⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Malam itu langit tertutup awan tebal.
Tidak ada bulan. Tidak ada bintang. Seluruh cahaya yang seharusnya menerangi jalanan tertelan oleh lapisan awan hitam yang menggantung rendah di atas Holy Kingdom. Kegelapan seperti ini bukan sesuatu yang asing bagi penduduk desa-desa pinggiran. Mereka sudah terbiasa hidup jauh dari kota dan lampu penerangan. Namun malam ini terasa berbeda.
Yang membuat mereka gelisah bukanlah gelap. Melainkan sunyi.
Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara burung hantu. Bahkan angin yang berhembus dari pegunungan utara terdengar lebih pelan dari biasanya—seperti ada sesuatu yang menahan napas.
Seorang lelaki tua di pemukiman pertama terbangun karena haus. Dia meraih kendi di samping tempat tidurnya, menuangkan air ke cangkir tanah liat, dan menyesapnya perlahan. Saat dia menaruh kembali kendi itu, dia mendengar sesuatu. Bukan suara langkah. Bukan suara pintu. Tapi seperti ada desahan pelan yang keluar dari celah-celah dinding rumahnya.
Dia mengerjap. Menunggu. Tidak ada apa-apa.
"Tua bangka, mulai dengar suara-suara aneh," gumamnya pelan. Lalu dia berbaring kembali dan memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, suara dengkurannya mulai terdengar.
Di balik semak-semak, sekitar seratus meter dari pemukiman pertama, bayangan mulai bergerak.
Jumlahnya puluhan. Shadow Demon. Makhluk-makhluk itu muncul dari kegelapan seolah malam itu sendiri sedang melahirkan sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia. Tubuh mereka tidak memiliki bentuk yang jelas. Hanya kumpulan bayangan pekat dengan dua titik merah redup di tempat mata seharusnya berada. Tidak ada suara langkah. Tidak ada jejak. Hanya pergerakan halus yang hampir mustahil ditangkap oleh mata manusia.
Masing-masing telah menerima instruksi langsung dari Demiurge. Target: sepuluh persen populasi. Prioritas: laki-laki dewasa dan perempuan usia produktif. Anak-anak dan lansia diabaikan. Operasi harus berlangsung cepat, senyap, dan tanpa meninggalkan jejak.
Pemukiman pertama menjadi sasaran awal.
Seorang Shadow Demon menyelinap melalui celah di bawah pintu rumah kayu sederhana. Ketika tubuh bayangannya melewati celah sempit, terjadi pergeseran kecil di udara—seperti ada sesuatu yang mengubah tekanan di dalam ruangan. Seekor lalat yang terbang di dekat langit-langit tiba-tiba berhenti bergerak, jatuh ke lantai dengan bunyi tik pelan, lalu tetap diam.
Dalam hitungan detik, Shadow Demon itu sudah berada di dalam. Di atas tempat tidur jerami, seorang pria tertidur pulas dengan selimut tipis menutupi tubuhnya. Selimut itu bergerak naik turun mengikuti napasnya yang teratur. Di sampingnya, seorang perempuan yang kemungkinan adalah istrinya tidur dengan tangan menggenggam erat ujung bantal.
Shadow Demon itu bergerak tanpa ragu. Tangannya yang terbuat dari kegelapan menyentuh wajah pria tersebut. Tidak ada teriakan. Tidak ada perlawanan. Tubuh pria itu menghilang begitu saja, terserap ke dalam bayangan seperti batu yang tenggelam ke dasar danau tanpa meninggalkan riak.
Selimut yang tadinya menutupi tubuh pria itu jatuh perlahan ke atas jerami kosong, mengeluarkan bunyi swish pelan. Perempuan di sampingnya berguling ke sisi lain, tangannya meraba-raba tempat yang sekarang kosong, lalu menarik selimut itu ke arahnya tanpa membuka mata.
Kurang dari tiga menit kemudian, operasi di pemukiman pertama selesai. Empat orang menghilang. Tak seorang pun terbangun.
Di pemukiman kedua, situasinya sedikit berbeda.
Saat mendekati rumah target, seekor anjing tua yang terbaring di halaman membuka mata. Pandangan keruhnya tertuju pada sosok gelap yang bergerak di dekat pagar. Telinga anjing itu bergerak sedikit, menangkap sesuatu yang tidak bisa didengar manusia. Anjing itu tidak menggonggong. Tidak menggeram. Ia hanya menatap beberapa saat sebelum perlahan menundukkan kepala dan memejamkan mata kembali. Di bawah kelopak matanya yang keriput, ada tetesan air kecil yang mengalir ke bulunya yang kusam.
Shadow Demon tidak memedulikannya. Ia langsung melanjutkan tugas. Dua penghuni rumah itu menghilang dalam waktu kurang dari setengah menit. Di dalam rumah, sebuah kursi kayu bergeser sedikit karena getaran halus dari bayangan yang bergerak cepat.
Anjing tua tersebut tetap diam sampai operasi selesai. Ketika bayangan terakhir menghilang, anjing itu mengangkat kepalanya sekali lagi, menatap ke arah rumah yang sekarang lebih sepi dari biasanya, lalu menjilati bibirnya yang kering.
Pemukiman ketiga merupakan yang terbesar di antara ketiganya. Karena itu, beberapa Shadow Demon ditugaskan sekaligus.
Mereka menyebar ke berbagai sudut pemukiman, bergerak dari satu rumah ke rumah lain sesuai daftar target yang telah ditentukan. Di beberapa rumah, pintu terkunci—tapi Shadow Demon tidak membutuhkan pintu. Mereka melewati celah-celah di bawah pintu, melalui retakan di dinding kayu, bahkan melalui lubang ventilasi kecil di atas jendela.
Di sebuah gubuk kecil di pinggir desa, seorang pemuda tiba-tiba terbangun. Bukan karena suara. Bukan karena gangguan apa pun. Ia hanya merasa ada hawa dingin yang berbeda dari biasanya. Hawa dingin yang tidak berasal dari angin malam, tapi seperti ada sesuatu yang menarik panas dari udara di sekitarnya.
Pemuda itu duduk sambil mengucek mata dan menatap ke arah pintu. Pintu rumahnya terbuka. Kegelapan malam terlihat di luar. Di bawah pintu, ada jejak tipis seperti embun yang mengering—tapi tidak ada air di luar.
Ia mengernyit. "Mungkin aku lupa menguncinya." Dengan pikiran sederhana itu, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan mendekati pintu. Kaki telanjangnya menyentuh lantai kayu yang dingin. Beberapa papan berderit di bawah langkahnya.
Tangannya hampir menyentuh daun pintu ketika sesuatu menyelimuti tubuhnya. Gelap. Dingin. Lalu kesadaran menghilang. Beberapa detik kemudian, pemuda itu sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanyalah pintu terbuka dan tempat tidur yang masih hangat. Di atas kasur, lekukan tubuhnya masih terlihat jelas di atas jerami.
Dua jam setelah operasi dimulai, seluruh target berhasil diamankan. Tiga pemukiman. Empat belas korban. Tidak ada saksi. Tidak ada alarm. Tidak ada laporan.
Para Shadow Demon berkumpul di titik yang telah ditentukan di antara pepohonan. Di bawah mereka, tanah yang tertutup salju mulai mencair sedikit karena panas tubuh mereka—atau apa yang setara dengan panas bagi makhluk bayangan. Mereka saling bertukar isyarat tanpa suara, memastikan tidak ada unit yang hilang dan tidak ada target yang tertinggal.
Satu per satu, mereka melebur ke dalam bayangan dan menghilang dari lokasi. Ketika fajar mulai mendekat, hanya keheningan yang tersisa. Di salah satu desa, seekor ayam jantan berkokok menyambut pagi. Suaranya bergema di antara rumah-rumah kayu yang masih gelap. Di rumah yang kehilangan penghuninya, sebuah cangkir kayu terguling di atas meja, masih setengah berisi air.
Beberapa saat lagi para penduduk akan bangun dan menemukan tempat tidur yang masih hangat tetapi kosong. Dan saat itu terjadi, tidak seorang pun akan memahami apa yang sebenarnya telah terjadi.
Di ruang kerja Demiurge, laporan operasi mulai berdatangan.
Peta besar yang memenuhi meja hampir tidak memiliki ruang kosong lagi. Titik-titik merah tersebar di berbagai wilayah Holy Kingdom. Di sudut kiri atas, tinta merah di salah satu titik mulai mengering dan meninggalkan bekas yang sedikit lebih gelap dari yang lain.
Demiurge menambahkan beberapa catatan baru di tepi peta sebelum meletakkan kuasnya. Di sampingnya, tiga gulungan perkamen sudah terisi penuh dengan catatan target dan lokasi. Operasi malam ini menghasilkan empat belas target. Total sementara mencapai empat puluh dua.
Masih jauh dari jumlah yang dibutuhkan. Untuk memenuhi kebutuhan produksi selama tiga bulan, setidaknya dibutuhkan lebih dari seratus korban. Bahan baku untuk Abelion Sheep tidak bisa didapat dengan mudah.
Demiurge menatap peta itu beberapa saat, matanya bergerak lambat mengikuti garis-garis wilayah. Masih banyak area yang belum disentuh. Desa-desa di bagian selatan. Pemukiman dekat pesisir. Dan beberapa jalur perdagangan kecil yang jarang diawasi.
"Besok malam perluas area operasi ke selatan." Perintahnya terdengar tenang. Dari bayangan di sudut ruangan muncul jawaban singkat: "Perintah diterima, Demiurge-sama." Bayangan itu bergerak sesaat, meninggalkan jejak tipis di lantai batu sebelum menghilang.
Demiurge kembali memusatkan perhatian pada peta, jari-jarinya mengetuk permukaan kayu dengan irama lambat. Operasi baru saja dimulai. Dan Holy Kingdom masih memiliki banyak sumber daya yang bisa dimanfaatkan.
Di tenda logistik Holy Kingdom, Slamet belum tertidur.
Bukan karena gelisah. Bukan pula karena memikirkan sesuatu yang penting. Ia hanya mencium bau yang aneh. Bau itu datang dari arah timur. Samar. Sulit dijelaskan. Sekilas mirip besi. Namun tidak sepenuhnya sama. Sedikit menyerupai tanah basah. Tetapi juga berbeda. Seperti ada sesuatu yang terbakar tanpa api.
Slamet mengerutkan kening. Ia membalikkan badan dan menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. Tetap saja bau itu masih terasa. Kali ini lebih jelas. Seperti ada sesuatu yang bergerak di luar tenda, melewati dekat tempatnya berbaring.
"Aneh amat..." gumamnya pelan, suaranya terdengar teredam oleh selimut. Apakah ada orang yang sedang memasak sesuatu? Atau mungkin ada hewan mati di dekat hutan? Ia tidak tahu. Dan semakin lama memikirkannya hanya membuatnya semakin mengantuk.
Kelopak matanya perlahan menjadi berat. Pikirannya mulai mengabur. Bayangan-bayangan samar melintas di balik kelopak matanya—bukan mimpi, tapi seperti kilasan yang tidak bisa ditangkap. Besok tanya Neia aja... Baunya apa...
Kesadaran Slamet akhirnya tenggelam.
Keesokan paginya, bau itu sudah hilang. Yang tersisa hanyalah udara dingin, salju, dan rutinitas yang sama seperti hari-hari sebelumnya.
Tapi di sudut tenda, di bawah tumpukan karung goni yang digunakan Slamet sebagai bantal, ada serpihan kecil tanah yang tidak dia kenali. Warnanya kehitaman. Baunya samar seperti besi dan tanah basah. Slamet tidak melihatnya. Dan ketika Neia datang untuk membersihkan tenda, dia menyapu serpihan itu tanpa berpikir dua kali.