"Kau takkan bisa lepas dariku, Diana. Sampai kapanpun kau akan tetap bersamaku, selamanya."
Sesosok pria asing datang dan mengatakan hal itu padaku. Tidak hanya itu, dia juga memiliki kekuatan layaknya karakter fantasi. Aku yang hanya manusia biasa hanya bisa apa? Apa yang harus kuperbuat untuk menyingkirkan stalker ini?
.
.
.
Publish: 20 Januari 2021
>Diperkenankan komentar positive
>Yang mau saling dukung dimohon like dari bab akhir, ya. Sekian terima kasih :))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ItsMeMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WIH #34
Happy Reading!
Rico dan Key beriringan mengekori jejak langkah Diana dan teman-temannya dengan perasaan datar. Tidak seperti Sky dan Eve yang heboh akan kemodernan sekitar dengan kata "wow" yang terus keluar dari mulut mereka.
"Wow, semua yang ada di sini sangat menakjubkan, Eve. Aku jadi ingin membawa banyak barang untuk Yang Mulia dan juga koleksi di istana Blaxland." Sky menatap lekat setiap benda yang ia lintasi.
"Hm, ide bagus." Eve berpikir sejenak, "tapi, tidak!"
Mendapat tukasan kawannya, Sky menoleh dengan alis tertaut, "kenapa begitu?"
"Tentu saja karena istana Blaxland bukan milikmu," balas Eve dengan wajah kesal atas lontaran pertanyaan konyol temannya.
Dari belakang, Rico menatap heran ke dua orang itu yang terus berdecak kagum, "pst, sebenarnya mereka ini darimana sih?" bisik Rico tanpa mengalihkan pandangannya dari Sky dan Eve.
"Sudah pasti mereka berasal dari dunia lain, Rico. Lebih tepatnya sebuah kerajaan."
"Jadi maksudmu, kita juga berasal dari dunia yang sama?" kali ini Rico membawa pandangannya pada lelaki yang berjalan beriringan dengannya, "kita 'kan juga memiliki kekuatan seperti mereka."
"Ya, jika dipikir berdasarkan logika, kita juga berasal dari kerajaan."
"Kalau begitu, dimana istana kita? Dan dimana dunia yang kau maksud?" Rico mulai digerayangi banyak pertanyaan.
Key tersenyum simpul, "aku juga tidak tahu. Tapi, jika disesuaikan dengan keadaan sekarang. Ucapanku masuk akal, bukan? Kita memiliki kekuatan seperti mereka, dan tentunya kita sebangsa dengan mereka ..." raut Key berubah serius, "... ya, sebangsa namun di wilayah yang berbeda."
"Sebenarnya, aku masih memiliki segudang pertanyaan, Key. Dan diantara semua itu, ada yang paling ingin aku ketahui."
"Coba katakan."
"Apa yang membuat kita hilang ingatan? Jika mereka dan orang yang mengaku sebagai suami Diana kemari hanya untuk Diana, maka ... apa yang terjadi pada Diana sebelumnya?" dialog Rico terjeda ketika benaknya terlintas sebuah dialog.
"Dengar, aku tidak tahu sudah seberapa banyak ingatanmu pulih. Tapi suatu saat, kau akan mengetahui siapa Diana dan kami sebenarnya. Maka dari itu, lebih baik kau mundur sebelum hal buruk terjadi padamu."
"Dan siapa sosok Diana yang sebenarnya?"
"Oh, hey! Bagaimana jika kita mengisi perut dahulu sebelum menonton bioskop?" Renungan Rico seketika pecah oleh suara Leora yang menoleh ke belakang. Diana yang turut mengikuti arah pandang sahabatnya membatin, "sepertinya suasana di belakang tidak enak, ya?"
"Ya, lebih baik kita makan dahulu saja," setuju Rico, "ayo ikut aku, aku tahu dimana restoran yang sangat enak."
.
.
.
.
Sesaat kemudian, tibalah mereka di sebuah tempat makan dengan desain klasik dan pencahayaan yang sedikit temaram. Kedatangan mereka pun disambut ramah oleh seorang pelayan yang menuntunnya ke sebuah meja yang berbentuk lingkaran.
Sky yang sejak tadi sigap di dekat Diana bergegas menempati kursi di sisi ratunya, namun Rico dengan cekatan menahan kursi tersebut hingga tercipta pertengkaran kecil diantara mereka. Sebelum orang-orang di sekitarnya menaruh curiga, Key menengahkan dirinya menghadap Rico sebagai pagar bagi pangerannya.
Dan kali ini adalah kemenangan Rico. Sky yang tak berkutik hanya bisa diam membendung amarah ketika Key dengan santainya menduduki kursi di samping Rico yang tersenyum kemenangan.
"Sky, kau tidak duduk?" tawar Clair yang diikuti pandangan Diana, Leora dan Eve yang sudah menempati masing-masing kursi.
"Mampus kau, sialan," batin Rico tanpa membenamkan senyum tipisnya.
Diana yang melihat keterdiaman Sky hanya membatin, "pasti sesuatu baru saja terjadi di antara mereka."
"Ahahaha, tentu saja aku akan duduk." Sky tertawa kaku seraya menghampiri kursi kosong di sisi Eve, "tadi aku hanya melihat-lihat saja." pandangan Sky mengedar, "hm, desain yang bagus dan cocok untuk seleraku," tambahnya sembari menempati kursinya.
"Cih, sialan ... seharusnya aku bisa menang!" Sky melirik tajam Rico di seberangnya yang tersenyum mengejek.
Tuk! Eve menyenggol kaki Sky dengan sepatunya, "tenanglah, anggap saja ini ujian, jadi kita punya remidial untuk memperbaikinya," bisiknya.
"Tapi, kita harus selalu menang, Eve. Kita tidak boleh kalah dari mereka sedikitpun--"
"Sstt! Sudah! Toh, kita masih punya banyak waktu dan kesempatan untuk menyingkirkannya," potong Eve dengan dahi mengernyit.
"Baik-baik, menjauhlah, kau membuat telingaku geli dengan desisanmu." Sky mengusap daun telinganya yang dibalas senggolan kesal oleh lawan bicaranya.
"Permisi, ini menunya." Seorang pelayan datang menyerahkan beberapa menu.
Kepala Eve dan Sky perlahan menunduk, mengikuti barisan nama beserta potret makanan yang terlampir di sana.
"Semuanya enak, sepertinya aku mau semua."
Pletak!
Lagi-lagi Sky memperoleh pukulan di belakang kepalanya yang mengharuskan ia mengusap rasa rakit yang menjalar di sana.
"Yang benar saja! Lihat harganya! Kau ingin meledakkan perutmu dengan semua makanan ini? Jadilah babi saja, pekerjaannya hanya makan dan tidur."
"Jahat ... hiks ..." Sky menangis dibuat-buat.
"Sepertinya Rico sengaja membawa kita ke tempat yang mahal, Sky." Eve memicing ke arah Rico yang sibuk memilah menu makanan, "pilihlah makanan yang termurah. Ah, maksudku yang murah tapi jangan terlalu murah."
"Siap, pak tua."
Sesaat kemudian, pelayan melenggang pergi dengan catatan masakan yang mereka pesan. Tak butuh waktu lama, satu persatu dari mereka mulai mengeluarkan ponsel masing-masing dan tenggelam dalam kesibukannya. Berbeda dengan Sky dan Eve yang hanya memandangi mereka dengan tangan kosong.
"Eve, aku tidak nyaman di sini. Mereka semua memiliki monsel, bagaimana dengan kita?" suara Sky berdengung di kepala Eve yang dibalas dengusan kasar.
"Eve, Sky!" panggil Clair, "aku belum menyimpan kontak kalian, bisa share nomor HPnya?"
"Oh, oh, aku juga!" sahut Leora.
"Kontak? Nomor HP?" ulang Sky.
"Iya ..." jawab Clair dengan sedikit heran.
Melihat benda yang dua gadis itu genggam, seketika pikiran Eve tercurahkan, "ah ... maksudmu monsel? Em, m-monselku dan Eve tertinggal di rumah."
Hening.
Raut wajah Clair dan Leora yang membeku seakan memberitahu Sky bahwa waktu telah berhenti. Diana, Rico dan Key yang mendapat jawaban Sky turut membisu layaknya ukiran patung. Memperoleh keheningan dan tatapan yang terpaku pada Sky, pria itu tersenyum kaku seraya menyenggol kaki Eve dengan sepatunya.
"Eve, apa aku salah bicara?"
Eve menoleh perlahan pada pria di sisinya yang diikuti gelengan pelan nan tak yakin.
"Gawat, sepertinya aku salah mengeja nama benda itu."
"APA?!" sahut Sky yang membaca pikiran pikiran Eve dengan mata mendelik.
Cukup lama kesenyapan berlangsung, hingga tawa renyah Clair dan Leora mengudara, mengukir tanda tanya yang begitu besar di wajah dua pria itu. Tidak hanya mereka, namun Rico dan Key pun turut menyumbang tawa.
"Apa, Sky? Kau tadi bilang apa?" Clair berucap di sela tawanya.
"Lelucon bagus, Sky. Yang kutahu monsel itu monumen kapal selam. Eh, lebih tepatnya Monkasel, sih," sahut Leora dengan jejak tawa di wajahnya.
Rico meredam tawa mengejeknya tanpa mengusik ekspresi remehnya pada Sky, "ck ck ck ... sesempit apa sih pengetahuanmu? Anak kecil saja tahu apa itu ponsel, begitu juga dengan cara penggunaannya. Biar kutebak ..." Rico mencondongkan tubuhnya, "kau tidak berasal dari dunia ini, 'kan?"
...WHO IS HE?...
...to be continue ......
like dan fav uda mendarat.
salam dari "Pernikahan impian."
makasih😁😁
saling support yaa 🙏