NovelToon NovelToon
Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Saiful Bachri

Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.

Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.

Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan yang Berakhir Memalukan

Tidak ada detak jarum jam yang mengukur waktu. Tidak ada pula deru mesin apalagi bising klakson kendaraan yang membelah jalanan. Di Desa Veria, waktu hanya ditandai oleh embusan angin pembawa debu dan sayup-sayup langkah kaki warga yang berlalu-lalang di luar sana.

Detik demi detik melaju cepat bak kereta api yang melintasi rel. Tanpa terasa, bayangan matahari telah bergeser sejajar di atas kepala, menandakan siang telah tiba.

Di ruang keluarga, Takahiro masih terkapar tak berdaya. Tubuhnya tak mampu lagi ia kendalikan. Sisa tenaga yang ia kumpulkan susah payah untuk berdiri tadi telah terkuras habis hingga ke tetes terakhir. Kini, ia jatuh tertidur pulas di atas dinginnya lantai beton usang.

Sementara itu, di balik sekat kamar yang sunyi, Bellinda mengurung dirinya sejak insiden memalukan tersebut. Ia duduk di tepi ranjang, meremas ujung bajunya kuat-kuat.

Berulang kali wanita paruh baya itu menggelengkan kepala, mencoba menghapus rekam jejak saat tangan pemuda asing itu meremas bagian dadanya. Namun, usahanya sia-sia.

Sebuah gejolak asing terlanjur menyusup ke sudut batinnya. Ada desir aneh—campuran antara kenyamanan, kenikmatan, dan kepuasan yang mengusik harga dirinya—saat jemari pemuda itu tanpa sengaja menyentuh lembut area sensitifnya. Menyadari reaksi tubuhnya sendiri, wajah Bellinda kian memerah menahan malu.

Berusaha mengusir pikiran gilanya, Bellinda beranjak dan mengintip dari celah tirai usang kamarnya. Begitu netranya menangkap sosok pemuda itu, jantungnya seakan mencelos. Takahiro masih terkapar di titik yang sama, pucat dan tak bergerak layaknya mayat.

Rasa bersalah seketika menampar kesadaran Bellinda. Ini murni kesalahannya. Ia tahu dorongannya tadi terlalu keras, hingga membuat fisik pemuda yang memang sudah hancur itu kembali tumbang.

Pikiran-pikiran kotornya langsung menguap tak bersisa. Ia bergegas menyingkap tirai dan berlari kecil menghampiri Takahiro. Setibanya di sana, ia berlutut, menepuk-nepuk lembut belahan pipi pemuda itu dengan panik.

Tidak ada respons. Takahiro belum sadarkan diri.

Di tengah kalutnya kepanikan, mata semi-biru Bellinda menyapu liar ke setiap sudut ruangan, mencari apa saja yang bisa digunakan untuk menyadarkan pemuda ini.

Nihil. Ia hanya melihat sapu lidi rusak yang tersandar di sudut dekat pintu, dan sebuah lentera damar yang bertengger bisu di atas meja.

Tak bisa hanya diam menunggu keajaiban, Bellinda bangkit berdiri. Pandangannya sempat melirik ke arah luar rumah sebelum sebuah ide melintas di kepalanya.

Ia refleks memutar tubuh dan berlari kecil menuju dapur. Tangannya dengan cepat menyambar sebuah gayung yang terbuat dari batok kelapa, menyiduk air hingga penuh, lalu bergegas kembali ke ruang keluarga.

Tanpa membuang waktu, Bellinda meraup sedikit air dan menyipratkannya ke wajah Takahiro, persis seperti tabib sakti yang tengah merapal mantra penyembuh untuk pasiennya.

Satu, dua, hingga sepuluh kali cipratan mendarat di wajah pucat itu. Usaha pantang menyerah Bellinda akhirnya membuahkan hasil.

Kelopak mata Takahiro bergetar pelan sebelum akhirnya terbuka. Pandangannya masih buram, terhalang oleh butiran air yang mengembun di bulu matanya.

"Hujan?" Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir keringnya.

Sensasi air di wajahnya memutar sekelebat kepingan masa lalu di kepala Takahiro. Memori saat sang ibu menyiram wajahnya karena ia terlalu asyik tertidur pulas di dalam kamar kesayangannya di dunia nyata.

Secara refleks, Takahiro menoleh ke sisi kiri. Di sana, Bellinda tengah duduk bersimpuh dengan merapatkan kedua lututnya.

"Bibi, jelaskan padaku... sebenarnya aku ada di mana?"

Sebelum menjawab pertanyaan sarat kebingungan itu, Bellinda menyempatkan diri menaruh gayung batok di tangan kanannya ke lantai. Barulah kemudian, dengan nada yang dibuat selembut mungkin untuk menenangkan, ia menjawab.

"Kamu ada di Desa Veria."

"Desa Veria?!" gumam Takahiro lirih.

Kerutan dalam tercetak di dahinya. Otaknya berputar keras, mencerna dan mencari tahu di sudut peta mana desa asing ini berada.

Melihat raut wajah pemuda di hadapannya yang makin terlihat seperti orang tersesat, Bellinda segera melanjutkan penjelasannya tanpa menunggu balasan lebih lanjut.

"Kamu ada di Desa Veria," ulangnya lembut. "Desa ini letaknya ada di sudut timur Kota Terrovia, bersebelahan dengan Desa Netto dan Desa Naibaho."

Begitu rangkaian kalimat itu selesai terucap, sebuah pencerahan meledak di dalam kepala Takahiro.

Terrovia. Ia sangat mengenal nama itu.

Kedua bola mata hijau mudanya membulat sempurna. Kejutan luar biasa menghantam dadanya. Mustahil, pikirnya. Apakah ia benar-benar terhisap masuk ke dalam dunia game yang selama ini ia mainkan?

Akal sehatnya berusaha menolak. 'Ini hanya ada di cerita komik. Nggak mungkin jadi nyata,' batinnya menyangkal. Namun, di sudut hatinya, ia sangat berharap kata-kata wanita di sampingnya bukanlah sebuah kebohongan.

Ia tahu betul sejarah nama itu. Terrovia adalah kota terbesar dan termakmur dalam lore dunia game favoritnya. Sebuah utopia bagi para petani, kota yang dipimpin dengan adil tanpa adanya koruptor, penggelapan pajak, kolusi, nepotisme, gratifikasi ilegal, hingga mafia tanah.

Dulu, ia sering berkhayal ingin hidup selamanya di kota virtual tersebut, lari dari kemuakan hidup di dunia nyata yang sudah mencapai batas toleransinya. Dan jika semua ini memang nyata, maka Tuhan baru saja mengabulkan doa keputusasaannya.

"Apa sebelumnya kamu pernah ke sini?"

Pertanyaan tiba-tiba dari Bellinda sukses menghancurkan lamunan indah Takahiro tentang Terrovia. Pemuda itu mengerjap, kembali pada realitas.

"Soalnya kamu terlihat asing, terlebih lagi..."

Bellinda menggantungkan kalimatnya. Ia teringat cerita Cate tentang bagaimana putrinya itu menemukan pemuda ini di dalam hutan dalam kondisi yang tak wajar.

Mata Bellinda kini menatap lekat-lekat tubuh Takahiro dari ujung kaki hingga ke dada. Postur tubuh wanita itu berubah serius; tangan kirinya terlipat menopang di bawah dada, sementara sikut kanannya bertumpu pada punggung telapak tangan kiri, membiarkan ibu jari dan telunjuknya mengelus dagu dengan penuh selidik.

Takahiro hanya bisa menelan ludah dan terdiam, membiarkan dirinya dipindai layaknya barang mencurigakan di bawah mesin detektor.

"Luka yang ada di tubuhmu seperti bukan gigitan atau cakaran dari hewan buas," lanjut Bellinda, menyuarakan analisanya.

Karena penasaran, wanita itu memajukan posisinya dan membungkukkan tubuh, mencoba melihat lebih dekat detail luka yang merembes di balik perban perut Takahiro.

Namun, gerakan membungkuk itu justru menjadi awal dari bencana baru.

Saat tubuh Bellinda mencondong ke depan, sudut pandang Takahiro dari bawah secara tak sengaja menangkap siluet yang familiar. Bagian dada wanita itu—yang jelas-jelas tak mengenakan penyangga apa pun di balik bajunya—bergerak dan berayun samar mengikuti gravitasi.

Ingatan tentang sensasi 'kenyal seperti jelly' yang baru beberapa saat lalu ia remas seketika kembali menyerbu otaknya. Darah segar langsung berdesir naik ke wajah Takahiro.

Dengan pipi yang memerah padam, pemuda itu buru-buru membuang muka ke arah berlawanan, berdoa dalam hati agar Bellinda tak menyadari arah pandangannya.

Sayangnya, harapannya sirna detik itu juga.

Sudut mata Bellinda menangkap jelas pergantian ekspresi Takahiro yang memerah dan salah tingkah. Butuh waktu dua detik bagi Bellinda untuk menyadari kebodohannya sendiri.

Begitu otaknya mencerna posisi tubuhnya dan arah pandangan pemuda itu, ia langsung tersentak mundur dan mendekap dadanya erat-erat dengan kedua tangan.

Keheningan absolut kembali menjerat ruangan itu. Baik Takahiro maupun Bellinda sama-sama terkunci dalam kebisuan, tersiksa oleh atmosfer canggung yang berkali-kali lipat lebih parah dari sebelumnya.

Namun untuk kali ini, Bellinda tak bisa menyalahkan Takahiro atas tatapan itu. Jauh di dalam lubuk hatinya ia tahu, ini murni kesalahannya yang terlalu lalai dan lupa mengenakan pelindung untuk tubuhnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!