"Jangan menodai mata, Anda!"
Gak usah banyak bicara, pijit aja, untung Kakak suruh pijit bagian atas, emangnya mau pijit bagian bawah juga?" tanya Fallen.
"Kalau boleh sih, Aku lebih milih pijit bagian bawah, soalnya di atas tanganku pegel karena bahu Kakak kan lebar dan tinggi," jawab Fio.
"Di bawah juga lebar dan tinggi," balas Fallen nakal.
Cover from pinterest. disimpan dari m.photoviewer.naver.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhammadtaufiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang Menjengkelkan
Larut malam, Fallen baru tiba di rumah. Fio dengan setia menunggu suaminya untuk pulang. Seperti sekarang ini, Fallen dipeluk erat oleh Fio. Fallen tersenyum dan mengelus rambut istrinya.
"Maaf, aku pulangnya kemaleman."
"Gak papa, Mas. Kamu pasti lembur di kantor, pasti kamu belum makan, kan?"
"Belum," jawab Fallen, Fallen berbohong, dirinya telah makan tadi namun untuk membuat Fio tetap tersenyum tidak masalah jika dirinya harus makan kembali, lagipula masakan istrinya tidak pernah mengecewakan.
"Syukurlah, makanannya masih hangat." Senyum Fio mengembang, dengan semangat dirinya mengambil piring dan menuangkan nasi serta lauk pauk kemudian menuang segelas air putih.
"Haris sudah tidur?"
"Mungkin, tapi perasaanku tidak, karena Haris ada tugas sekolah katanya, Mas." Fallen tertawa kecil, istrinya sedikit plin plan.
Selesai makan, Fallen segera berdiri namun tetap menunggu Fio untuk membersihkan meja makan.
"Sayang, biar aku bantu." Fio langsung menolak.
"Kamu capek, Mas. Biar aku saja, kamu duluan saja ke kamar," tolak Fio.
Fallen menggeleng, lebih baik ia menunggu Fio. Fio pun selesai dan menarik tangan Fallen masuk dalam kamar.
Sedangkan Haris, ia sedang mengerjakan tugasnya, lama semakin lama rasa malas menghampirinya dengan tulisan yang baru setengah lembar.
Haris akhirnya menyerah, soal sejarah sangat membosankan, satu soal namun jawabannya bisa lebih dari selembar kertas.
Dirinya pun membuka ponselnya dan melihat isi pesan yang terkirim oleh Qaren.
Qaren Mak Lampir
Besok kasih liat aku tugas sejarah yah. 21.26
Haris
Gak. 22.40
Haris melihat notifikasi yang lain, salah satunya instagram, di mana para perempuan yang menurutnya alay itu tengah melontarkan komentar yang menggelikan.
Pujian-pujian berlebihan itu membuat Haris muak, dan matanya terfokus ke titik di mana komentar Qaren berada.
Kok ganteng, sih? Calon masa depan gak bisa kontrol sih.
Haris memutar bola matanya jengah. Rasa kantuk mulai hadir, dan Haris tak dapat melawannya, dirinya pun mematikan ponselnya kemudian tertidur pulas.
Esok hari, Haris telah berangkat, namun Fallen belum. Pria tersebut sedang sibuk mengecupi pipi istrinya.
"Aku gak usah ke kantor, maunya di rumah sama kamu," Fallen menggoda Fio, Fio mendorong suaminya dengan pelan.
"Mas, jangan gitu ih, ada karyawan kamu yang kerja mati-matian sedangkan bosnya? Malah santai-santai di rumah," balas Fio cemberut.
Fallen menggelengkan kepalanya, sehari tak kerja tidak masalah karena ada sekertarisnya yang bisa ia percayakan.
"Aku gak ke kantor ini hari, sekertarisku bisa handle semua pekerjaan di kantor," putus Fallen dan tidak dapat dibantah oleh Fio.
"Aku mau kamu, gak mau ke kantor, sayang," bisik Fallen sensual.
^^__^^
Di sekolah, Haris menunggu guru yang akan masuk, namun menit terus berlalu dan tanda-tanda akan datangnya guru ternyata tidak ada sama sekali.
Sedetik kemudian terdapat pengumuman dari sound system bahwa guru akan rapat, ini membuat Haris menghela napas kesal, kalau begini, si Mak Lampir itu akan mengganggunya.
"Yeay, free class. Bisa berduaan sama Haris."
Nah, firasat buruk terjadi juga. Haris menatap tajam Qaren, dan Qaren yang ditatap tajam malah tersenyum yang membuat Haris semakin jengkel.
"Pergi, gue gak suka diganggu!"
Qaren menggelengkan kepalanya. Haris menghela napas berat dan berdiri meninggalkan Qaren yang terus berteriak.
"Haris, tunggu!"
Haris tak peduli, dirinya terus melangkah hingga suara yang memanggilnya hilang diterpa angin.
kalau pribadi yimak .membawa like