Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.
Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.
Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.
Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.
Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.
Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
"Alma, kau mau keluar?"
Suara berat Daniel terdengar begitu tiba-tiba. Ia baru saja melangkah keluar dari ruang kerjanya, diiringi oleh asistennya yang setia mencatat setiap instruksinya. Pandangannya segera tertuju pada Alma yang tengah menuruni tangga bersama Jean.
Alma tersenyum manis, lalu berlari kecil menghampirinya. "Aku memiliki janji dengan seorang teman, kak Daniel. Kami akan bertemu di taman kota malam ini. Kebetulan, akan ada pertunjukan kembang api."
"Alma bilang teman?" Daniel memicingkan mata, nadanya penuh selidik. "Siapa dia? Seorang perempuan atau laki-laki?"
Alma nyaris tergelak mendengar nada posesif yang kian nyata dalam pertanyaan itu. "Perempuan, tentu saja. Dia Shiren, teman satu mejaku di sekolah. Bukankah aku pernah menceritakan tentangnya kakak?"
Daniel mengangguk, meskipun jelas terlihat bahwa ia tidak mengingat nama tersebut. "Baiklah," ujarnya akhirnya, "namun pastikan jangan pulang terlalu larut malam." Ia menatap Alma sejenak sebelum mengalihkan pandangan pada Jean. "Jean, jaga Alma dengan baik"
"Siap, Tuan Muda," jawab Jean tegas, sedikit menundukkan kepala sebagai tanda hormat.
Setelah itu, mereka kembali melangkah. Jean dengan cekatan membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Alma, memastikan kenyamanan penumpangnya sebelum beralih ke kursi pengemudi. Mesin mobil menderu halus, lalu kendaraan melaju dengan kecepatan sedang, menembus keramaian malam.
Namun, tujuan Alma sebenarnya sama sekali bukan sekadar untuk bertemu Shiren ataupun menikmati pertunjukan kembang api. Ada rencana lain yang jauh lebih menarik baginya dan juga berisiko. Berdasarkan informasi yang Jean sampaikan satu jam yang lalu, kepolisian sedang mengadakan operasi untuk memancing seseorang yang selama ini menjadi buruan.
"Jean," Alma bersuara pelan dari kursinya, "kau yakin informasi ini akurat? Bahwa dia benar-benar akan berada di taman kota malam ini?"
Jean tidak langsung menjawab. Matanya tetap fokus pada jalan, tetapi suaranya tenang ketika berkata, "Saya menerima kabar dari sumber yang dapat dipercaya. Violet akan berada di sana, terlihat sendirian. Namun jangan terkecoh, Nona. Polisi sudah menempatkan beberapa orang di sekitar lokasi, mengawasi dan melindunginya dari jarak aman."
Alma tersenyum samar, menatap keluar jendela pada langit yang sudah menggelap. "Menarik… semakin ramai, semakin sulit menebak siapa yang menjadi mangsa, dan siapa yang sebenarnya pemburu."
Jean melirik Alma sekilas melalui kaca spion. "Itu sebabnya saya mohon, Nona, jangan gegabah."
"Tenang saja," Alma menghela napas panjang, mencoba meyakinkan sopir sekaligus pengawalnya itu. "Kali ini kita hanya melihat permainan ini dari jarak dekat. Lagipula, bukankah setiap pertunjukan membutuhkan penonton yang cerdas?"
Mobil terus melaju, membawa mereka menuju taman kota yang malam itu akan menjadi panggung drama tersembunyi di balik kemeriahan kembang api.
🥀🥀🥀
Sementara itu, di sisi lain taman kota pada waktu yang bersamaan, Leon dan Calvin tengah duduk di sudut sebuah kafe yang cukup mewah namun tetap ramai oleh para pengunjung. Aroma kopi dan suara dentingan gelas berpadu dengan riuh percakapan, menciptakan suasana yang kontras dengan ketegangan yang terselubung di meja mereka. Mereka sudah berada di sana sejak sore menjelang senja, namun tampaknya tujuan awal pertemuan belum benar-benar terwujud.
"Kau benar-benar tidak berniat menjawab panggilan itu?" tanya Calvin, matanya sekilas melirik ke layar ponsel Leon yang terus bergetar tanpa henti akibat panggilan masuk dari Nyonya Radcliffe.
Leon hanya menghela napas panjang, mengabaikan deretan panggilan itu seakan-akan tak berarti. Ia tahu persis bahwa mamahnya tengah murka di rumah, terutama karena ia nekat pergi tanpa izin tepat sebelum acara pesta teh dimulai sore tadi. Ancaman sudah dilontarkan, namun Leon tidak peduli. Ia sama sekali tidak berminat menghabiskan waktu beramah-tamah dengan para nona kaya yang hanya pandai menyembunyikan belati di balik senyum manis.
"Lagipula, untuk apa kau repot-repot kabur? Bukankah menyenangkan dikelilingi gadis-gadis cantik di sana?" sindir Calvin dengan nada menggoda.
"Diamlah. Aku tidak ingin membicarakan itu," sahut Leon tajam, lalu menambahkan dengan sinis, "Lagipula, kalau kau yang berada di posisiku, kau pun tak akan mau tetap di sana."
Calvin terkekeh singkat. "Tapi itu tidak akan pernah terjadi."
Leon mengangkat alis, bibirnya melengkung tipis penuh sarkasme. "Benar, karena ibumu sudah lama beristirahat di dalam tanah."
Wajah Calvin seketika mengeras. "Sialan kau," umpatnya, lalu melempar sepotong kentang goreng ke arah Leon. "Ngomong-ngomong, ke mana Kaiden? Kenapa dia lama sekali? Pesan sudah kukirim setengah jam lalu, tapi batang hidungnya pun belum terlihat."
Leon tidak menjawab. Ia hanya menyesap kopinya pelan, seolah pertanyaan itu hanyalah angin lalu. Sikapnya membuat Calvin mengerutkan kening curiga.
"Hei… kalian masih bertengkar?" Calvin mencoba menggali. Keterdiaman Leon sudah cukup menjadi jawaban. Ia mendesah berat. "Kita berteman bukan untuk sehari dua hari, Leon. Selesaikanlah masalah kalian dengan kepala dingin."
Calvin memang belum mengetahui secara pasti penyebab utama keretakan hubungan Leon dan Kaiden. Namun, instingnya kuat mengarah pada seorang gadis. Dan jika tebakan itu benar, Calvin bahkan rela bersujud pada gadis tersebut. Karena berhasil membuat dua pewaris keluarga berpengaruh ini untuk pertama kalinya bersaing satu sama lain.
"Sebenarnya… untuk apa kita di sini?" tanya Leon akhirnya, mencoba mengalihkan pembicaraan. Matanya meneliti ruangan, menilai bahwa meski kafe ini cukup elegan, suasananya terlalu bising karena berada tepat di dekat pusat taman kota.
Mendengar itu, Calvin teringat kembali alasannya. "Aku dengar, malam ini akan ada pertunjukan kembang api di taman."
Leon memicingkan mata, nadanya mencerminkan ketidaksenangan. "Jadi kita datang hanya untuk tujuan konyolmu itu? Kau bisa melihatnya sendiri dari balkon rumahmu."
Calvin mengangkat bahu dengan tenang. "Bukan hanya itu. Kau ingat kasus pembunuhan yang melibatkan siswa dan guru dari sekolah kita?"
Leon mengangguk singkat. Tentu saja ia mengingatnya, kasus yang mengguncang lingkaran elit itu membuatnya semakin sibuk di sekolah, bahkan memaksa diadakannya rapat darurat berkali-kali.
"Aku dengar, pihak kepolisian akan melancarkan operasi penangkapan pelaku di taman ini malam ini," lanjut Calvin, suaranya merendah seolah sedang membocorkan rahasia besar.
Leon menatapnya dengan sorot tajam. "Dari mana kau mendapatkan informasi itu?"
"Informasi apa?" suara lain tiba-tiba memotong dari belakang. Kaiden akhirnya muncul, langkahnya mantap meski wajahnya terlihat datar. Ia segera menjatuhkan tubuh ke kursi di samping Calvin.
"Kau akhirnya datang," ujar Calvin. Tanpa membuang waktu, ia mengulang kembali informasi yang baru saja ia sampaikan kepada Leon.
Kaiden mendengarkan tanpa banyak ekspresi. Begitu Calvin selesai, ia menyilangkan kaki dan menyandarkan tubuh ke kursi, kedua lengannya terlipat. "Jadi, kita di sini hanya untuk membuang waktu demi hal bodoh seperti ini?"
"Aku sudah mengatakan hal yang sama padanya," timpal Leon.
Kaiden menatap Leon sekilas, lalu beralih ke Calvin. "Kalau kau ingin mencari sensasi, pergilah sendiri. Kita bukan detektif amatiran yang bisa berkeliaran tanpa konsekuensi. Dan lagi, taman ini malam-malam akan penuh orang. Kalau mereka mengenali kita, kau pikir apa yang akan terjadi?"
Calvin menepuk meja pelan. "Kau ini tidak pernah penasaran, ya? Ini kasus paling menghebohkan di negeri ini korbannya bahkan dari kalangan orang-orang kaya. Orang seperti kita!"
Kaiden mendengus pendek. "Penasaran, iya. Tapi ada bedanya antara rasa ingin tahu dan sengaja mencari masalah. Dan aku tidak suka mencari masalah… kecuali memang pantas untuk dicari."
Leon mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Meski ia tampak tak peduli, di matanya terbersit secercah rasa ingin tahu yang sama. Kasus itu memang bukan hal sepele, dan keberadaan mereka di sini mungkin akan membuka sesuatu yang tidak terduga.
🥀🥀🥀
"Nona..." suara Jean terdengar rendah namun penuh kehati-hatian saat ia meraih tangan Alma, membantunya turun dari mobil dengan gerakan penuh tata krama. Telapak tangannya hangat, kontras dengan udara malam yang mulai menggigit kulit. Tumit sepatu Mary Jane hitam berkilau yang membalut kaki Alma menjejak tanah berumput lembap, menekan sebuah ranting kering yang patah dengan bunyi halus.
Rerumputan taman malam itu dihiasi embun tipis, memantulkan sinar lampu taman yang redup. Udara dipenuhi aroma manis dari bunga musim panas yang tertinggal di tepi jalan setapak. Malam ini, kawasan taman kota dipadati oleh kerumunan orang yang bersemangat. Mereka datang berbondong-bondong untuk menyaksikan pertunjukan kembang api yang dijadwalkan berlangsung tepat pukul sepuluh malam. Tawa, obrolan riang, dan bunyi langkah kaki bercampur menjadi satu simfoni kehidupan malam.
Jean melepaskan genggaman tangannya begitu Alma berdiri tegak, lalu berbalik menuju bagasi mobil. Dengan gerakan efisien, ia mengambil sebuah keranjang piknik dari dalam. Namun bukan aroma roti panggang atau kue manis yang menyambut hidung Alma ketika ia menerima keranjang itu, melainkan semerbak harum mawar merah yang baru saja dipetik. Tangkai-tangkai bunga itu tersusun rapi, masih basah oleh sisa embun kebun, kelopaknya tebal dan mewah, warnanya merah pekat bagaikan darah yang membeku di bawah cahaya bulan.
Wangi mawar itu menguar lembut, membungkus Alma dalam sensasi yang nyaris menenangkan. Namun, tatapan matanya. Meski tampak tenang, memiliki kilau yang tidak bisa didefinisikan sekadar oleh rasa damai. Ada tujuan di balik kehadirannya malam ini.
Keduanya melangkah memasuki area taman, menyusuri jalur setapak berbatu yang diapit tanaman perdu dan lampu hias. Di kejauhan, panggung pertunjukan telah berdiri megah, diterangi sorot lampu putih yang menusuk langit malam. Beberapa aparat kepolisian terlihat berjaga di sekitar panggung, membentuk perimeter yang tidak terlalu mencolok namun jelas bagi mata yang terlatih.
Alma dan Jean memilih sebuah kursi kayu panjang di area yang cukup strategis. Tidak terlalu dekat sehingga mencolok, namun juga tidak terlalu jauh sehingga terhalang pandangan. Alma duduk dengan anggun, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil memangku keranjang piknik yang sarat mawar. Jemari tipisnya mengusap perlahan anyaman rotan keranjang, seolah membelai sesuatu yang rapuh.
Jean tetap berdiri di belakang kursi, tegap dan awas. Matanya tidak pernah diam, pandangan tajamnya menyapu seluruh area, meneliti setiap gerakan mencurigakan. Di balik sikap tenangnya, ia menyembunyikan kewaspadaan yang telah ditempa oleh pengalaman panjang di dunia yang jauh dari kata aman.
"Menurutmu, ada berapa orang?" suara Alma memecah keheningan di antara mereka, nadanya lembut namun mengandung makna yang tidak bisa dianggap santai.
Jean tak segera menjawab. Naluri militernya yang terlatih dari masa-masa di pasukan khusus mulai bekerja. Ia mengamati dengan detail yang nyaris obsesif. Setiap gerakan tangan, setiap tatapan mata dari kerumunan, bahkan cara seseorang berdiri, semuanya ditimbang di kepalanya.
"Lebih dari sepuluh orang," jawabnya akhirnya, suaranya nyaris seperti gumaman, namun penuh kepastian. "Di antara mereka, ada satu wanita. Dan... ada orang baru yang memimpin operasi malam ini."
Alma menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat tipis. "Kau mengenalnya?"
Jean menarik napas pelan, pandangannya tetap menyapu kerumunan. "Ya. Salah satu teman lama saat di ketentaraan." Ucapan itu mengandung nada ambigu, antara nostalgia dan kewaspadaan. Seolah masa lalu yang ia maksud tidak pernah benar-benar terkubur.
"Menarik," ujar Alma, suaranya datar namun matanya memancarkan kilau yang sulit disembunyikan. Ada sesuatu yang memantik rasa ingin tahunya. Sesuatu yang bukan sekadar reuni kebetulan.
Di sekeliling mereka, cahaya lampu taman berkilau lembut, memantulkan bayangan pohon yang bergoyang pelan diterpa angin malam. Musik lembut mulai mengalun dari arah panggung, namun bagi Alma dan Jean, melodi itu hanya menjadi latar samar bagi dialog mereka yang penuh isyarat.
Jean mengubah posisi berdirinya, sedikit memiringkan tubuh agar pandangannya lebih leluasa. "Orang itu... dia bukan tipe yang akan berada di sini tanpa alasan besar. Kalau dia yang memimpin, berarti ini bukan sekadar operasi pengamanan biasa."
Alma mengusap kelopak mawar dengan ujung jarinya, seolah sedang merenungkan sesuatu. "Kalau begitu, malam ini akan jauh lebih menarik daripada yang kukira."
Udara terasa semakin dingin, namun bukan hanya karena waktu yang merangkak menuju tengah malam. Ada ketegangan yang mengendap di bawah permukaan suasana pesta rakyat ini. Gelak tawa anak-anak yang berlarian membawa balon, aroma jagung bakar dari pedagang kaki lima, semuanya seperti tirai tipis yang menutupi kenyataan bahwa malam ini, sesuatu sedang menunggu untuk terjadi.
Jean menunduk sedikit, berbicara lebih pelan. "Nona ingin tetap di sini sampai kembang api dimulai?"
Alma tersenyum samar, menatap ke arah langit gelap yang akan segera dihiasi letupan warna-warni. "Tentu saja. Bukankah semua permainan yang menarik selalu dimulai ketika semua orang sibuk melihat ke atas?"
atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?