Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 024: Tawa dan Kebersamaan di Pesta
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aldara tampak cantik dengan gaun yang dikenakannya, tinggal menunggu kedatangan teman-temannya untuk berangkat bersama.
Tak lama kemudian, Siska, Dede Ara, dan Hafizah tiba satu per satu. Keempat gadis itu tampak mempesona dengan busana masing-masing, namun sebelum berangkat, mereka sempat duduk sejenak di sofa untuk berfoto bersama, mengabadikan momen kebersamaan yang berharga ini.
“Ngomong-ngomong Kak Dar, Kak Sheina masih belum ada kabar ya?” tanya Dede Ara tiba-tiba.
Aldara menggeleng pelan. “Belum ada sama sekali. Aku pun tidak tahu di mana dia sekarang, nomornya juga tidak bisa dihubungi,” jawabnya lemah.
“Mungkin dia memang butuh waktu sendiri untuk menenangkan hati. Apalagi luka yang ditimbulkan Mondol sangat dalam,” timpal Hafizah bijak.
“Benar juga katamu. Mondol benar-benar sudah keterlaluan,” ucap Aldara setuju.
“Ayo berangkat sekarang, nanti kita terlambat,” ajak Siska.
Mereka pun berangkat bersama menggunakan mobil milik Hafizah. Sesampainya di lokasi pesta ulang tahun teman mereka, mereka menyampaikan ucapan selamat dan menyerahkan kado yang sudah disiapkan.
Tak lama kemudian, Abang Chepot datang bersama Anha, membuat suasana makin meriah.
“Cie Abang, selalu saja berduaan sampai melupakan kami,” ledek Aldara sambil berwajah cemberut, yang langsung disambut tawa teman-temannya.
“Kamu saja begitu, kalau Aries ada di sisimu, Abang pun pasti sudah dilupakan,” balas Abang Chepot tak mau kalah.
“Kecuali aku ya Bang! Meski punya pacar, aku tetap selalu luangkan waktu buat kalian semua,” seru Dede Ara dengan bangga.
“Aku juga begitu, Bang,” timpal Hafizah.
“Ya sudah, terserah kalian saja,” jawab Abang Chepot sambil tersenyum pasrah.
“Anha, ikutlah duduk bersama kami, jangan terus menempel pada Abang,” ajak Siska sambil menarik tangan Anha. Anha tampak sedikit canggung karena belum terlalu akrab dengan teman-teman yang lain, namun ia tetap mengangguk patuh.
“Jagain dia baik-baik ya, jangan sampai ada yang mengganggunya,” pesan Abang Chepot sambil tersenyum hangat.
Di meja yang lain, kelima gadis itu asyik mengobrol, mulai dari hal sepele hingga pembahasan soal pasangan masing-masing. Dede Ara tak henti bercerita, sementara Hafizah dan Anha sesekali ikut menimpali.
“Kalian tahu tidak?” tanya Dede Ara tiba-tiba dengan wajah serius.
“Tahu apa? Kamu belum cerita saja, mana kami tahu,” jawab Aldara sambil tertawa.
“Benar kata Kak Aldara, ceritakan dulu baru kami tanggapi,” timpal Siska.
“Kemarin aku bertemu seseorang, lho. Aneh sekali, dia berani mengajakku pacaran dan minta aku menjadi pacar keduanya,” cerita Dede Ara dengan wajah imutnya.
“Terus kamu jawab apa? Terima atau tolak?” tanya Hafizah penasaran.
“Tentu saja ditolak! Aku bukan barang yang bisa dibagi dua. Lagian ke mana Hiken kalau aku terima?” jawab Dede Ara mantap.
“Buang saja ke laut Dede,” seru Aldara dan Siska bersamaan.
Dede Ara langsung cemberut. “Kalian ini aneh sekali. Masa Hiken mau dibuang ke laut, jadi santapan ikan hiu nanti!”
Mereka pun tertawa lepas hingga menarik perhatian Abang Chepot. Ia pun berjalan mendekat. “Hei, apa yang kalian obrolkan sampai tertawa sekeras itu?” tanyanya penasaran.
Dede Ara tersenyum jahil. “Tadi Anha bilang, kalau Punya Abang kecil dan berkerut,” katanya santai.
Wajah Anha seketika memerah dan panik. “Aku tidak bilang begitu, sayang! Dia mengarang saja!” tunjuknya pada Dede Ara.
Abang Chepot hanya tertawa kecil sambil mengelus kepala kekasihnya. “Sudah sayang, jangan pedulikan omongannya. Dia memang suka begitu kalau sedang bercanda.”
Malam pun berjalan menyenangkan, hingga perlahan tamu mulai pulang satu per satu. Mereka pun berpamitan dan berjanji untuk bertemu lagi di lain waktu.