Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:
Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.
Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.
Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.
Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.
Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?
"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Licik di Balik Selimut Malam
Keheningan di dalam kamar Hana semakin pekat, hanya menyisakan suara desau angin luar yang bergesekan dengan ranting pohon. Lilin di sudut meja rias bergoyang pelan, melemparkan bayangan samar ke dinding batu. Kesadaran Hana telah berada di ambang batas. Pengaruh sihir penunduk dan tutupan aliran darah yang dilakukan oleh Ming Tonk membuat tubuhnya benar-benar mati rasa, terjebak dalam pusaran rasa kantuk dan sensasi hangat yang melumpuhkan akal sehatnya.
Dengan sangat hati-hati, Ming Tonk mulai melancarkan aksi berikutnya. Tangannya yang dingin bergerak gesit namun tetap sehalus sutra, melonggarkan satu demi satu ikatan kain luar jubah sutra yang melekat pada tubuh Hana. helai demi helai pakaian luar itu terlepas, tersingkap tanpa suara ke atas ranjang kayu, hingga kini hanya menyisakan pakaian dalam tipis yang membungkus tubuh sang gadis suci.
Ming Tonk menghentikan gerakannya sejenak. Siluman suruhan Yuki itu menelan ludahnya dengan berat, matanya berkilat ganjil menatap kulit mulus Hana yang terpapar hawa malam yang temaram. Kecantikan yang murni dari kuil selatan itu sesaat sempat mengalihkan fokusnya, namun ia segera mengingat perintah mutlak dari tuannya.
Perlahan, Ming Tonk mengangkat tangan kanannya. Ia meliuk-liukkan ujung jari telunjuknya di udara tepat di atas dada Hana, menyalurkan sisa sihir penidur halus yang langsung meresap ke dalam pusat pernapasan gadis itu. Hana melenguh lirih, dadanya kembang kempis dengan napas yang mulai terengah-engah pendek. Sensasi magis yang menghanyutkan itu meninabobokannya begitu dalam, hingga akhirnya kesadarannya benar-benar runtuh ke dalam kegelapan total, tak sadarkan diri sepenuhnya.
Melihat targetnya telah tak berdaya, Ming Tonk tidak membuang waktu. Ia segera membungkus tubuh lemas Hana dengan selembar kain selimut hitam tebal, mengangkatnya ke dalam dekapan, lalu melompat senyap menembus jendela kamar yang terbuka. Gerakannya secepat bayangan, melewati atap-atap benteng timur tanpa memicu kecurigaan para penjaga malam yang sedang terkecoh.
Jauh di dalam sebuah gua tersembunyi yang tertutup akar gantung di lembah perbatasan, Yuki duduk bersandar pada sebuah batu besar. Napasnya masih terasa berat, namun manik mata vertikal keemasannya berkilat tajam begitu melihat Ming Tonk masuk sambil memanggul tubuh Hana yang tak sadarkan diri. Siluman itu meletakkan Hana dengan perlahan di atas hamparan jerami kering di sudut gua.
"Kau melakukannya dengan baik, Ming Tonk," ucap Yuki, suaranya terdengar serak namun sarat akan kepuasan yang dingin. Ia bangkit berdiri dengan langkah yang masih agak goyah, mendekati tubuh Hana yang terbaring kaku.
"Apa rencana kita selanjutnya, Yang Mulia?" tanya Ming Tonk sambil membungkuk hormat. "Apakah kita akan langsung mengambil energi spiritual dari gadis ini?"
Yuki tersenyum sinis, sebuah lengkungan bibir yang penuh dengan kelicikan seorang rubah. "Tidak sekarang. Energi gadis ini kuat, tapi ada hal yang lebih berharga yang bisa kita dapatkan dari situasinya. Kai... pemuda itu akan menjadi sangat mengerikan jika dia tahu gadis sucinya disentuh."
Yuki berjalan memutari tubuh Hana, jemarinya yang pucat menyentuh ujung jubah hitam yang membungkus Hana. "Aku ingin amarah Kai membakar orang lain. Biarkan singa kecil itu mengarahkan taringnya pada Mai dan Rei. Aku tahu betul betapa Rei sangat berambisi, dan Kai pasti akan langsung memercayainya jika aku memberi sedikit umpan."
Yuki menoleh ke arah jalan keluar gua, menatap ke arah benteng timur yang masih diselimuti kegelapan fajar. "Besok, aku sendiri yang akan memastikan kabar ini sampai ke telinga Kai. Aku akan mendatangi benteng itu dan memasang wajah penuh penyesalan, lalu mengatakan padanya bahwa Hana telah diculik oleh pasukan Rei di hutan perbatasan. Biarkan mereka saling menghancurkan, dan ketika Kai telah menghabisi Rei dan Mai dengan sisa apinya, kita akan datang untuk memanen segalanya."
Ming Tonk tidak segera membalikkan badan untuk keluar dari gua tersebut. Langkah kakinya terpaku di atas tanah berbatu, sementara matanya yang dipenuhi kabut nafsu menolak untuk dialihkan dari sudut jerami tempat Hana terbaring. Kain jubah hitam yang membungkus tubuh gadis suci itu sedikit tersingkap akibat guncangan selama perjalanan, memperlihatkan kembali pakaian dalam tipis yang hanya menutupi bagian-bagian tertentu dari tubuh mulusnya yang tampak kontras di dalam keremangan gua. Air liur siluman tingkat rendah itu nyaris menetes saat memikirkan kelembutan kulit yang tadi sempat didekapnya di atas ranjang benteng timur.
Yuki, yang memiliki ketajaman insting siluman rubah, segera menangkap gelagat aneh dari pelayannya. Sepasang manik mata vertikal keemasannya menyipit, memancarkan aura dingin yang langsung menusuk tengkuk Ming Tonk.
"Ming Tonk," panggil Yuki, suaranya rendah namun sarat akan tekanan magis yang mengancam. "Apa ada yang kurang dari perintahku hingga kau masih berdiri di sana seperti patung batu?"
Ming Tonk tersentak, sedikit gemetar merasakan tekanan energi dari tuannya. Namun, rasa penasaran dan gejolak berahi yang terlanjur tersulut membuat keberaniannya mendadak naik. Ia menelan ludah dengan berat, lalu memutar tubuhnya sedikit sambil membungkuk, mencoba memasang wajah memelas namun matanya sesekali masih melirik ke arah Hana.
"Yang Mulia..." bisik Ming Tonk dengan suara yang serak dan bergetar. "Hamba yang telah bersusah payah menyusup ke kamar itu dan melumpuhkannya. Gadis dari kuil selatan ini benar-benar memiliki keindahan yang jarang ada di dunia. Sebelum Tuan Muda Kai datang menjemput kehancurannya, izinkan hamba... izinkan hamba merasakan kenikmatan dari tubuh wanita itu sebentar saja."
Mendengar permohonan tersebut, raut wajah Yuki langsung mengeras. Tidak ada sedikit pun rasa simpati di matanya, melainkan kejengkelan yang mendalam karena rencana besarnya terancam dinodai oleh kepicikan seorang pelayan.
"Lancang sekali kau!" bentak Yuki, sebuah kibasan lengan baju sutranya menciptakan embusan angin dingin yang menghantam dada Ming Tonk hingga siluman itu terdorong mundur dan berlutut di tanah.
Yuki melangkah mendekati Ming Tonk, menatapnya dari atas dengan pandangan yang teramat merendahkan. "Kau pikir untuk apa aku menyuruhmu melumpuhkannya tanpa meninggalkan bekas luka sedikit pun? Jika kau menyentuhnya dan merusak kesucian kuilnya, pesona spiritual di tubuhnya akan kacau, dan Kai akan langsung menyadari ada jejak sihir silumanmu yang tertinggal! Rencana untuk mengadu domba Kai dengan Rei bisa berantakan hanya karena nafsu bodohmu itu!"
Ming Tonk menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga menyentuh tanah basah, napasnya memburu ketakutan mendengar kemurkaan Yuki. "Ampun, Yang Mulia... Hamba khilaf."
"Keluar dari sini sekarang juga!" perintah Yuki mutlak, suaranya tidak menerima bantahan apa pun lagi. "Jaga jalan masuk gua dan jangan berani-berani menoleh ke belakang lagi jika kau masih ingin melihat matahari terbit besok pagi."
Tanpa berani mengeluarkan sepatah kata pun lagi, Ming Tonk segera bangkit dengan tubuh gemetar dan berjalan cepat keluar dari dalam gua, meninggalkan Yuki yang kini berdiri menjaga Hana yang masih terlelap tanpa sadar, menunggu datangnya pagi untuk memulai sandiwara besarnya di benteng timur.