NovelToon NovelToon
Belenggu Masa Lalu: Menjemput Hatimu Kembali

Belenggu Masa Lalu: Menjemput Hatimu Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama

Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance

Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.

Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.

Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembalasan di Altar Hukum (2)

Pagi hari di depan Gedung Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dipenuhi oleh riuh rendah ratusan wartawan dari berbagai media massa nasional dan internasional. Mobil-mobil siaran langsung (*SNG*) dari stasiun televisi berita berjejer di sepanjang trotoar, menyorotkan kamera mereka ke arah tangga masuk gedung. Berita tentang runtuhnya saham Dirgantara Group dan tuntutan obligasi satu triliun rupiah oleh Danuar Baskoro telah menjadi konsumsi publik terbesar pekan ini.

Sebuah mobil sedan mewah *Rolls-Royce* hitam berhenti tepat di depan lobi utama. Pintu terbuka, menampilkan Danuar Baskoro yang melangkah keluar dengan keanggunan seorang bangsawan Inggris. Di sampingnya, Arissa berjalan dengan dagu terangkat, mengenakan kacamata hitam besar dan setelan formal yang memancarkan aura kemenangan prematur.

"Tuan Danuar! Apakah Anda optimis sidang perdana ini akan mengembalikan aset Baskoro Logistics ke tangan Anda?" seru seorang wartawan sambil menyodorkan mikrofon.

Danuar menghentikan langkahnya sejenak, membetulkan letak kacamata bingkai emasnya, lalu tersenyum tipis ke arah kamera. "Hukum adalah matematika hitam di atas putih. Siapa yang memegang dokumen otentik, dialah yang memegang hak milik. Hari ini, keadilan bagi keluarga Baskoro akan ditegakkan."

Namun, riuh wartawan mendadak terpecah ketika tiga mobil SUV hitam anti-peluru melaju senyap dan berhenti tepat di belakang mobil Danuar. Pintu mobil tengah terbuka, dan atmosfer di sekitar area tersebut mendadak berubah menjadi dingin dan menekan.

Adrian Dirgantara melangkah keluar. Ia tampak luar biasa dominan dengan setelan jas hitam berpotongan tegas, memancarkan aura seorang kaisar bisnis yang siap bertempur. Namun, yang membuat kilat lampu kamera (*flash*) meledak tak henti-hentinya adalah sosok wanita yang melangkah keluar di sampingnya.

Kirana Larasati berdiri tegak, menggandeng erat lengan kanan Adrian. Gaun formal berwarna hijau zamrud yang ia kenakan membuatnya tampak sangat anggun dan berwibawa. Tidak ada lagi gurat ketakutan, tidak ada lagi sisa trauma; matanya menatap lurus ke depan dengan binar keberanian seorang Larasati yang telah bangkit. Di belakang mereka, Rendra dan Hendra Wijaya berjalan membawa tas kerja kulit tebal yang mengunci takdir hari ini.

Danuar menghentikan langkahnya di tangga, berbalik menatap kedatangan pasangan itu. Alisnya sedikit bertaut melihat Kirana yang kembali berada di sisi Adrian, sementara Arissa mengepalkan tangannya tersembunyi di balik tas mewahnya.

"Menyerahkan diri lebih awal, Adrian?" sindir Danuar dengan suara baritonnya yang tenang saat Adrian dan Kirana tiba di anak tangga yang sama. "Membawa istrimu ke pengadilan tidak akan mengubah angka satu triliun di dalam dokumen obligasiku."

Adrian menghentikan langkahnya, menatap Danuar dengan mata elang yang berkilat mematikan. "Aku tidak membawa istriku untuk memohon belas kasihanmu, Danuar. Aku membawanya untuk menyaksikan bagaimana dinasti kebohongan yang dibangun ayahmu dan kamu... runtuh berkeping-keping hari ini."

Kirana maju selangkah, menatap langsung ke dalam mata kosong Danuar. "Dan aku di sini untuk menuntut darah dan harga diri ayahku yang sudah kalian manfaatkan untuk memfitnah keluarga Dirgantara."

Danuar tidak membalas, namun rahangnya mengatup samar. Aura dingin Kirana yang baru adalah variabel yang tidak ia perhitungkan di dalam skenarionya.

---

Suasana di dalam ruang sidang utama terasa begitu mencekam. Kursi penonton penuh sesak oleh para pengamat hukum dan jurnalis senior. Hakim ketua mengetuk palu tiga kali, menandakan sidang perdana pembacaan gugatan pembatalan akuisisi dimulai.

Kuasa hukum Danuar maju terlebih dahulu, membacakan replik gugatan dan memamerkan salinan dokumen obligasi tahun 2011 di layar proyektor ruang sidang. Mereka menuntut ganti rugi satu triliun rupiah atau penyitaan aset utama Dirgantara Group atas dasar penipuan korporat masa lalu.

"Bagaimana tanggapan dari pihak tergugat, Dirgantara Group?" tanya Hakim Ketua setelah kuasa hukum Danuar selesai bicara.

Hendra Wijaya bangkit berdiri dari kursi di samping Adrian. Dengan langkah yang tenang dan berwibawa, ia berjalan ke tengah ruang sidang, lalu mengeluarkan sebuah bundel dokumen asli bersertifikat internasional dengan segel pita merah yang masih utuh.

"Yang Mulia Hakim yang terhormat," suara Hendra Wijaya menggema lantang di dalam ruangan. "Kami menolak seluruh gugatan dari pihak penggugat. Karena dokumen yang mereka bawa adalah dokumen palsu yang klausul pasalnya telah direkayasa secara digital menggunakan metode enkripsi ilegal tingkat tinggi."

Suasana sidang langsung riuh oleh bisik-bisik wartawan. Danuar tetap duduk tenang, namun matanya menyipit tajam menatap Hendra.

"Kami memiliki dokumen asli yang sah, bertanggal sama, jam yang sama, dan ditandatangani oleh kedua belah pihak di depan notaris negara lima belas tahun lalu," lanjut Hendra, menyerahkan bundel dokumen itu kepada panitera untuk diteruskan kepada majelis hakim. "Dokumen ini membuktikan bahwa dana lima ratus miliar di masa lalu bukanlah uang suap atau utang obligasi, melainkan dana talangan (*bailout*) penyelamatan yang dikirimkan ayah Adrian untuk melindungi aset Larasati Tekstil dari likuidasi paksa oleh ayah Danuar Baskoro."

Hakim Ketua memeriksa dokumen asli tersebut dengan saksama, membaca lembar demi lembar dengan kacamata bacanya, sebelum akhirnya mengangguk tegas. "Dokumen ini memiliki kode nomor registrasi negara yang valid dan tidak pernah diubah. Pihak penggugat, apakah Anda memiliki bantahan?"

Kuasa hukum Danuar mulai panik, mereka saling berbisik dengan wajah pucat. Danuar sendiri merasakan keringat dingin tipis mulai muncul di tengkuknya. Ia menoleh ke arah Arissa, yang kini wajahnya sudah memutih karena syok.

Adrian Dirgantara kemudian bangkit berdiri dari kursinya. Ia mengancingkan jasnya, lalu berbicara langsung di depan ruang sidang dengan otoritas mutlak yang membungkam seluruh ruangan.

"Bukan hanya pemalsuan dokumen, Yang Mulia," ucap Adrian, suaranya terdengar sedingin es. "Hari ini, tim ahli teknologi forensik kami bersama Rendra telah menyerahkan bukti aliran dana digital dari rekening pribadi Danuar Baskoro di London kepada oknum mantan kurator bank yang dulu menyatakan kebangkrutan palsu keluarga Larasati. Danuar Baskoro tidak sedang mencari keadilan... dia sedang melakukan konspirasi pencucian uang internasional menggunakan nama adiknya, Rendy Baskoro, yang sudah mati."

*TOK! TOK! TOK!*

Hakim Ketua mengetuk palu dengan keras untuk menenangkan ruang sidang yang mendadak gempar.

"Berdasarkan bukti dokumen asli yang diajukan pihak tergugat dan bukti indikasi kriminal pencucian uang baru," Hakim Ketua menatap tajam ke arah Danuar Baskoro. "Majelis hakim menyatakan menolak seluruh gugatan pembatalan akuisisi dari pihak penggugat. Sidang ditutup, dan kasus ini resmi dilimpahkan ke divisi kriminal Mabes Polri untuk penangkapan sdr. Danuar Baskoro atas dugaan pemalsuan dokumen negara dan konspirasi korporat."

*BLARRR!*

Palu hakim diketuk untuk terakhir kalinya.

Arissa langsung bangkit berdiri, mencoba melangkah mundur menuju pintu belakang untuk melarikan diri, namun dua petugas polisi berpakaian preman yang sudah disiagakan oleh Rendra langsung menghadang langkahnya di koridor sidang. "Ibu Arissa, Anda juga ikut kami atas dugaan keterlibatan persekongkolan."

Danuar Baskoro perlahan bangkit dari kursinya. Petugas pengadilan mendekatinya, membawa sepasang borgol besi. Sebelum tangannya dikunci, Danuar menatap Adrian dan Kirana yang berdiri berdampingan di seberang ruangan. Senyuman kalkulatif di wajah Danuar telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh kekosongan seorang pria yang sadar bahwa skenario hukumnya telah dihancurkan oleh aliansi dua hati yang tak tertembus.

Adrian merangkul pinggang Kirana dengan protektif, menatap dingin kepergian Danuar yang digiring keluar ruangan. Di bawah lampu ruang sidang yang benderang, Kirana menyandarkan kepalanya di bahu Adrian, mengembuskan napas lega yang teramat panjang. Belenggu masa lalu itu kini tidak hanya terlepas dari tubuhnya, melainkan telah dihancurkan bersama orang-orang yang mencoba memasangnya kembali.

---

Bersambung

1
Aera_yong
terimakasih ya teman-teman udah support novel aku😍😍
Afri
deg deg an baca nya ..👍👍
Afri
sama sama adu kekuatan 💪💪👍
Afri
seruu
Aera_yong
jangan lupa juga beri dukungan dan support novel ini yah🤭
Aera_yong
jangan lupa baca novel terbaru aku yah tentang The Four Elite
Batriani
gaya mafia......
Batriani
dendam membara
Batriani
seru juga baca nya ditengah derunya drachin dan drakor....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!