Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.
Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.
Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liam, Si Pria Aneh
Setelah menyelesaikan sesi mandi, Yura segera bergegas menuju dapur untuk sarapan. Selama dikota, Ia telah terbiasa sarapan setiap hari.
Disana sudah ada nenek dan Ibu Rosa yang juga sedang menyantap sarapan pagi mereka. Terlihat senyum manis sang nenek yang melambaikan tangannya untuk menyuruh Yura mendekat.
"sayang, nanti ke sekolahnya sama nenek ya? "
Tangan tua nya begitu cekatan menggeser roti dan menuang susu kedalam gelas dihadapannya. Ia membelai rambut Yura dengan penuh kasih sayang.
"bu, aku saja deh yang antar, biar sekalian pulang" sahut Rosa yang ternyata telah siap dengan setelannya.
Sedangkan Yura, ia kembali hanya diam, membiarkan segala sesuatu nya berjalan seperti biasa. Seperti yang telah ia jalani selama ini, diam lalu menurut.
Bahkan jika sendirian pun, itu bukanlah masalah besar untuknya. Ia sudah terbiasa mengurus dirinya sendiri ditemani oleh Steven.
"oh, kupikir kau akan menginap setidaknya beberapa hari, " canda nenek sambil terkekeh kecil.
"banyak yang harus Rosa urus bu, termasuk soal pekerjaan. "
"nanti kalau tanggal nya sudah pasti, ibu harus datang bersama Yura ya? " ucap Rosa.
Ia telah menyelesaikan sarapan nya, begitu juga dengan Yura. Kedua nya pun segera bergegas karena taksi yang tadi Rosa pesan juga sudah datang.
"baiklah-baiklah, semoga semua urusannya berjalan dengan baik dan lancar. Ibu akan usahakan datang. " Ucap nenek sembari memeluk menantu nya itu.
Terlihat gurat kesedihan yang tak bisa nenek sembunyikan didalam wajah tua nya itu. Menantu yang sejak kepergiannya tujuh belas tahun yang lalu, baru kali ini kembali lagi.
Bukan untuk menetap, melainkan hanya untuk mengantarkan putrinya, sesuai perjanjian yang telah mereka sepakati dulu.
"maafkan ibu ya nak, ibu tidak pernah membantumu dalam setiap kesulitanmu, " air mata nenek akhirnya mengalir juga. Banyak hal yang masih sangat sulit untuk ia jelaskan, membuat hubungan kedua nya jadi terasa canggung selama ini.
"tidak masalah bu, lagipula aku yang bersikeras untuk pergi waktu itu.. " ucap Rosa menenangkan.
Sedangkan Yura sejak tadi sudah duduk tenang didalam taksi. Wajah datar nya hanya memandang sendu kedua wanita beda generasi itu.
"hah, maaf ya pak, agak lama.. " seloroh Rosa pada sang supir saat dirinya telah masuk kedalam taksi.
Ia mengeluarkan kepala nya dari jendela untuk membalas lambaian tangan nenek yang berada diujung sana.
Setelah mobil melewati rumah mewah didekat gapura itu, Yura segera bersuara.
"pak, saya turun disini saja.. "
Tentu pernyataan itu langsung disambut tatapan heran oleh sang ibu. "Yura, you okay,,? "
Yura tak menjawab, melainkan langsung membuka pintu karena sang supir benar-benar menghentikan mobil nya.
Namun sebelum Yura benar-benar berhasil keluar, Rosa segera meraih tangannya. "kamu tidak dengar mama bicara ra? "
"itu halte ma, aku harus terbiasa mulai sekarang..."
Dengan keras ia menarik tangannya dari genggaman Rosa. Tanpa menoleh lagi, ia segera berjalan cepat menuju halte berharap sang ibu tak lagi menghentikannya.
Mau tak mau Rosa hanya bisa mendesah pasrah. Dengan berat hati ia kembali harus meminta tolong pada supir taksi untuk menunggu sebentar lagi sampai sang anak berhasil menaiki bis yang akan mengantarnya ke sekolah.
Rosa tahu, Yura pasti sangat membencinya. Tapi ia juga bingung harus memulai dari mana untuk menjelaskan nya.
Ia lalu membuka ponselnya dan memutuskan untuk bicara melalui ponsel saja. Sungguh hubungan yang sangat rumit untuk dimengerti.
"Ra, kamu semarah itu ya sama mama ? "
Yura yang enggan memandang Ibunya itu hanya diam namun masih mendengarkan melalui earphone yang terpasang ditelinganya.
Sesungguhnya, raut wajah datar yang selama ini Yura pasang adalah tameng. Ia hanya sedang kesepian, dan tak biasa mengungkapkan perasaanya.
Ia hanya mau terbuka pada Steven seorang saja, karena pria itulah yang bisa menembus dinding kokoh yang selama ini ia bangun.
"Ya, sekarang aku lega, akhirnya kita gak akan saling bertemu lagi. "
"pergilah ma, aku bisa mengurus diriku sendiri. Jangan biarkan supir nya menunggu lama." ucap Yura dan langsung mematikan panggilan.
Tepat setelah Yura mematikan sambungan teleponnya, panggilan dari kantor di ponsel Rosa tiba-tiba masuk.
Mau tak mau Rosa harus segera bergegas, meninggalkan sang putri yang sangat ia sayangi. Namun cara nya menunjukkan kasih sayangnya itu mungkin sedikit berbeda dari apa yang biasa orang lain lakukan sehingga membuat putrinya itu begitu membencinya.
"Maafkan mama Ra, mama tidak begitu baik" batinnya.
Yura dapat melihat taksi yang membawa sang ibu menjauh, lalu tak lama kemudian bis yang akan mengantarkan nya kesekolah sudah berhenti tepat dihadapannya.
Semalam saat membereskan barang-barangnya, Yura sudah mempelajari apa-apa saja yang perlu ia perhatikan saat didesa termasuk nomor bis yang akan membawa nya ke sekolah.
Ia segera masuk dan menempelkan kartu penumpang yang telah disiapkan oleh sang nenek, lalu duduk dikursi ketiga tepat dibelakang supir.
Mobil perlahan berjalan, bersiap membelah dinginnya suasana pagi di pedesaan. Namun tak sampai satu menit, sang supir tiba-tiba menghentikan bisnya. Ternyata masih ada satu lagi siswa yang berlari mengejar tepat dibelakang.
Ia adalaha Liam, si pria tampan dan tinggi pemilik rumah mewah didekat gapura desa. Motor yang biasa ia bawa ternyata mengalami kerusakan, sehingga dirinya harus mengejar bis sekolah.
"Tumben naik bis? " tanya sang supir basa-basi.
Liam yang masih ngos-ngosan belum bisa menjawab dengan mulutnya. Ia hanya menggerakkan tangannya dan ajaibnya sang supir mengangguk-angguk saja seolah ia mengerti.
Liam tersenyum, lalu matanya tertuju pada kursi Yang berada tepat didepan Yura. Tubuh Liam yang belum siap, segera ambruk kedepan karena sang supir sudah keburu menginjak pedal gasnya. Spontan tangannya mencengkeram keras kerah baju Yura.
Adegan itu membuat si empunya kerah langsung melotot sempurna. Bola mata nya mungkin saja akan loncat jika saja Liam tidak segera melepaskan genggaman tangan nya.
Tak lupa ia juga masih sempat merapikan kerah kemeja Yura yang sedikit kusut akibat ulah dari tangan liarnya.
"ma-maaf."
"kenapa pula harus kerah nya,? kan bisa ke kursi !!" rutuk nya didalam hati, tapi wajahnya ia paksakan senyum.
Ia juga memandangi tangannya, si pembuat onar sejati.
Liam segera duduk, takut kejadian memalukan itu terulang lagi walau kakinya harus menabrak tiang besi yang ada didepannya.
"aaw sial bangat hari ini,, " ucapnya sambil menahan rasa sakit dilututnya.
Sedangkan Yura, ia memasangkan kembali earphone yang terlepas dari telinganya, ternyata juga menjadi sasaran tangan usil pria di hadapan nya itu.
Diam-diam Liam mengambil ponselnya, memposisikan dirinya seperti sedang bercermin dilayar ponselnya.
Namun yang sebenarnya ia lakukan adalah memandangi wajah cantik Yura. Ia mengagumi kecantikan gadis itu apalagi saat angin berhembus pelan membuat rambut pendek sebahunya bergoyang-goyang.
"Sudah puas mengaguminya? "
Suara Yura yang tegas mengayun sempurna memasuki gendang telinga Liam. Sontak ia segera menurunkan ponselnya dan tersenyum lebar khas orang yang sedang tertangkap basah.
"kamu sadar rupanya, " ucapnya tanpa merasa bersalah.
"anak baru ya ? " tanya nya lagi.
Namun Yura yang terkenal dingin itu tak ingin membuang waktu nya pada hal-hal yang menurutnya tidak berguna.
Ia melengos, mengalihkan pandangan keluar jendela. Tak lupa ia juga memasang topi yang menyatu dengan hoodie yang ia kenakan.
"dasar pria aneh! " ucapnya pelan.
Perjalanan menuju sekolah menghabiskan waktu selama satu jam. Sungguh waktu yang tidak sebentar.
Bersambung...