Eliza Mahendra adalah seorang gadis dengan julukan "Gadis Berhati Dingin" atau "Kulkas Berjalan" di sekolah elitnya, SMA Nusa Bangsa. Sebagai Ketua OSIS, ia menjalankan tugasnya dengan kedisiplinan tanpa kompromi, dihormati sekaligus ditakuti karena sifatnya yang misterius, irit bicara, dan tatapan tajamnya. Kehidupannya yang teratur dan dingin berbanding terbalik dengan kembarannya, Elzia, yang dua jam lebih muda. Meskipun memiliki wajah yang serupa, Elzia memancarkan kehangatan dan dikenal sebagai gadis yang lebih "bar-bar" dari gadis seusianya, bahkan diam-diam menyandang gelar "Queen Racing" di dunia balap.
Cerita ini mengandung unsur kekerasan, konflik mafia, dan ****** ******. Harap bijak dalam membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ropha M.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Goddess of Blacks
Malam itu, arena balap di Jalan Mawar berubah menjadi lautan sorak-sorai. Lampu neon berkedip-kedip, menyinari kerumunan yang bergemuruh, saat tiga motor hitam pekat meluncur masuk dengan deru mesin yang menggelegar. Siapa lagi kalau bukan Elzia dan dua sahabat setianya, Kiara dan Fitri? Elzia, sang ratu balap yang misterius, selalu menyembunyikan wajahnya di balik helm hitam legam saat bertanding. Tak ada yang tahu raut wajahnya, begitu pula dengan rahasia yang lebih dalam: kakaknya, Eliza, yang juga menyimpan identitasnya rapat-rapat sebagai CEO El Q Group, Eliza mendirikan perusahaan itu secara diam-diam, bahkan Elzia sendiri tak tahu. Banyak yang penasaran dengan sosok CEO misterius itu, termasuk Elzia yang sering bertanya-tanya, "Siapa sebenarnya pemilik El Q Group?" Jika saja dia tahu bahwa itu kakaknya Eliza, reaksi adiknya pasti akan meledak seperti bom waktu.
Elzia turun dari motornya, langkahnya tegas menuju meja pendaftaran.
"Aku daftar," ucapnya datar, suaranya tenang seperti angin malam.
Bayu selaku panitia menatap gadis berhelm di depannya. "Nama lo siapa?"
"Queen," jawab Elzia, matanya tajam menembus visor helm, sambil memperhatikan Bayu yang menulis namanya di kertas pendaftaran.
"Oke, lima belas menit lagi balapannya dimulai," kata Bayu dan Elzia hanya mengangguk singkat, lalu berbalik menghampiri Kiara dan Fitri yang menunggu di pinggir arena, di antara deretan motor dan penonton yang berdesak-desakan.
Udah?" tanya Kiara, matanya penuh harap.
"Ya," jawab Elzia ringkas, seperti biasa.
"Katanya hadiah taruhannya gede banget!" seru Fitri, matanya berbinar seperti bintang.
"Emang apa hadiahnya?" Elzia menoleh ke keduanya, penasaran.
"Uang seratus juta. Lumayan tuh buat shopping!" jawab Kiara santai, sambil menyisir rambutnya.
"Ye, shopping mulu pikirannya," julid Fitri, tangannya terlipat di dada.
"Ya iya dong, namanya juga perempuan," balas Kiara tak kalah pedas.
"Heh, bangsat! Emang kamu pikir kami berdua ini laki-laki gitu?!" Fitri kesal, suaranya meninggi.
"Ap-" ucapan Kiara terpotong saat Elzia menyela, nada kesalnya menusuk.
"Udah-udah, kenapa kalian berdua jadi ribut sih? Malu tau, diliatin banyak orang!"Keduanya melirik sekeliling. Benar saja, perdebatan mereka telah menarik perhatian penonton di dekatnya tertawa atau menggelengkan kepala.
Kiara dan Fitri saling pandang, lalu menyengir malu."Gara-gara kamu sih," gumam Kiara pelan.
"Kok jadi aku? Itu juga gara-gara kamu!" protes Fitri, tak mau disalahkan sendirian.
"Heh, ak-" Fitri terhenti lagi saat Elzia menghela napas panjang.
"Udah diam, lama-lama aku bawa kalian ke tengah hutan biar puas adu bacotnya"
Ancaman Elzia membuat keduanya langsung bungkam, bibir mereka terkunci rapat.
Di Markas Geng Revloska
Sementara itu, di markas geng Revloska yang tersembunyi di pinggiran kota, lima pemuda tampan berkumpul di ruang tamu. Arkana dan sahabat-sahabatnya-Dava, Deon, Dimas, serta Rayan-sedang santai, tapi suasana berubah saat Dava berteriak antusias.
"Woi, kita liat orang balapan yuk! Katanya Queen Racing ikut. Aku penasaran banget sama wajahnya!"
"Emang di mana balapannya?" tanya Deon, alisnya terangkat.
"Di Jalan Mawar. Beberapa menit lagi dimulai," jawab Dimas cepat.
"Ya udah, nunggu apa lagi? Yuk berangkat!" ajak Deon, semangatnya membara.
Mereka menoleh ke Rayan dan Arkana, yang hanya diam seperti patung es.
"Kalian berdua ikut nggak?" tanya Dava, menatap keduanya.
"Hmm," dehem mereka serentak, tanpa ekspresi.
Sesampainya di sana, sorak-sorai sudah memenuhi udara. "Queen! Queen!" teriak penonton, gelombang suara seperti badai.
"Kita telat beberapa menit," kata Dimas, mengerutkan kening.
"Ya, dan di sini ternyata ramai juga," tambah Deon, matanya menyapu kerumunan.
Mereka mengangguk, lalu kembali fokus ke lintasan. Saat itu, Elzia sudah meluncur kencang di posisi pertama. Motornya seperti elang yang mengoyak angin, memblokir setiap upaya lawan untuk menyalip. Garis finish tinggal beberapa meter dan Eliza gaspol penuh!
Wushhh... Chiiiiitttttt!
Elzia melintasi garis, juara pertama! Sorakan meledak, penonton histeris.
"Gila, si Queen ngeri banget kalau ngebut!"
"Iya, gimana kalau nggak? Nggak bisa dibayangin deh!"
"Aa Queen makin keren aja!"
"Astaga, gila banget nih cewek," kata Deon, mulutnya ternganga.
"Iya, gue aja mikir dua kali kalau mau ngelakuin gitu," tambah Dava, menggeleng.
"Pasti cantik banget orangnya," komentar Dimas, matanya berfokus pada Elzia.
Yang lain memutar bola mata malas.
"Ye, si bangsul mikir cantiknya doang. Gimana kalau dia bencong?" goda Dava, membuat Dimas melotot.
Deon tertawa keras, sementara Rayan dan Arkana hanya terkekeh pelan, menyaksikan tingkah sahabat mereka.
Elzia melepas helmnya sedikit, berjalan ke teman-temannya. "Gimana, hadiahnya udah dikirim belum?" tanya Kiara tak sabar.
"Udah. Yuk pulang, udah malam. Malam ini tidur di apart aja, tadi udah izin sama Papa," ajak Elzia.
"Ya udah, ke apart kamu aja," setuju Fitri. Mereka bertiga meluncur pergi, meninggalkan arena yang masih bergemuruh.
Pagi cerah menyapa, tapi Eliza tak peduli dengan sinar matahari yang hangat. Mengenakan baju olahraga, dia menyelinap ke ruang latihan sekolah meskipun guru-guru memerintahkannya untuk istirahat. di kamar membuatnya merasa bosan. Ruangan itu seperti benteng rahasia: berbagai alat olahraga berjejer rapi. Eliza menuju rak panah, mengambil busur dan anak panah. Matanya menyipit, membidik titik merah di sasaran yang jauh. Zing! Panah melesat tepat ke pusat-sempurna, seperti biasa. Setelah beberapa ronde, keringat membasahi dahinya. Dia kembali ke kamar, mandi cepat, lalu duduk di balkon, mata terpaku pada layar laptop.
Tak lama kemudian, Eliza keluar dari dalam kamarnya dan ingin ke minimarket yang dekat dari tempat nya.
"Kau ingin ke mana, Za?" tanya Pak Handoko yang kebetulan lewat.
"Hanya ingin ke minimarket, Pak," jawab Eliza datar, tanpa senyum.
"Baiklah, tapi hati-hati ya," pesan Pak Handoko sebelum pergi.
Eliza hanya berjalan kaki menuju ke minimarket, dia ambil beberapa kaleng soda dan camilan. Bayar cepat, lalu duduk di bangku luar, menyeruput minuman sambil melihat beberapa dokumen di ponselnya. Fokusnya tak terganggu, sampai suara pemuda asing menyapa.
"Bolehkah bergabung di sini?" tanyanya, muncul entah dari mana.
"Hmm," dehem Eliza, pandangannya tak lepas dari layar.
'Astaga, dingin banget nih cewek' batin pemuda itu, merasa diabaikan.
Dia terus menatap ke arah Eliza yang masih fokus,tapi Eliza merasakannya. Dia mengangkat pandangannya dan menatap datar pria itu.
"Apa ada sesuatu?"
"T-tidak ada" gagap pemuda itu, ketahuan.
Eliza bangun dari duduknya dan meninggalkan pemuda itu begitu saja,Pemuda itu mematung, lalu bergumam, "Astaga, ada apa denganku?" Dia menggelengkan kepalanya.
"Ah, sudahlah. Lebih baik balik, sore nanti latihan lagi." Dia pergi, meninggalkan tempat itu.
Di sebuah ruangan gelap gulita, seorang pria paruh baya duduk di singgasananya, wajahnya keras seperti batu.
"Apakah kau sudah tahu siapa pemimpin mafia Goddess of Blacks, Tam?"
"Maaf, Tuan. Kami sudah berusaha mencari informasi mengenai identitas pemimpinnya tapi identitasnya tidak dapat diketahui. Pemimpin mereka sangat kuat dan sulit untuk ditangani. Bahkan anggota-anggotanya pun identitasnya juga di sembunyikan " jelas Tam, suaranya gemetar.
"Lalu bagaimana dengan bocah yang kubuang dulu? Sudah tahu keberadaannya?"
"Tidak Tuan Masih diselidiki."
"Hem Baiklah kau keluarlah," usir pria itu dingin.
"Baik Tuan" ucap Tam pelan kemudian dengan cepat pergi meninggalkan ruangan itu,
Malam kembali tiba.
Eliza duduk di sofa, jari-jarinya lincah di atas laptop. Ponselnya bergetar menandakan bahwa ada panggilan masuk.
"Hm," dehemnya.
"Kak, aku akan pindah ke sekolahmu Papa yang menyuruh " kata dari Elzia dengan nada kesal.
"Hm," lagi-lagi Eliza hanya berdehem membuat sipenelepon mendengus kemudian mematikan sepihak.Ponsel berdering lagi dan disitu tertera nama 'Jasper' dan Eliza langsung mengangkat panggilannya.
"Nona, ada yang mencari identitas Anda dan anggota."
"Pantau terus mereka. Kirim mata-mata ke markas pak tua itu," perintah Eliza datar, amarahnya tersembunyi sempurna di balik wajah dingin yang tak tergoyahkan. Tak ada yang tahu jika di balik topeng itu, emosi bergolak marah, sedih, atau bahagia, semuanya terkubur dalam.
"Baik, Nona," jawab Jasper.
Eliza mematikan teleponnya, mata hijaunya menatap malam, rahasia demi rahasia menumpuk seperti badai yang akan datang.