Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.
Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31
Suasana koridor masih membeku. Tak ada satu pun mahasiswa yang berani bersuara.
Yang terdengar hanya embusan napas Clara yang memburu akibat menahan amarah dan rasa malu. Angela menatapnya beberapa saat, lalu mengembuskan napas pelan.
"Udah selesai?" Nada suaranya datar.
Seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah kejadian biasa.
Clara menggertakkan giginya.
"Dengan lo bikin gue malu di depan banyak orang, lo pikir ini bakal selesai?"
"Bukannya lo sendiri yang mulai?" Angela mengangkat sebelah alis.
"Kak Clara..." Salah seorang temannya kembali menarik lengan Clara.
"Udah, Kak. Banyak yang lihat."
"Diam!" bentak Clara tanpa menoleh. Bisik-bisik di antara para mahasiswa semakin ramai.
"Gila... pertama kalinya Kak Clara dipermaluin."
"Biasanya yang kena intimidasi langsung nangis."
"Cewek itu malah bikin Kak Clara dua kali jatuh."
"Aku sampai nggak sempat lihat gerakannya."
Di tengah kerumunan, seorang mahasiswa diam-diam mengeluarkan ponselnya.
"Woy, jangan direkam."
"Udah telanjur."
"Kalau nyebar ke grup kampus, bisa heboh."
Angela melirik sekilas ke arah mahasiswa yang sedang merekam.
Tatapannya dingin. Mahasiswa itu langsung salah tingkah dan buru-buru menurunkan ponselnya.
"He-he... gue simpan." Angela kembali mengalihkan pandangannya ke Clara.
"Gue nggak ada waktu buat ngeladenin drama kayak gini." Ia berbalik hendak pergi. Namun, langkahnya kembali terhenti.
"Berhenti!" Suara Clara menggema di koridor.
Angela menghentikan langkahnya tanpa menoleh.
"Masih ada?" Clara mengepalkan kedua tangannya.
"Denger baik-baik." Ia menatap punggung Angela dengan mata penuh kebencian. "Gue bakal bikin hidup lo di kampus ini sengsara."
"Waduh..." Beberapa mahasiswa langsung saling berpandangan.
"Ancaman lagi." Angela tersenyum tipis.
Ia menoleh perlahan , tatapan mereka kembali bertemu.
"Lo yakin?" Senyum Angela justru membuat Clara semakin emosi.
"Gue serius!" Angela mengangguk pelan.
"Oke." Ia melangkah mendekat sekali lagi.
Tidak ada rasa takut sedikit pun di wajahnya.
Jarak mereka kini hanya sekitar satu meter.
"Dengerin gue baik-baik." Suara Angela tetap pelan. Gue datang ke kampus buat kuliah, Bukan buat cari musuh." Namun setiap katanya terdengar jelas oleh semua orang. Ia berhenti sejenak.
"Tapi..." Tatapannya berubah jauh lebih tajam.
"...kalau ada yang sengaja cari gara-gara sama gue..." Angela menunjuk pelan lantai tempat Clara tadi terjatuh.."...hasilnya bakal tetap sama." Clara mengepalkan rahangnya.
Sementara itu, dari ujung koridor terdengar suara langkah kaki beberapa orang. Para mahasiswa yang menonton langsung mengalihkan ke arah tersebut.
"Eh..."
"Itu..." Beberapa mahasiswa langsung membelalak.
"Bukannya itu Kak Kevin?"
"Rio sama Arga juga."
"Loh... mereka ke sini?"
Ketiga sahabat Raymond berjalan santai menyusuri koridor sambil membawa beberapa map. Namun langkah mereka perlahan melambat saat melihat kerumunan mahasiswa.
Kevin mengernyit.
"Kenapa rame begini?" Rio melongok dari balik bahu mahasiswa yang berdiri di depan.
"Buset..."
"Itu Angela, kan?" Arga menghela napas panjang.
"Jangan bilang...baru pertama hari masuk kuliah udah ada yang cari masalah." Ketiganya segera mendekat. Melihat Kevin, Rio, dan Arga datang, para mahasiswa otomatis memberi jalan.
Clara yang semula penuh percaya diri langsung mengubah ekspresinya.
Sementara Angela tetap berdiri tenang dengan kedua tangan di saku hoodie.
Kevin menyapu pandangan ke arah Clara, lalu ke arah Angela.
"Ada apa di sini?" Belum sempat ada yang menjawab. Salah seorang mahasiswi ceplas-ceplos berkata,
"Kak... Kak Clara tadi nyegat Angela."
"Terus..." Mahasiswi itu menelan ludah.
"...malah jatuh dua kali." Seisi koridor kembali hening. Kevin, Rio, dan Arga saling berpandangan. Sudut bibir Rio mulai berkedut, berusaha keras menahan tawanya.
Sementara Kevin mengusap pelan dahinya.
Dalam hati ia bergumam,
'Kalau Raymond tahu ada yang berani nyari gara-gara sama Angela... habislah satu kampus.'
---
Rio masih menundukkan kepala.
Bahu lebarnya bergetar pelan, berusaha mati-matian menahan tawa. Detik kemudian, suara itu tetap lolos. Kevin langsung menyikut pinggangnya.
"Ssst! Jangan ketawa." Rio menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Maaf... tapi gue nggak kuat." Arga menggeleng pelan sambil mengembuskan napas.
"Fokus dulu." Kevin kembali menatap kerumunan mahasiswa yang memenuhi koridor.
"Siapa yang bisa jelasin sebenarnya ada apa?"
Suasana sempat hening. Tak ada yang berani membuka suara. Hingga akhirnya seorang mahasiswi yang sejak tadi menyaksikan semuanya mengangkat tangan dengan ragu.
"Kak... tadi Kak Clara yang nyegat Angela."
"Iya."
"Terus Kak Clara nyuruh Angela jauhin Kak Raymond." Mahasiswi lain ikut menimpali.
"Abis itu mereka adu mulut."
"Terus Kak Clara nyoba nampar Angela." Kevin langsung mengernyit.
"Nampar?" ucap kembali Kevin.
"Iya, Kak."
"Tapi Angela nangkep tangannya." Rio spontan menoleh ke arah Angela.
"Hah?" Mahasiswi itu mengangguk cepat.
"Terus Kak Clara nyerang lagi, kemudian jatuh."
"Sampai dua kali." Begitu kalimat itu selesai...
Rio akhirnya benar-benar tidak kuat lagi.
"Hahaha!" Suara tawanya menggema di koridor. Kevin langsung menepuk bahu Rio.
"Lo malah ketawa."
"Gimana gue nggak ketawa?"
Rio mengusap sudut matanya yang mulai berair.
"Selama ini Clara kan ngerasa paling hebat."
"Eh, sekarang malah..." Ia menunjuk pelan ke arah Clara. "...dibikin duduk manis sama Angela."
Beberapa mahasiswa yang menonton ikut terkekeh. Clara mengepalkan kedua tangannya.
"Rio!" Rio langsung mengangkat kedua tangannya.
"Oke, oke. Gue diem." Meski begitu, senyum lebarnya belum juga hilang. Kevin menghela napas panjang, ia kemudian menoleh ke arah Angela.
"Lo nggak apa-apa?" Angela mengangguk santai.
"Masih utuh." Jawaban singkat itu membuat Arga terkekeh pelan, Kevin mengusap tengkuknya.
"Syukurlah." Lalu pandangannya beralih kepada Clara.
" Clara." Nada suaranya tetap sopan. "Tapi gue rasa masalah ini cukup sampai di sini."
Clara menatap Kevin dengan wajah tak percaya.
"Kevin... lo ngebela dia?"
"Gue nggak ngebela siapa-siapa." Kevin menjawab tenang. "Gue cuma ngomong berdasarkan apa yang gue dengar." sambungnya. Lalu, Ia melirik para mahasiswa di sekitar.
"Hampir semua saksi bilang lo yang mulai."
Clara langsung terdiam, wajahnya semakin memerah. Sementara itu, Arga melangkah mendekat.
"Lo kenal Raymond udah lama, harusnya lo juga tahu sifat dia." Clara menggigit bibir bawahnya. "Kalau Raymond tahu lo bikin keributan gara-gara dia..." Arga menggeleng pelan. "...yang pertama dimarahin justru lo."
Kalimat itu membuat ekspresi Clara berubah.
Ia tahu, Arga tidak sedang mengada-ada.
Raymond memang paling benci ada orang yang membawa-bawa namanya untuk mengintimidasi orang lain. Di sisi lain, beberapa mahasiswa mulai kembali berbisik.
"Gila... bahkan Kevin sama Arga nggak ngebelain Clara."
"Berarti emang Clara yang salah."
"Kasihan juga."
"Tapi salah sendiri." Saat suasana mulai sedikit mereda...
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang tenang dari ujung koridor.
Entah kenapa, Suara langkah itu saja sudah membuat beberapa mahasiswa refleks menoleh. Sesaat kemudian, kerumunan perlahan terbelah.
Seorang pria bertubuh tinggi dengan jaket bomber hitam berjalan memasuki koridor.
Rambut hitamnya tampak sedikit berantakan tertiup angin. Tatapannya dingin, wajahnya datar. Namun auranya membuat suasana yang semula ramai langsung berubah sunyi.
"Itu..."
"Kak Raymond..."
"Astaga... dia datang."
"Kenapa bisa pas banget?" Rio menoleh dan langsung menghela napas.
"Waduh..." Kevin menutup mata sejenak.
"Selesai sudah." Arga hanya bisa menggeleng pelan.
"Semoga nggak makin panjang." Raymond menghentikan langkahnya tepat beberapa meter dari kerumunan. Tatapan tajamnya menyapu wajah para mahasiswa satu per satu. Lalu, matanya berhenti pada Angela.
Ia melihat gadis itu berdiri tenang tanpa sedikit pun terlihat panik.
Setelah memastikan Angela baik-baik saja, tatapannya bergeser ke arah Clara yang wajahnya masih memerah..Alis Raymond perlahan berkerut.
"Ada yang bisa jelasin? apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Suara dinginnya terdengar pelan. Namun cukup membuat seluruh koridor menahan napas.
Tak seorang pun langsung menjawab. Koridor yang tadi dipenuhi bisik-bisik kini berubah sunyi. Tatapan semua orang bergantian berpindah dari Raymond ke Angela. Raymond melangkah mendekat.
Sorot matanya masih tertuju pada Angela, memastikan tidak ada luka di wajah maupun tangannya.
"Lo nggak apa-apa?" tanyanya dengan nada yang jauh lebih lembut daripada biasanya.
Pertanyaan itu sontak membuat para mahasiswa saling pandang.
"Lembut banget..."
"Sejak kapan Kak Raymond ngomong begitu ke cewek?" Angela menatap Raymond sekilas.
Ekspresinya datar.
"Gue baik-baik aja." Jawabannya singkat.
Tidak ada senyum, tidak ada tatapan hangat seperti biasanya. Raymond mengernyit tipis.
Ia merasa ada yang berbeda.
"Bener?"
"Iya." Angela menjawab tanpa menatap matanya. Lalu ia melangkah, berniat melewati Raymond. Namun Raymond refleks mengulurkan tangan, menahan pergelangan tangan Angela dengan lembut.
"Tunggu." Angela menghentikan langkahnya.
Perlahan ia menunduk, menatap tangan Raymond yang masih menggenggam pergelangannya. Kemudian ia mengangkat pandangan, tatapannya dingin.
"Lepas." Satu kata, singkat dan datar, namun cukup membuat Raymond membeku.
Kevin, Rio, dan Arga saling bertukar pandang.
Rio bahkan mengucek telinganya.
"Gue nggak salah denger, kan?" Arga menggeleng pelan.
"Baru kali ini....Angela ngomong kayak gitu ke Raymond." Raymond tidak langsung melepaskan tangannya.
"Angela..."
"Lepas." Kali ini nada suara Angela terdengar lebih tegas. Raymond akhirnya membuka genggamannya. Angela menarik kembali tangannya tanpa tergesa-gesa.
Ia merapikan sedikit lengan hoodie yang kusut akibat genggaman itu. Raymond memperhatikan setiap gerakannya.
"Ada apa?" Angela menghela napas pelan.
"Harus ada apa?"
"Lo marah sama gue?" Angela tertawa kecil.
Namun tawa itu terdengar hambar.
"Marah?" Ia menggeleng pelan. "Nggak."
"Terus kenapa sikap lo berubah?" Angela menatap Raymond lurus.
"Karena gue capek." Raymond terdiam.
Capek?
Angela melanjutkan dengan suara tenang.
"Sejak kenal sama lo...hidup gue jadi nggak pernah tenang." Semua orang yang mendengar langsung terdiam. Bahkan Clara yang sejak tadi menahan malu ikut mengangkat kepalanya.
Angela tersenyum tipis.
"Tiap hari ada aja masalah. Mulai dari gosip, jadi pusat perhatian, sampai sekarang..."
Ia melirik sekilas ke arah Clara. "...disamperin orang cuma gara-gara mereka ngira gue deket sama lo." Raymond mengepalkan tangannya pelan. Ia tidak menyangka semua itu telah membebani Angela. Angela kembali menatapnya.
"Gue kuliah di sini buat belajar, bukan buat masuk ke dalam drama siapa pun." Nada bicaranya tetap tenang. Justru ketenangan itu membuat setiap kata terasa semakin menusuk.
Rio menelan ludah, Dalam hati ia bergumam,
'Waduh... Raymond kena juga.'
Angela melanjutkan,
"Gue nggak pernah minta lo deketin gue, juga nggak pernah minta jadi bahan omongan satu kampus. Apalagi..." Tatapannya semakin tajam. "...jadi sasaran orang-orang yang suka sama lo."
"Angela, gue bisa jelasin—"Raymond membuka mulut. Angela memotong ucapannya.
"Nggak usah. Bukan salah lo kalau banyak yang suka sama lo, tapi juga bukan salah gue.".Ia mengambil satu langkah mundur.
"Jadi mulai sekarang..." Angela berhenti sejenak. Tatapannya berubah dingin, sesuatu yang belum pernah Raymond lihat sebelumnya. "...jaga jarak sama gue."
Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong.
"Apa?!"
"Serius?"
"Kak Raymond... dijauhin?" Para mahasiswa mulai berbisik heboh. Bahkan Clara sampai lupa dengan rasa malunya.
Raymond sendiri berdiri mematung. Ia menatap Angela tanpa berkedip.
Untuk pertama kalinya, dadanya terasa sesak.
Bukan karena kemarahan. Melainkan karena ia baru menyadari, tanpa sengaja, kehadirannya telah menyeret Angela ke dalam berbagai masalah.
Angela tidak menunggu jawaban.
Ia memutar badan dan berjalan melewati Raymond. Kali ini, Raymond tidak berusaha menghentikannya , Ia hanya berdiri diam, mengikuti langkah Angela dengan pandangan yang kosong hingga sosok gadis itu perlahan menghilang di ujung koridor.
"Ray..." Rio mengembuskan napas panjang. Namun Raymond tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju ke arah tempat Angela menghilang. Raymond masih berdiri mematung beberapa detik. Tatapannya belum juga lepas dari arah Angela pergi.
Namun perlahan, Ekspresi kecewa di wajahnya menghilang, berganti menjadi dingin. Sangat dingin.
Ia memutar tubuhnya menghadap Clara.
Sorot matanya yang tajam langsung membuat Clara tanpa sadar mundur selangkah.
"Raymond..." Raymond menyela sebelum Clara sempat melanjutkan.
"Lo." Nada suaranya rendah.
Namun justru terdengar lebih mengintimidasi.
"Gue cuma mau ngomong sekali." Koridor kembali sunyi. Tak ada yang berani menyela.
Raymond melangkah mendekati Clara hingga jarak mereka tinggal sekitar satu meter.
"Jangan pernah bawa nama gue buat ngancem siapa pun." Clara menggigit bibirnya.
"Tapi aku cuma—"
"Gue belum selesai." Kalimat itu langsung membuat Clara menutup mulut.
Tatapan Raymond tetap dingin.
"Gue nggak pernah nyuruh lo ngurusin hidup gue, apalagi nyari masalah sama Angela."
Clara mengepalkan kedua tangannya.
"Aku cuma nggak mau dia manfaatin kamu."
Raymond terkekeh pelan. Namun tawa itu sama sekali tidak mengandung kehangatan.
"Lo pikir....gue nggak bisa bedain mana orang tulus, mana yang cuma pura-pura?" Clara terdiam.
"Mulai hari ini." Raymond menunjuk lantai di depan Clara.
"Kalau gue sampai denger lo atau siapa pun ganggu Angela lagi..." Ia berhenti sejenak.
Tatapannya menyapu teman-teman Clara satu per satu."...urusan kalian sama gue."
Tak ada ancaman yang berlebihan.
Namun semua orang tahu, kalimat itu jauh lebih mengerikan. Kevin sampai mengusap tengkuknya.
"Waduh..." Rio berbisik pelan.
"Fix."
"Kena semprot." Arga hanya menggeleng.
"Udah gue bilang." Raymond berbalik tanpa menunggu jawaban.
"Raymond!" Clara memanggilnya.
Namun Raymond bahkan tidak menoleh.
Langkahnya justru semakin cepat.
Rio menunjuk punggung sahabatnya itu.
"Tuh, kan."
"Dia pasti ngejar Angela." Kevin menghela napas.
"Kalau udah soal Angela, itu orang nggak pernah bisa diem." Rio terkekeh.
"Bucin akut." Arga mengangguk setuju.
"Udah stadium akhir."
---
Sementara itu, Angela sudah kembali memasuki gedung Fakultas Desain Komunikasi Visual. Koridor fakultas jauh lebih tenang. Beberapa mahasiswa sedang duduk mengerjakan tugas. Sebagian lagi sibuk membawa maket menuju studio.
Angela berjalan santai sambil melihat jadwal kuliah di ponselnya.
"Tinggal sepuluh menit, masih sempat beli kopi." Belum sempat ia melangkah menuju kantin fakultas. seseorang memanggil namanya, suara yang sangat dikenalnya membuat langkahnya berhenti.
"Angela!"
Angela menutup mata sebentar.
Mengembuskan napas panjang.
"Gue baru aja bilang jaga jarak..." gumamnya pelan. Tak lama kemudian, Raymond berhenti tepat di depannya. Napasnya sedikit memburu karena berjalan cepat.
Beberapa mahasiswa DKV langsung melongo.
"Itu..."
"Kak Raymond?"
"Ngapain ke gedung DKV?"
"Nyari siapa?" Lalu mereka melihat Angela berdiri di depan Raymond.
"Oalah..."
"Pantes."
Angela memasukkan ponselnya ke saku hoodie.
"Ada apa lagi?" tanya Angela santai. Raymond menatapnya beberapa detik, biasanya ia selalu tahu harus berkata apa.
Namun kali ini, semua kalimat terasa sulit keluar. Akhirnya ia menarik napas pelan.
"Maaf." Angela sedikit mengernyit.
"Maaf buat apa?"
"Karena tanpa sadar..." Raymond menundukkan kepala sedikit. "...gue udah bikin hidup lo ribet." Angela tidak langsung menjawab. Raymond melanjutkan.
"Lo benar. Gue nggak pernah mikirin kalau kedekatan kita malah bikin orang lain ganggu lo. Sekarang gue ngerti."
Suasana menjadi hening. Beberapa mahasiswa pura-pura lewat, padahal telinga mereka jelas sedang memasang mode siaga.
"Itu Kak Raymond lagi minta maaf?"
"Serius?"
"Rekam nggak?"
"Jangan! Nanti ketahuan." Angela menghela napas pelan.
"Gue nggak butuh permintaan maaf."
"Lalu?"
"Gue cuma pengin kuliah dengan tenang."
Raymond mengangguk.
"Oke." Angela berbalik hendak pergi.
Namun baru dua langkah, Raymond refleks meraih pergelangan tangannya.
Angela berhenti. Belum sempat ia berkata apa-apa, Raymond menariknya pelan hingga jarak mereka nyaris tak tersisa. Lalu, Dengan hati-hati, Raymond memeluk Angela.
Bukan pelukan yang kasar. Melainkan pelukan erat, seolah takut gadis itu benar-benar pergi dari hidupnya. Seketika, seluruh koridor langsung membeku.
"..."
"..."
"..."
Lima detik penuh, tak ada yang bersuara.
Rio, Kevin, dan Arga yang baru saja tiba di depan gedung fakultas ikut terpaku.
"Gue lagi halu?" Rio mengucek matanya.
"Nggak." Kevin ikut melongo.
"Dia beneran meluk." Arga menepuk jidat.
"Udah nggak ketolong." Di dalam pelukan itu, Raymond berbicara lirih.
"Gue tahu lo minta gue jaga jarak."
"Tapi, gue kayaknya nggak bisa." Raymond tersenyum getir. Angela menghela napas panjang.
"Raymond..."
"Gue bakal berusaha ngurangin masalah buat lo." Raymond mempererat pelukannya sesaat, lalu melonggarkannya agar Angela tetap nyaman.
"Tapi nyuruh gue jauhin lo..."Ia menggeleng pelan. "...itu bagian yang paling susah."
Angela mendongak menatap wajahnya.
"Lo keras kepala, ya." Raymond tersenyum tipis.
"Iya. Gue baru sadar." Angela memijat pelipisnya.
"Lo sadar nggak, sekarang semua orang lagi lihat ke arah kita?" Raymond melirik ke kanan.
Puluhan pasang mata langsung mengalihkan pandangan pura-pura sibuk.
Seorang mahasiswa bahkan membuka buku secara terbalik.
"Ehem... gue lagi belajar." Temannya langsung berbisik,
"Itu bukunya kebalik, bego." Mahasiswa itu buru-buru membalik bukunya.
"Oh... pantes nggak nyambung." Di sisi lain, Rio sudah menahan tawa sampai wajahnya memerah.
"Kevin..."
"Apa?"
"Gue pengin pura-pura nggak kenal sama tuh orang." Kevin mengangguk cepat.
"Gue juga." Arga menyilangkan tangan.
"Pangeran kampus?" Ia menggeleng sambil tersenyum geli.
"Sekarang lebih cocok dipanggil..."Rio langsung menyambung,
"Pangeran Bucin." Mereka bertiga langsung tertawa pelan. Sementara Angela hanya bisa menatap Raymond tanpa berkata apa-apa.
Di balik wajah dinginnya, Ia benar-benar dibuat tidak habis pikir oleh pria yang satu itu.
kalau bisa up nya di tambahin
padahal seru kenapa sepi komen nan y