NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.

​Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

"De'ela, anak Mama... Masuk, Sayang," ucapku lembut sembari menuntun lengan mungilnya masuk ke dalam kamar.

​"Mama kenapa lama sekali buka pintu? Aku tunggu dari tadi! Lama banget Mama ini," protes Jayan dengan bibir mengerucut, wajahnya tampak kesal karena merasa diabaikan.

​Aku langsung berjongkok di hadapannya, mencoba meredam amarah bocah kecil itu. "Maafkan Mama, iye, Nak. Tadi Mama habis luluran, terus Bapak juga bantu Mama balur di punggung. Tidak bisa Mama pakai sendiri," ucapku dengan wajah memelas yang dibuat-buat agar dia luluh.

​Mendengar alasan itu, Jayan akhirnya mengangguk paham. Detik berikutnya, matanya berbinar girang begitu menangkap sosok Jalal yang duduk di tepi kasur. Dia langsung berlari kencang dan menghambur ke dalam pelukan hangat ayahnya.

​"Bapak... Bapak, aku mau lihat pasar malam!" rengek Jayan sembari menggoyang-goyangkan lengan kokoh Jalal.

​"Pasar malam? Di mana, Nak?" tanya Jalal kebingungan. Maklum, sebagai orang kota, dia belum akrab dengan hiburan rakyat di daerah sini.

​Aku tersenyum tipis melihat kebingungannya, lalu berjalan menuju jemuran dalam kamar untuk mengambil handuk mandi. "Di kecamatan, Pak, daerah Lapuko. Kebetulan lagi ada pasar malam di sana. Dari kemarin-kemarin ini anak sudah ribut terus minta ke sana. Hanya saja kami tidak bisa pergi, motor yang bagus di rumah cuma ada dua, itu pun sudah dipakai sama adik-adikku untuk membonceng pacar mereka keluar," ucapku menjelaskan dengan nada santai.

​Aku kembali mendekati Jayan, lalu mengelus gemas puncak kepalanya. "Mama mandi dulu, nah? Sebentar kalau Om Andra atau Om Andri tidak pakai motornya keluar, kita pergi ke pasar malam."

​Jayan mengangguk lesu, meskipun matanya masih menyiratkan harapan besar. Aku kemudian mengalihkan pandanganku pada Jalal yang juga sedang menatapku. "Pak, saya mandi dulu!" izin belitku.

​Jalal mengangguk pelan sembari melemparkan senyuman tipis yang sarat arti.

​Aku segera melangkah santai keluar kamar menuju kamar mandi yang terletak di area belakang dekat dapur. Namun, langkah kakiku mendadak terhenti dan mataku membelalak terkejut begitu sampai di dapur. Di sana, Bapakku rupanya sudah duduk tenang di kursi sembari fokus bermain ponselnya. Beliau sudah terlihat segar dan bersih sehabis mandi.

​"Heh! Kapan kita pulang, Pak?" tanyaku kaget setengah mati, refleks menggunakan dialek lokal saking syoknya.

​Bapak mendongak, menatapku datar dari balik ponselnya. "Baru-baru saya pulang... Ada suamimu di kamar depan kah?" jawabnya sekaligus balik bertanya dengan nada suara yang tenang namun berwibawa.

​"Iye, dia ada di dalam sedang menggendong Jayan... Huh, saya mau mandi pale kalau begitu," sahutku gugup, buru-buru melipis masuk ke dalam kamar mandi sebelum Bapak mulai menginterogasiku lebih jauh.

••••••••••••••

​"Apa anak Bapak ingin sekali pergi ke pasar malam?" tanya Jalal dengan suara yang teramat lembut.

​Jayan mengangguk lesu dengan bibir mengerucut.

​"Hmm, baiklah. Kalau begitu, malam ini kita pergi. Kita ajak sekalian Mama, Nenek, sama Kakek ya!" ucap Jalal memberi kejutan.

​Mendengar itu, Jayan langsung kegirangan. Rasa kantuk dan lesunya hilang seketika, berganti dengan pekikan ceria sebelum bocah kecil itu langsung memeluk leher bapanya dengan sangat erat.

​"Mamanya Yas...! Buatkan pi kasihan kita makanan..."

​Tiba-tiba saja suara teriakan berat khas pria paruh baya menggema dari arah ruang tengah. Suara itu seketika mengejutkan Jalal yang masih terduduk di tepi kasur usang.

​"Suara siapa itu, Nak?" tanya Jalal, menatap putratnya ragu.

​"Itu Kakek! Kakek sudah pulang dari kebun. Bapak, sinimi kita keluar," jawab Jayan tangkas. Bocah kecil itu lantas menarik-narik lengan kekar ayahnya, memaksa untuk segera keluar kamar.

​Seketika itu juga kegelisahan melanda benak Jalal. Jantungnya berdegup kencang karena ini adalah kali pertama dia akan berhadapan langsung dengan ayah kandung Yasita. Namun, setelah memantapkan hati dan menarik napas panjang, pria matang itu akhirnya melangkah pasrah mengikuti tarikan tangan anaknya.

​Klek.

​Bunyi pintu kamar yang dibuka cukup nyaring itu seketika membuat Pak Jasman, yang sedang asyik bermain ponsel, menengokkan kepalanya. Beliau memperhatikan dengan lekat sosok pria berbadan tegap yang baru saja keluar dari kamar anaknya.

​Sebenarnya, selama tiga tahun belakangan ini, semenjak Yasita pulang ke kampung dalam keadaan mengandung Jayan, putrinya itu tidak pernah sekalipun menceritakan hal buruk tentang Jalal. Yasita hanya bercerita bahwa dia dinikahi oleh seorang pria yang istrinya sedang sakit keras. Namun, karena suatu kekesalan dan kesalahpahaman, Yasita akhirnya memilih pergi.

​Di dalam lubuk hatinya, Pak Jasman membatin, 'Mungkin pria ini jauh-jauh menyusul anakku karena dia memang benar-benar mencintainya...'

​"Pak, baru pulang, ya?" sapa Jalal dengan nada sangat ramah.

​Jalal melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangannya untuk menyalimi tangan Pak Jasman dengan takzim. Langkah berani Jalal seketika membuat senyum Pak Jasman terbit. Beliau tidak menyangka pria kota yang kelihatan kaya raya ini akan menaruh hormat yang begitu besar dan mau mencium tangannya, mengingat usia mereka yang sebenarnya tidak terpaut terlalu jauh.

​"Iye, baru-baru saya pulang dari kebun... Kapan datang, Mas?" tanya Pak Jasman hangat, menyambut jabat tangan menantunya.

​"Tadi pagi, Pak," jawab Jalal sopan, lalu ikut duduk di kursi kayu terdekat. "Bapak tanam nilam, ya?" tanya Jalal memancing obrolan.

​Pak Jasman membuka kacamata bacanya, lalu mengangguk penuh semangat. "Iye, tanam. Sementara ini saya juga ada panen..." jawab beliau.

​"Wah, bagus itu, Pak. Rencananya mau disuling di mana hasil panennya?" tanya Jalal lagi.

​Pak Jasman mendesah pelan lalu menggelengkan kepalanya pasrah. "Kurang tahu juga ini... Soalnya tempat penyulingan di daerah sini jauh-jauh. Belum lagi harga minyak nilam sekarang hanya 850 ribu satu kilonya. Itu pun belum dipotong uang sewa menyuling dan biaya transportasi untuk membawa nilamnya ke sana..." keluh Pak Jasman sembari mengembuskan napas berat.

​Mendengar keluhan mertuanya, Jalal tersenyum penuh arti. Jiwa bisnisnya langsung bergejolak. "Pak, maukah saya kasih peluang?" ucap Jalal, yang saking mulai terbawa suasana hangat, refleks mencoba menyelipkan logat Tolaki yang baru didengarnya.

​Pak Jasman mengerutkan jidatnya, menatap Jalal seolah bertanya peluang apa yang dimaksud.

​"Saya ini kan pengusaha, Pak. Hampir semua bidang industri saya kerjakan untuk investasi. Mulai dari aksesori, pakaian, makanan, sampai minyak wewangian atau parfum pun saya jual," ucap Jalal ringan namun berbobot.

​Pak Jasman mengangguk-angguk, tatapan kagum mulai terpancar jelas dari sepasang matanya untuk pria di depannya ini.

​"Eee... bagaimana kalau saya buatkan Bapak tempat penyulingan sendiri di sini? Jadi nanti kalau ada warga lain yang menyuling, nilamnya bisa langsung dijual sama saya. Setahu saya, harga minyak nilam di pasaran luar sekarang sudah tembus satu jutaan, Pak," ucap Jalal santai.

​Pak Jasman seketika membelalakkan matanya tidak percaya. "Apa?! Satu juta? Tapi kenapa kabar yang beredar di sini harganya hanya kisaran 700 sampai 800 ribu saja?" tanya Pak Jasman kaget luar biasa.

​"Iya, Pak. Mereka yang membeli di sini kan tengkulak. Sudah biasa memang kalau mereka suka memainkan harga bawah untuk cari untung banyak. Kalau Bapak mau saya buatkan tempat suling sendiri, lumayan itu untungnya. Uang sewa nyulingnya saja kalau satu kali menyuling bisa dapat 600 ribu," jelas Jalal lagi dengan raut wajah serius.

​Pak Jasman seketika tertawa girang. Beliau mengangguk-angguk cepat pertanda setuju dan menerima tawaran menggiurkan itu dengan tangan terbuka. Rasa canggung di antara mertua dan menantu itu mendadak menguap begitu saja.

​"Lagi pada bicarakan apa ini? Seru sekali kelihatannya," tegur Mama Yasita yang baru saja berjalan pelan dari arah dapur menuju ruang tengah, penasaran melihat mertua dan menantu itu sudah asyik bercerita.

​Jalal hanya melemparkan senyuman sopan, sedangkan Pak Jasman terkekeh renyah menanggapi pertanyaan istrinya yang kepo setengah mati.

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
semangat kk cantik 👌 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
cepat sehat yaa KK cantik 😍 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cepat pulih y Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!