Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 12
Melihat Cantika dan Farrel yang langsung asyik membandingkan piala mereka sambil berbisik-bisik riang, Ghani kembali menatap Aulia. Wajah wanita di hadapannya itu sudah jauh lebih tenang, meski sisa-sisa ketegangan emosi dari kejadian pagi tadi masih belum sepenuhnya hilang dari gurat wajahnya.
"Bu Aulia," puji Ghani dengan nada suara baritonnya yang tenang dan menghargai.
"Anda mendidik Cantika dengan sangat baik. Di atas panggung tadi, dia sama sekali tidak terlihat takut. Auranya sangat positif."
Aulia tersenyum tipis, kali ini senyuman yang benar-benar tulus keluar dari hatinya.
"Terima kasih, Pak Ghani. Semua ini juga berkat Farrel yang selalu menemani dan menyemangatinya di sekolah. Saya tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada Farrel."
"Kita sesama orang tua tunggal... ah, maksud saya, sesama orang tua harus saling mendukung," Ghani memotong kalimatnya sendiri dengan sopan, menyadari situasi rumit yang sedang dihadapi Aulia dengan suaminya, meski ia memilih untuk tetap berpura-pura tidak tahu demi menjaga privasi wanita itu.
"Bagaimana kalau setelah acara penutupan ini, kita rayakan keberhasilan anak-anak? Kebetulan ada restoran ramah anak yang baru buka di dekat sini. Farrel sudah lama mengajak saya ke sana, dan saya rasa Cantika akan senang."
Aulia sempat tertegun. Di satu sisi, ia ingin segera pulang untuk menenangkan diri dan memikirkan langkah hukum serta keputusan besar terkait rumah tangganya dengan Galang. Uang gaji Galang yang entah ke mana, kebohongan soal biaya rumah sakit keponakannya, dan aroma parfum wanita lain... semua itu menuntut penyelesaian.
Namun, ketika ia melihat Cantika yang sedang tertawa lepas bersama Farrel, Aulia sadar. Hari ini adalah hari milik anaknya. Cantika berhak mendapatkan perayaan atas kerja kerasnya, tanpa harus dikotori oleh drama dan kebusukan ayahnya.
Aulia menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya, lalu menatap Ghani sambil mengangguk.
"Tentu, Pak Ghani. Mari kita rayakan. Hari ini... mari kita buat anak-anak menjadi yang paling bahagia," ucap Aulia mantap.
Di dalam hatinya, Aulia berjanji. Begitu perayaan untuk anaknya selesai dan mereka tiba di rumah, ia akan langsung mengemas seluruh pakaian Galang dan meletakkannya di depan pintu. Tidak ada lagi air mata untuk pria yang menukar masa depan anaknya demi ego dan wanita lain. Lembaran baru dalam hidupnya sudah resmi dibuka hari ini.
Acara penutupan pentas berjalan dengan lancar. Suasana aula yang tadinya formal perlahan berubah menjadi santai saat para orang tua mulai mengabadikan momen anak-anak mereka di berbagai sudut dekorasi yayasan. Setelah berpamitan dengan kepala sekolah dan beberapa guru, Aulia, Ghani, serta kedua anak mereka berjalan beriringan menuju area parkir.
Mata Aulia sempat tertuju pada sudut parkiran tempat mobil Galang melesat pergi beberapa jam lalu. Aspal di sana sudah bersih, sama seperti hatinya yang kini telah sepenuhnya mati rasa terhadap pria itu. Logikanya kini bekerja dengan sangat jernih. Begitu sampai di rumah nanti, ia akan memeriksa semua dokumen keuangan yang bisa ia temukan untuk melacak ke mana perginya uang gaji Galang selama ini.
"Bu Aulia, mari silakan masuk. Anak-anak sudah tidak sabar," suara Ghani membuyarkan lamunan Aulia.
Pria itu sudah membukakan pintu baris kedua mobilnya. Farrel dan Cantika langsung masuk dengan heboh, masih dengan piala emas yang setia berada di pelukan masing-masing. Aulia tersenyum canggung lalu ikut masuk dan duduk di kursi depan, di samping Ghani yang bertindak sebagai pengemudi.
Sepanjang perjalanan yang memakan waktu sekitar lima belas menit, suasana di dalam mobil terasa begitu hangat. Suara celoteh Farrel yang menceritakan betapa serunya gerakan memutar saat menari tadi berpadu dengan tawa kecil Cantika. Ghani sesekali menanggapi melalui kaca spion tengah dengan gaya seorang ayah yang sangat mengayomi. Aulia yang melihat pemandangan itu dari samping hanya bisa membatin, betapa kontrasnya sosok Ghani dengan Galang yang egois.
Mereka akhirnya tiba di sebuah restoran keluarga yang cukup luas dengan area bermain anak yang terintegrasi di bagian tengahnya. Setelah memesan makanan, Farrel langsung menarik tangan Cantika menuju area bermain mandi bola dan perosotan.
"Biarkan mereka main dulu, Bu Aulia. Kita bisa mengawasi dari sini," ujar Ghani sambil mengambil posisi duduk di meja yang berhadapan langsung dengan area bermain.
Aulia mengangguk dan duduk di seberang Ghani. Keheningan sempat tercipta di antara mereka berdua selama beberapa saat, hanya terdengar suara riuh anak-anak dari kejauhan. Aulia menatap jemarinya yang saling bertautan di atas meja, tiba-tiba rasa lelah yang amat sangat menjalar di sekujur tubuhnya akibat tekanan emosi sejak pagi.
"Bu Aulia," Ghani membuka suara dengan nada yang sangat berhati-hati, memecah kecanggungan.
"Saya tahu ini bukan urusan saya, dan Anda tidak perlu menjawabnya jika merasa tidak nyaman."
Aulia mendongak, menatap mata Ghani yang memancarkan ketulusan dan kedewasaan.
"Sebagai sesama orang tua, terkadang kita menanggung beban yang terlalu berat sendirian demi menjaga senyum anak-anak kita," lanjut Ghani, suaranya pelan namun sarat akan pengertian.
"Jika suatu saat beban itu terlalu berat untuk dipikul sendiri, jangan ragu untuk berbagi atau meminta bantuan. Anda adalah ibu yang hebat, dan Anda tidak sendirian."
Kata-kata Ghani yang begitu bijak dan tanpa menghakimi langsung menyentuh bagian terdalam hati Aulia. Air mata hampir saja merebak di sudut matanya, namun ia berhasil menahannya. Aulia tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh rasa terima kasih yang teramat sangat.
"Terima kasih, Pak Ghani. Kalimat Anda sangat berarti bagi saya hari ini," ucap Aulia dengan suara yang sedikit serak namun terdengar tegar.
Di luar jendela restoran, langit siang itu tampak begitu cerah. Dan di dalam hati Aulia, badai telah sepenuhnya berlalu, digantikan oleh fondasi baru yang kokoh. Ia siap pulang, siap menghadapi Galang, dan siap menutup buku lama untuk menulis cerita baru yang hanya berisi dirinya dan Cantika.
Sementara itu, di sebuah butik gaun pengantin mewah di kawasan pusat kota, atmosfernya terasa begitu kontras dengan kehangatan di restoran tempat Cantika merayakan kemenangannya.
Galang berdiri di dekat meja kasir dengan napas yang masih sedikit memburu akibat mengemudi ugal-ugalan. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Di depannya, Belinda sedang berdiri di depan cermin besar, mematut diri dengan gaun malam berbahan satin premium yang berkilau mewah. Wajah wanita itu tampak ketus, melirik Galang dari pantulan cermin dengan tatapan menghakimi.
"Dua puluh delapan menit," cetus Belinda dingin tanpa berbalik, melirik jam tangan bertatahkan berlian imitasi di pergelangan tangannya.
"Hampir saja kamu kehilangan aku, Galang. Aku benci pria yang tidak tepat waktu."
"Maaf, Bel... Tadi jalanan agak macet, dan aku harus... memastikan sesuatu dulu," dalih Galang berbohong, memaksakan sebuah senyuman di wajahnya yang tegang.
Dia tidak mungkin mengaku bahwa dia baru saja mencampakkan anak kandungnya di hari penting demi mengejar tenggat waktu Belinda. Belinda mendengus remeh. Dia membalikkan badannya, berjalan mendekati Galang dengan langkah anggun yang dipaksakan. Aroma parfumnya yang menyengat langsung menusuk hidung Galang, aroma yang sama persis dengan yang tertinggal di kemeja Galang semalam dan mungkin saja sudah jauh lebih lama lagi, yang disadari oleh Aulia.
"Ya sudah, tidak usah banyak alasan. Yang penting sekarang bayar sisa pelunasan gaun ini. Totalnya lima belas juta lagi. Setelah itu, kamu harus mengantarku ke salon untuk persiapan makan malam dengan teman-teman ariskanku nanti malam," perintah Belinda dengan nada menuntut, seolah Galang adalah pelayan pribadinya.
Galang menelan ludah dengan susah payah. Angka lima belas juta bukanlah jumlah yang sedikit, terutama setelah dia menguras hampir seluruh sisa gaji bulanannya untuk membelikan tas branded yang diminta Belinda minggu lalu. Uang yang seharusnya ia gunakan untuk keperluan rumah tangga dan terapi wicara Cantika, kini harus kembali berpindah tangan demi memuaskan gengsi Belinda.
Dengan tangan yang sedikit ragu, Galang merogoh dompetnya dan mengeluarkan kartu debit utamanya. Dompetnya kini kosong melompong, menyisakan saldo yang sangat menipis di rekening.
"Ini, Mbak. Tolong diproses," kata Galang kepada pelayan butik dengan suara yang diusahakan tetap terdengar berwibawa demi menjaga harga dirinya di depan Belinda.
Saat proses transaksi berlangsung, Belinda tersenyum puas dan langsung menggelayut manja di lengan Galang.
"Nah, begini dong. Ini baru laki-laki yang bisa diandalkan. Nanti malam kamu harus pakai setelan terbaikmu ya, Galang. Jangan memalukan aku di depan teman-temanku. Mereka semua suaminya pengusaha sukses."
Mendengar pujian instan itu, ego Galang yang rapuh seketika merasa terpenuhi. Rasa bersalah yang sempat terbersit saat mengingat wajah bingung Cantika dan tatapan tajam Aulia di parkiran yayasan tadi pagi langsung menguap begitu saja. Pria itu tersenyum bangga, merasa bahwa keputusannya meninggalkan anak dan istrinya adalah hal yang tepat demi mempertahankan "kehidupan berkelas" yang ia impikan bersama Belinda.
Galang sama sekali tidak menyadari bahwa di saat dia sedang merayakan kemewahan semu dan kepalsuan bersama Belinda, di belahan kota yang lain, Aulia sedang bersiap untuk meruntuhkan seluruh dunia nyaman yang selama ini dia nikmati dengan fasilitas dari sang istri.