Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBB 34 Malaikat Serba Tahu
Demang Bungi Pitam tahu bahwa lelaki cebol penunggang kambing hitam itu adalah seorang pendekar sakti. Itu bisa dilihat dari cara dia mengendalikan kambing yang disebutnya “Cantik”.
“Mohon maaf, Pendekar. Pengawalku yang satu itu pendengarannya rusak,” ucap Demang Bungi Pitam segera, jangan sampai kelakuan Gudek membuat pendekar tersebut marah.
“Oooh!” desah pendekar cebol sambil manggut-manggut tanda mengerti.
“Jika Pendekar tidak keberatan, bagaimana jika Pendekar membeli kelapa muda milikku dengan menyebutkan nama Pendekar adanya?” ujar Demang Bungi Pitam.
“Hahaha!” tawa santai pendekar cebol. Lalu katanya, “Jika Gusti Demang menawar, aku juga ingin menawar. Aku akan menyebutkan namaku setelah air kelapa habis aku minum. Bagaimana, Gusti Demang?”
“Baiklah,” ucap Demang Bungi Pitam mengalah seraya tersenyum.
Baru saja Demang hendak mengambilkan buah kelapa di atas meja papan di sisinya, kelapa itu tahu-tahu sudah lenyap dan sedang dituangkan airnya ke mulut pendekar cebol. Agak terkejut Demang Bungi Pitam dan kedua prajuritnya.
Pada akhirnya, Demang hanya memandangi pendekar di atas kambing itu menenggak air kelapa tanpa jeda. Hingga air kelapa itu menetes setitik demi setitik karena habis, pendekar cebol masih menunggu hingga tetesan terakhir.
“Aaakhh! Segaaar!” desah pendekar cebol yang menunjukkan kepuasannya.
Suuut!
Pendekar cebol itu lalu melempar kelapa yang sudah kosong oleh airnya. Kelapa itu melesat tinggi melangit. Saking tingginya, Demang Bungi Pitam dan kedua prajuritnya sampai mendongak mengikuti pergerakan si kelapa seraya menyipitkan mata karena silau oleh langit.
“Terima kasih, Gusti Demang. Aku izin pamit. Oh ya, namaku Malaikat Serba Tahu,” ujar pendekar cebol selagi Demang masih mendongak.
Agak terkejut Demang Bungi Pitam mendengar nama yang diperkenalkan. Namun, dia telat bereaksi.
“Pendekar…,” sebut Demang Bungi Pitam tertahan karena ketika dia memandang kepada pendekar itu, si pendekar sudah cukup jauh pergi bersama kambingnya.
Bong!
Terkejut Demang Bungi Pitam saat mendengar suara keras. Dia cepat menengok melihat ke arah batu karang yang menjadi asal suara. Demang masih bisa melihat kelapa yang tadi melangit telah memantul jauh usai jatuh menghantam karang. Karang dibuat rompal besar karena hantaman kelapa yang tetap utuh wujudnya.
“Hahaha! Kopong!” tawa Malaikat Serba Tahu dan menyebut satu kata. Suaranya terdengar jelas oleh Demang Bungi Pitam dan kedua prajurit, padahal jarak kambing itu sudah cukup jauh.
Terkejut Demang Bungi Pitam mendengar kata yang disebut Malaikat Serba Tahu. Kata itu adalah nama panggilan kecil putranya yang sedang hilang.
Tanpa berpikir panjang lagi, Demang Bungi Pitam cepat berlari mengejar Malaikat Serba Tahu dan kambing tunggangannya.
“Pendekaaar!” teriak sang demang sambil terus berlari.
Namun, tampaknya Malaikat Serba Tahu tidak menggubris karena kambingnya tidak berhenti atau menengok ketika dipanggil. Malaikat Serba Tahu pun tidak menengok.
Namun, Demang Bungi Pitam tidak menyerah. Dia terus berlari jauh. Dua pengawalnya yang bernama Tumpeng dan Gudek ikut berlari. Mereka mengejar majikannya, bukan mengejar Malaikat Serba Tahu dan Cantik.
“Malaikat Serba Tahuuu!” teriak Demang Bungi Pitam sangat kencang.
Mendengar nama tersohornya diteriakkan, Malaikat Serba Tahu seketika menengok ke belakang, seolah-olah orang yang memanggilnya adalah seorang janda kembang.
Blugk!
Tanpa bermaksud membuat adegan dramatis yang menyedihkan, Demang Bungi Pitam tersandung dan jatuh tersungkur. Untung jatuhnya di pasir pantai.
Melihat keapesan sang demang, hati Malaikat Serba Tahu jadi tersentuh.
“Hahahak…!” tawa terbahak si pendekar cebol melihat Demang Bungi Pitam.
Malaikat Serba Tahu tertawa karena tahu bahwa si demang tidak akan kenapa-kenapa. Demang sudah besar. Dia tidak akan menangis jika sekedar tersungkur di pasir empuk.
“Cantik, berhenti!” perintah Malaikat Serba Tahu kepada kambing jangkungnya.
Demang Bungi Pitam merasa lega karena Malaikat Serba Tahu telah berhenti. Dia buru-buru bangkit sebelum kedua prajuritnya sampai kepadanya.
“Pendekar Malaikat Serba Tahu, tunggu!” teriak Demang Bungi Pitam sambil berlari kencang lagi. Dia tidak trauma karena jatuhnya.
Malaikat Serba Tahu membiarkan Demang Bungi Pitam sampai kepadanya.
“Ada apa, Gusti Demang? Apakah kau mau meminta bayaran tambahan atas air kelapamu?” tanya Malaikat Serba Tahu tetap bersikap tenang.
“Bukan. Bukan itu. Apakah Tuan Pendekar tahu tentang Kopong?” kata Demang Bungi Pitam dengan napas yang terengah-engah.
Sementara Tumpeng segera mengerem larinya dan tidak lupa menahan Gudek juga agar tidak membuat kekacauan dalam urusan demang mereka. Mereka cukup mengawasi dari jarak aman.
“Oooh, aku tahu kopong, yaitu benda yang memiliki ruang di dalamnya dan tidak memiliki isi, seperti kelapa yang sudah habis airnya,” jawab Malaikat Serba Tahu.
“Bukan itu, tetapi Kopong putraku yang hilang. Putraku bernama Purwasaga. Panggilan kecilnya Kopong, Tuan Pendekar,” jelas Demang Bungi Pitam kepada pendekar cebol yang tampak lebih muda darinya. “Kau pasti tahu. Bukankah namamu menunjukkan kau serba tahu?”
“Hahahak…!” tawa Malaikat Serba Tahu lumayan panjang.
“Apakah kau pernah mendengar nama Malaikat Serba Tahu, Gusti Demang?” tanya sang pendekar.
“Tidak, baru kali ini, Pendekar,” jawab Demang Bungi Pitam dengan gestur yang merendahkan diri.
“Hahahak!” tawa Malaikat Serba Tahu. Lalu katanya, “Terlalu. Orang seternama Malaikat Serba Tahu sampai kau tidak tahu, Demang. Mau diletakkan di mana kepalaku?”
Malaikat Serba Tahu mulai tidak menyebut Demang Bungi Pitam dengan sebutan “Gusti”. Jangankan seorang pejabat demang, seorang raja pun bisa menjadi kecil di mata seorang Malaikat Serba Tahu.
Pendekar yang berusia tua tapi berfisik muda itu hanya bersikap segan kepada sesama pendekar yang dia nilai jauh lebih sakti darinya. Namun, siapa yang bisa menandingi ilmu serba tahunya? Jangan dijawab!
“Mohon maafkan aku jika ketidaktahuanku menjadi suatu kesalahan, Tuan Pendekar,” ucap Demang Bungi Pitam yang memilih merendahkan diri demi mendapatkan kabar tentang putranya.
“Kau beruntung, Demang Bungi Pitam,” kata Malaikat Serba Tahu yang membuat sang demang terbeliak.
“Kau tahu namaku, Tuan Pendekar?” tanya Demang Bungi Pitam terkejut.
“Hahahak! Sebagai pejabat kau jelas orang terkenal, Demang. Jangan heran jika aku tahu namamu, nama istrimu, nama anak-anakmu, hingga nama-nama prajuritmu. Namun, aku memang serba tahu. Hahahak!” kata Malaikat Serba Tahu yang diawali dengan tawa dan ditutup dengan tawa juga.
“Aku mohon kepadamu, Tuan Pendekar. Beri tahukan kepadaku jika kau tahu tentang putraku Purwasaga atau Kopong. Aku akan membayar mahal kabar tentang putraku,” kata Demang Bungi Pitam setengah memelas.
“Aku tidak butuh bayaran, Demang. Jika aku mau kaya, itu sangat mudah aku dapatkan sebagai orang sakti mandraguna. Namun, aku butuh layanan,” kata Malaikat Serba Tahu.
“Katakan, katakan saja, Tuan Pendekar. Layanan apa yang kau inginkan? Aku pasti akan memenuhinya,” kata Demang Bungi Pitam segera dan antusias.
“Hanya makan dan tempat nyaman untuk beristirahat. Setelah itu, baru aku akan mengabarkan tentang Purwasaga atau Kopong. Aku memang tahu tentang putramu yang hilang di saat badai malam purnama itu,” kata Malaikat Serba Tahu.
Kembali terkesiap Demang Bungi Pitam mendengar kata-kata si pendekar. Di dalam hati, dia semakin beriman bahwa Malaikat Serba Tahu memang orang sakti yang serba tahu.
“Baik, baik, baik. Silakan mampir di rumahku, Tuan Pendekar. Aku akan menyiapkan dan memenuhi segala permintaan Tuan Pendekar,” kata Demang Bungi Pitam seraya tersenyum sumringah.
“Ayo kita ke rumah Demang Bungi Pitam, Cantik!” kata Malaikat Serba Tahu kepada kambingnya.
“Mbaaak!” Cantik mengembik tanda mengiyakan. Saking seksinya jenis suaranya, embikannya cenderung terdengar “mbak”, bukan “mbek”.
Maka, tanpa diarahkan atau dikendalikan, Cantik berbalik arah dan berjalan tanpa perlu dipandu oleh Demang Bungi Pitam.
Pada faktanya, Cantik yang berjalan paling depan hingga dia berhenti tepat di halaman rumah Demang Bungi Pitam.
Lekar Asih, putrinya yang bernama Sekar Aci, dan para prajurit kademangan, hanya memandangi dengan rasa penasaran melihat kedatangan orang ganteng penunggang kambing tersebut. (RH)
bersatu kita teguh bercerai kita kawin lagi