Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35.
Suara pedagang yang menawarkan dagangannya bercampur dengan langkah kaki para pembeli yang hilir mudik.
Aroma sayuran segar, rempah-rempah, dan makanan hangat memenuhi udara.
“Jangan sampai ada yang kepisah,” ujar Arga sebelum mereka berpencar.
“Kalau sudah selesai belanja, langsung kumpul di mobil jam sebelas.”
“Siap,” jawab mereka serempak.
Alya, Tiara, Laura, dan Nadia lebih dulu menuju deretan toko alat tulis.
Mereka mulai mencocokkan daftar belanja yang sudah dibuat semalam.
“Rak buku kecil dua.”
“Karpet baca satu.”
“Spidol, penghapus papan tulis, gunting, lem, kertas warna...”
Tiara membacakan satu per satu isi daftar belanja yang sudah mereka susun semalam.
“Ini spidolnya.”
“Lem juga ada di sini.”
Laura mencatat setiap barang yang sudah masuk ke keranjang.
Sementara Nadia menghitung jumlahnya agar tidak ada yang kurang.
“Al, ambil buku gambar juga, Anak-anak pasti suka.”
Alya langsung mengangguk.
“Iya. Sekalian pensil warna juga, ya?”
Tiara tersenyum.
“Boleh juga.”
Tak lama kemudian, mereka berpindah ke toko buku.
Begitu melihat rak-rak yang dipenuhi buku cerita anak, mata Alya langsung berbinar.
“Lucu-lucu banget...”
Ia mengambil sebuah buku dongeng bergambar lalu membukanya.
“Ti, lihat. Gambarnya bagus.”
Tiara ikut melihat.
“Anak-anak pasti senang bacanya.”
Laura yang melihat harga di sampul buku langsung berkata,
“Kalau bisa pilih yang sesuai anggaran dulu.”
“Nanti takut dananya kurang.”
Alya mengangguk.
“Iya.”
Ia pun kembali memilih buku-buku dengan harga yang lebih terjangkau, tetapi tetap menarik untuk anak-anak.
Di sisi lain pasar, Arga bersama Adrian dan Dion sedang memilih papan tulis serta cat.
“Yang putih atau hijau, Ar?” tanya Adrian.
“Yang putih aja.”
“Lebih gampang dibersihkan.”
Dion mengangguk.
“Sekalian beli penghapus papan tulis yang bagus.”
“Jangan yang gampang rusak.”
Arga kembali memeriksa daftar belanja.
“Kalau semua sudah lengkap, tinggal beli rak sepatu kecil buat ruang baca.”
“Siap.”
Sementara itu, Dimas, Andre, Rizki, dan Reza sibuk di pasar tradisional membeli beras, minyak goreng, telur, sayuran, bumbu dapur, hingga kebutuhan posko untuk beberapa hari ke depan.
Keramaian pasar membuat suasana belanja terasa hidup.
Meski lelah karena harus berpindah dari satu toko ke toko lain, semangat mereka tidak berkurang sedikit pun.
Mereka ingin ruang baca yang akan dibuat benar-benar menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak Desa Sukamaju.
Alya masih berdiri di depan rak buku anak.
Matanya menyapu satu per satu judul yang tersusun rapi.
“Aduh... lucu semua,” gumamnya pelan.
Tangannya mengambil sebuah buku cerita bergambar tentang persahabatan.
Tak lama kemudian, ia mengambil lagi buku ensiklopedia hewan.
“Ti, yang ini bagus nggak?”
Tiara menghampiri lalu melihat buku yang ditunjukkan Alya.
“Bagus.”
“Anak-anak SD pasti suka lihat gambarnya.”
Alya mengangguk senang.
“Berarti masuk keranjang.”
Laura yang sejak tadi memegang daftar belanja langsung mencoret beberapa barang yang sudah didapat.
“Rak buku, sudah.”
“Buku cerita, sudah.”
“Pensil warna juga sudah.”
Nadia kemudian melihat ke arah sebuah rak yang dipenuhi permainan edukatif.
“Itu puzzle juga bagus buat anak-anak.”
Alya langsung berjalan ke sana.
“Wah... iya.”
“Yang huruf alfabet sama angka aja. Biar sekalian belajar.”
Mereka pun mengambil beberapa permainan edukatif yang masih sesuai dengan anggaran.
Setelah semua kebutuhan ruang baca selesai dibeli, mereka menuju kasir.
Petugas kasir mulai menghitung satu per satu barang yang ada di troli.
“Totalnya satu juta delapan ratus lima puluh ribu, Kak.”
Laura langsung membuka map berisi uang kas kelompok.
Sementara Alya memperhatikan barang-barang yang sudah dimasukkan ke dalam kardus.
“Tunggu sebentar.”
Semua menoleh ke arahnya.
Alya kembali berjalan menuju rak buku.
“Al, mau ke mana?” tanya Tiara.
“Bentar, ya. Aku kayaknya mau Nambah beberapa barang."
Beberapa menit kemudian, Alya kembali dengan membawa setumpuk buku cerita, buku pengetahuan, buku mewarnai, komik edukasi, serta beberapa kotak pensil warna.
Laura tampak bingung.
“Itu buat apa?”
Alya tersenyum.
“Ini dari aku. Anggap aja hadiah buat adik-adik di ruang baca nanti, Biar koleksi bukunya lebih banyak.”
Laura, Tiara, bahkan Nadia ikut terdiam beberapa saat.
Tiara tersenyum tipis.
“Anak-anak pasti senang.”
Alya hanya mengangkat bahu.
“Semoga mereka jadi lebih semangat belajar.”
Petugas kasir kembali menghitung barang tambahan milik Alya.
“Kalau yang ini dipisah ya, Kak?”
“Iya.”
“Aku bayar sendiri.”
Beberapa saat kemudian, transaksi selesai.
Masing-masing membawa kardus berisi buku dan perlengkapan menuju area parkir, tempat mereka sudah berjanji untuk berkumpul kembali dengan anggota kelompok yang lain.
Saat mereka tiba di area parkir, Arga, Adrian, dan Dion ternyata sudah lebih dulu datang.
Di samping mereka sudah tersusun beberapa kaleng cat, papan tulis, rak kecil yang masih terbungkus plastik, serta berbagai perlengkapan lainnya.
“Wah, kalian cepet juga,” ujar Adrian.
Laura mengangguk.
“Belanjaan kami juga udah selesai.”
Dion yang melihat tumpukan kardus di tangan Alya langsung mengangkat sebelah alis.
“Buset...”
“Ini ruang baca apa mau buka perpustakaan?”
Alya terkekeh.
“Banyak, ya?”
“Banyak banget,” sahut Dion.
Arga ikut menghampiri untuk mengecek barang-barang yang mereka beli.
“Semuanya sesuai daftar?”
“Udah,” jawab Laura sambil menyerahkan catatan pengeluaran.
“Ini rincian belanjanya.”
Arga membacanya sekilas lalu mengangguk puas.
“Bagus, Pengeluarannya masih sesuai anggaran.”
Saat itu pandangan Arga tertuju pada beberapa kardus lain yang tidak ada dalam daftar belanja.
“Kalau yang ini?”
Laura tersenyum kecil.
“Itu bukan pakai uang kas, itu belinya pakai uang Alya sendiri.” Jelas laura
Arga menoleh ke arah Alya.
“Kamu beli apa lagi?”
Alya menggaruk pelan pipinya.
“Cuma nambah beberapa buku cerita, buku pengetahuan, buku mewarnai, pensil warna, sama alat tulis.”
“Buat anak-anak, Biar pilihan bukunya lebih banyak.”
Sejenak Arga terdiam.
“Terima kasih.”
Ucapan singkat itu membuat Alya tersenyum lebar.
“Anggap aja hadiah buat adik-adik di sini.”
Dion langsung menyahut.
“Al...”
“Kalau nanti ada yang buka sekolah baru, jangan-jangan kamu sekalian beliin gedungnya.”
“Berlebihan,” balas Alya sambil tertawa.
“Kan cuma buku.”
“Cuma buku katanya,” gumam Adrian.
“Harganya bisa buat ganti HP gue.”
Semua yang mendengar langsung tertawa.
Di sisi lain, Laura hanya memperhatikan Alya tanpa berkata apa-apa.
Ia mengakui dalam hati bahwa Alya memang memiliki kepedulian yang besar. Namun entah mengapa, perhatian yang diterima Alya dari orang-orang di sekitarnya tetap membuat hatinya sedikit terusik.
Tak lama kemudian, Dimas dan yang lainnya datang sambil membawa beberapa kantong besar berisi beras, minyak goreng, telur, gula, mie instan, dan berbagai kebutuhan dapur.
“Lengkap semua?” tanya Arga.
“Lengkap.”
“Kalau gitu kita makan siang dulu.”
“Baru setelah itu pulang ke desa.”
“Setuju!” seru Dion yang perutnya sudah mulai keroncongan.