Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35
Dari rumah tua itu, Daniel tidak langsung membawa Nana pulang.
Mobil bergerak melewati beberapa ruas jalan, lalu berhenti di depan gedung kaca yang tampak baru dari luar. Lobi bawahnya kini menjadi kantor sewa bersama. Orang-orang muda keluar masuk membawa laptop, kopi, dan wajah sibuk yang tidak tahu bahwa lantai-lantai di atas pernah menyimpan nama Tjang Group.
Daniel menatap gedung itu dari dalam mobil.
"Dulu logo kami ada di atas sana."
Nana mengikuti arah matanya. Di puncak gedung hanya ada papan perusahaan properti yang dingin dan bersih.
"Mereka menggantinya cepat sekali?"
"Lebih cepat daripada orang menghapus foto mantan dari ponsel."
Nada Daniel ringan, tetapi Loki di depan tidak ikut bereaksi.
Mereka masuk melalui akses tamu. Daniel sudah mengatur izin melihat salah satu lantai kosong yang belum disewakan. Lift naik tanpa suara. Nana melihat bayangannya sendiri di pintu logam: blus sederhana, tas kecil dengan ponsel darurat, dan wajah seseorang yang semakin sering diajak masuk ke tempat yang menyimpan bekas luka orang lain.
Lantai itu kosong.
Karpetnya sudah diganti. Partisi kantor lama hilang. Namun di dekat jendela, masih ada bekas lubang kecil di lantai tempat meja resepsionis dulu dipasang. Daniel berdiri di sana.
"Di sinilah wartawan menunggu."
Nana membayangkan ruangan penuh kamera, suara pertanyaan, lampu, dan orang-orang yang datang bukan untuk mencari kebenaran melainkan mengambil gambar keluarga jatuh.
"Saat laporan keluar?"
"Saat laporan belum selesai dibaca pun mereka sudah punya judul."
Daniel berjalan pelan melewati ruangan. "Skandal pelabuhan. Dana hilang. Tanda tangan direktur. Rekening luar negeri. Semua kata yang terdengar pintar kalau dibaca orang sambil minum kopi pagi."
"Siapa yang pertama membocorkan?"
"Itu pertanyaan mahal."
"Kau tahu jawabannya?"
"Aku tahu beberapa orang yang mendapat untung. Jawaban dan keuntungan kadang tinggal di rumah yang sama, tapi tidak selalu tidur di ranjang yang sama."
Nana mengerti ia belum mau menyebut nama.
Di ujung lantai ada ruang rapat lama. Kacanya buram, tapi pintunya masih sama. Daniel berhenti di depannya, lalu menyentuh gagang.
"Aku duduk di lantai sini waktu Papa dibawa keluar."
Nana menahan napas.
Daniel membuka pintu.
Ruangan itu kosong, hanya ada meja lipat milik pengelola gedung. Namun Daniel melihatnya seperti ruangan itu masih penuh orang.
"Papa tidak diborgol di depan kamera. Mereka cukup sopan untuk itu." Ia tersenyum tipis. "Sopan sekali, kan? Menghancurkan nama orang, tapi masih menjaga bentuk pergelangan."
Nana tidak berkata apa-apa.
"Dia memakai jas abu-abu. Mama berdiri di sampingnya. Aku ingat karena Mama memegang map merah. Di dalamnya ada bukti bahwa salah satu tanda tangan bukan milik Papa. Dia terus berkata, tunggu, lihat dulu ini. Tidak ada yang mau melihat."
Suara Daniel tidak pecah. Justru terlalu rapi.
"Lalu?"
"Lalu seseorang berkata, semua bisa dijelaskan di kantor. Wartawan mengambil foto. Orang-orang yang dulu memanggil Papa saudara tiba-tiba mundur agar wajah mereka tidak masuk kamera."
Nana merasa perutnya dingin.
Ia pernah melihat orang pasar pura-pura tidak kenal pencopet yang tertangkap. Itu kejam, tapi sederhana. Di sini, orang melakukannya dengan jas mahal, alasan hukum, dan kata sopan.
"Kau lihat semuanya?"
"Ya."
"Tidak ada yang menutup matamu?"
Daniel menatap ruang kosong. "Itulah masalah keluarga yang terlalu percaya bahwa kebenaran akan menang. Mereka tidak tahu anak-anak juga perlu dilindungi dari proses menunggu kebenaran datang."
Nana teringat Stella. Terlindungi dari terlalu banyak hal sampai ingin membenci orang yang menyayanginya. Dunia seperti selalu memilih luka yang salah.
Loki berdiri di ambang pintu. "Tuan Daniel."
Daniel menoleh.
"Cukup."
Hanya satu kata, tetapi Nana mendengar sesuatu di baliknya. Bukan perintah. Permohonan.
Daniel tersenyum kepada Loki. "Lihat, Na. Bahkan Loki punya hati. Kecil, tapi ada."
Loki tidak membalas.
Daniel berjalan ke jendela. Dari sana, jalan di bawah tampak kecil. Mobil-mobil lewat tanpa tahu mereka sedang melintas di bawah ruang tempat sebuah keluarga pernah jatuh.
"Setelah Papa dibawa, rekening dibekukan. Vendor menagih. Bank menutup pintu. Mama menjual apa pun yang masih bisa disentuh sebelum disita. Tapi yang paling cepat hilang bukan uang."
"Apa?"
"Nama."
Ia menatap pantulan dirinya di kaca. "Begitu orang percaya nama Tjang berarti skandal, semua pintu berubah. Satpam yang dulu membungkuk mulai memeriksa tas kami. Resepsionis yang dulu menyapa Mama dengan senyum mulai pura-pura sibuk. Anak teman keluarga tidak lagi boleh mengundangku ke ulang tahun."
"Kau masih sekolah?"
"Masih."
"Apa teman-temanmu..."
"Ada yang baik." Daniel memotong dengan lembut. "Tapi anak baik pun sering punya orang tua yang takut pada kabar buruk. Mereka tidak memusuhiku. Mereka hanya menjauh pelan-pelan sampai aku yang terlihat mengejar."
Nana menelan sesuatu yang pahit.
"Itu sebabnya kau bilang orang miskin tidak diberi hak untuk lambat?"
Daniel menoleh. Senyumnya kali ini benar-benar hilang.
"Orang miskin tidak diberi hak untuk lambat. Orang yang namanya sudah kotor tidak diberi hak untuk menjelaskan pelan-pelan."
Ruangan menjadi sunyi.
Daniel mengambil amplop dari dalam tas Loki. Isinya beberapa guntingan berita lama yang sudah dilaminasi. Ia menyerahkan satu kepada Nana.
Judulnya besar, tajam, dan sangat yakin.
Tjang Group Diduga Alihkan Dana Proyek Pelabuhan.
Di bawahnya ada foto Papa Daniel, wajahnya setengah tertutup kamera wartawan. Di sebelahnya, Mama Daniel memegang map merah.
Nana melihat map itu.
"Bukti tanda tangan?"
"Ya."
"Apa isinya pernah diperiksa?"
Daniel tertawa pendek. "Setelah Papa meninggal, ada orang yang mengaku map itu hilang."
Kata meninggal membuat Nana mengangkat kepala.
Daniel tidak melihatnya.
"Kau tanya kemarin apa yang terjadi pada keluargaku." Ia melipat kembali guntingan itu dengan rapi. "Papa mati sebelum namanya dibersihkan. Mama menyusul tidak lama setelah itu. Orang bilang sakit, kelelahan, tekanan. Aku bilang mereka dibunuh oleh laporan yang terlalu rapi."
Nana merasa matanya panas.
"Daniel..."
"Jangan."
Ia berkata pelan, tapi tajam.
Nana berhenti.
Daniel memasukkan kembali guntingan berita ke amplop. "Besok aku akan menunjukkan satu tempat lagi. Setelah itu, kau boleh memutuskan apakah aku cuma pria yang suka membeli utang orang."
"Aku tidak pernah berpikir cuma."
"Bagus." Senyumnya kembali, tipis dan palsu. "Aku benci dianggap sederhana."
Saat mereka turun dari gedung, Nana membawa bayangan map merah di kepala.
Di mobil, Daniel menutup mata seolah tidur. Loki mengemudi tanpa suara.
Nana memandangi jalan dan akhirnya mengerti satu hal: Daniel tidak mengejar kebenaran karena ia percaya dunia akan adil.
Tangannya masih mengingat berat guntingan berita itu.
Ia mengejar kebenaran karena dunia pernah membunuh keluarganya dengan kata-kata yang terdengar resmi.