Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Pertama Bertiga
Rio bangun karena bau.
Bukan bau yang menyengat atau berbahaya. Bau yang lebih dekat ke arah sesuatu yang sedang dipanaskan terlalu lama di atas api yang terlalu besar — bau yang familiar tapi salah, seperti lagu yang benar nadanya tapi salah temponya.
Ia membuka matanya.
Langit-langit yang sama. Retakan yang sama di sudut kiri atas. Cahaya pagi yang masuk dari celah jendela dengan sudut yang menunjukkan bahwa jam sudah lebih dari enam tapi belum tujuh.
Sisi kanan kasur sudah kosong.
Rio duduk.
---
Dari arah dapur — yang dalam konteks kontrakannya adalah sudut kiri ruangan yang dipisahkan dari area tidur hanya oleh sebuah rak kayu pendek yang tidak cukup tinggi untuk disebut partisi — terdengar suara yang bukan suara normal dapur pagi hari.
Suara seseorang yang sedang bernegosiasi dengan kompor.
Rio berdiri, berjalan ke sudut kiri ruangan, dan menemukan pemandangan yang tidak ia perkirakan tersedia di pagi hari ini.
Adrian berdiri di depan kompor satu tungku, menatap panci kecil yang sudah mendidih dengan ekspresi seseorang yang tidak yakin kapan tepatnya air mendidih menjadi terlalu mendidih dan apakah itu bahkan konsep yang valid secara ilmiah.
Di sampingnya, di atas rak dapur yang rendah, Wukong duduk dengan ranting kayunya di tangan dan ekspresi seorang hakim kompetisi memasak yang belum memutuskan apakah penampilan yang sedang ia saksikan layak mendapat nilai atau tidak.
---
"Kompor ini berbeda," kata Adrian tanpa menoleh. Ia sudah tahu Rio sudah di sana — atau mungkin ia memang berbicara ke Wukong yang tidak merespons dengan cara yang membantu.
"Kompor satu tungku biasa," jawab Rio. "Sudah standar sejak lama."
"Yang saya ingat pakai tombol putar."
"Ini juga pakai tombol putar."
Adrian menatap kompor itu. "Yang ini tombolnya lebih kecil."
Rio menatap tombol kompor yang berukuran normal. "Tidak juga."
"Tanganku mungkin yang membesar."
---
Wukong mencicit dengan nada yang Rio terjemahkan sebagai *ini penjelasan yang tidak meyakinkan* dan Adrian tampaknya merasakannya juga karena ia menoleh ke Wukong dengan ekspresi seseorang yang tidak terbiasa dikomentari oleh monyet tapi sudah cukup waktu di bawah tanah untuk tidak merasa perlu mempertahankan martabat di depan apapun.
"Kamu tidak berubah," kata Adrian ke Wukong.
Wukong mencicit sekali lagi.
"Iya, saya yang berubah," Adrian mengakui dengan sangat datar. "Terima kasih sudah mengingatkan."
Rio mengambil alih kompor — mengecilkan apinya yang memang terlalu besar untuk panci sekecil itu, memeriksa isinya yang ternyata hanya air putih yang sudah mendidih lebih dari cukup — dan berbalik ke Adrian.
"Mau buat apa?"
"Air panas untuk teh."
"Sudah lebih dari cukup mendidihnya."
"Saya tidak yakin."
"Air mendidih itu mendidih. Tidak ada tingkatan lebih mendidih."
Adrian menatap air yang bergolak di dalam panci. "Secara teknis ada perbedaan antara titik didih dan—"
"Bapak," Rio memotong dengan nada yang sangat sabar. "Ini untuk teh. Bukan eksperimen laboratorium."
---
Serigala muncul dari pojok jendelanya, berjalan ke area dapur, mengendus udara sekali, kemudian duduk di samping Rio dengan ekspresi seseorang yang telah memutuskan bahwa situasi di dapur tidak mengancam keamanan siapapun dan oleh karena itu tidak memerlukan intervensi.
Adrian menatap serigala itu.
Serigala menatap balik.
"Dia selalu seperti ini di pagi hari?" tanya Adrian ke Rio.
"Selalu."
"Tenang sekali."
"Dia tipe yang tidak buang energi untuk hal-hal yang tidak perlu."
Adrian mengangguk dengan ekspresi seseorang yang menerima deskripsi itu sebagai hal yang masuk akal. "Pintar."
Serigala mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan cara yang kalau dilakukan manusia artinya *terima kasih atas pujiannya tapi saya tidak membutuhkannya.*
---
Rio menyeduh teh dengan air yang sudah mendidih terlalu lama tapi masih bisa digunakan, meletakkan cangkir di meja, dan duduk di tepi kasur.
Adrian membawa cangkirnya ke kursi plastik yang semalam jadi kursi Arinda.
Mereka minum dalam keheningan yang sudah mulai terasa berbeda dari keheningan malam pertama di ruangan batu — lebih ringan, lebih biasa, lebih seperti keheningan dua orang yang belum menemukan semua ritme percakapan masing-masing tapi sudah tidak canggung dengan proses menemukannya.
"Bapak suka teh?" tanya Rio.
"Tidak terlalu." Adrian minum seteguk. "Tapi tidak ada pilihan lain."
"Ada kopi instan di laci."
"Kopi instan lebih buruk dari teh yang tidak saya suka."
"Besok saya beli kopi yang lebih baik."
Adrian menatap cangkirnya. "Jangan repot."
"Bukan repot." Rio minum tehnya. "Logistik."
---
Wukong turun dari rak dapur, berjalan ke meja, dan duduk di depan Adrian dengan cara seseorang yang sudah memutuskan bahwa sudah waktunya melakukan sesuatu yang sudah lama tertunda.
Adrian menatap Wukong.
Wukong menatap Adrian.
Kemudian Wukong meletakkan rantingnya — tongkat sakti yang masih tersegel dalam wujud ranting kayu kering yang selalu ia selipkan di balik telinga — di atas meja di depan Adrian.
Bukan menyerahkan. Hanya meletakkan. Dengan cara yang mengatakan sesuatu yang tidak butuh kata-kata untuk disampaikan kepada seseorang yang sudah cukup lama kenal makhluk ini untuk mengerti bahwa Wukong tidak melakukan gestur tanpa maksud.
Adrian menatap ranting itu selama beberapa detik.
Kemudian meletakkan tangannya di atas meja di sebelah ranting itu — tidak menyentuh, hanya ada di dekatnya.
"Terima kasih sudah jaga dia," kata Adrian ke Wukong, pelan, dengan nada yang tidak ditujukan untuk didengar siapapun selain Wukong.
Wukong mencicit satu kali.
Pendek. Hangat.
Kemudian mengambil rantingnya kembali, menyelipkannya di balik telinga, dan melompat ke pundak Rio dengan sangat kasual seolah momen tiga detik itu tidak pernah terjadi.
Rio tidak berkomentar.
Ada hal-hal yang lebih baik tidak dikomentari.
---
Pukul tujuh kurang sepuluh Rio berdiri, mengambil tas sekolahnya.
Adrian menatapnya dari kursi plastik. "Sekolah?"
"Iya."
"Hari ini ada apa?"
Rio berpikir sebentar. "Matematika, Biologi, sama Sejarah Dungeon yang gurunya monoton."
"Hadir semua?"
"Hadir semua." Rio menyandang tasnya. "Mode smurf harus dijaga. Kalau tiba-tiba bolos tanpa alasan jelas itu variabel yang tidak perlu."
Adrian mengangguk dengan ekspresi seseorang yang menghargai cara berpikir itu.
"Bapak di sini saja dulu," kata Rio. "Jangan keluar sebelum saya pulang. Raymond bilang radius pemindaian Hana masih aktif."
"Saya tahu cara bersembunyi."
"Bapak baru tiga hari keluar dari bawah tanah." Rio menatapnya. "Kota sudah banyak berubah."
Adrian membuka mulutnya.
Menutupnya kembali.
"Poin yang valid," akuinya.
---
Serigala berdiri di dekat pintu — posisi pengantarnya yang sudah menjadi rutinitas. Rio mengelus kepalanya sekali, singkat, cara yang juga sudah menjadi rutinitas dari keduanya tanpa pernah didiskusikan kapan mulainya.
Di lekukan bahu kirinya Abyssal Goddess Weaver berdenyut sekali — cara yang Rio terjemahkan sebagai *hati-hati* dari makhluk yang tidak punya kata-kata tapi sudah menemukan cara lain untuk menyampaikan hal-hal yang perlu disampaikan.
Rio membuka pintu.
Berhenti sebentar di ambangnya, menoleh ke belakang.
Adrian masih di kursi plastik dengan cangkir teh yang sudah hampir habis, Wukong di pundak Rio, serigala di sisi kiri, dan kamar kontrakan yang tidak pernah dirancang untuk jadi rumah siapapun tapi pagi ini terasa lebih seperti rumah dari sebelumnya.
Tidak banyak berbeda dari kemarin.
Tapi berbeda.
"Nanti saya bawakan sarapan dari kantin," kata Rio.
"Tidak perlu."
"Kulkas kosong."
Adrian melirik ke arah kulkas yang memang kosong. "Oh."
"Iya." Rio melangkah keluar. "Nanti saya bawakan."
---
Pintu menutup.
Suara langkah Rio di tangga — anak keempat, ketujuh, kesebelas yang dihindari secara otomatis — mengalir masuk dari bawah pintu selama beberapa detik sebelum menghilang.
Kamar kembali sunyi.
Adrian menatap cangkir tehnya yang sudah habis.
Kemudian menatap sekeliling kamar — kasur tipis, kursi meja belajar, rak kecil di sebelah jendela dengan kotak biola tua yang terbuka menghadap ke ruangan, langit-langit yang retak di sudut kiri atas.
Ruangan yang sangat biasa.
Yang sudah cukup lama ditinggali seorang remaja berambut acak-acakan sendirian sampai dindingnya menyerap sesuatu dari kehadiran itu dan menyimpannya di cara cahaya masuk dan cara angin bergerak dan cara keheningannya terasa berbeda dari keheningan tempat yang kosong.
Adrian meletakkan cangkirnya.
Berdiri dari kursi plastik dengan lutut yang masih tidak kooperatif, berjalan ke jendela, dan menatap gang sempit di bawah yang sudah mulai ramai dengan suara pagi.
Tiga belas tahun.
Anaknya pergi ke sekolah dengan kera di pundak dan laba-laba kosmik di bahunya dan serigala yang tinggal di kontrakan karena sudah hafal bahwa tuannya akan kembali.
Dan di kulkas yang kosong ada ruang yang cukup untuk diisi besok.
Itu sudah cukup untuk pagi ini.
Di sekolah, Kevin menerima informasi yang mengubah caranya memandang seluruh situasi ini. Bukan dari ayahnya. Dari seseorang yang tidak ia duga — dan informasi itu membuat Kevin Aditya Pratama, untuk pertama kalinya sejak ia mengenal nama Rio Albert, tidak tahu harus melakukan apa.*
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣