Tidak mudah bagi Alya untuk membuka hatinya untuk Daffa, seorang CEO muda yang memimpin perusahaan keluarga Pratama Group. Setelah pengkhianatan yang dilakukan mantan kekasihnya. Namun takdir berkata lain, sebuah kecelakaan menimpa Daffa akibat kelalaian Alya.
Alya dihadapkan pada sebuah keputusan yang akan menentukan hidup dan masa depannya.
Akan kah tumbuh cinta di hati Alya? Atau sebaliknya Daffa membenci Alya, dan menyalahkan keadaannya kepada Alya?
Penasaran? Yuk simak kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RisFauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Kesempatan kedua
"Kamu pasti suka sekali melihatku harus mengalah lagi padamu," kata Alya memaksakan bibirnya yang agak mencibir untuk tersenyum. "Aku harap ini bukan akal-akalanmu saja agar bisa mengantar Aku pulang."
"Akal-akalan gimana, masa Aku harus diam saja melihat Kamu dorong motor kayak gitu," Rey tertawa kecil.
"Aku bisa pulang naik angkot," sergah Alya cepat. "Bukan pemandangan yang aneh lihat orang dorong motor mogok."
"Memang bukan hal aneh kok," jawab Rey santai. "Aku memang berniat mengantar Kamu pulang bukannya tanpa alasan."
Alya memiringkan kepalanya, menajamkan pendengarannya. Matanya menatap lurus pada lelaki yang berada di sampingnya itu.
"Apa Aku tidak salah dengar, Rey. Mengantarkan Aku pulang dengan suatu alasan? Sepertinya harus selalu ada hasil yang harus dicapai dibalik setiap tindakan yang Kamu lakukan."
Rey menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah Alya. Menarik napas dalam sebelum memulai bicara, mengabaikan setiap ucapan Alya padanya.
"Sebentar," Alya menautkan alisnya, memandang heran pada Rey. "Bagaimana Kamu bisa tahu alamat rumahku, Rey? Apa Kamu membuntutiku?"
Rey tergelak mendengar ucapan Alya. "Kamu lucu deh, Ay. Bukan hal yang aneh kalau Aku tahu alamat rumahmu. Dari data pegawai kantor semua tertera jelas di sana."
"Begitu?!"
"Alya," Rey memegang erat kemudi mobilnya, menundukkan kepala sedikit gugup saat hendak memulai bicaranya. "Tolong biarkan Aku menyelesaikan bicaraku tanpa harus dipotong, dan setelahnya Kamu bisa langsung menjawabnya."
"Silahkan."
"Apa kita bisa memulai semuanya dari awal lagi, Ay." Rey mengangkat wajahnya, menoleh pada Alya memandangnya dengan mata penuh harap. "Beri Aku kesempatan kali ini, Aku janji nggak akan buat Kamu kecewa atau terluka lagi. Mengembalikan kepercayaanmu padaku lagi, hanya melihatmu saja bukan yang lain."
Alya membuang pandangannya keluar jendela mobil, jengah mendengar ucapan Rey padanya. Sungguh tidak pernah menyangka kalau Rey akan mengatakan hal itu, rasa tidak suka Alya padanya kini sama besarnya dengan rasa kasihan Alya pada laki-laki itu.
"Segala sesuatu dimulai dari hal-hal kecil. Untuk memegang kata-kata seseorang tidak perlu dari janji besar, tapi bisa menghargai hal-hal kecil. Dan Aku sangat menghormati orang-orang yang bisa menghargai hal-hal kecil baik dalam hubungan apapun." Alya tidak ingin Rey berpikir kalau ia akan dengan mudah terpengaruh dan menerima semua pengakuan Rey kali ini.
"Jangan kasih waktu kalau tidak bisa tepat waktu. Jangan meminta orang menunggu kalau tidak bisa datang. Jangan berjanji kalau pada akhirnya tidak bisa menepati," ucap Alya tegas.
Rey termangu mendengar semua ucapan Alya, bukan seperti ini yang diinginkannya. Tadinya ia berpikir kalau Alya masih mencintainya dan berharap Alya mau memberinya kesempatan lagi, karena Rey tahu sampai detik ini Alya masih sendiri setelah putus hubungan dengannya.
"Makasih sudah mau repot-repot nganterin Aku pulang." Alya menganggukkan kepalanya, lalu membuka pintu melangkah keluar dari dalam mobil.
"Alya!" teriak Rey. "Kamu belum jawab pertanyaan Aku."
Alya melangkah cepat tanpa menoleh lagi, tidak berniat menjawab ucapan Rey. Cukup satu kali dia dikecewakan dan ia tidak mau hal itu terulang lagi dengan menerima laki-laki itu kembali.
"Aarrgghh!"
Rey memukul stir mobilnya berulang, lalu menghenyakkan tubuhnya ke belakang meraup wajahnya gusar. "Oke, Ay. Kamu tidak harus menjawabnya sekarang. Masih ada hari esok," ucapnya dalam hati.
Rey menyalakan mesin mobilnya, lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah Alya.
Sungguh kusesali
Nyata cintamu kasih
Tak sempat terbaca hatiku
Malah terabai olehku
Lelah kusembunyi
Tutupi maksud hati
Yang justru hidup karenamu
Dan bisa mati tanpamu
Andai saja aku masih punya
Kesempatan kedua
Pasti akan kuhapuskan lukamu
Menjagamu memberimu
Segenap cinta
Kusadari tak selayaknya
Selalu penuh kecewa
Kau lebih pantas bahagia
Bahagia karena cintaku
Andai saja aku masih punya
Kesempatan kedua
Pasti akan kuhapuskan lukamu
Menjagamu memberimu
Segenap cinta
Kau bawa bersamamu
Sebelah hatiku separuh jiwaku
Yang mampu sempurnakan aku
Andai saja aku masih punya
Kesempatan kedua
Pasti akan kuhapuskan lukamu
Memberimu segenap cinta
Andai saja aku masih punya (aku masih punya)
Kesempatan yang kedua
Pasti akan kuhapuskan lukamu
Menjagamu memberimu
Segenap cinta
Kesempatan kedua, by Tangga.
🌹🌹🌹
🤗🤗🤗♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐