Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.
Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.
Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.
Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 29.
Hujan turun sejak sore. Tetesannya menghantam kaca jendela apartemen dengan irama yang pelan, tetapi cukup untuk menutupi suara langkah seseorang yang baru saja memasuki lorong lantai delapan.
Ramon berdiri beberapa meter dari pintu apartemen Sania, tatapannya dingin. Sudah beberapa hari Sania menghilang tanpa kabar. Nomor telepon wanita itu tidak aktif. Semua tempat yang biasa didatangi wanita itu kosong, dan insting Ramon mengatakan sesuatu telah terjadi.
Ia mengangkat tangan, hendak mengetuk pintu. Namun sebelum sempat melakukannya, pintu apartemen di seberang terbuka. Seorang wanita paruh baya keluar sambil membawa kantong sampah.
Melihat Ramon, wanita itu tampak mengenali wajah pria tersebut. "Anda mencari Nona Sania?"
Ramon mengangguk singkat.
"Dia ada?"
Wanita itu menggeleng. "Sudah tiga hari tidak pulang."
"Tiga hari?" Ramon mengernyit.
"Iya." Wanita itu seolah teringat sesuatu. "Oh iya... beberapa hari yang lalu dia pulang dalam keadaan sangat lemah."
"Le...mah?"
"Iya."
"Dia bahkan dibantu seorang perawat."
Jantung Ramon berdetak lebih cepat. "Perawat?"
"Saya sempat mendengar mereka bicara, mereka bilang operasinya berhasil."
Operasi, satu kata itu membuat firasat buruk memenuhi kepala Ramon.
"Operasi apa?"
"Saya kurang tahu."
"Tapi..." Wanita itu berpikir beberapa detik. "...kalau tidak salah saya mendengar, kata kandungan."
Ramon membeku, seluruh tubuhnya seakan kehilangan tenaga. "Kandungan..."
"Iya."
Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya, sementara Ramon masih berdiri mematung.
Tidak mungkin! Sania pernah berjanji akan menjaga bayi mereka. Bahkan ketika semua orang memusuhinya dan ketika Michael mengusir wanita itu. Sania masih berkata bahwa anak itu adalah satu-satunya alasan untuk bertahan hidup.
Kalau begitu, operasi apa yang dimaksud?
Dua jam kemudian, Ramon duduk di dalam mobilnya. Di dashboard terdapat sebuah map hasil penyelidikan anak buahnya, ia membukanya perlahan. Di dalam terdapat salinan rekam medis, nama pasien.
Sania Adriana, tindakan medis—terminasi kehamilan. Tanggal tindakan, tiga hari yang lalu. Ramon membaca kalimat itu berkali-kali, namun hasilnya tetap sama. Tangannya mulai bergetar, anaknya sudah tidak ada. Anak mereka, sengaja digugurkan.
Brak!
Ramon memukul setir sekuat tenaga, suara klakson memekakkan telinga. Matanya memerah. Selama ini ia bertahan hidup di bawah bayang-bayang Black Throne, menjalankan perintah yang tidak pernah ia sukai. Menanggung semua dosa, hanya karena satu alasan—Sania dan anak mereka.
Sekarang, alasan itu telah hilang.
Malam harinya.
Joseph Bonanno sedang menikmati segelas anggur di ruang kerjanya ketika salah seorang anak buah masuk.
"Tuan."
"Ada apa?"
"Ramon datang."
Joseph tersenyum tipis. "Suruh masuk."
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka keras. Ramon masuk tanpa basa-basi, tatapannya dipenuhi amarah.
"Jarang sekali kau datang tanpa dipanggil." Joseph tetap duduk santai.
Ramon melempar map rekam medis ke atas meja. "Itu ulah kalian?"
Joseph melirik isi map tersebut. "Oh... akhirnya kau tahu."
"Kenapa?" Rahang Ramon mengeras.
Joseph menyesap anggurnya lebih dulu sebelum menjawab. "Karena anak membuat seseorang menjadi lemah."
"Itu anakku!"
"Tepat!" Joseph tersenyum tipis. "Dan kami tidak membutuhkan prajurit yang memiliki kelemahan."
Ramon melangkah cepat, dalam sekejap ia sudah mencengkeram kerah baju Joseph. "Siapa yang menyuruh Sania melakukan itu?"
Joseph sama sekali tidak panik, Ia justru menatap Ramon dengan tenang.
"Bukan kami."
"Lalu siapa?"
"Kami hanya memberi pilihan."
"Pilihan apa?"
"Kalau ingin tetap hidup, buang anak itu."
Darah Ramon langsung mendidih. "Dasar bajingan!"
Brak!
Ia menghantam meja hingga gelas anggur pecah berserakan.
Namun Joseph masih tersenyum. "Kau marah?"
"Kalian membunuh anakku!"
"Bukan." Joseph menggeleng pelan. "Yang membunuh anakmu, adalah wanita yang kau cintai itu."
Kalimat itu membuat Ramon kehilangan seluruh kata-katanya.
"Sania memilih kekuasaan, dia memilih masuk organisasi." Joseph melanjutkan dengan nada datar, namun tatapannya tajam. "Dia memilih membalas dendam kepada Michael dan Velicia. Lalu... dia membuang anakmu."
Setiap kalimat terasa seperti pisau yang menusuk dada Ramon. Ia masih mengingat jelas malam ketika Sania menangis sambil mengatakan ingin melindungi bayi mereka. Sekarang ia sadar, semua itu hanya kebohongan.
Beberapa jam kemudian...
Sania baru saja kembali ke apartemen. Begitu membuka pintu, Ia langsung membeku. Ramon sudah duduk di ruang tamu.
Ruangan gelap, hanya cahaya lampu kota yang masuk melalui jendela. Membuat wajah Ramon terlihat jauh lebih dingin.
"Kau sudah pulang."
Suara pria itu terdengar begitu tenang, justru ketenangan itulah yang membuat Sania merinding.
"Kapan kau datang?"
"Sudah lama."
Sania mencoba tetap tenang. "Kau ingin apa?"
Ramon berdiri perlahan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Hingga akhirnya berhenti tepat di depan Sania.
"Aku hanya ingin satu jawaban." Tatapan mereka bertemu. "Kenapa?"
"Kenapa apa?" Sania berpura-pura tidak mengerti.
"Kenapa kau membunuh anak kita?"
Ucapan Ramon membuat wajah Sania langsung berubah. Ia tahu, Ramon sudah mengetahui semuanya.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan, akhirnya Sania mengembuskan napas panjang. "Karena aku tidak membutuhkannya."
Jawaban wanita itu membuat tangan Ramon mengepal hingga urat-uratnya menonjol.
"Itu darah daging kita."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa?"
Sania menatap Ramon tanpa rasa bersalah. "Karena anak itu hanya akan menjadi beban, Ramon. Aku masih punya tujuan, aku tidak bisa membawa bayi ke tengah perang."
Ramon tertawa pelan, namun tawanya terdengar lebih menyeramkan daripada kemarahan. "Jadi... begitu mudah kau membuangnya?"
Sania tidak menjawab, baginya keputusan itu memang sudah selesai.
"Aku benar-benar bodoh." Ramon menggeleng pelan. “Aku mengkhianati begitu banyak orang, dan membunuh begitu banyak orang... termasuk suamimu. Aku hidup seperti anjing Black Throne, hanya karena ingin melindungimu."
Suara Ramon mulai bergetar. "Ternyata... yang paling kejam di antara mereka semua adalah dirimu."
Sania melihat air mata jatuh dari mata Ramon, namun bukan air mata kelemahan. Melainkan air mata seorang ayah yang kehilangan anaknya sebelum sempat memeluknya.
Ramon mengusap wajahnya kasar, saat kembali mengangkat kepala tatapannya sudah berubah. Semua rasa cinta telah lenyap, dan semua harapan telah sirna. Yang tertinggal di dalam hati Ramon pada Sania... hanya kebencian.
"Kau benar, aku memang tidak pantas menjadi ayah. Tapi mulai hari ini, aku juga tidak akan menjadi anjing Black Throne lagi."
Ramon berbalik menuju pintu.
Sania langsung berkata, "Kau mau ke mana?"
Ramon berhenti tanpa menoleh.
"Dulu aku hidup untukmu, Sania. Sekarang... aku akan hidup untuk menghancurkan semua orang yang merenggut anakku!"
Pintu apartemen tertutup keras.
Brak!
Sania berdiri mematung.
Sejak bergabung dengan Black Throne, kali ini ia merasakan ketakutan yang sesungguhnya. Karena ia mengenal Ramon, pria itu memang bukan orang paling cerdas.
Namun sekali kehilangan segalanya, Ramon tidak akan berhenti sebelum membalas semuanya. Dan mulai malam itu, Black Throne baru saja menciptakan musuh yang mengenal organisasi mereka dari dalam.