Terbangun di masa lalu, tepat sebelum jerat takdir Daniel menjebaknya, Erica menolak menjadi korban untuk kedua kalinya.
Mengubah alur permainan adalah satu-satunya pilihan. Jika Daniel menggunakan nama besar Megantara untuk menghancurkannya, maka Erica akan menduduki takhta tertinggi di keluarga itu.
Ketika bidak catur mulai digerakkan dan rahasia satu per satu terkelupas, siapakah yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desas-Desus di Balik Dinding Barak
Fajar berikutnya menyelinap masuk melalui celah gorden kamar perawatan darurat di saat binar cahaya kelabu menembus kabut tipis perbatasan.
Hangatnya genggaman tangan Eshar semalam masih membekas di jemari lentik Erica. Saat subuh, dia sampai menarik tangannya dengan sangat pelan, berusaha untuk tidak membangunkan sang Jenderal yang akhirnya bisa tertidur pulas setelah berhari-hari didera demam pasca operasi.
Erica merapikan blus katunnya yang sedikit kusut akibat tidur sambil duduk membungkuk dengan posisi kepalanya berada di sisi Eshar.
Dia menatap wajah tampan suaminya yang tampak tenang dalam tidurnya, tidak ada gurat tegas militer yang biasanya selalu melekat di raut wajahnya, sehingga membuat sebuah senyuman hangat nan tulus terukir di sudut bibir Erica. Ia merapatkan selimut wol tebal Eshar sekali lagi sebelum melangkah keluar kamar dengan langkah ringan.
Begitu Erica menutup pintu kayu tebal itu dan melangkah ke koridor markas komando, atmosfer hangat yang dia rasakan di dalam kamar langsung menguap, hawa dingin dan suara akan bisik-bisik mencurigakan mulai menggerogoti dirinya.
Di ujung koridor, dekat dispenser air minum gerabah, tampak tiga orang istri perwira menengah dari komplotan Nyonya Ratna sedang berdiri berkerumun. Mereka mengenakan seragam hijau Persit, tapi gelagat mereka sama sekali tidak mencerminkan sikap disiplin anggota organisasi.
"...iya, Jeng. Saya dengar sendiri dari ajudan suamiku," bisik salah satu wanita dengan sanggul sasak kecil, matanya melirik ke kanan dan kiri dengan waspada.
"Penyusup itu bisa masuk karena pengamanan pangkalan sengaja dilonggarkan. Dan anehnya, sasarannya langsung ke rumah dinas Nyonya Besar. Jangan-jangan, ini semua cuma sandiwara?"
"Hus, jangan keras-keras, Jeng!" timpal istri kapten di sebelahnya dengan nada menuduh yang ditahan.
"Tapi kalau dipikir-pikir, memang aneh, kan? Nyonya Erica itu kan dari Jakarta, kudengar, dia hampir bertunangan dengan keponakan Jenderal sendiri. Siapa tahu dia sengaja membawa 'masalah' dari kota untuk merusak reputasi Jenderal Eshar di sini. Gara-gara dia, Jenderal kita yang gagah sekarang malah terluka parah."
"Benar sekali. Kalau sampai berita Jenderal tertembak ini bocor ke Markas Besar di Jakarta, posisi suamiku dan Mayor Bambang juga bisa ikut terancam karena dinilai gagal menjaga keamanan distrik!" desis wanita ketiga, yang tak lain adalah pengikut setia Nyonya Ratna.
Mendengar tuduhan keji yang meragukan integritas serta kesetiaannya pada Eshar, langkah kaki Erica terhenti seketika memicu gelombang amarah yang dingin di dalam dadanya.
Dia tidak akan membiarkan namanya dan pengorbanan Eshar yang hampir kehilangan nyawa demi melindunginya, malah dijadikan bahan gosip murah oleh komplotan yang sakit hati karena kehilangan pengaruh.
Dengan langkah tegap dan anggun, Erica sengaja mengeraskan ketukan sepatu pantofelnya di atas lantai semen koridor.
Tuk. Tuk. Tuk.
Suara ketukan itu seketika membuat ketiga wanita tersebut tersentak. Obrolan mereka langsung terputus dengan canggung. Wajah-wajah yang tadinya penuh gambaran kedengkian kini mendadak pucat pasi saat melihat Erica berjalan mendekat dengan dagu terangkat dan tatapan mata yang setajam silet.
"Selamat pagi, Ibu-Ibu sekalian," sapa Erica, suaranya terdengar tenang, membawa wibawa kuat yang langsung menekan nyali mereka.
"Kulihat pagi-pagi sekali Ibu-Ibu sudah berkumpul di sini. Apakah jadwal piket kebersihan barak atau persiapan kelas menjahit kita hari ini sudah selesai, sampai-sampai ada waktu luang untuk mendiskusikan 'taktik intelijen' di koridor ruang medis?"
Istri perwira yang bersanggul kecil berdeham canggung, mencoba mencari alasan untuk membela diri.
"Oh, selamat pagi, Nyonya Eshar... Kami hanya sedang mengkhawatirkan kondisi Jenderal. Kami semua sangat cemas."
"Mengkhawatirkan Jenderal, atau sedang mencari celah untuk melempar tanggung jawab atas kelalaian keamanan?" tanya Erica langsung pada sasaran, tanpa basa-basi.
Ia melangkah satu langkah lebih dekat, membuat ketiga wanita itu tanpa sadar ikut mundur selangkah. Wibawa Erica sebagai seorang pemimpin bisnis kini memancar penuh, mendominasi ruangan.
"Dengar baik-baik," ujar Erica, suaranya merendah sehingga yang terdengar seperti ancaman yang mematikan.
"Suami saya, Jenderal Eshar Megantara, tertembak saat menjalankan tugas negara dan melindungi istrinya dari ancaman sabotase luar yang terhubung dengan jaringan kriminal Jakarta. Kasus ini sekarang berada di bawah penanganan langsung tim intelijen militer khusus. Jika saya mendengar ada satu saja desas-desus tidak berdasar yang keluar dari mulut Ibu-Ibu sekalian, terutama yang meragukan integritas keamanan pangkalan, saya sendiri yang akan memastikan suami Ibu sekalian menerima surat mutasi ke pos penjagaan di ujung pulau timur paling lambat akhir minggu ini. Apakah saya berbicara dengan cukup jelas?"
Mendengar ancaman mutasi ke pos pinggiran negara yang sangat dingin dan tidak main-main itu, ketiga istri perwira tersebut langsung gemetar. Mereka tahu, di perbatasan ini, kata-kata istri Jenderal adalah perintah yang bisa dengan mudah diwujudkan oleh sang penguasa wilayah.
"Si-siap, jelas, Nyonya..." jawab mereka terbata-bata, buru-buru menundukkan kepala serendah mungkin sebelum pamit undur diri dengan langkah tergesa-gesa seolah baru saja melihat hantu.
Erica pun mengembuskan napas perlahan, menenangkan debaran dadanya yang sempat tersulut emosi.
Di saat yang sama, sesosok tubuh tegap yang mengenakan seragam dinas lapangan yang tampak berantakan karena lelah, melangkah dari arah koridor seberang.
Axelo datang dengan memegang beberapa lembar telegraf baru. Wajahnya terlihat serius saat melihat sisa ketegangan di wajah Erica.
"Nyonya Besar," panggil Axelo, suaranya berbisik pelan.
"Saya melihat kejadian tadi. Anda sangat hebat. Memang, komplotan Nyonya Ratna harus terus ditekan agar tidak bertingkah macam-macam selama Jenderal dalam masa pemulihan."
"Terima kasih, Axelo. Bagaimana perkembangan di Jakarta?" tanya Erica, kembali ke mode serius.
Axelo menyodorkan kertas telegraf tersebut.
"Kurir udara kita telah menyerahkan bukti dokumen penyelundupan Daniel langsung ke meja Jenderal Besar Benny Megantara di Menteng m. Berita ini sukses memicu badai besar di dalam internal Megantara Corp. Daniel dikabarkan langsung dicopot sementara dari jabatannya sebagai direktur operasional garmen perusahaan cabang yang dikelolanya, dan Bianca mengamuk besar karena tidak bisa menghubungi pos perbatasan utara karena seluruh jalur telegraf sipil sudah kita blokir."
Erica membaca baris demi baris laporan itu dengan senyum yang kini kembali menghiasi wajahnya. Senyuman ini muncul karena rasa puas akan runtuhnya langkah pertama musuhnya.
"Bagus," ujar Erica perlahan.
"Dan orang-orang picik di Megantara mungkin mengira dengan mengirim pembunuh bayaran ke sini dia bisa melenyapkanku dan menutupi kedoknya. Tapi mereka tidak tahu, tindakannya justru mempercepat kehancuran mereka sendiri. Biarkan salah satu dari mereka menderita dalam ketidakpastian di Jakarta selama beberapa minggu ini."
Erica berbalik kembali menuju pintu kamar rawat Eshar diikuti oleh Axelo.
"Tugas kita sekarang adalah memastikan Eshar sembuh total tanpa gangguan. Ketika singa perbatasan ini pulih sepenuhnya, kita akan kembali ke Jakarta untuk mengambil apa yang menjadi hak kita."
Axelo memberikan hormat disiplin.
"Siap, laksanakan, Nyonya Jenderal!"
Erica melangkah masuk kembali ke dalam kamar, menutup pintu rapat-rapat dari segala intrik luar. Di samping ranjang suaminya yang masih terlelap, Erica bersumpah di dalam hati, dia tidak akan membiarkan siapa pun melukai pria yang telah menjadi pelindungnya ini lagi.
Perjalanan penyembuhan ini mungkin membutuhkan waktu, tapi saat mereka melangkah keluar dari perbatasan utara nanti, Jakarta akan bergetar menyambut pembalasan mereka..
semoga msalaah yg ad bisa selesai satu persatu termasuk kematian viona
sperti ny mereka terlalu meremehkan sang jendral dan istrinya ,, 😒😒😒😒
😂😂😂😂
lanjut kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
syok gx tuh mata2ny ,, 😂😂😂😂
tp dtggu pake banget kelanjutan ny yx kak ,,
niat hati mau menjatuhkan ,,
eeeh malah jatuh sendri sejatuh2nya ,,
emnk anda berdua cocok menjadi mertua Dan menantu ,,
😒😒😒😒