NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Yang Dinanti

Dua minggu.

Empat belas hari telah berlalu sejak amplop cokelat itu tiba di depan pintu apartemenku. Empat belas hari yang terasa berjalan sangat lambat—seolah menjadi empat belas tahun lamanya. Setiap harinya dipenuhi dengan kesibukan mempersiapkan segalanya, rasa bahagia yang terus meluap, dan tentu saja, rasa rindu yang semakin membuncah seiring mendekatnya hari yang paling aku nantikan.

Aku telah mempersiapkan segalanya dengan sangat teliti. Seluruh ruangan apartemen aku bersihkan dari atas hingga ke sudut-sudut yang tersembunyi. Aku menyapu lantai, mengepelnya hingga mengilap, membersihkan kaca jendela agar cahaya matahari bisa masuk dengan terang, merapikan tumpukan buku di rak, mengganti sprei dan sarung bantal dengan yang baru, bahkan membeli bunga segar untuk diletakkan di atas meja ruang tamu agar suasana terasa lebih hangat dan hidup. Belanja bahan makanan pun sudah aku lakukan cukup banyak—semua yang menjadi makanan kesukaan Aldo, camilan yang sering ia nikmati, serta teh bunga chamomile yang menjadi minuman andalanku sendiri.

Tak hanya itu, aku pun sudah memilih dan menyiapkan pakaian yang akan aku kenakan untuk menjemputnya di bandara. Sebuah kebaya lengan panjang berwarna lembut seperti kulit persik, sama persis dengan yang aku pakai saat acara peluncuran novelku. Aku ingin ia melihatku sebagai diriku yang utuh, sebagai perempuan yang telah banyak belajar dan berubah menjadi lebih baik selama satu tahun terakhir menuntut ilmu di Melbourne.

Dan akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu itu pun tiba.

***

Pukul enam pagi.

Aku terbangun seketika dengan detak jantung yang sudah berpacu kencang sejak mata baru terbuka.

Semalaman aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata dengan nyenyak. Bukan karena rasa cemas atau takut yang berlebihan—setidaknya tidak sepenuhnya begitu. Namun lebih karena rasa gembira yang meluap-luap hingga tak mampu aku kendalikan. Pesawat yang membawa Aldo diperkirakan akan mendarat tepat pukul delapan pagi waktu setempat. Masih ada waktu dua jam lagi, tapi rasanya waktunya berjalan terlalu lambat.

Aku duduk di tepi kasur, menarik napas panjang dan dalam, lalu menghembuskannya perlahan berulang kali—berusaha menenangkan detak jantungku yang terasa tak karuan.

“Inilah harinya. Hari ini Aldo akan tiba di sini.”

Aku melangkah menuju kamar mandi, lalu mandi dengan air hangat yang menyejukkan tubuh. Aku berdiri cukup lama di bawah pancuran air, membiarkan alirannya membasahi seluruh tubuhku dan merilekskan otot-otot yang terasa tegang karena terlalu banyak berharap dan membayangkan pertemuan ini.

Setelah selesai bersih-bersih, aku mengenakan pakaian yang sudah aku siapkan sejak malam sebelumnya. Kebaya berwarna persik itu terasa pas di tubuhku, dipadukan dengan rok batik bermotif halus berwarna dasar hitam, serta sepatu pantofel hak rendah yang membuat langkahku tetap nyaman. Aku merias wajahku secukupnya saja—sedikit bedak agar terlihat segar, sapuan tipis lipstik berwarna merah muda alami, serta sedikit minyak rambut agar rambutku tidak terlihat kusut dan berantakan.

Saat menatap pantulan diriku di cermin, aku melihat seorang wanita muda dengan mata yang bersinar penuh harapan, pipi yang merona karena rasa gembira, dan senyum yang terukir lebar di bibir—senyum yang tak bisa aku sembunyikan meski berusaha.

“Hari ini. Hari ini Aldo akan datang.”

***

Pukul tujuh pagi.

Aku sudah siap sepenuhnya untuk berangkat.

Aku memeriksa kembali isi tas selempang yang akan aku bawa: ponsel agar tetap terhubung, dompet, kunci apartemen, serta tisu secukupnya—siap sedia untuk berjaga-jaga jika nanti air mata bahagia tak tertahankan lagi. Di tanganku, aku juga memegang selembar papan karton yang sudah aku tulisi dengan rapi menggunakan spidol berwarna-warni: “ALDO PRATAMA”. Kali ini aku membuatnya dengan penuh perhatian dan hati, jauh lebih baik dibandingkan saat-saat sebelumnya di bandara Jakarta.

Aku melangkah keluar dari kamar, mengunci pintu apartemen dengan hati-hati, lalu berjalan menuju stasiun kereta terdekat. Perjalanan dari kawasan Carlton menuju Bandara Internasional Tullamarine memakan waktu sekitar empat puluh menit jika menggunakan kereta api yang dilanjutkan dengan bus khusus bandara.

Di dalam kereta yang melaju perlahan, aku duduk di dekat jendela sambil menatap pemandangan luar yang terus berganti. Gedung-gedung tua bergaya arsitektur Victoria yang megah, taman-taman luas yang hijau dan terawat rapi, serta langit biru cerah yang bersih tanpa gumpalan awan gelap. Aku terus tersenyum sendiri, membayangkan nanti Aldo juga akan melihat pemandangan yang sama ini untuk pertama kalinya dengan matanya sendiri.

“Dia pasti akan menyukai kota ini,” gumamku dalam hati.

***

Pukul tujuh empat puluh lima pagi.

Aku tiba di area kedatangan bandara.

Seperti biasa, suasana di Bandara Tullamarine terasa ramai dan sibuk. Penumpang berlalu-lalang dengan menarik koper atau membawa ransel di punggungnya, ada keluarga yang sedang mengantar kepergian sanak saudaranya, dan ada pula orang-orang yang berdiri menunggu kedatangan orang terkasihnya dari luar negeri.

Aku melangkah masuk menuju ruang kedatangan internasional, lalu mencari tempat yang cukup strategis dan jelas terlihat. Aku memilih posisi berdiri tepat di dekat pintu keluar utama, agar aku bisa melihat setiap orang yang melangkah keluar dari ruang pemeriksaan paspor.

Jari-jariku menggenggam erat papan nama yang aku buat, terasa sedikit gemetar karena rasa haru yang semakin mendekat.

“Dia akan segera muncul sebentar lagi.”

***

Pukul delapan pagi tepat.

Di layar informasi yang tergantung tinggi di langit-langit ruangan, tertera jelas bahwa penerbangan dari Jakarta telah mendarat dan sudah mulai membuka pintu pesawatnya.

Begitu melihat tulisan itu, detak jantungku seolah berpacu dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Ada sensasi aneh namun menyenangkan di perutku, persis seperti ribuan kupu-kupu yang sedang beterbangan di dalam sana.

Mataku terus menatap lekat-lekat ke arah pintu keluar, menunggu, berharap, dan diam-diam berdoa agar pertemuan ini berjalan lancar dan indah.

Satu per satu penumpang mulai muncul dari balik pintu itu. Pertama terlihat beberapa wisatawan dengan koper besar dan topi lebar, lalu seorang pria berpakaian rapi seperti pengusaha, kemudian sekelompok mahasiswa yang terlihat akrab dan bersemangat.

Dan kemudian, di tengah kerumunan orang yang terus berjalan keluar, mataku langsung menangkap sosok yang paling aku kenal dan rindukan.

Itu Aldo.

Ia mengenakan jaket tebal berwarna biru tua—warna yang menjadi salah satu kesukaanku—dengan syal berwarna abu-abu yang melilit rapi di lehernya. Rambutnya terlihat sedikit lebih panjang dibandingkan saat terakhir kali aku melihatnya lewat layar ponsel, dan kacamata yang selalu ia pakai masih setia terpasang di pangkal hidungnya. Di tangannya menarik satu koper besar berwarna hitam, sedangkan sebuah tas ransel tergantung rapi di punggungnya.

Saat matanya bergerak memandang sekeliling ruangan, pandangannya akhirnya bertemu langsung dengan mataku.

Sesaat kemudian, senyum paling lebar dan paling cerah yang pernah aku lihat terukir di wajahnya—senyum yang membuat seluruh raut wajahnya bersinar seolah diterangi sinar matahari.

Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung berlari menerobos keramaian.

Aku berlari melewati penumpang yang baru turun, melewati orang-orang yang berdiri menunggu, dan melewati segala hal yang terasa menghalangi pandanganku. Aku berlari seolah tidak ada waktu lain yang lebih berharga selain saat ini.

Aldo pun segera membuka kedua lengannya lebar-lebar, menyambut kedatanganku.

Begitu aku cukup dekat, aku langsung menerjang masuk ke dalam pelukannya.

“ALDO!” teriakku dengan suara yang bercampur antara tangis haru dan tawa bahagia.

“TARI!” balasnya dengan suara yang sama-sama terasa emosional. Ia memelukku sangat erat, mengangkat tubuhku sedikit dari lantai, lalu memutar badanku perlahan seolah tak percaya akhirnya kami bisa bertemu secara langsung. “Aku sangat merindukanmu. Sangat sekali.”

Aku menempelkan kepalaku rapat di dadanya, mendengar detak jantungnya yang berdebar kencang dan teratur—persis seperti yang selalu aku bayangkan selama ini.

“Aku juga merindukanmu, Aldo. Lebih dari yang bisa aku katakan.”

Aldo perlahan melepaskan pelukannya sedikit, lalu menatap wajahku lekat-lekat, menyeka air mata yang membasahi pipiku dengan ujung jari-jarinya yang lembut.

“Kamu terlihat sangat cantik hari ini,” ucapnya dengan nada lembut dan tulus. “Bahkan terlihat lebih cantik dari yang aku bayangkan selama ini.”

“Aldo… jangan bicara begitu terus, nanti aku malah menangis lagi,” jawabku sambil tersenyum sederhana.

“Aku tidak bermaksud membuatmu menangis, sayang. Aku hanya mengatakan apa yang benar-benar terlihat di mataku.”

Aku mengusap sisa air mata di wajahku dengan punggung tangan, lalu meraih lengannya. “Ayo, kita pulang saja. Aku sudah menyiapkan makan siang untukmu nanti.”

Aldo mengangkat alisnya dengan ekspresi terkejut sekaligus senang. “Benarkah kamu memasak sendiri?”

“Tentu saja. Aku sudah banyak berlatih selama ini. Sekarang aku bisa membuat lebih dari sekadar roti panggang dan telur mata sapi saja,” jawabku dengan bangga.

“Wah, aku jadi tidak sabar untuk segera mencicipi hasil masakanmu,” katanya sambil tersenyum lebar.

Kami pun berjalan beriringan meninggalkan area kedatangan, bergandengan tangan erat-erat, saling tersenyum, dan merasakan kehangatan yang selama ini terpisah jarak ribuan kilometer kini akhirnya menyatu kembali.

***

Pukul sembilan tiga puluh pagi.

Kami tiba kembali di apartemenku di kawasan Carlton.

Aku membukakan pintu lebar-lebar dan mempersilakan Aldo masuk terlebih dahulu. Ia melangkah masuk perlahan, lalu matanya bergerak mengamati setiap sudut ruangan kecil yang menjadi tempat tinggalku selama satu tahun terakhir.

“Wah, ruangannya memang tidak terlalu luas,” ucapnya sambil tersenyum menilai, “tapi terasa sangat rapi, bersih, dan nyaman sekali.”

“Iya, memang kecil untuk satu orang saja,” jawabku.

Aldo menoleh menatapku, lalu tersenyum lebih lebar. “Sekarang tidak lagi untuk satu orang saja. Mulai hari ini, ruangan ini menjadi tempat tinggal untuk kita berdua.”

Aku tersenyum mendengar kalimat itu, merasakan kehangatan yang menyebar ke seluruh tubuhku. “Benar juga. Sekarang untuk kita berdua.”

Aldo meletakkan kopernya di sudut ruangan yang sudah aku siapkan, lalu melangkah mendekati jendela besar yang menghadap ke luar. Ia menatap ke pemandangan yang terbentang luas di depannya.

“Pemandangannya indah sekali,” ucapnya. “Bisa melihat langsung ke arah taman hijau yang luas itu.”

“Iya, itu salah satu alasan aku memilih tinggal di sini. Seringkali aku duduk di dekat jendela ini untuk menulis atau sekadar merenung,” jelasku.

“Jadi di sinilah tempatmu menulis semua kisah yang indah itu?” tanyanya sambil menoleh ke arahku.

“Benar. Di meja kecil itu,” jawabku sambil menunjuk ke meja kerja yang terletak tepat di samping jendela.

Aldo berjalan mendekati meja itu, lalu melirik ke arah layar laptop yang masih menyala dan terbuka di atasnya. Ia membaca perlahan beberapa kalimat yang tertera di layar.

“Dia memegang wajahku dengan kedua tangannya dan dengan lembut menghapus air mataku, dan aku membeku melihat wajah yang tujuh persepuluh mirip dengan pacarku yang baru saja aku bertengkar…”

Aldo menoleh kembali menatapku dengan tatapan penasaran namun lembut. “Apakah ini bagian dari kisah kita?”

Aku mengangguk pelan. “Ini menceritakan tentang pertemuan pertama kita yang tidak terduga itu.”

Sebuah senyum hangat dan penuh makna terukir di wajahnya. “Aku sangat menyukainya. Sangat menyukainya.”

“Tapi ceritanya belum selesai sepenuhnya, masih banyak hal yang harus ditambahkan,” tambahku.

“Tidak masalah meski belum selesai. Bagiku, setiap tulisan yang keluar dari hatimu tetaplah indah dan berharga,” ucapnya tulus.

***

Pukul dua belas siang.

Kami duduk berdampingan di meja makan sederhana, bersiap menikmati makan siang yang telah aku siapkan sejak pagi.

Menu yang aku hidangkan terbilang sederhana namun penuh makna: nasi goreng yang dimasak dengan bumbu khusus, telur mata sapi yang matang pas, serta acar timun dan wortel yang segar—makanan yang sering kali aku buat sendiri saat masih tinggal di kosan dahulu.

Aldo menyantapnya dengan lahap, sesekali mengangguk-angguk dan mengangkat jempolnya tanda puas.

“Enak sekali, Tari. Rasanya persis seperti yang aku bayangkan, bahkan lebih lezat dari itu,” ucapnya sambil mengunyah.

“Syukurlah kalau kamu suka. Aku takut rasanya tidak pas dan mengecewakanmu,” jawabku lega.

“Ini bukan soal keberuntungan atau kebetulan. Kamu memang berbakat dan pandai memasak,” puji Aldo lagi.

Aku tersenyum malu mendengar pujiannya, lalu menegurnya lembut. “Sudah, lanjutkan makannya. Nanti makanannya jadi dingin dan kurang nikmat.”

Kami pun melanjutkan makan dalam suasana yang tenang dan damai. Tidak banyak kata yang diucapkan, namun keheningan itu terasa nyaman dan hangat—persis seperti saat-saat terbaik yang pernah kami lalui bersama di Jakarta, entah itu di kafe Senjakala atau di ruang tamu apartemen kecil miliknya.

“Aldo,” panggilku pelan saat hampir selesai makan.

“Iya, sayang?” jawabnya sambil menoleh.

“Aku… aku sangat bahagia bisa melihatmu ada di sini, di ruangan ini, duduk bersamaku seperti ini.”

Aldo meletakkan sendok dan garpunya perlahan, lalu menatap mataku dengan tatapan yang dalam dan penuh kasih sayang.

“Aku pun merasa hal yang sama, Tari. Bahagia rasanya bisa akhirnya berada di sampingmu, bukan lagi hanya lewat layar ponsel.”

“Aldo, aku sangat menyayangimu.”

“Aku pun sangat menyayangimu, Tari. Sampai ke ujung bintang dan kembali lagi ke sini, seperti yang selalu aku ucapkan.”

***

Pukul tiga sore.

Setelah beristirahat sejenak dan membereskan meja makan, kami memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi kawasan Carlton.

Aku mengajak Aldo berkeliling, menunjukkan tempat-tempat yang sering aku kunjungi selama ini. Mulai dari kafe kecil tempat aku biasa minum kopi dan mengerjakan tugas, taman hijau yang menjadi tempat duduk dan merenung, hingga toko buku bekas yang selalu menyimpan banyak koleksi buku langka dan menarik.

“Tempat ini terasa sangat nyaman dan tenang,” ucap Aldo sambil berhenti sejenak di depan pintu toko buku itu. “Banyak sekali buku-buku klasik yang sulit ditemukan di tempat lain.”

“Iya, benar sekali. Aku sering mampir ke sini jika merasa bosan atau butuh suasana baru untuk membaca,” jelasku.

“Kamu sering merasa bosan sendirian selama ini?” tanyanya dengan nada lembut.

“Kadang-kadang, tentu saja. Tapi sekarang ada kamu di sini, jadi aku yakin tidak akan ada lagi rasa sepi dan bosan yang mengganggu,” jawabku dengan senyum lebar.

Aldo tersenyum mendengarnya, lalu meraih tanganku dan menggenggamnya erat-erat seolah tak ingin melepaskannya lagi.

“Tenang saja, aku akan memastikan hari-harimu selama aku di sini terasa penuh dan menyenangkan,” janjinya.

***

Pukul tujuh malam.

Langit di luar mulai berubah warna menjadi gelap, dan lampu-lampu jalan serta gedung-gedung mulai menyala, menciptakan pemandangan malam kota Melbourne yang indah dan berkelap-kelip.

Kami duduk berdampingan di atas kursi kecil di balkon apartemen, menikmati hembusan angin malam yang sejuk namun tidak terlalu dingin, serta memandang pemandangan kota yang mulai terang benderang.

“Tari,” panggil Aldo memecah keheningan.

“Iya?” jawabku menoleh ke arahnya.

“Sejujurnya… aku tidak ingin pulang kembali ke Jakarta nanti.”

Aku tertegun sejenak, menatapnya dengan tatapan bingung sekaligus penasaran. “Apa maksudmu, Aldo?”

“Aku tidak ingin kembali ke rumah, kembali ke pekerjaan, dan kembali ke tempat yang membuat kita terpisah jarak lagi. Aku ingin tinggal di sini saja, bersamamu, selama mungkin.”

“Aldo… aku mengerti perasaanmu, tapi aku tahu ada banyak hal yang harus kamu pikirkan dan urus di sana,” ucapku lembut.

“Aku sadar itu. Aku tahu pekerjaanku di kantor masih membutuhkan kehadiranku, dan banyak hal yang belum bisa aku tinggalkan begitu saja. Tapi…”

“Tapi apa?” tanyaku menunggu kelanjutannya.

Aldo menarik napas panjang, lalu menatap mataku dengan pandangan yang tegas namun penuh perasaan. “Tapi ternyata rasa sayangku padamu jauh lebih besar dan lebih penting daripada apa pun yang aku miliki di Jakarta. Lebih berharga daripada pekerjaan, posisi, dan segala kenyamanan yang ada di sana.”

Mendengar kata-katanya, air mataku kembali menetes perlahan di pipi—kali ini lagi-lagi karena rasa bahagia dan terharu yang meluap di dalam dada.

“Aldo… aku pun merasa hal yang sama. Aku juga tidak ingin kamu pergi dan meninggalkanku sendirian lagi nanti.”

“Tapi aku harus kembali sebentar, Tari. Ada urusan yang belum selesai dan harus aku bereskan dulu,” ucapnya pelan.

“Aku mengerti itu. Aku paham betul.”

“Tapi percayalah, aku akan kembali lagi. Aku berjanji padamu. Sebentar lagi, aku akan menemukan cara agar kita tidak perlu lagi terpisah jarak seperti ini.”

Aku mengangguk pelan, lalu mendekatkan diri dan memeluk tubuhnya erat-erat. “Aku percaya padamu, Aldo. Aku akan menunggumu seperti yang selalu aku lakukan selama ini.”

Kami berdua duduk diam dalam pelukan itu, di ruang balkon yang sempit namun terasa penuh kehangatan, di bawah langit malam Melbourne yang gelap namun dipenuhi kerlap-kerlip bintang yang bersinar terang.

Bintang-bintang itu bagaikan gambaran masa depan kami.

Terlihat jauh di sana, namun tetap terang dan terasa dekat.

Mungkin sulit untuk diraih dalam sekejap, namun bukan berarti mustahil.

Dan kami berdua tahu, selamanya akan berusaha meraihnya—bersama-sama, melangkah berdampingan, melewati setiap rintangan yang ada, hingga akhirnya mimpi kami menjadi kenyataan yang utuh.

1
Tamaa
/Toasted//Toasted/
Tamaa
Omoshiroi
Reverie_Vex: Makasih banyak! Senang banget kamu merasa ceritanya seru 🤗
Semoga tetap menyenangkan dibaca sampai bab-bab selanjutnya ya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!