NovelToon NovelToon
Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Fantasi / Slice of Life
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kūkyo

Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Masing-Masing

​Sudah hampir seminggu sejak kedua belas orang pengungsi dari medan perang diterima masuk dan bernaung di dalam batas Desa Haruto. Berkat tambahan tenaga kerja yang cukup banyak dari para pendatang tersebut, proses renovasi dan pembangunan infrastruktur desa berjalan jauh lebih cepat dari perkiraan awal.

​Rumah Haruto kini tampil dengan wujud yang jauh lebih representatif. Bangunan utamanya diperluas, dilengkapi dengan ruang penyimpanan logistik yang lebih luas, sebuah dapur kecil fungsional di sisi samping, serta ruang kerja khusus yang tenang untuk merancang denah serta rencana pembangunan jangka panjang.

​Di sisi lain, rumah besar tempat tinggal para gadis Ras Kelinci juga telah rampung diperkuat secara total. Tiang-tiang penyangga lama yang mulai melapuk diganti dengan kayu keras berkualitas tinggi, atap daunnya ditata ulang agar tahan terhadap cuaca ekstrem, dan permukaan lantainya dipadatkan hingga rata dan bersih.

​Begitu seluruh rangkaian pekerjaan di rumah mereka selesai, Luna langsung melompat kegirangan, berlari mengelilingi ruangan sambil tertawa renyah. "Wah, rumah kita jadi jauh lebih besar! Dan yang paling penting, tidak bocor lagi saat hujan!"

​Elara tersenyum lembut, memperhatikan para gadis muda Ras Kelinci itu menikmati tempat tinggal yang kini benar-benar layak disebut sebagai sebuah rumah yang nyaman.

​Haruto menyeka peluh yang menetes di dahinya menggunakan punggung tangan, lalu menoleh ke arah sang pandai besi. "Pekerjaan besar sudah selesai, Brom. Selanjutnya... giliran rumahmu."

​Mendengar kalimat itu, Brom langsung menegakkan tubuhnya, matanya berbinar penuh antusias. "Akhirnya!"

​Haruto menuntun Brom ke area lahan yang sudah dipersiapkan di dekat bengkel. Lokasinya dirancang sangat strategis—tidak terlalu menempel dengan gudang logistik agar sirkulasi udara lancar, namun juga tidak terlalu jauh dari tungku pembakaran.

​"Kalau rumahmu di sini, posisinya sangat pas," jelas Haruto sambil menunjuk area tanah kosong. "Jika sewaktu-waktu kau harus bekerja lembur sampai malam di tungku, kau hanya perlu berjalan beberapa langkah saja untuk beristirahat."

​Brom mengangguk puas, mengelus jenggot lebatnya. Untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan kerajaan asalnya bertahun-tahun yang lalu, ia merasa bahwa dirinya akan segera memiliki sebuah tempat tinggal tetap lagi.

​Semua orang langsung bergerak mengambil peran. Empat orang prajurit iblis membantu mengangkat dan menegakkan balok-balok kayu utama, sementara para penduduk sipil dan pedagang turut membantu merapikan sisa material sebisanya. Menjelang siang hari, kerangka dasar rumah Brom mulai berdiri kokoh di atas tanah.

​Di tengah kesibukan pemasangan dinding rumah baru, suara derit roda kereta yang familiar terdengar mendekat dari arah luar gerbang kayu. Mira yang sedang bertugas di atas menara segera meniup peluit isyarat dan berseru ke bawah, "Kereta datang!"

​Tak lama kemudian, gerbang dibuka, dan Roven bersama dua kereta dagangnya masuk dengan mantap. Kereta pertama dipenuhi oleh tumpukan batangan besi, sementara kereta kedua membawa pasokan garam kasar serta berbagai barang kebutuhan esensial yang sebelumnya telah dijanjikan.

​Namun, langkah Roven mendadak terhenti begitu ia turun dari kursi kusir. Pandangannya langsung bertubrukan dengan sosok dua belas orang asing yang sedang sibuk bekerja di sudut desa. Sang pedagang tua tertegun sejenak. "...Mereka siapa?" tanyanya heran.

​Haruto maju menyambut, lalu menceritakan seluruh kronologi kejadian secara jujur—mulai dari pertempuran besar di perbatasan, pelarian nekat mereka menembus Hutan Kematian, hingga bagaimana mereka akhirnya tiba di gerbang desa. Roven mendengarkan dengan saksama, terdiam cukup lama untuk mencerna seluruh situasi tersebut.

​Setelah berpikir sejenak, Roven menghela napas panjang. "Kalau begitu situasinya... aku bisa membawa mereka keluar dari sini."

​Semua orang di sekitar mereka menoleh kaget. Roven melanjutkan penjelasannya dengan tenang, "Aku masih harus menyelesaikan urusan perjalanan kembali ke wilayah Kerajaan Iblis. Rute karavan dagangku jauh lebih aman dan terarah dibandingkan jika mereka nekat berjalan kaki sendirian menerobos hutan."

​Salah satu pedagang dari kelompok pengungsi langsung membungkuk dalam-dalam, air mata haru hampir tumpah dari sudut matanya. "Bantuan Tuan Roven... itu sudah lebih dari cukup bagi kami."

​Haruto turut mengangguk menyetujui. "Itu memang pilihan terbaik untuk kita semua." Sejak awal, Haruto memang tidak pernah berniat menjadikan para pengungsi perang itu sebagai penduduk tetap di desanya—bukan karena ia tidak memiliki rasa kemanusiaan, melainkan karena ia tahu kapasitas desa kecil mereka belum siap menampung penambahan populasi sebesar secara mendadak.

​Sebelum rombongan Roven dan para pengungsi bersiap meninggalkan desa menjelang sore, Haruto tetap menyempatkan diri membawakan sedikit bekal perjalanan untuk mereka. Jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya, mengingat mereka kini sudah bergabung di bawah perlindungan karavan dagang Roven.

​Doran, prajurit iblis yang tadinya sempat bersikap paling keras kepala, melangkah mendekati Haruto dengan ekspresi canggung. Ia mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Haruto... aku akui aku sempat salah menilai dirimu di hari pertama."

​Haruto menyambut uluran tangan itu, tersenyum ramah. "Yang terpenting sekarang adalah kau masih bisa bertahan hidup dan pulang dengan selamat."

​Doran tertawa kecil, rasa hormat terpancar jelas dari matanya. "Itu juga benar."

​Dua anak kecil dari rombongan pengungsi berlari memeluk erat pinggang Luna sebelum naik ke atas gerbong. Luna tampak agak murung karena harus berpisah dengan teman bermain barunya, namun ia akhirnya melambaikan tangan tinggi-tinggi sambil tersenyum ceria. "Hati-hati di jalan ya!"

​Saat roda kereta mulai berputar perlahan meninggalkan halaman desa, Roven yang duduk di samping Haruto melirik pemuda itu dengan tatapan penuh arti.

​"Kau tahu, Haruto... kau sebenarnya memiliki kesempatan dan cukup persediaan untuk menerima serta menampung mereka semua jika mau," kata Roven pelan.

​Haruto menggeleng pelan. "Belum saatnya. Kalau aku asal menerima setiap orang yang datang kesini... desa ini akan runtuh kelebihan beban sebelum sempat berkembang menjadi sesuatu yang besar."

​Roven tersenyum tipis, meresapi kedewasaan berpikir pemuda di sampingnya. Di dalam hatinya, sang pedagang semakin yakin bahwa Haruto bukanlah tipe pemimpin yang bertindak semata-mata karena dorongan belas kasihan sesaat; setiap keputusan yang diambil selalu dilandasi oleh visi jangka panjang demi masa depan desanya.

​Menjelang sore, bayangan kereta Roven akhirnya benar-benar menghilang sepenuhnya di balik lebatnya pepohonan Hutan Kematian. Suasana desa kembali senyap dan tenang seperti sedia kala.

​Haruto berdiri seorang diri di depan kerangka rumah Brom yang hampir rampung sepenuhnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling: rumah utamanya telah selesai direnovasi, rumah besar Ras Kelinci berdiri kokoh, kerangka rumah Brom hampir sempurna, gudang logistik tertata rapi, dapur kecil mengepulkan asap tipis, area bengkel berpijar hangat, serta petak sawah dan kebun yang menghijau subur. Perlahan tapi pasti, seluruh elemen kehidupan mulai memenuhi ruang-ruang di desa kecil tersebut.

​Haruto tersenyum tipis pada dirinya sendiri. "Sekarang... kita bisa mulai melangkah untuk membangun proyek berikutnya."

​Tanpa diduga, Brom langsung menyahut cepat dari balik kerangka kayu tanpa berpikir dua kali, "Kebun anggur!"

​Haruto tertawa lepas mendengarnya. "Sudah kuduga, kau pasti akan langsung menagih hal itu."

​Semua penghuni desa yang mendengarnya ikut tertawa bersama. Di bawah naungan langit sore yang hangat, desa kecil di tengah Hutan Kematian itu kembali dipenuhi suara tawa yang hidup, sementara sebuah rumah baru perlahan berdiri tegak—menjadi bukti nyata bahwa setiap jiwa yang memilih singgah dan berjuang di tempat itu akhirnya mulai memiliki sebuah pelabuhan pulang yang benar-benar bisa disebut sebagai rumah.

1
Nadja 🎀
seruu merasa baca manga.. mengingatkan manga itu yg Isekai itu
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
Nadja 🎀
bagus ceritanya ✨
ラマSkuy
keren Thor mirip dua manga yang pernah kubaca tentang terpanggil ke dunia lain dan membangun desa didunia lain 👍👍
Nadja 🎀
seruuu bgt lanjut!
ラマSkuy
emang kehidupan santai itu paling enak untuk orang introvert 😁
ラマSkuy
mirip sekai nonbiri bertani didunia lain 👍
ラマSkuy
akhirnya ada juga novel yang bukan fantasy timur 👍👍 nice Thor lanjutkan
NURC
menarik ceritanya, untuk referensi saya yg menulis novel fantasy juga
Nurul
masih menantin apakah sampai tamat atau tidak/Doubt/
Luthfi Afifzaidan: tetap sehat n semangat thor
total 2 replies
Fiks_imajinasiku
Thor dagig asap itu tanpa api kalau mau berhasil, pakai inkubasi tungku besar bisa dari batu atau kayu yang dilapisi tanah liat jadi asapnya terpokus ke daging tidak menyebar keluar, juga cara panggang gunakan tanpa api dengan cara menekan api menggunakan daun tua atau hijau bukan kering.
Kūkyo: Makasih banyak infonya, Kak.
Mungkin bisa saya pakai di bab-bab selanjutnya. Soalnya di bagian yang sekarang Haruto juga belum punya pengetahuan tentang teknik seperti itu, jadi saya usahakan perkembangannya bertahap. Terima kasih sudah berbagi ilmunya.
total 1 replies
Fiks_imajinasiku
nice thor, apakah akan ada eps 2 dengan ambisi mendirikan kerajaan di hutan?, semangat 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!