti sebentar di ujung jalan, menoleh ke arah warung, dan berpikir dalam diam.
Andai adik perempuanku yang belum pernah kutemui bisa setenang gadis itu.
semangat thor💪