NovelToon NovelToon
Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: dinda.glow

Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?

Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?

"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.

____

"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.

Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.

____

"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.

"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.

-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --

Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Rencana Rian dan Amel sengaja mempertemukan Minda dan Devon di Seblak

Tik, tik, tik..

Amel mengetuk-ngetuk jarinya ke meja kayu yang agak berminyak.

Tatapannya lurus memperhatikan Minda yang sedang tertawa lebar sambil menunggu pesanan.

"Rian, kita gak bisa diam aja. Kamu lihat kan mukanya Minda pas seisi kelas X-5 cie-ciein dia kemarin? Mukanya merah kayak kepiting rebus, tapi matanya gak bisa bohong kalau dia itu penasaran banget sama Devon."

Rian yang sedang asyik menusuk tahu bakso dengan tusuk sate menoleh.

"Ya terus kita mau ngapain, Mel? Devon itu anak SMA Garuda. Sekolah kita sama sekolah dia kan beda klaster. Jaraknya lumayan. Lagian, cowok itu kayaknya tipe yang dingin-dingin misterius gitu. Mau lewat jalur apa kita?" Amel tersenyum penuh arti.

Senyum yang membuat Rian langsung tahu bahwa sahabatnya ini sudah menyusun sebuah rencana matang di kepalanya.

Amel mencondongkan badannya ke depan, berbisik setengah mendesak.

"Warung Seblak Jeletot depan kompleks perumahan Minda. Kamu lupa? Setiap hari Jumat sore, Devon dan anak-anak tim basket SMA Garuda sering nongkrong di sana setelah latihan tanding di gor dekat situ. Kakak sepupuku yang satu klub basket sama Devon yang bilang."

Rian meletakkan tusuk satenya. Matanya berbinar.

"Wah, konspirasi tingkat tinggi nih. Jadi rencana kamu apa?"

"Hari Jumat besok, kita harus seret Minda ke warung seblak itu dengan alasan kita yang kepengin makan. Begitu sampai sana, kita bikin skenario supaya Minda dan Devon terpaksa duduk berhadapan atau minimal ngobrol," jelas Amel dengan mata berapi-api.

Belum sempat Rian membalas, Minda dan Lyra sudah kembali ke meja sambil membawa nampan berisi es jeruk.

Rian dan Amel langsung mengubah ekspresi wajah mereka dalam sekejap, berpura-pura membicarakan sesuatu yang lucu.

Minda duduk dengan ceria, sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya baru saja menjadi target utama dari sebuah rencana perjodohan rahasia.

___________________

Hari Jumat yang dinantikan pun tiba.

kriiiiiiingg.....

Begitu bel pulang sekolah berbunyi, Amel langsung bergerak cepat.

Ia menyenggol lengan Rian yang sedang memasukkan buku ke dalam tas. Rian memberikan kode kedipan mata, tanda bahwa operasi

"Seblak Pemersatu Bangsa" resmi dimulai.

"Minda, Lyra, pokoknya siang ini gak ada penolakan. Kita harus makan Seblak Jeletot di depan kompleks Minda!" seru Amel dengan nada yang sengaja dibuat kelaparan tingkat akut.

Minda mengernyitkan dahi sambil menggendong tas ranselnya.

"Tumben banget lu ngajak ke sana, Mel? Biasanya lu keluhan kalau tempatnya panas dan mengantre."

"Aduh, Min, lagi ngidam banget nih. Semalam gue sampai mimpi makan kerupuk basah pakai kuah level lima. Plis, temenin ya? Rian juga udah setuju kok," sahut Amel sambil menarik-narik ujung seragam Minda dengan tampang memelas.

Rian ikut mengangguk kuat-kuat. "Iya, Min. Kebetulan dompet gue lagi bersahabat nih, ntar gue beliin es teh manis deh buat semuanya."

Lyra, yang biasanya paling tenang dan peka, menatap Rian dan Amel dengan pandangan menyelidik.

Ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari tingkah laku kedua temannya yang mendadak sangat kompak ini.

Namun, melihat Minda yang akhirnya mengangguk pasrah, Lyra memilih untuk diam dan mengikuti permainan.

Mereka berempat menaiki angkutan kota menuju warung seblak tujuan.

Sepanjang jalan, Minda sibuk menceritakan betapa malunya ia saat insiden di kelas X-5 beberapa hari lalu, di mana namanya terus dikait-kaitkan dengan Devon, sang ketua tim basket SMA Garuda yang terkenal tampan namun sulit didekati.

Rian dan Amel hanya saling melirik di kursi angkot, menahan tawa karena tahu sebentar lagi Minda akan menghadapi kejutan yang jauh lebih besar.

_____________________

Warung Seblak Jeletot siang itu sangat ramai. Bau kencur, cabai yang digiling, dan uap panas langsung menyambut indra penciuman mereka begitu turun dari angkot.

Untungnya, Amel bergerak cepat mengamankan satu-satunya meja kosong yang tersisa di sudut ruangan.

Meja itu berbentuk lurus dengan bangku panjang yang saling berhadapan.

"Kalian duduk duluan deh, biar gue sama Lyra yang memesan ke depan," kata Amel mengatur strategi.

Ia sengaja menarik Lyra agar Rian bisa menjaga Minda tetap berada di tempat.

Saat mengantre di depan panci besar tempat pembuatan seblak, Lyra menyilangkan dadanya dan menatap Amel.

"Lu lagi ngerencanain sesuatu kan, Mel? Jujur deh." Amel terkekeh pelan, tahu ia tidak bisa membohongi sahabatnya yang satu ini.

"Oke, oke, gue jujur. Devon anak SMA Garuda bakal ke sini siang ini sama anak-anak basketnya. Gue sengaja bawa Minda ke sini biar mereka ketemu."

Lyra menggeleng-gelengkan kepalanya namun seulas senyum tipis muncul di wajahnya.

"Lu berdua sama Rian emang benar-benar niat ya. Ya udah, gue bantu pantau situasi dari sini."

Sementara itu di meja makan, Rian sibuk mengalihkan perhatian Minda dengan menunjukkan video-video lucu di ponselnya agar Minda tidak memperhatikan pintu masuk warung.

Rencana mereka berjalan sangat mulus sampai suara gemerincing kunci motor dan tawa berat khas anak laki-laki terdengar dari arah parkiran.

"Hahaha.. "

Rian melirik ke arah pintu.

Deg...deg.. deg...

Jantungnya ikut berdegup kencang saat melihat segerombolan remaja berpostur tinggi dengan jaket olahraga bertuliskan "GARUDA" melangkah masuk.

Di tengah-tengah rombongan itu, berjalan seorang cowok dengan kaus hitam dan rambut yang sedikit basah karena keringat pasca-latihan.

Itu Devon.

Amel yang baru kembali membawa nomor meja langsung menyenggol bahu Rian.

Situasi mendadak menjadi rumit karena warung sudah benar-benar penuh, dan rombongan Devon tidak mendapatkan tempat duduk.

Mereka berdiri di dekat kasir sambil celingukan mencari meja kosong.

"Rian, sekarang!" bisik Amel memberi komando rahasia.

kriet..

Rian segera berdiri dari bangkunya dengan ekspresi yang dibuat seolah-olah sangat terkejut.

"Eh? Itu kan Devon anak Garuda yang waktu itu, ya?" ucap Rian dengan suara yang cukup keras hingga membuat Minda otomatis menoleh ke arah pintu.

Minda langsung membeku di tempatnya. Matanya membelalak lebar melihat sosok cowok yang belakangan ini mengganggu pikirannya kini berdiri hanya berjarak beberapa meter darinya.

"Rian, Amel... kok ada dia di sini? Duh, mending kita bungkus aja yuk seblaknya, pulang aja!" bisik Minda panik sambil berusaha menutupi wajahnya dengan buku menu kertas.

"Gak bisa dong, Min, pesanan udah dibuat dan gak bisa di-cancel," potong Amel cepat.

Sebelum Minda sempat protes lebih jauh, Rian sudah melambaikan tangannya ke arah rombongan SMA Garuda.

"Devon! Sini, Bro! Sini gabung meja kita aja, masih muat nih buat bertiga atau berempat!" seru Rian tanpa urat malu.

Amel dan Lyra langsung menggeser posisi duduk mereka agar menyisakan ruang kosong di bangku panjang yang berhadapan langsung dengan Minda.

Teman-teman Devon melihat ke arah meja mereka dan langsung menepuk pundak Devon, mendesak ketua mereka untuk menerima tawaran tersebut karena mereka sudah sangat kelaparan.

Tap-tap-tap

Devon melangkah mendekati meja dengan langkah santai.

Tatapan matanya yang tajam sempat beralih ke arah Minda yang saat ini sedang menunduk dalam-dalam, pura-pura sangat tertarik dengan serat kayu di permukaan meja.

"Boleh nih gabung? Sorry ya jadi ngerepotin," kata Devon dengan suara rendahnya yang khas saat tiba di depan meja mereka.

"Santai aja, Bro! Sesama pencinta seblak harus saling berbagi tempat," jawab Rian dengan nada kelewat ramah yang membuat Amel harus menahan tawa di dalam hati.

Devon akhirnya duduk tepat di depan Minda.

Dua orang temannya mengambil kursi plastik tambahan di ujung meja.

Keadaan mendadak menjadi sangat canggung bagi Minda, namun sangat menghibur bagi Rian dan Amel yang terus saling melempar kode mata kemenangan di bawah meja.

Aroma seblak yang baru matang menyela ketegangan di antara mereka.

Saat mangkok-mangkok seblak diletakkan di atas meja, Amel memulai aksi tahap kedua dari rencananya.

Ia sengaja menyenggol mangkok sendok garpu yang berada di dekat Minda.

"Aduh, sori, sori! Sendoknya malah pada jatuh. Min, tolong ambilin sendok baru dong di meja konter depan, sekalian punya gue sama Rian," pinta Amel dengan alasan yang sangat dicari-cari.

Minda yang merasa ini adalah kesempatan emas untuk kabur sejenak dari tatapan Devon langsung berdiri dengan cepat.

"Oke, gue ambilin."

Namun, di saat yang bersamaan, Devon juga berdiri dari kursinya.

kriet...

"Gue sekalian mau ambil tisu ke depan, biar gue aja yang ambilin sendoknya."

Minda tertegun di tempatnya berdiri, membuat mereka berdua sempat berdiri berhadapan selama beberapa detik.

Minda bisa merasakan wajahnya kembali memanas.

"Eh, gak usah... eh, maksudnya barengan aja kalau gitu," jawab Minda terbata-bata, merutuki kebodohannya sendiri mengapa ia harus menjawab seperti itu.

Tap-tap

Mereka berdua berjalan beriringan menuju konter utilitas yang berada di bagian depan warung.

Di belakang mereka, Rian dan Amel langsung melakukan selebrasi tos dengan tangan di bawah meja.

"Rencana kita sukses besar, Mel!" bisik Rian dengan wajah puas.

"Tinggal tunggu tanggal mainnya aja nih. Gak sia-sia kita set skenario di warung seblak," sahut Amel bangga, sambil menikmati seblak ceker miliknya dengan perasaan yang sangat puas atas kerja keras mereka hari itu.

Di dekat konter tisu, Devon melirik Minda yang sedang sibuk memilih sendok yang bersih.

Sebuah senyuman tipis, yang jarang sekali ia perlihatkan di sekolahnya sendiri, mendadak muncul di wajah cowok SMA Garuda itu.

Bersambung~~~

Hallo gess!! semoga suka cerita nya ya!! 🤗 Mereka iseng ya, sengaja mempertemukan Minda dan Devon 😁🤭

Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉

Instagram: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow

See you~~

1
Jum😊
aku udah mampir kak semangat yaa💪🤭
dinda.glow: wah... maaci udah mampir 🤩🤩🤩✨
total 1 replies
MamiAmira
semangat kak makasih tadi udah mampir
dinda.glow: makasi juga udah beri support!! ✨🥳
total 1 replies
Waaaaaa_
Aku mampir jugaaa
dinda.glow: makasi sudah mampir ihihi
total 1 replies
Sandhyaruntala
Semangat kecilll🫶
dinda.glow: maaci akk 😍
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir kak
dinda.glow: hay... makasi sudah mampir ^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!