NovelToon NovelToon
Pendekar Lembah Siluman

Pendekar Lembah Siluman

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Fantasi / Petualangan / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:175.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: Putra Bungsu

Bercerita tentang seorang anak yang ayahnya dibunuh, ketika terjadi perebutan tahta kerajaan oleh saudara ayahnya sendiri bernama Duryandra.

Ibunya diselamatkan oleh seorang Empu yang sangat sakti dan juga seoarang Nyai saat sedang mengandungnya, sampai akhirnya ibunya meninggal saat melahirkannya.

Dan kemudian ia dibesarkan oleh seorang Empu bernama Maha Surya dan seorang Nyai bernama Santi.

Nantinya anak ini akan menjadi Pendekar tak tertandingi yang akan menaklukkan berbagai kerajaan-kerajaan, serta membinasakan para raja yang semena-mena pada rakyatnya, dan juga yang tidak mau tunduk diatas perintahnya.

Novel berjendre Fantasy Komedi dan petualangan.
Novel karya anak bangsa.. Hehehee

Bukan Novel yang updet setiap hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra Bungsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batu Penguji

Setelah beberapa hari berlalu Arya Chakra kini lebih terkenal didalam perguruan Gajah Hitam, banyak yang berlaku sopan padanya akan ilmu kanuragan yang dimiliki Arya Chakra.

Hari ini Arya Chakra berniat untuk mencoba memasuki tempat yang terdapat batu besar didalamnya, serta dirinya juga ingin melihat sampai ruang ke berepa dia mampu bertahan.

Saat Arya Chakra membuka pintu kamar, alangkah terkejutnya ia ternyata Wulansari sudah berada didepan pintu kamarnya. "Wulan!! Koe ngageti wae." (Wulan!! Kamu mengagetkanku saja).

"Hehe maaf kang Arya, Wulan cuman mau nganterin makanan ini, bukan maksud membuat kaget kang Arya." Wulansari merasa tidak enak hanya dengan senyuman malu-malu yang bisa diperlihatkannya.

"Yowes ga papa, makasih ya makanannya." Arya Chakra kemudian mengambil makanan yang dibawakan Wulansari. "Oiya Wulan, kamu mau kan antrin aku ke tempat pengujian ilmu kanuragan?"

Dalam hati Wulansari sangat berbunga-bunga ketika Arya Chakra meminta dirinya untuk menemani Arya Chakra, saking senangnya membuat Wulansari sampai bengong.

"Wulan.." Panggil Arya Chakra pelan. "Wulaaan." Panggilan kedua sedikit lebih keras. "Wuulaannn." Saat panggilan ketiga sontak Wulansari langsung terkaget-kaget sampai terjatuh.

"Aduuuh.. Kang Arya nih kog manggilnya keras banget sih, sampai membuat Wulan jatuh. Sakit tau." Wajah Wulansari langsung cemberut dengan bibir yang tertekuk.

"Hehe.. Maaf maaf, yasudah sini tak bantu berdiri." Arya Chakra kemudian membantu Wulansari berdiri.

Wulansari kemudian menemani Arya Chakra ke tempat batu penguji ilmu kanuragan, saat sesampainya di pintu masuk tempat tersebut ternyata terdapat sebuah tulisan.

Jangan pernah merasa bangga atas semua yang bisa kau capai, justru merasa rendah hati adalah kunci kesuksesan dalam berilmu kanuragan.

Cukup lama Arya Chakra menghayati kalimat yang terpampang didepan pintu masuk dimana batu penguji berada.

Sampai-sampai panggilan Wulansari tak begitu terdengar di telinganya. "Kang Arya..

Kang Arya.." Dua kali dipanggil Arya Chakra masih dalam keadaan terlena akan kalimat tersebut.

"Kang Arya.. "

Hingga pada panggilan ketiga barulah Arya Chakra tersadar. "Ah iya, ada apa Wulan." Teriakan Wulansari kali ini sengaja didekatkan ke telinga Arya Chakra, sampai membuat gendang telinga Arya Chakra hampir jebol.

"Bisa tidak jangan teriak pas ditelinga. Bengung tau.." Arya Chakra yang sakit pada telinganya segera memegangi telinga dengan tangan kanannya.

"Biarin.. Weee.. Siapa suruh melamun." Wulansari justru tak mengindahkan ucapan dari Arya Chakra malah menjulurkan lidahnya.

"Yasudah biarkan aku mencoba memasukinya." Arya Chakra mulai melangkahkan kakinya untuk memasuki tempat tersebut.

Sebuah batu besar dengan warna hitam gelap terlihat serta beberapa pintu yang ada dibelakang batu tersebut adalah pengujian dari pengendalian ilmu kanuragan.

Saat Arya Chakra berdiri tepat dihadapan batu besar tersebut, seketika batu besar langsung merespon dengan ditandai getaran pada batu tersebut. "Ada apa ini?? Apa yang sebenarnya terjadi??"

Arya Chakra yang bingung saat dia berhadapan dengan batu besar, seketika langsung terjadi getaran disekitar tempat tersebut.

Padahal bila sebelum-sebelumnya para murid yang sudah menguji ilmu kanuragannya tidak mengalami apa yang dialami Arya Chakra saat ini.

Wulansari yang menunggu diluar cukup terkejut dan panik. "Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa tiba-tiba tempat ini bergetar?"

Bahkan Empu Danu Raba ikut merasakan getaran tersebut saat beliau tengah bermeditasi. "Apa yang terjadi? Kenapa batu penguji dapat bergetat seperti ini?"

Empu Danu Raba lalu menghentikan meditasinya dan langsung pergi menuju tempat pengujian.

Saat Empu Danu Raba sampai sana ternyata suasana sudah ramai, banyak murid juga merasakannya.

"Apa sih yang sebenarnya terjadi?" Semua murid yang sangat penasaran saling bertanya, namun tidak ada yang mengerti akan kejadian tersebut.

"Ada Empu, coba kita tanyakan langsung pada beliau." Ujar, salah satu murid yang sudah penasaran.

"Salam Empu!!" Semua murid memberi hormat pada Empu Danu Raba.

"Siapakah yang sedang ada didalam sana Wulan?" Empu Danu Raba menanyakan sosok orang yang bisa membuat seisi perguruan berkumpul.

"Kang Arya Empu." Jawab Wulansari dengan lemah lembut.

"Hemm.." Empu Danu Raba hanya sanggup mengelus-elus jenggotnya sambil bergumam. "Anak ini suatu hari nanti akan menjadi sesosok pendekar hebat."

"Sebenarnya apa yang dilakukan anak itu Empu? Sampai bisa membuat semuanya resah." Wiralaga yang cukup penasaran langsung menanyakannya pada Empu Danu Raba.

Empu Danu Raba tak menjawab pertanyaan dari Wiralaga hanya tersenyum dan menggangguk kepadanya.

Sedangkan didalam Arya Chakra yang telah menguji dibatu penguji, dan cahaya miliknya jauh lebih terang bila dibandingkan yang lain.

Selanjutnya Arya Chakra mulai memasuki ruangan pertama dari pengendalian pernafasan. "Seperti apa sebenarnya rintangan dari ruangan ini."

Arya Chakra cukup penasaran akan ujian yang akan dihadapinya dari ruang pengendalian pernafasan.

Hal pertama setelah Arya Chakra memasuki ruangan tersebut yaitu, ruangan yang awalnya lebar seketika mulai menyempit dan oksigen pun mulai melemah.

"Ugh.. Tak dapat ku bayangkan ternyata ujian atas pengendalian pernafasan serumit ini." Arya Chakra segera mengambil posisi bersila lalu memulai untuk bermeditasi dan menstabilkan nafasnya.

Ruangan semakin lama semakin tak ada lagi oksigen yang masuk, dan juga semakin lama semakin sempit sampai hanya terisa beberapa jengkal saja dari tubuh Arya Chakra.

.....

1
Pukak raja Pukak raja
cerita ini sangat bagus
Wahyu Indra
kurang niatnya untuk melanjutkannya ya thor
Lalu agus hartadi
Buruk
Lalu agus hartadi
Kecewa
Vicky Shah Vicky Shah
apa. judul kelanjutannya
Mamat Tea
kenapa sih setiap cerita selalu gak ada lnjutn nya
Asri Mulia
ga nyambung
Priambudi
bikin penasaran aje ....
Triyono
cerita yang menarik aku suka
Jimmy Avolution
Terus....
Ery Syarief
ini ceritanya ga lanjut...ga ada cerita lanjutannya
Ery Syarief
ga di lanjut lagih ceritanya
Abdussalam 2
lanjut thor
Ery Syarief
kenapa ga di up lagih Lur
Jimmy Avolution
Up...up...up....
Jimmy Avolution
Ayo....
Jimmy Avolution
Jossss ..
Jimmy Avolution
Nice...
Jimmy Avolution
Jossss...
Jimmy Avolution
Sipppp....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!