Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Elara melihatnya sekarang. Logika yang bengkok dari seorang yang berduka. Vespera menyalahkan Kaelen bukan karena Kaelen membakar kastil itu, tapi karena Kaelen tidak ada di sana. Itu adalah kesalahan yang tidak rasional, tapi bagi Vespera, itu adalah kebenaran mutlak.
"Itu tidak adil," kata Elara.
"Keadilan mati bersama kakakku," Vespera berdiri tiba-tiba. Ia tidak meminum tehnya. "Aku mau kunci Rumah Kaca."
Jantung Elara berhenti berdetak sesaat.
"Kaelen melarang siapa pun masuk ke sana," kata Elara cepat, berusaha menutupi kepanikannya.
"Aku bukan siapa pun," Vespera menatap Elara tajam. "Ada barang milik Lyra di sana. Sebuah kalung liontin yang dia sembunyikan di bawah ubin lantai dekat air mancur. Dia menulisnya di surat terakhirnya padaku. Aku mau mengambilnya."
Elara menelan ludah. Di dekat air mancur. Di tempat yang sama dengan mawar yang baru saja Elara pangkas dan rawat. Jika Vespera ke sana, dia akan melihat tanah yang baru digali. Dia akan melihat tunas mawar yang hijau.
Dan Vespera akan menghancurkannya. Elara yakin itu. Vespera tidak ingin ada kehidupan yang tumbuh di atas kuburan kakaknya, terutama kehidupan yang dirawat oleh istri baru Kaelen.
"Kuncinya ada pada Kaelen," bohong Elara. "Dia membawanya ke mana-mana."
Vespera menatap Elara lama, seolah memindai jiwanya mencari kebohongan. "Kau berbohong. Matamu berkedip dua kali."
Vespera melangkah mendekat, membungkuk hingga wajah mereka sejajar. Aroma parfum bunga lili yang layu menguar dari tubuhnya.
"Aku akan menemukan cara masuk," bisik Vespera. "Dengan atau tanpa kuncimu. Dan jika aku menemukan bahwa kau telah mengotori tempat suci kakakku dengan tangan kotormu... aku akan membuat hidupmu di sini menjadi neraka yang sesungguhnya."
Vespera menegakkan tubuh, berbalik, dan berjalan keluar ruangan dengan langkah yang anggun namun mematikan.
Elara ditinggalkan sendirian di ruangan yang sunyi itu. Teh di cangkirnya sudah dingin.
Ia tidak bisa membiarkan Vespera masuk ke Rumah Kaca. Mawar itu baru saja mulai bernapas. Jika Vespera mencabutnya... itu akan menjadi simbol kehancuran harapan Kaelen.
Elara berdiri. Ia harus bertindak. Kaelen tidak ada di sini untuk melindunginya, jadi dia harus melindungi dirinya sendiri—dan mawar itu.
Sore itu juga, Elara melakukan sesuatu yang nekat.
Ia pergi ke dapur, mengambil seember abu sisa pembakaran kayu dari perapian besar. Ia membawanya diam-diam ke Sayap Selatan, menyelinap seperti pencuri di rumahnya sendiri.
Di dalam Rumah Kaca yang dingin, Elara bekerja dengan panik.
Ia menaburkan abu kelabu itu di atas tanah di sekitar pangkal mawar. Ia menutupi tunas hijau yang baru tumbuh itu dengan hati-hati, menyamarkannya agar terlihat seperti tumpukan debu dan kematian. Ia mengacak-acak tanah di sekitarnya agar tidak terlihat seperti baru digali, melainkan seperti tanah yang diaduk oleh angin.
"Maafkan aku," bisik Elara pada tanaman itu. "Kau harus bersembunyi sebentar lagi. Hantu jahat sedang bergentayangan."
Elara baru saja selesai menepuk-nepuk abu terakhir ketika ia mendengar suara langkah kaki di luar pintu besi.
Suara langkah kaki yang berat. Sepatu bot.
Bukan Vespera.
Pintu terbuka.
Kaelen berdiri di sana.
Dia masih mengenakan pakaian berburunya yang kotor. Wajahnya merah karena angin dan dingin, tapi matanya... matanya kosong. Dia tampak seperti orang yang telah berjalan melewati neraka dan memutuskan untuk tinggal di sana.
Dia melihat Elara yang berlutut di tanah, tangan kotor oleh abu.
Dia melihat ember di sampingnya.
Kaelen tidak bertanya apa yang dilakukan Elara. Dia tidak marah. Dia hanya menatap, seolah pemandangan istrinya yang kotor di tempat terlarang itu tidak lagi bisa menyentuhnya. Dia sudah terlalu mati rasa.
"Dia di sini," kata Kaelen parau. "Vespera."
"Aku tahu," Elara berdiri, membersihkan tangannya ke rok gaunnya. "Aku sudah bicara dengannya."
Kaelen tertawa pelan, suara yang mengerikan dan hampa. "Bicara? Kau tidak bisa bicara dengan badai, Elara. Kau hanya bisa berlindung sampai dia menghancurkan segalanya."
Kaelen melangkah masuk. Dia tidak melihat ke arah mawar yang disembunyikan Elara. Dia berjalan menuju bangku batu—tempat dia dulu mencoba mengakhiri hidupnya. Dia duduk di sana, menyandarkan kepalanya ke tangan.
"Dia bilang aku membunuh Lyra," gumam Kaelen.
Elara berjalan mendekat. Dia tidak peduli tangannya kotor. Dia tidak peduli Kaelen sedang dalam mode penghancuran diri.
"Vespera salah," kata Elara tegas. Ia berdiri di depan Kaelen, memaksanya melihatnya. "Itu rasa bersalahnya sendiri yang bicara. Dia marah karena dia tidak bisa menyalahkan pemberontak yang sudah mati, jadi dia menyalahkanmu yang masih hidup."
Kaelen mendongak. Matanya merah. "Bagaimana kalau dia benar? Bagaimana kalau aku memang seharusnya mati di sana?"
"Kalau kau mati di sana," Elara berlutut di depan Kaelen, meletakkan tangannya yang berlumuran abu di lutut suaminya, mengotori celana mahalnya tanpa ragu, "maka aku tidak akan punya siapa-siapa yang menyelamatkanku dari beruang. Aku tidak akan punya siapa-siapa yang memakan kue blackberry-ku. Dan kastil ini akan runtuh menjadi batu nisan."
Elara mencengkeram lutut Kaelen erat.
"Kau hidup, Kaelen. Itu bukan dosa. Itu kesempatan."
Kaelen menatap tangan Elara yang kotor di lututnya. Tangan itu hangat. Nyata. Berbeda dengan hantu dingin Vespera.
"Dia ingin masuk ke sini," kata Kaelen tiba-tiba. "Vespera. Dia ingin kalung Lyra."
"Aku tahu," jawab Elara. "Tapi dia tidak akan menemukannya hari ini. Aku sudah menyembunyikan... hal-hal penting."
Kaelen menatap mata Elara. Dia menyadari ada makna ganda dalam ucapan itu. Elara tidak bicara soal kalung. Elara bicara soal kehidupan yang dia coba lindungi di tempat ini.
Kaelen menghela napas panjang, uap putih keluar dari mulutnya. Dia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Elara yang dingin. Ibu jarinya mengusap noda abu di tulang pipi istrinya.
"Kau kotor," bisik Kaelen. "Seperti anak kecil yang bermain di lumpur."
"Seseorang harus kotor untuk menanam sesuatu, bukan?" balas Elara.
Kaelen tidak tersenyum, tapi kekosongan di matanya sedikit surut. "Ayo keluar. Sebelum Vespera menemukan kita di sini dan membakar tempat ini dengan tatapannya."
Kaelen berdiri, menarik Elara bersamanya. Dia tidak melepaskan tangan Elara saat mereka berjalan keluar dari Rumah Kaca.
Untuk saat ini, rahasia mawar itu aman di bawah abu. Tapi Elara tahu, Vespera tidak akan berhenti. Tamu dari sisa abu itu baru saja memulai serangannya, dan Kaelen masih terlalu rapuh untuk menjadi perisai. Elara harus menjadi perisai itu sendiri, meski harus menggunakan tangan yang kotor dan hati yang berdebar ketakutan.