NovelToon NovelToon
TIRAKAT 5

TIRAKAT 5

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mata Batin / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...

Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...

Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 SATU DIMENSI, DUA SUKMA

((Sekarang, kita berpindah lagi ke sudut pandang Haruma))

Saat tangan kananku masih bersentuhan dengan sosok tanpa wujud itu, tiba-tiba saja...

Sekar Arum pun muncul di dekatku.

Dan langsung terlihat jelas, wajahnya jauh lebih bersinar menatapku.

Kedua matanya pun jauh lebih terang warna keemasannya.

Terasa pula aura dirinya jauh lebih kuat dari pada beberapa kali pertemuan kami sebelumnya.

Dan juga, mahkota serta bajunya yang berwarna hitam itu, terlihat bercahaya di pandangan mataku ini.

Membuatku lupa dengan sosok tanpa wujud yang barusan menyentuh tangan kananku.

"Sekar Arum?" panggilku.

"Aku ada dimana sekarang, Sekar Arum?" tanyaku kemudian.

Alih-alih Sekar Arum menjawabku, ia malah mengalihkan pandangannya ke arah kananku, tepat dimana barusan terasa ada sosok tanpa wujud yang menyentuh tangan kananku.

Dan, Sekar Arum pun berkata, "Lihatlah, dan jangan takut..."

Aku jadi merasa heran, dengan siapa Sekar Arum berbicara?

Aku jadi menoleh lagi ke sisi kananku. Tapi, dengan sangat jelas, tak ada siapapun di sini kananku itu.

Aku pun jadi bertanya, "Kamu ngomong sama siapa, Sekar Arum?"

Lalu, Sekar Arum kembali menatapku.

"Nanti, kamu juga akan tahu, Haruma..." jawabnya.

Kemudian, Sekar Arum pun melangkah.

Akan tetapi, langkah kakinya itu justru mengarah ke tengah-tengah kolam yang sangat jernih airnya.

Dan dengan sangat jelas, ia berjalan di atas air kolam itu.

Saat sudah berada di tengah kolam, Sekar Arum membalikkan badannya. Menghadap kepadaku.

"Kamu mau ngapain disana, Sekar Arum?" tanyaku spontan.

"Kok kamu bisa jalan di atas air?" tanyaku lagi.

Tapi, Sekar Arum tak menjawabku. Ia malah kembali mengalihkan pandangannya ke arah sisi kananku lagi.

Dan, tangan kanannya bergerak, seperti sedang memerintahkan sesuatu yang ada di sisi kananku itu untuk duduk dan diam.

"Sekar Arum, ada siapa sih di kananku?" tanyaku.

Dan, Sekar Arum kembali menjawab dengan jawaban yang sama, "Nanti kamu juga akan tahu, Haruma..."

Beberapa detik kemudian, tiba-tiba...

Muncul juga dua sosok lainnya dari arah belakang Sekar Arum. Muncul begitu saja seperti dua buah bayangan yang langsung terlihat nyata di mataku.

Dua sosok itu adalah perempuan bermahkota seperti Sekar Arum. Hanya saja, warna dominan mereka berbeda.

Yang satu mahkota dominan hijau terang, dan satu lagi mahkota dominan merah terang.

Dan warna baju mereka berdua pun mengikuti warna mahkotanya. Yang satu berbaju hijau terang, dan satu lagi berbaju merah terang.

Akan tetapi, aku bisa lihat dengan jelas, ada persamaan di antara mereka bertiga.

Persamaan itu adalah warna kain jarik batik yang menutupi kaki mereka, sama-sama berwarna cokelat tua. Dan juga mereka bertiga memiliki kain selendang berwarna kuning keemasan yang cerah.

Bagiku, penampilan mereka sekarang terasa sangat sakral, sangat anggun, dan sangat kuat auranya.

"Akhirnya... Kamu bisa hadir juga kesini, ya! Hihihihi..." kata sosok berbaju merah itu.

"Siapa kamu?" tanyaku.

"Loooh? Kamu lupa, ya? Aku Sekar Mayang, Haruma... Hihihi..." jawabnya.

"Terus, kalo kamu, siapa?" tanyaku pada satu sosok lainnya itu.

"Aku Dayang Putri, Haruma..."

Ketika nama mereka berdua sudah disebutkan, sontak aku langsung ingat sesuatu.

Ya, aku pernah bertemu dengan mereka juga sebelumnya.

"Loh? Kalian berdua kan, perewangan Ibuku?!" kataku.

"Naaah... Akhirnya, kamu ingat juga. Hihihi..." jawab Sekar Mayang.

"Dimana Ibuku?" tanyaku langsung.

"Dia tak ada disini, Haruma..." jawab Dayang Putri.

"Terus, kenapa aku bisa ada disini?" tanyaku lagi pada mereka bertiga.

"Karena sudah dekat waktunya, Haruma..." jawab Sekar Arum.

"Maksudnya?" tanyaku lagi.

Alih-alih langsung dijawab pertanyaanku itu, Dayang Putri malah berjalan mendekat padaku. Tubuhnya juga mampu berjalan di atas air kolam itu.

Dan, saat sudah berdiri tepat di depanku, Dayang Putri pun menyentuh daguku dengan tangan kanannya.

Membuat wajahku terangkat lebih tinggi. Menatap wajah Dayang Putri.

Lalu, Dayang Putri menjawab pertanyaanku.

"Sudah dekat waktunya bagimu menjalankan TIRAKAT Ibumu, Haruma..."

Aku pun bingung, apa maksud TIRAKAT itu?

Ketika baru saja hendak ku tanyakan itu pada Dayang Putri di depanku, kedua mataku bisa melirik ke arah Sekar Mayang.

Sekar Mayang juga berjalan di atas air kolam itu, namun ia berjalan ke arah sisi kananku.

Dan, kedua mataku pun melirik, melihat tangan kanan Sekar Mayang itu seperti membelai sesuatu.

Akan tetapi, anehnya...

Aku sama sekali tak melihat adanya sosok lain di sana, tepat di depan Sekar Mayang.

.....

.....

((Sekarang, kita berpindah lagi ke sudut pandang Harumi))

Saat tanganku masih menyentuh tangan kanan Haruma, tiba-tiba saja...

Sosok wanita bermahkota hitam itu pun muncul lagi di dekat kami berdua.

Dan terlihat jelas, wajahnya bersinar menatap Haruma.

Kedua matanya pun terlihat terang warna keemasannya.

Terasa sangat kuat aura tubuhnya juga.

Dan juga, mahkota serta bajunya yang berwarna hitam itu, terlihat bercahaya di pandangan mataku ini.

Kemudian, Haruma malah melepas genggaman tanganku. Dan aku benar-benar tahu sekarang, Haruma sama sekali tak bisa melihatku. Padahal dengan amat sangat jelas, ku lihat mata Haruma tidak putih buta seperti yang ku kenal. Matanya menjadi normal.

"Sekar Arum?" panggil Haruma pada sosok wanita bermahkota hitam itu.

"Aku ada dimana sekarang, Sekar Arum?" tanya Haruma kemudian.

Aku keheranan, kebingungan, bercampur aduk dengan detak jantung yang masih cepat, dan juga napasku yang terasa seperti dicekik oleh kuatnya aura tempat ini.

Kemudian, sosok wanita bermahkota hitam yang kini ku tahu namanya adalah Sekar Arum itu, malah mengalihkan pandangan mata keemasannya padaku.

Dan, Sekar Arum pun berkata padaku, "LIHATLAH, DAN JANGAN TAKUT..."

Dan, entah apa yang terjadi...

Detak jantungku mulai melambat, napasku mulai teratur, semuanya terasa lebih tenang bagiku.

Lalu, Haruma pun bertanya, "Kamu ngomong sama siapa, Sekar Arum?"

Dan, semakin yakin diriku saat mendengar pertanyaan Haruma itu, bahwa Haruma memang benar-benar tak bisa melihatku berdiri di sampingnya sekarang.

Lalu, Sekar Arum itu kembali menatap Haruma.

"NANTI, KAMU JUGA AKAN TAHU, HARUMA..." jawabnya pada Haruma.

Kemudian, Sekar Arum pun terlihat melangkah.

Akan tetapi, langkah kakinya itu justru mengarah ke tengah-tengah kolam yang sangat jernih airnya itu.

Dan dengan sangat jelas, ia berjalan di atas air kolam itu.

Saat sudah berada di tengah kolam, Sekar Arum membalikkan badannya. Menghadap kepada Haruma saja.

"Kamu mau ngapain disana, Sekar Arum?" tanya Haruma.

"Kok kamu bisa jalan di atas air?" tanya Haruma lagi.

Tapi, Sekar Arum itu tak menjawabnya. Ia malah kembali mengalihkan pandangannya padaku lagi.

Dan, tangan kanannya bergerak, seperti sedang memerintahkan aku untuk duduk dan diam, namun tanpa sepatah kata pun padaku.

Dan, lagi-lagi, entah apa yang terjadi pada tubuhku. Tubuhku ini malah mengikuti perintahnya itu.

"Sekar Arum, ada siapa sih di kananku?" tanya Haruma lagi.

Dan, Sekar Arum itu menjawab dengan jawaban yang sama, "NANTI, KAMU JUGA AKAN TAHU, HARUMA..."

Beberapa detik kemudian, tiba-tiba...

Muncul juga dua sosok lainnya dari arah belakang Sekar Arum. Muncul begitu saja seperti dua buah bayangan yang langsung terlihat nyata di mataku. Dan aku pun tahu, Haruma juga bisa melihat mereka berdua yang baru muncul itu.

Dua sosok itu adalah perempuan bermahkota seperti Sekar Arum. Hanya saja, warna dominan mereka berbeda.

Yang satu mahkota dominan hijau terang, dan satu lagi mahkota dominan merah terang.

Dan warna baju mereka berdua pun mengikuti warna mahkotanya. Yang satu berbaju hijau terang, dan satu lagi berbaju merah terang. Kedua mata mereka juga sama dengan warna baju yang dipakai masing-masing.

Akan tetapi, aku bisa lihat dengan jelas, ada persamaan di antara mereka bertiga.

Persamaan itu adalah warna kain jarik batik yang menutupi kaki mereka, sama-sama berwarna cokelat tua. Dan juga mereka bertiga memiliki kain selendang berwarna kuning keemasan yang cerah.

Dengan posisi terduduk di atas tanah yang ditutupi rumput tipis ini, aku pun bertanya-tanya dalam batinku sendiri, "Siapa lagi mereka berdua itu?"

Lalu, sosok berbaju merah itu pun berkata pada Haruma, "AKHIRNYA... KAMU BISA HADIR KESINI JUGA, YA! HIHIHIHI..."

"Siapa kamu?" tanya Haruma.

"LOOOH? KAMU LUPA, YA? AKU SEKAR MAYANG, HARUMA... HIHIHI..." jawabnya.

"Terus, kalo kamu, siapa?" tanya Haruma lagi pada satu sosok lainnya itu.

"AKU DAYANG PUTRI, HARUMA..."

Ketika sudah disebutkan, aku pun bisa tahu dengan jelas nama mereka berdua itu.

"Loh? Kalian berdua kan, perewangan Ibuku?!" kata Haruma.

"NAAAH, AKHIRNYA, KAMU INGAT JUGA. HIHIHI..." jawab Sekar Mayang.

"Dimana Ibuku?" tanya Haruma kemudian.

"DIA TAK ADA DISINI, HARUMA..." jawab Dayang Putri.

Entah bagaimana aku menjelaskannya, aku seperti menyaksikan saudara sedarahku itu sedang mengobrol dengan tenangnya bersama tiga sosok yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Di tengah dimensi atau dunia, yang aku juga belum pernah masuki dalam hidupku ini.

"Terus, kenapa aku bisa ada disini?" tanya Haruma lagi pada mereka bertiga.

"KARENA SUDAH DEKAT WAKTUNYA, HARUMA..." jawab Sekar Arum itu.

"Maksudnya?" tanya Haruma semakin penasaran.

Alih-alih langsung dijawab pertanyaan Haruma itu, sosok yang bernama Dayang Putri itu malah berjalan mendekati Haruma. Tubuhnya juga mampu berjalan di atas air kolam itu.

Dan, saat sudah berdiri tepat di depannya, Dayang Putri pun menyentuh dagu Haruma dengan tangan kanannya.

Membuat wajahnya terangkat lebih tinggi. Menatap wajah Dayang Putri di depannya.

Lalu, Dayang Putri menjawab, "SUDAH DEKAT WAKTUNYA BAGIMU MENJALANKAN TIRAKAT IBUMU, HARUMA..."

Aku pun jadi bingung, apa maksud TIRAKAT itu?

Aku baru kali ini mendengar kata TIRAKAT.

Kemudian, aku melihat sosok bernama Sekar Mayang itu mulai melangkah pelan juga.

Ia berjalan ke arahku.

Saat sudah berada di depanku yang terduduk, tangan kanan Sekar Mayang itu membelai dengan sangat lembut kepalaku.

Dan terlihat jelas, wajahnya menatapku dengan sangat tenang, dengan kedua mata merah terangnya.

1
Athnares
😍😍
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
next nya mana ini?
Ayuk Witanto
alm.bapakku juga dulu gitu kalau di bilangin
Deni Komarulloh: Sama dong Mas, hehehe... Saya juga jawab gitu kalo dibilangin buat berhenti merokok, hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!