NovelToon NovelToon
Si Kembar Yang Mengulang Waktu

Si Kembar Yang Mengulang Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:16.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.

Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.

Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.

"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

"Ambillah uang ini duluan. Belikan pakaian layak, perlengkapan istirahat yang nyaman, serta obat dan penambah tenaga untuk adikmu. Jangan biarkan kondisinya makin memburuk. Nanti kalau dia sudah pulih, kau boleh ikut denganku."

Dalam hati Seina bertekad: dia akan tetap berbisnis di masa depan, dan pasti akan membutuhkan orang kepercayaan. Kakak beradik ini bisa dia latih dengan baik untuk menjadi andalannya kelak.

Begitu mendengar kabar itu, hati Guka melonjak gembira. Kini mereka akhirnya punya tempat tinggal sendiri. Kakak beradik Seina tampak sangat tulus dan baik hati, pasti keluarga mereka pun mudah untuk bergaul.

Setelah Guka menerima uang itu, Seina menoleh ke arah Raka. "Kak, ayo kita pergi."

Raka masih tertegun kebingungan. Dia tak mengerti bagaimana adiknya bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam sekejap dan tindakan itu, tak pelakunya, terasa seperti penipuan baginya.

"Seina... Seina..." panggil Seina tiga kali sebelum Raka tersadar dari lamunannya.

"Kenapa, Na?"

"Ayo jalan sekarang."

"Baiklah."

Di tengah perjalanan, saat mereka tiba di jalan yang sepi, Raka tak sanggup lagi menahan rasa gelisahnya. "Seina... bagaimana bisa kau menipu orang dan mengambil harta mereka?"

Seina tertegun sejenak. Ternyata kakaknya salah paham, mengira dia berbuat curang.

"Kak, dia punya harta yang berlimpah. Apa salahnya aku meminjam sedikit saja?"

Lagipula, dia adalah paman dari Arga, kakak kelimanya. Batin Seina menambahkan: di kehidupan yang lalu, dia bahkan sering memanfaatkan Arga, berulang kali mengambil hak miliknya. Uang ini pantas dianggap sebagai ganti ruginya saja.

"Tetap saja tidak boleh! Bagaimana jika dia tahu itu kau yang melakukannya? Kau bisa celaka, tahu? Aku, Niko, Damar, Galang, maupun Arga pasti akan sangat khawatir padamu."

"Aku mengerti, Kak. Aku tidak akan melakukannya lagi."

Melihat Seina mengakui kesalahannya dengan sikap yang baik, Raka tak lagi menegurnya. Namun hatinya tetap gelisah—kejadian hari ini terasa tidak sederhana. Jelas sekali ketiga orang itu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Jika mereka tahu pelakunya adalah Seina, adiknya pasti akan terancam bahaya. Dia harus menjaga adiknya sekuat tenaga.

"Kak, ini untukmu."

Seina menyerahkan semua uang yang diperolehnya dari Tuan Muda Adrian hari itu—kecuali dua puluh tael untuk Guka dan adik perempuannya—sisanya seratus delapan puluh tael diserahkan kepada Raka.

Raka terbelalak. "Seina, kau tahu berapa banyak perak ini?" Hatinya terenyuh karena adiknya memberikannya tanpa ragu sedikitpun.

"Aku tahu, Kak. Ini seratus delapan puluh tael."

"Lalu tahukah kau apa yang bisa dibeli dengan uang sebanyak ini? Seratus delapan puluh tael bahkan cukup untuk membeli sebuah pekarangan kecil yang lokasinya bagus di Kota ini."

Sebuah keluarga biasa hampir tak sanggup menabung beberapa tael dalam setahun. Seorang buruh kasar di kota pun hanya mendapat satu tael per bulan.

"Simpanlah ini untuk Ibu Mira, biar dia menabungnya untuk mas kawinmu nanti."

Dia laki-laki yang kuat, tak mungkin menghabiskan uang hasil jerih payah adiknya untuk hal yang tak berguna. Sejak menghabiskan waktu bersama, dia sudah menganggap Seina sebagai adik kandungnya sendiri.

Melihat Raka ragu, Seina kembali berkata: "Kak, aku masih kecil. Masih terlalu dini untuk memikirkan pernikahan. Aku tahu kau selalu ingin berbisnis dan mengubah nasib keluarga, tapi kau tak punya modal. Mengapa tidak kau pakai uang ini saja? Nanti kalau kau sudah sukses, kau bisa siapkan mas kawin yang lebih banyak untukku."

Raka tertegun. Ternyata adiknya sangat memahami isi hatinya. Tapi... mengapa kadang bicara dan bersikapnya seperti orang dewasa? Sama sekali tak seperti anak enam tahun. Apakah dia terlalu berlebihan memikirkannya?

"Ambil saja, Kak. Kalau aku yang pegang, nanti kalau ada orang jahat bisa dirampas."

Seina menyodorkan perak itu ke tangan Raka.

Raka berpikir sejenak, apa yang dikatakan adiknya benar. Dia pun menerimanya. "Baiklah. Nanti akan kutukarkan uang kertas ini menjadi uang receh sebagian, supaya kau punya uang saku sehari-hari."

Seina tersenyum lebar. "Terima kasih, Kak."

Melihat Seina gembira, hati Raka pun ikut senang. Ternyata adik perempuannya ini tidak merepotkan sama sekali. Jauh lebih baik daripada keempat adik laki-lakinya.

"Kak, sebaiknya apa yang terjadi hari ini jangan kita ceritakan pada Ibu Mira. Biar dia tidak cemas."

"Baik, Na. Kakak akan menuruti perkataanmu."

Raka berjanji dalam hati: dia akan diam-diam mencari peluang usaha yang menguntungkan, dan akan mengembalikan uang itu berkali-kali lipat.

Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, hingga tanpa sadar tiba di kediaman Xie. Penjaga pintu yang melihat Raka datang kembali langsung memperingatkan:

"Nak, Ibu Mira memang orang yang baik, dan kami semua menghormatinya. Tapi tolong jangan persulit kami, ya? Tuan rumah sudah berpesan, kalau kau datang lagi, kami harus mengusirmu. Kalau tidak, kami yang akan dihukum."

Raka mengerutkan kening, menahan amarahnya. Kalau bukan karena kasihan pada penjaga pintu itu, pasti sudah lama dia masuk memaksa.

Seina tersenyum tenang. "Paman, kami tidak bermaksud menyulitkan Paman. Kami datang bukan untuk menuntut upah Ibu Mira. Ada hal lain yang ingin kami sampaikan pada Nona Cicilia, tolong sampaikan dulu ya."

Penjaga pintu sebenarnya sudah mendengar kabar soal masalah Ibu Mira. Apakah keluarga mereka akhirnya setuju untuk melayani Nenek Tua itu? Dia tak berani menunda, lalu segera masuk melapor.

Tak lama kemudian, Cicilia keluar. Melihat Seina dan seorang pemuda, dia langsung tersenyum lebar:

"Wah, adik kecil. Apa kau merindukan Kakak?"

Seina menjawab sambil tersenyum: "Iya, Kak. Senang sekali bisa bertemu Kakak lagi. Sayang sekali Ibu Mira sakit karena kelelahan bekerja, jadi tidak bisa datang lagi ke sini. Aku khawatir nanti susah bertemu Kakak."

Mendengar Ibu Mira benar-benar sakit, hati Cicilia diam-diam senang. Itu akibat dari sikapnya yang tak tahu berterima kasih. Tapi saat bertatapan dengan senyum Seina, dia tiba-tiba merasa tidak enak hati. Dia menggelengkan kepala—masa dia takut pada anak kecil?

Dia pun berpura-pura sedih: "Ya ampun, kenapa Ibu Mira bisa sakit? Padahal sudah kubilang jangan memaksakan diri mengerjakan pekerjaan berat, tapi dia tak mau mendengar. Kasihan sekali..."

"Benar, Kak. Ibu Mira berpesan, kalau nanti sudah sembuh, dia bersedia melayani Nenek Tua."

Cicilia merasa bangga dalam hati. Seandainya saja dia tahu akan begini hasilnya, pasti sudah lama dia menyetujuinya.

"Kak, bisakah Kakak minta bendahara menyelesaikan upah Ibu Mira dulu? Lagipula, Ibu Mira jatuh sakit karena bekerja keras di sini. Uangnya akan kami pakai untuk biaya berobat dan beli penambah tenaga."

Hati Cicilia waspada. Benar saja, mereka datang bukan tanpa alasan. Tapi Ibu Mira masih berguna, jadi dia tak boleh membuat mereka kesal sekarang.

Dia tampak serba salah: "Bukan Kakak tak mau menolong. Aku juga sedih mendengar Ibu Mira sakit kelelahan. Tapi sekarang yang memegang kendali adalah Nyonya Besar. Aku hanya dekat dengan Nenek Tua, tak punya kuasa menentukan hal begini."

"Tapi kalau Ibu Mira benar-benar setuju melayani Nenek Tua, aku bisa mencoba membujuknya."

Cicilia tersenyum puas melihat reaksi mereka—namun anehnya, sama sekali tak ada tanda panik sedikitpun dari wajah kakak beradik itu.

Seina melangkah mendekat, lalu berbisik pelan:

"Aku tahu Kakak pasti punya jalan keluar. Kalau keluarga Sia memang tak mau membayar, tak apa. Lagipula kami tak punya uang untuk mengobati Ibu Mira."

"Kalau begitu, kami akan duduk saja di depan pintu rumah ini. Biar orang-orang yang lewat menilai sendiri. Keluarga Sia memanfaatkan kekuasaan untuk menindas rakyat kecil. Upah pun tak dibayar, hingga Ibu Mira tersiksa sampai jatuh sakit..."

1
Sekar
lanjut thor💪💪😍😍
Nur baity Al hanan ♍
terlalu banyak typo nya
🙏🙏🙏🙏
koreksi lagi kak buat ketikan nya
jadi bingung anata sora atau seina yang sudah masuk ke keluarga yohan itu...
💪💪💪💪💪🤭
shinobu
lanjut min ceritanya bagus min
suryati pendi
bagus bgt biar ga iri ama nasib saudara sendiri
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
ah bagaimana agaknya rupawan mc ya Thor 💓
Dewi Habibah
lanjut 😍
Dewi Habibah
bagus ceritanya
Sri Rejeki rahayu
bagus .itulah arti sebuah keluarga sesungguhnya .saling membantu .oh ya aku menumpang promosi 2 cerita takdir yg direnggut da transmigrasi .mungkin awalnya jelek tp bacalah sampai setengahnya bagus apa tidaknya itu terserah kalin .dan juga aku baru pertama kali menulisnya .maaf kalau ada salah kata mohon dimaklumi ya.trims banyak🙏
Sekar
bukanya keluarga sia ya?
aku
🌹 semangat tor 💪🏻
aku
jangan ditebas dulu kepala livia ya adrian, bikin ngesot gk bisa jalan aja klo dy nurutin usulan kk sm ortunya 😁😁 sekalian anak kedua yg usul bkin cacat. jadika rakyat jelata kluarga sia 🤣🤣 seru 🤣🤣
seno
karya nya bagus
cerita nya juga seru
aku
tor 😭 typo masih 😌
aku
pratama tor 😭 kukira aq salah baca ternyata typo 😭😭
aku
gk jd putri kesayangan malah bru ktemu dh jd target permusuhan 🤣
aku
seina apa sora 😭😭 alamak bingung 😌😁
Sekar
ckckck dasar pickme
Sekar
lanjut thor💪💪
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wajahnya mc seperti apa ya Thor! 🍯
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
kali ini aku ajkan baca perlahan perlahan 💓
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!