NovelToon NovelToon
Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Sistem / Harem / Komedi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.

Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.

Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.

Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.

Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.

Sistem 2Bit.

Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.

Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.

Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.

Padahal baru dimulai.


━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Tebing itu lebih tinggi dari kemarin. Angin di sini tidak berhembus; ia meraung.

Raka berdiri di tepi batu yang licin. Di bawahnya, kabut tebal menyembunyikan dasar jurang. Tapi Raka tahu apa yang ada di sana: batu-batu tajam, akar pohon purba, dan kematian.

Si Tua berdiri di sampingnya. Wajahnya datar. Tidak ada senyum sarkastik hari ini. Hanya kewaspadaan dingin.

"Lompat," kata Si Tua.

Raka menoleh. "Apa?"

"Lompat."

"Ke mana? Ke udara?"

"Ke bawah."

Raka menatap jurang itu. Otaknya menolak perintah itu. Insting survivalnya berteriak: Jangan.

[!] Deteksi adrenalin: Level kritis.

[!] Analisis ketinggian: 15 meter.

[!] Prediksi dampak: Fraktur multipel. Risiko kematian: Tinggi.

"Aku akan mati," kata Raka. Suaranya datar. Fakta.

"Mungkin," jawab Si Tua. "Atau mungkin tidak."

"Kenapa aku harus melakukan ini?"

Si Tua menatapnya. Matanya tajam. Menusuk.

"Karena kau takut jatuh."

Jeda. Angin menderu di antara mereka.

"Orang yang takut jatuh biasanya jatuh lebih buruk."

Si Tua berbalik. Tidak ada penjelasan lagi. Tidak ada filsafat. Hanya perintah implisit yang menggantung di udara.

Raka mengerutkan kening. Dia tidak mengerti sepenuhnya. Tapi dia tahu satu hal: Jika dia tidak melompat, Si Tua akan mendorongnya. Atau lebih buruk, mengusirnya.

Raka menutup mata. Sejenak.

Lalu dia melangkah maju.

Kaki kanannya meninggalkan tepi batu.

Gravitasi mengambil alih.

Dunia berputar. Angin menerpa wajahnya seperti tamparan keras. Perutnya terasa naik ke tenggorokan.

[!] Deteksi percepatan gravitasi.

[!] Peringatan: Dampak imminent.

Raka tidak mencoba melayang. Dia tidak mencoba melawan angin.

Dia mengingat instruksi Si Tua yang singkat tadi pagi: Lindungi kepala. Tekuk lutut. Gulung.

Tubuhnya menabrak dahan pohon besar di tengah jurang.

KRACK!

Rasa sakit meledak di bahu kirinya. Napasnya tercekat. Tubuhnya terpental, berputar liar, sebelum menghantam semak-semak berduri di lereng bawah.

Duri-duri itu menusuk kulitnya seperti ribuan jarum panas.

Raka terguling. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Hingga akhirnya, dia berhenti.

Tergeletak di tanah basah. Berdarah. Nyeri di setiap sudut tubuhnya.

Hening.

Hanya suara napasnya yang tersengal-sengal. Paru-parunya terbakar.

[!] Scan lokal:

[!] Bahu kiri: Dislokasi minor.

[!] Tulang rusuk: Retak halus.

[!] Luka lecet permukaan: Luas.

[!] Status: Hidup.

Raka membuka mata. Langit tampak jauh di atas sana, melalui celah-celah dedaunan.

Dia masih hidup.

Sakit? Sangat.

Tapi dia tidak patah leher. Tidak mati.

Dari atas tebing, suara Si Tua terdengar samar.

"Masih hidup?"

Raka ingin berteriak marah. Tapi tidak ada tenaga. Dia hanya mengangguk pelan, meski tahu Gurunya tidak melihat.

"Coba lagi," teriak Si Tua.

Raka memejamkan mata. Menghela napas panjang yang rasanya seperti menelan kaca.

Satu jam kemudian.

Raka diseret keluar dari semak-semak oleh dua tali kasar yang dilemparkan Si Tua. Tubuhnya penuh luka gores. Bajunya robek-robek. Darah mengering di pipinya.

Laras duduk di dekat gubuk. Dia tidak berlari mendekat. Tidak memeluk. Tidak menangis.

Dia hanya menatap Raka yang terseret datang dengan wajah datar.

Raka terjatuh di depan Laras. Napasnya berat.

Laras menatapnya. Lama.

"Kamu masih hidup," katanya. Suaranya tanpa nada.

"Sayangnya," gumam Raka. Suaranya serak.

Laras mendengus. Dia berdiri, mengambil botol air dan kain bersih dari tasnya.

"Aku capek nyeretmu kalau kamu mati," katanya sambil melemparkan kain itu ke wajah Raka. "Bersihkan darahnya. Baunya amis."

Raka menangkap kain itu. Kainnya kasar. Dingin.

Dia mengusap darah di wajahnya. Rasa perih menyengat, tapi itu membuatnya sadar. Dia masih di sini.

Si Tua muncul dari balik pepohonan. Dia membawa seikat akar tanaman. Meletakkannya di depan Raka.

"Makan," perintahnya.

Raka menatap akar itu. Pahit. Berbau tanah.

"Ini untuk apa?"

"Mempercepat penyembuhan tulang. Dan supaya kau tidak pingsan sebelum latihan sore."

Raka mengambil akar itu. Menggigitnya. Rasanya pahit sekali. Membuat lidahnya mati rasa.

"Kenapa?" tanya Raka di antara gigitan. "Kenapa menyuruhku jatuh?"

Si Tua duduk di batu terdekat. Menyilangkan kaki. Menatap kosong ke arah jurang.

"Dunia ini akan menjatuhkanmu," katanya singkat. "Terus-menerus."

Jeda.

"Belajarlah mendarat."

Raka mengunyah akar itu. Pahit. Tapi hangat di perutnya.

Dia menatap tangannya yang masih gemetar. Tangan yang baru saja menghantam batu. Tangan yang masih bisa mengepal.

[!] Observasi: Host bertahan hidup setelah dampak vertikal 15 meter.

[!] Pola perilaku: Adaptasi cepat terhadap trauma fisik.

Raka tidak tersenyum. Dia hanya menatap jari-jarinya. Satu per satu. Mengepal. Membuka. Mengepal lagi.

Laras duduk di sampingnya. Tidak menyentuh. Hanya duduk. Jarak satu jengkal.

"Besok lompat lagi?" tanya Laras. Matanya menatap kosong ke arah jurang.

"Iya," jawab Raka.

"Gila."

"Mungkin."

Mereka diam. Angin berhembus. Membawa daun kering.

Raka memejamkan mata. Menikmati rasa sakit yang berdenyut-denyut. Itu pengingat bahwa dia masih hidup.

Dan besok, dia akan melompat lagi.

Bersambung.

1
Chen Haoran
Bagus toh sistem nya lucu
KZ2: Kalau gw tulis sejarahnya sistem 2bit bakalan jadi 10 bab🚬🗿🤣.
thanks udah mampir
total 1 replies
Chen Haoran
menurut ku ini menarik di setiap kata-katanya ada dialog yang interaktif dan tidak kelihatan kaku🙏
Chen Haoran: yap euy
total 2 replies
Chen Haoran
lucu euy sistem nya bisa becanda 🤣
KZ2: wkwkkw emang novel absurd
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!