NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Komando Sekte Naga Hitam

Cahaya dari lampu minyak menerangi interior tenda komando Sekte Naga Hitam yang didirikan di garis depan perbatasan. Bagaimana tepat di bagian tengah ruangan, sebuah meja kayu panjang membentang luas, menampung selembar peta wilayah yang telah dipenuhi oleh coretan tinta merah.

Para petinggi faksi, mulai dari yang tua hingga bertubuh gemuk, berkumpul di sekeliling meja dengan emosi yang bergejolak. Mereka tengah terlibat dalam sebuah perdebatan yang teramat sengit mengenai maraknya aksi para perusuh di sepanjang jalur perbatasan yang membatasi wilayah mereka dengan Sekte Garuda Putih.

Mayoritas dari para pemegang kekuasaan itu meyakini bahwa rentetan gangguan maut itu sengaja dikirim oleh pihak faksi rival. Langkah tersembunyi itu dinilai sebagai taktik licik untuk melancarkan serangan tanpa harus memicu deklarasi perang resmi selama masa gencatan senjata masih berlaku.

"Sudah sangat jelas, kekacauan ini pasti ulah gerombolan burung puyuh itu!" seru seorang pria sembari memukul meja.

"Tapi, mana buktinya? Apa yang bisa kita tunjukkan pada dewan agung demi memperkuat kesimpulan ini?" bantah pria tua di seberangnya.

"Kita tidak butuh bukti! Yang kita butuhkan sekarang adalah pembalasan nyata!" timpal petinggi bertubuh tambun, membuat suasana di dalam tenda semakin memanas hingga beberapa orang hampir saja terlibat baku hantam.

Tak lama kemudian, atmosfer di dalam ruangan itu mendadak berubah secara drastis.

Suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah luar area kamp. Kain penutup tenda yang tebal tersibak, membiarkan seorang pemuda masuk dengan memosisikan kedua tangannya di belakang punggung. Langkahnya tegap, dengan ekspresi tenang layaknya permukaan bulan pada malam itu.

Seluruh petinggi yang tadinya saling berteriak seketika bungkam lantaran sudah kehilangan keberanian vokal mereka dalam sekejap. Mereka yang semula duduk langsung bangkit berdiri, sementara yang berdiri segera meluruskan posisi punggung dengan rasa hormat yang teramat tinggi. Sepasang mata seluruh orang di dalam tenda kini tertuju lurus pada satu wujud agung itu.

Mereka membungkuk serentak, memberikan penghormatan terdalam. "Hormat kami kepada Yang Mulia Putra Mahkota, Long Wei!"

Adapun di belakang pergerakan Long Wei, seorang gadis mengikuti dengan gemulai. Gadis itu mengenakan jubah kultivasi yang serba ungu, dengan bagian wajah, hidung ke bawah, yang tertutup oleh selembar cadar transparan berwarna senada, menyisakan sepasang matanya yang berkilat kelam. Kuku-kuku jemari tangannya yang panjang tampak dipenuhi oleh polesan kutek berwarna gelap yang kontras.

Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, menatap para petinggi satu per satu dengan penghinaan yang tajam.

"Berisik sekali, benar-benar tidak sopan," ujar gadis bercadar ungu itu. "Di hadapan Yang Mulia Long Wei, kalian malah berani berteriak-teriak seperti pedagang pasar?"

Telunjuknya yang lentik menunjuk langsung ke arah barisan pria tua yang kini hanya bisa tertunduk. Kilatan kutek gelap di kuku panjangnya tampak berkilau di bawah siraman cahaya lampu minyak, membuat tidak ada satu orang pun yang memiliki nyali untuk melayangkan kalimat bantahan.

Sementara itu, seorang pria dengan potongan rambut cepak melangkah maju ke depan tenda. Sebuah ikat kain hitam tampak membebat bagian kepalanya hingga menutupi area mata sebelah kiri, sementara sebilah pedang raksasa tampak tersampir di bagian punggungnya.

Pria dengan pedang besar itu tidak memosisikan tubuhnya untuk membungkuk sedalam para petinggi lainnya, dia hanya menundukkan kepala sedikit sebagai bentuk rasa hormat yang ringkas.

"Aku akan menjaga area depan tenda, Yang Mulia," ucap pria berambut cepak itu.

Long Wei mengagguk, memberikan persetujuan tanpa perlu mengeluarkan suara.

Pria itu pun segera meninggalkan tenda komando.

Tanpa banyak bicara, Long Wei mendekati meja kayu panjang, memaku pandangan matanya pada hamparan peta wilayah perbatasan yang terbentang luas. Ujung jemari tangannya perlahan bergerak menyentuh pinggiran meja yang kasar.

"Keputusan apa yang sudah kalian sepakati dari debat panjang hari ini?" tanya Long Wei. Volumenya tidaklah tinggi, kendati demikian setiap untaian kata yang keluar dari bibirnya terdengar sangat jelas memenuhi seluruh sudut ruangan.

Para petinggi faksi hanya bisa saling melempar pandangan penuh kecemasan, tanpa ada satu orang pun yang berani untuk membuka mulut memberikan jawaban langsung.

Seorang jenderal paruh baya yang memiliki tingkat keberanian sedikit lebih tinggi akhirnya memaksakan diri untuk melangkah maju satu jengkal. "Mohon ampun, Yang Mulia. Kami masih berdiskusi dan belum menemukan jalan keluar."

"Belum ada keputusan?" ulang Long Wei, mengunci pandangan matanya tepat pada wajah pria paruh baya itu. "Kalau begitu, apa gunanya kalian semua berkumpul di tenda garis depan ini?"

Atmosfer di dalam tenda komando seketika berubah menjadi semakin mencekam, membuat rasa takut merayap cepat di dalam dada para petinggi faksi.

Long Wei perlahan memalingkan wajahnya, lalu memanggil salah satu nama pemimpin pasukan yang berdiri di sisi kiri. "Jenderal Li."

Pria yang dipanggil namanya itu seketika menegang. Long Wei kemudian melanjutkan kalimatnya dengan nada yang teramat santai, "Kau boleh keluar dan selesaikan urusanmu bersama gadis di sampingku ini."

Gadis bercadar ungu itu seketika menyunggingkan seulas senyuman di balik kain penutup wajahnya, membuat sepasang matanya menyipit kelam. Lidahnya menjilat permukaan bibirnya sendiri dengan gerakan yang teramat lambat, itu sudah jelas sebuah gestur penuh ancaman maut yang mengerikan.

Lantas Jenderal Li seketika itu juga merubah warna kulit wajahnya menjadi sangat pucat bagaikan mayat. "Mohon ampun, Yang Mulia Putra Mahkota!" serunya dengan panik. "Sa-saya tidak pantas menerima kehormatan ini!"

Pria malang itu langsung menjatuhkan lututnya demi berlutut dengan posisi tubuh yang gemetar sementara butiran keringat dingin mulai mengalir deras membasahi area pelipisnya.

Alih-alih membiarkan kepanikan meluas, seorang petinggi faksi lainnya yang berusia jauh lebih tua serta memiliki wibawa yang matang memutuskan untuk melangkah maju ke depan meja. Dia tidak mengambil posisi berlutut, melainkan hanya menekuk posisi tubuhnya untuk memberikan gerakan membungkuk hormat yang proporsional.

"Yang Mulia," ujar pria tua itu. "Kami memang belum mengambil keputusan matang. Tapi, setidaknya kami sepakat kalau akar masalahnya adalah faksi provokator itu."

Pria tua itu menjeda kalimatnya selama beberapa saat sebelum melanjutkan analisisnya. "Kami menaruh kecurigaan yang sangat besar bahwa gerombolan provokator itu tengah menjalin kerja sama rahasia dengan pihak Sekte Garuda Putih. Mereka sengaja mengeksploitasi kelonggaran dari masa gencatan senjata untuk melancarkan agresi dari kegelapan bayang-bayang perbatasan."

Long Wei kembali melemparkan pandangan matanya menuju ke arah peta perbatasan, merenungkan setiap jengkal garis wilayah yang memisahkan otoritas kekuasaan mereka dengan daerah kekuasaan Sekte Garuda Putih.

"Sekte Garuda Putih tidak sebodoh itu," ucap Long Wei dengan lirih.

Long Wei pun menegakkan kembali posisi kepalanya, menatap lurus ke arah depan dengan tatapan dingin. "Aku sangat memahami bagaimana karakteristik dari Tetua Agung yang memimpin faksi itu. Pria tua itu merupakan seorang politikus yang cerdik, sehingga dia tidak akan pernah bersedia mengambil risiko besar untuk melanggar komitmen gencatan senjata secara terang-terangan di depan publik." Dia berhenti untuk memastikan, "Dan di luar dari hal itu, aku juga sangat mengenali karakteristik dari cucu perempuannya."

Para petinggi faksi kembali saling melempar pandangan mata penuh tanda tanya setelah mendengar penuturan sang putra mahkota. Salah satu dari mereka akhirnya memberanikan diri untuk melayangkan sebuah pertanyaan, "Jika begitu... lalu apa perintah Anda untuk kami, Yang Mulia?"

Long Wei merapatkan kedua telapak tangan di atas permukaan peta meja panjang dengan penekanan yang mantap.

"Kita akan mulai dari desa-desa terluar di perbatasan Sekte Garuda Putih," titah Long Wei dengan penuh otoritas.

Ujung jari telunjuknya bergerak menunjuk pada beberapa titik koordinat strategis yang berada di sepanjang garis perbatasan wilayah pada peta. "Laksanakan operasi penyusupan secara rahasia dan tempatkan barisan mata-mata terbaik kita di sana. Tugaskan mereka untuk menggali seluruh informasi penting guna menemukan letak kelemahan fatal dari sistem pertahanan faksi itu." Dia menjeda kalimatnya dengan tatapan tajam. "Kita tidak memerlukan adanya aktivitas pertumpahan darah dalam skala besar untuk mengawali operasi ini. Setidaknya... belum saatnya hal itu dilakukan."

Suasana di dalam tenda komando seketika berubah menjadi semakin mencekam tanpa suara, membeku di bawah pengaruh wibawa sang putra mahkota Sekte Naga Hitam. Seluruh petinggi faksi segera menundukkan kepala mereka dalam-dalam, tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk melayangkan kalimat bantahan atas titah mutlak yang baru saja dideklarasikan.

Sementara Long Wei meluruskan kembali posisi punggungnya yang tegap. "Persiapkan semua kebutuhan logistik dan pasukan khusus. Kita akan menyusup."

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!