Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Setelah beberapa puluh menit membelah jalanan yang lumayan padat, akhirnya sampai juga di rumah.
"Assalamu'alaikum," ucapku dan Bang Rengga bersamaan ketika sampai di teras. Disana ada Bapak dan Ibu yang sedang bersantai.
"Waalaikumsalam," jawab Ibu dan Bapak.
"Sini, duduk sini dulu, sambil ngopi-ngopi kita." ajak Bapak.
"Iya, Pak." Jawab Bang Rengga lalu duduk di salah satu kursi kosong yang ada di teras rumah.
Aku langsung masuk ke dalam, setelah ganti baju dan cuci muka agar terlihat sedikit lebih segar aku segera bergegas ke dapur dan membuat secangkir kopi untuk Bang Rengga. Tak lupa ku pindahkan martabak manis dan martabak telor yang tadi kami beli di jalan ke atas piring. Lalu ku pindahkan semua nya ke atas nampan. Setelah itu aku bergegas ke depan.
"Azka kemana Pak, sama Putri kok kayak sepi?" tanyaku setelah meletakkan semua isi nampan yang aku bawa ke atas meja.
"Lagi kontrol ke dokter. Adikmu itu kan harusnya sebentar lagi lahiran." jawab Ibu.
"Iya, alhamdulillah. Nggak berasa bentar lagi dapat keponakan." jawabku sambil tersenyum.
"Iya, semoga semua lancar ya Mbak." ucap Bapak.
"Aamiin."
"Ehm... " Bang Rengga berdehem. "Bapak, Ibu, mohon maaf. Kira-kira, Bapak sama Ibu ada waktu senggang kapan ya?" tanya Bang Rengga.
"Kenapa Bang? Tumben tanya Bapak sama Ibu ada waktu senggang kapan." tanya Ibu penasaran.
"Begini Pak, Bu. Mama sama Papa saya ada niatan pengen ketemu sama Bapak, Ibu. Mau silaturahmi ke rumah Bapak sama Ibu." Jelas Bang Rengga. "Rencananya, sekalian mau melamar Rani buat saya juga. Kalau Bapak sama Ibu mengijinkan." imbuh Bang Rengga.
"Waduh, gimana ya Bang Rengga. Bang Rengga tahu sendiri keadaan Bapak sama Ibu seperti apa. Apa keluarga Bang Rengga nantinya nggak malu dengan kondisi kami yang seperti ini?" tanya Bapak.
"InsyaAllah bisa nerima, Pak. Saya sudah menceritakan semua tentang Rani, Bapak, Ibu. Tidak ada yang saya tutupi."
Bapak dan Ibu terlihat menghela nafas panjang. Mereka saling memandang sebentar, kemudian keduanya melihat ke arahku.
"Gimana, Mbak? Mbak udah siap dilamar sama Bang Rengga?" tanya Ibu.
Aku terdiam sebentar, mereka semua menunggu jawaban dariku. Terutama Bang Rengga yang terlihat cemas menunggu jawabanku.
"Bismillah, InsyaAllah Mbak siap, Bu, Pak." jawabku.
"Ya sudah, kalau begitu hari Minggu depan saja gimana? Semua pas ada di rumah kan?" usul Bapak.
"Iya, hari Minggu pagi aja. Biar bisa sambil ngobrol-ngobrol santai." ucap Ibu.
"Iya, Bu. Nanti jam pastinya saya kabari lagi lewat Rani, ya." jawab Bang Rengga.
"Ya sudah, ini kasihan martabaknya, dari tadi di diemin nggak ada yang nyolek." ucapku yang disambut gelak tawa semuanya.
Kami terus mengobrol santai, hingga jam sembilan Bang Rengga pamit pulang.
"Hati-hati di jalan ya, Bang. Jangan ngebut."
"Iya, Sayangku." jawab Bang Rengga. "Abang pulang dulu. Besok Abang jemput ya. Biar Abang antar berangkat nya, sekalian pulangnya nanti abang jemput. Kita pilih baju buat acara minggu nanti."
"Nggak usahlah Bang. Sayang duitnya Abang." jawabku.
"Eh, iya. Lupa." ucap Bang Rengga sambil mengambil dompet yang dia simpan di waist bag yang dia bawa sedari tadi. "Ini kamu pegang ya," ucapnya sambil mengulurkan satu kartu debit miliknya.
"Buat apa?"
"Buat pegangan kamu lah! Pakai itu kalau mau beli apapun." ucap Beng Rengga.
"Bang, tapi ini berlebihan lho.." jawabku protes.
"Sudah, itu emang udah mau Abang kasih dari beberapa waktu lalu buat kamu." jelas Bang Rengga.
Dengan terpaksa, aku menerima kartu debit pemberian Bang Rengga.
"Ya udah, Abang balik dulu. Nanti kalau udah sampai Abang telpon ya."
"Buat apa?"
"Telponan lah, kelonin Abang lewat HP dulu sementara, nanti kalau udah sah baru.... Awww.... Sakit tahu, Dek.!" ucao Bang Rengga sambil meringis menggosok pinggang nya yang baru saja ku cubit.
"Habis itu mulut frontal banget tahu nggak kalau ngomong!"
"Hehehhe.... Ya sudah, Abang pulang ya. Kamu masuk dulu gih, baru Abang jalan."
Aku hanya mengangguk lalu masuk ke rumah. Setelah masuk, baru kudengar suara deru mesin motor Bang Rengga.
"Ya Allah, semoga keputusan aku benar." ucapku lirih.
*****
Pagi hari, setelah bersih-bersih sebelum sholat subuh aku melihat Azka yang termenung di ruang tengah. Ku hampiri adik ku satu-satunya itu.
Ku tepuk pelan pundaknya. "Pagi-pagi udah ngelamun aja. Udah sholat?" tanyaku.
"Udah, Mbak." jawabnya singkat.
"Ya udah, Mbak sholat dulu ya."
"Iya," jawab Azka setelah meminum sedikit kopi dalam cangkir yang ada di meja di depannya.
Setelah sholat subuh, aku kembali ke tempat Azka tadi.
"Kenapa, Dek? Kok bengong sendirian aja? Putri mana?"
"Putri ada di kamar, Mbak. Lagi nggak enak badan."
"Kalian nggak lagi berantem kan?" tanyaku sambil menajamkan tatapan pada adik ku itu.
"Nggak, Mbak. Mbak.... Aku minta maaf ya." ucap Azka sambil memelukku tiba-tiba.
"Kenapa? Ada apa?" jawabku sambil mengusap punggungnya.
"Mungkin ini gara-gara aku ngelangkahin Mbak Rani dengan cara yang salah. Kalau sampai seminggu ke depan Putri belum lahiran, dia harus di caesar Mbak."
"Ish.... Ngomong apaan sih, Dek. Emang udah garisnya kamu ketemu jodoh lebih dulu, baru Mbak. Mbak ikhlas, beneran. Jadi, kamu nggak usah mikir macem-macem. Yang penting sekarang kamu harus selalu ada buat Putri. Dukung dia, kasih semangat buat dia."
"Iya, Mbak. Makasih udah mau maafin aku sama Putri."
"Udah, kamu yang tenang. Bawa doa ya... " ucapku.
"Iya, Mbak. Makasih selalu ada buat aku sama Putri."
"Iya, ehm.... Minggu pagi jangan kemana-mana ya, Insya Allah Bang Rengga sama Mama Papanya mau datang ke rumah. Mau silaturahmi sama ketemu sama Bapak, Ibu."
"Alhamdulillah, dari bau-baunya langsung lamaran ini... "
"Doain aja ya, ya udah. Mbak mau bantu Ibu masak dulu." ucapku.
"Iya, aku mau ngasih tahu Putri, biar semangat dia. "
"Heeem.... " jawabku sambil melangkah ke dapur.
*****
Pukul 7.15, aku mendengar suara khas motor Bang Rengga masuk ke halaman rumah. Untungnya aku sudah siap. Aku segera keluar kamar.
"Assalamu'alaikum," ucap Bang Rengga di depan pintu.
"Waalaikumsalam," jawabku. "Masuk dulu, Bang. Sarapan dulu ya!" ajakku.
"Sarapan di luar aja yah, malu Abang sama Ibu."
"Dih.... Tumben malu... Biasanya juga malu-maluin. Udah, sarapan aja dulu Bang. Ntar Ibu malah marah kalau kita makan di luar. "
Kamipun akhirnya sarapan di rumah, setelah itu baru Bang Rengga mengantarkan aku berangkat bekerja. Setelah sampai di tempat ku bekerja, beberapa teman yang melihatku diantar oleh Bang Rengga menjadi heboh, apalagi dengan tampilan baruku yang saat ini berhijab.
"Ekheeem.,... Kayaknya bentar lagi ada yang sould out nih." goda Nita saat aku sampai di ruangan.
Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Doanya saja ya."
"Udah mantap berhijab nih, apa karena diminta sama Pak Rengga?" tanya Nita.
"Enggak, emang udah dari kapan hari pengen mulai belajar berhijab. Dia aja kaget pas kemarin tahu aku pakai hijab." jawabku. "By the way, hari Minggu pagi besok bisa ke rumah nggak?" tanyaku.
Nita menatapku sejenak, "Jangan bilang Pak Rengga mau lamar kamu Mbak Bon?" tanyanya.
"Insya Allah rencananya memang seperti itu. Doakan saja lancar ya. Makanya, ke rumah ya hari Minggu pagi besok, temenin dirumah." pintaku pada teman baikku ini.
"Iya, Insya Allah nanti aku datang. Kabari aja jam berapa acaranya ya. Selamat ya, semoga lancar sampai nanti akad nikah."
"Siapa yang mau nikah?"
Tiba-tiba saja ada suara lelaki yang menyela obrolan kami. Aku mengalihkan pandangan ke arah suara itu. Setelah tahu, aku hanya bisa memutar bola mataku malas melihat siapa sosok lelaki yang menyela obrolan kami.