Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Rasa yang Menemukan Alamatnya
Deru mesin sport coupe bertenaga tinggi milik Renard membelah jalanan ibu kota yang masih menyisakan genangan air sisa hujan sore tadi.
Malam ini, Renard sengaja memilih untuk menyetir sendiri mobilnya, meninggalkan sopir pribadi dan para pengawal di mansion. Ia menginginkan privasi mutlak, sebuah ruang di mana tidak ada sekat protokoler yang biasanya mendikte setiap jengkal kehidupannya.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara, keheningan yang tercipta terasa sangat berbeda.
Jika biasanya keheningan di antara mereka berdua dipenuhi oleh ketegangan tak kasat mata dari klausul-klausul perjanjian kontrak, malam ini sunyi itu terasa begitu lembut dan menenangkan.
Renard mengemudikan mobil dengan tangan kanannya yang kokoh bertumpu pada roda kemudi, sementara tangan kirinya terulur ke tengah, menggenggam erat jemari tangan Arumi yang bertumpu di atas takhta konsol tengah.
Ibu jari Renard bergerak perlahan, mengusap punggung tangan Arumi dengan ritme yang konstan—sebuah gerakan refleks yang menyalurkan kehangatan luar biasa langsung ke pusat pertahanan hati Arumi.
"Kita mau ke mana, Renard?" tanya Arumi memecah keheningan, suaranya terdengar lembut di antara pendar cahaya lampu dasbor yang temaram.
Ia menoleh, mengagumi siluet profil samping wajah suaminya yang terpahat sempurna oleh bias lampu jalanan kota.
Renard melirik sekilas melalui sudut matanya, dan sebuah senyuman tipis yang sangat menawan terukir di bibirnya. "Sebuah tempat yang tidak akan membuatmu terganggu oleh tatapan orang lain. Aku rasa, setelah semua keributan semalam, kita berhak mendapatkan ketenangan."
Mobil sport hitam itu akhirnya berhenti di pelataran sebuah gedung privat yang terletak di kawasan perbukitan hijau di pinggiran Jakarta Selatan.
Tempat itu merupakan sebuah restoran berkonsep konservatori kaca eksklusif yang bertengger megah di lantai teratas, dikelilingi oleh taman botani vertikal yang diterangi oleh ratusan lampu peri mikro yang berpendar keemasan.
Begitu pintu mobil dibukakan oleh kepala pelayan restoran yang sudah membungkuk hormat, Renard turun terlebih dahulu.
Ia dengan sigap mengitari kap mobil dan mengulurkan tangannya untuk membantu Arumi keluar. Arumi menyambut uluran tangan itu, merapatkan mantel wol cokelat mudanya saat embusan angin malam yang sejuk menerpa kulitnya.
Saat mereka melangkah memasuki area indoor konservatori gantung tersebut, Arumi seketika menghentikan langkahnya karena takjub.
Seluruh ruangan raksasa berdinding kaca bundar itu tampak kosong. Tidak ada alunan musik riuh, tidak ada deretan tamu lain yang memenuhi meja-meja porselen. Hanya ada satu meja bundar yang tertata mewah dengan lilin-lilin aromaterapi beraroma lavender di bagian paling tengah, langsung menghadap ke lanskap spektakuler lampu kota Jakarta yang berkilau bagaikan hamparan berlian terserak di bawah langit malam yang bersih.
Arumi menoleh ke arah Renard dengan sepasang mata indahnya yang membulat tidak percaya. "Renard... jangan bilang kalau kamu—"
"Aku menyewa seluruh tempat ini untuk malam ini," potong Renard dengan nada santai, seolah-olah memesan satu seluruh restoran mewah itu tidak lebih rumit daripada membeli secangkir kopi pagi.
Pria itu menuntun Arumi menuju kursi dan menariknya dengan penuh tata krama. "Aku tahu kamu tidak suka menjadi pusat perhatian seperti semalam. Di sini, tidak akan ada pengusaha angkuh atau sepupu menyebalkan yang akan mengusik makan malam kita."
Arumi duduk perlahan, menatap Renard yang kini mengambil tempat duduk tepat di hadapannya, terpisahkan oleh nyala lilin yang menari lembut.
"Menyewa seluruh restoran botani terbaik di kota ini hanya untuk makan malam berdua? Tuan CEO, apakah ini bentuk efisiensi bisnis yang sering Anda agungkan?" goda Arumi, menyilangkan kedua tangannya di atas meja sembari melemparkan tatapan jenaka.
Renard tersentak kecil, lalu buru-buru memalingkan wajahnya ke arah pelayan yang mulai datang membawakan hidangan pembuka.
Semburat merah tipis yang sangat familier kembali menghiasi daun telinganya, membuat Arumi harus sekuat tenaga menahan tawa renyahnya.
"Ini bukan tentang bisnis, Arumi," gumam Renard dengan suara baritonnya yang memberat setelah pelayan pergi.
Pria itu kembali menatap Arumi, dan kali ini, sorot matanya begitu dalam hingga mengunci seluruh kesadaran wanita di hadapannya. "Ini tentang kenyamananmu. Aku menyadari satu hal... selama ini aku terlalu sering memaksamu masuk ke dalam duniaku yang kaku dan penuh tuntutan. Malam ini, aku hanya ingin menjadi seorang pria biasa yang sedang membawa istrinya keluar untuk bersenang-senang."
Hidangan demi hidangan bergaya fine dining disajikan dengan presisi tinggi, namun bagi Renard dan Arumi, rasa makanan mewah itu kalah jauh dibandingkan dengan kualitas obrolan yang mengalir di antara mereka.
Untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi membicarakan tentang jadwal pertemuan Mama Sofia, laporan keuangan yayasan, atau strategi menghadapi pers. Mereka berbicara tentang masa kecil, ketakutan-ketakutan terbesar mereka, dan impian tersembunyi yang selama ini terkunci rapat di balik topeng masing-masing.
"Aku selalu berpikir bahwa menikah adalah sebuah transaksi logis yang tidak perlu melibatkan perasaan," ujar Renard perlahan, jemarinya memainkan kaki gelas kristal berisi air mineral.
Pandangannya menerawang menembus dinding kaca besar di samping mereka. "Ayahku mendidikku untuk selalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang keuntungan dan risiko. Ketika aku bertemu denganmu dan menawarkan kontrak itu, aku merasa telah mengambil langkah taktis yang paling sempurna."
Arumi mendengarkan dengan saksama, menopang dagunya dengan satu tangan. "Lalu, kapan tepatnya transaksi logis itu mulai gagal dalam perhitunganmu?"
Renard menarik napas dalam-dalam, lalu terkekeh pelan—sebuah suara tawa tulus yang sangat langka yang membuat wajah tampannya terlihat berlipat lebih menawan.
"Saat aku melihatmu merawat si Oyen di halaman belakang dengan senyuman tulus, atau saat kamu dengan berani mendebat argumenku di ruang kerja," Renard jujur, matanya kini menatap Arumi tanpa ada lagi dinding pembatas ego.
"Setiap kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa kamu hanyalah bagian dari rencana hukum, hatiku selalu membantahnya. Dan puncaknya adalah semalam... saat bajingan Dirgantara itu berani merendahkanmu. Di detik itu, aku tahu, jika aku kehilanganmu, seluruh kerajaan bisnis Wijaya Group ini tidak akan ada artinya lagi."
Arumi merasakan matanya mendadak memanas oleh air mata haru yang mendesak keluar. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, dan Renard dengan sigap menyambutnya, menggenggam jemari lentik itu dengan penuh perasaan.
"Terima kasih, Renard," bisik Arumi tulus.
"Kamu tahu... setelah ayahku pergi dan keluarga kami hancur, aku terbiasa berdiri sendiri di tengah badai. Aku selalu mengira bahwa mengizinkan orang lain masuk ke dalam hidupku adalah sebuah kelemahan yang berbahaya. Tapi bersamamu, aku menyadari bahwa menjadi lemah di depan orang yang tepat justru adalah sebuah kekuatan terbesar."
Makan malam yang magis itu diakhiri dengan alunan musik instrumental lembut yang tiba-tiba mengalun dari sistem suara restoran.
Renard berdiri dari kursinya, merapikan letak jaket kasualnya, lalu melangkah mendekati sisi meja Arumi. Dengan gerakan membungkuk formal yang sangat elegan, ia mengulurkan tangan kanannya.
"Nyonya Arumi Wijaya, maukah Anda berdansa denganku malam ini?" tanya Renard dengan senyuman menawan yang sanggup melumerkan gunung es mana pun di dunia.
Arumi tersenyum lebar, menyambut uluran tangan kokoh itu tanpa ragu.
Renard menuntunnya menuju area lantai kaca yang langsung menjorok ke arah luar tebing, memberikan sensasi seolah-olah mereka sedang berdiri melayang di atas lautan cahaya kota Jakarta.
Renard melingkarkan tangan kirinya di pinggang ramping Arumi, sementara tangan kanannya menggenggam erat tangan kiri Arumi, menyatukan tubuh mereka dalam jarak yang teramat dekat.
Arumi menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Renard, mendengarkan ritme detak jantung suaminya yang berdegup kencang namun beraturan—sebuah irama konstan yang kini menjadi melodi favoritnya.
Mereka bergerak perlahan, berputar mengikuti alunan melodi musik yang syahdu di bawah atap kaca konservatori.
Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan lagi malam itu. Di dalam keheningan yang intim tersebut, dua jiwa yang awalnya dipertemukan oleh selembar kertas kontrak bernilai miliaran rupiah, kini telah sepenuhnya lebur dan menemukan alamat aslinya di dalam pelukan satu sama lain.
Sebuah komitmen tak tertulis yang jauh lebih mengikat daripada meterai hukum mana pun di dunia.