"Tanda tangani surat cerai ini atau keluargamu membusuk di penjara!"
Difitnah atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Flossie diusir oleh suaminya, Alfie Kincaid, ke tengah badai malam. Pria itu tidak pernah tahu, Flossie pergi dengan membawa rahasia yang terkunci rapat di dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian, wanita yang disangka telah mati itu kembali sebagai sosok berkuasa yang siap membalikkan keadaan.
Saat kebenaran masa lalu mulai terungkap satu per satu, Alfie berlutut memohon kesempatan kedua. Namun, sepasang mata dingin sang mantan istri menatapnya tanpa emosi.
Apakah Alfie sanggup membayar harga dari sebuah pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Penemuan Samuel mengenai kepemilikan lahan steril oleh Ellis Corporation telah mengubah rasa duka Alfie menjadi kemarahan yang meledak-ledak.
Di ruang kerjanya, Alfie berdiri di hadapan peta jaringan bisnis global.
"Xavier Ellis, bajingan itu sengaja menyembunyikan istriku!"
"Pak Alfie, mohon tenang!"
Troy berusaha meredam kemarahan tuannya.
"Kita tidak memiliki bukti fisik bahwa Nyonya Flossie ada di tangan mereka. Jika Anda menyerang Ellis Corporation tanpa persiapan, Madam Willa dan dewan direksi akan menggunakan ini sebagai alasan untuk mendepak Anda."
"Persetan dengan dewan direksi, Troy!" bentak Alfie.
"Dia mengambil Flossie-ku tepat di bawah hidungku! Skenario bunuh diri di sungai itu adalah buatannya! Mengapa Xavier harus bertindak sejauh ini jika Flossie tidak berharga baginya?"
"Mungkin ini adalah bagian dari perang bisnis, Pak," sahut Troy ragu. "Ellis Corporation selalu ingin menjatuhkan Kincaid Group."
"Maka aku akan mendatangi bajingan itu sendiri," desis Alfie dan rahangnya mengatup rapat.
"Siapkan penerbangan rahasia ke Paris. Cari tahu di mana pergerakan aset pribadi Xavier Ellis selama tujuh bulan terakhir. Aku akan memburu Xavier sampai dia mengembalikan Flossie padaku!"
Namun, gerakan Alfie yang mulai mengendus jaringan Ellis tercium oleh mata-mata yang sengaja dipasang oleh Willa Kincaid. Willa yang mengira Flossie sudah mati dan tidak ingin reputasi Kincaid hancur akibat obsesi gila Alfie, diam-diam menyewa peretas internasional untuk melacak aliran dana transaksi pribadi Xavier Ellis di Paris dan berharap bisa menemukan kelemahan untuk menjatuhkan rival mereka.
***
Keberhasilan restorasi tiara Duchess de Tournon, nama Emma Ellis mulai terkenal di kalangan aristokrat tertinggi Prancis sebagai maestro baru. Namun, bayaran dari popularitas kilat itu harus ditebus mahal oleh rasa lelahnya.
Malam itu di dalam studio griya tawang Champs-Élysées, jarum jam telah menunjuk angka dua dini hari. Emma masih terduduk di depan meja gambarnya, menggenggam pensil mekanik di bawah lampu kerja yang temaram.
Kandungannya telah menginjak bulan ketujuh. Perutnya sudah membuncit besar dan memberikan beban tambahan yang melelahkan pada punggungnya.
"Satu lengkungan lagi," gumam Emma pada diri sendiri.
Tiba-tiba rasa nyeri yang luar biasa dahsyat menghantam bagian bawah perutnya.
"Argh!"
Emma memekik lirih. Pensil di tangannya terlepas dan menggelinding jatuh ke lantai. Kedua tangannya refleks mencengkeram perutnya yang mendadak mengeras seperti batu. Keringat dingin langsung membanjiri pelipisnya seiring rasa mulas yang menjalar hingga ke pinggang belakang.
"Xavier," panggil Emma.
Suara Emma tercekat di tenggorokan karena menahan sakit yang mematikan.
"Xavier, tolong!"
Pintu studio mendadak terbuka dengan sentakan kasar. Xavier yang rupanya belum tidur karena memeriksa laporan keamanan langsung melesat masuk setelah mendengar rintihan Emma.
Wajah pria yang biasanya selalu tenang itu seketika berubah tegang saat melihat Emma yang terkulai lemas di atas kursi dengan wajah seputih kertas.
"Emma! Ada apa?!"
Xavier berlutut di depan kursi Emma dan menahan tubuh wanita itu agar tidak terjatuh.
"Sakit, perutku sangat kencang, Xavier," bisik Emma."
Napasnya memburu pendek-pendek.
"Bayi-bayi ini ...."
"Kevin! Hubungi Dr. Chantal sekarang! Siapkan ruang medis internal!" teriak Xavier membentak asistennya di luar ruangan.
Xavier langsung menyusupkan kedua lengannya di bawah tubuh Emma dan menggendong wanita itu dengan hati-hati menuju kamar tidur utama.
Sepuluh menit kemudian, Dr. Chantal yang datang dengan raut cemas langsung memeriksa kondisi Emma di atas ranjang. Setelah menyuntikkan obat penenang otot rahim dan memasang infus, dokter paruh baya itu berbalik menatap Xavier dan Emma dengan helaan napas berat.
"Ini kontraksi dini yang berbahaya, Mademoiselle Emma," ujar Dr. Chantal tegas.
"Rahim Anda mengalami syok karena kelelahan fisik yang ekstrem. Jika Anda terus memaksakan diri bekerja hingga larut malam, Anda akan melahirkan bayi prematur di usia tujuh bulan dan peluang hidup mereka sangat tipis."
Emma mencengkeram selimutnya, air mata penyesalan mulai mengalir.
"Saya minta maaf, Dokter. Saya hanya ingin menyelesaikan pesanan tepat waktu."
"Tidak ada pesanan perhiasan yang lebih berharga daripada nyawa anak-anakmu, Emma," potong Xavier.
Pria itu menatap Dr. Chantal.
"Berapa lama dia harus beristirahat?"
"Minimal dua minggu," jawab Dr. Chantal.
"Dan singkirkan semua kertas sketsa itu dari hadapannya."
Keesokan paginya, Kevin melangkah masuk ke dalam kamar tempat Emma sedang beristirahat dengan wajah yang sangat pucat. Xavier sedang duduk di samping ranjang Emma yang sedang mengupaskan buah apel untuk wanita itu.
"Tuan Xavier, ada situasi darurat," bisik Kevin.
Tangannya menyodorkan sebuah laporan siber terenkripsi. Xavier meletakkan pisau buahnya, lalu membaca laporan itu. Alisnya bertaut rapat.
"Siapa yang melakukan enkripsi pelacakan ini?"
"Tim siber internal dari kediaman Madam Willa Kincaid, Tuan," jawab Kevin tegang.
"Mereka tidak melacak Nyonya Emma secara langsung, karena mereka tidak tahu dia masih hidup. Namun, mereka mulai memetakan sistem keamanan siber griya tawang ini karena mendeteksi adanya aktivitas medis darurat tingkat tinggi yang dibiayai oleh rekening privat Anda di Paris."
Emma langsung berusaha menegakkan tubuhnya begitu mendengar nama Willa Kincaid.
"Willa? Apakah wanita tua itu tahu aku di sini? Apakah dia akan datang untuk mengambil anak-anakku?!"
"Emma, tenang! Ingat pesan dokter."
Xavier menahan pundak Emma dengan lembut dan mengunci pandangan wanita itu agar tidak panik.
"Willa tidak tahu apa-apa. Dia hanya sedang mencoba memata-matai asetku untuk mencari celah bisnis, tapi griya tawang di Champs-Élysées ini sudah tidak aman lagi untuk masa pemulihanmu. Alfie dan ibunya mulai bergerak seperti serigala lapar."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Emma.
Napasnya mulai tersengal akibat rasa takut yang mulai merayapi benaknya.
Xavier berdiri dan menatap keluar jendela kaca besar ke arah jalanan Paris yang mulai diguyur hujan musim dingin.
"Kita akan memindahkanmu malam ini juga, Emma," ucap Xavier dingin.
"Kevin, siapkan tim evakuasi. Kita pindahkan Emma ke mansion tersembunyi di pedalaman wilayah Loire Valley di pinggiran terluar Paris. Tempat itu adalah bekas benteng pertahanan kuno keluarga Ellis yang tidak terdaftar di manifes publik. Tidak akan ada satu pun satelit Kincaid Group atau mata-mata Willa yang bisa menembus dinding tempat itu."
Xavier kembali menatap Emma dan menggenggam tangannya yang dingin.
"Di sana kamu akan melahirkan anak kembar kita dengan aman. Biarkan Alfie Kincaid menggila mencari bayanganmu, sementara kita mempersiapkan kelahiran dua pewaris yang akan meruntuhkan dunianya."